
Jemari tangannya berlumuran darah segar. Gemetaran? Tentu saja, menggenggam erat jemari tangan suaminya yang mendingin. Kecelakaan 14 tahun yang lalu masih terbayang dalam benaknya. Hidup yang dijalaninya tanpa seorang remaja yang memanggilnya nona selama 13 tahun. Akankah dia meninggalkanku lagi? terbersit di benaknya.
"Ren..." lirihnya, menatap darah terus mengalir membasahi lantai helikopter.
Gabriel tidak dapat banyak bicara saat ini, air mata mengalir di pipinya, diseka olehnya. Bertahanlah ayah mohon... kata-kata yang tertahan dalam hatinya di tengah aktivitasnya menyuntikkan cairan asam traneksamat (berfungsi untuk menghentikan pendarahan).
Takut akan darah? Tidak, dirinya seorang dokter bedah, berhadapan dengan darah, organ dalam bukankah hal yang tidak biasa. Namun, hari ini untuk pertama kalinya dirinya takut akan darah, napasnya tidak teratur, tangannya yang memegang jarum suntik gemetaran.
Darah putranya, hari ini yang mengalir adalah darah putranya. Seorang putra usil yang mengintip orang tuanya tidur bersama, seorang putra yang berebut makanan sisa istrinya. Saat ini tidak ada yang dapat dilakukannya, untuk menolong nyawa itu. Bahkan infus tidak ada disana, alat untuk mencabut proyektil sialan yang menancap di tubuh putranya juga tidak ada. Setiap detik bagaikan sehari baginya menunggu heli mendarat di kapal Ferry milik Lery.
Nyawa lemah yang terbaring tidak berdaya, putra tunggalnya. Apa harus mati dengan cara seperti ini?
***
Heli mendarat, tempat tidur pasien yang tidak begitu besar sudah ada disana. Dengan cepat menggendong tubuh putra yang tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya. Dua bulan? Hanya dua bulan dia mengenal putranya. Anak yang tidak pernah dimanjakan olehnya. Haruskah kembali di panggil Tuhan dengan cara seperti ini.
Beberapa orang tenaga medis yang memang berada di sana menarik tempat tidur dengan cepat, diikuti langkah Gabriel dan Jeny. Hingga sampai di ruang gawat darurat. Pintu tertutup, tidak mengijinkan wanita yang tengah hamil muda itu untuk masuk.
"Dok, sterilkan dulu badanmu. Ganti dengan pakaian operasi..." tangan Gabriel yang hendak membuka peralatan operasi, dihentikan seorang perawat.
Pria itu menghela napasnya, mengusap air matanya, berlari menuju ruangan lain. Membiarkan dokter dan perawat lainnya memasang peralatan medis.
Sungguh bodoh bukan? Kali ini dirinya menjadi bodoh, seakan tidak sabar menyelamatkan hidup putranya. Tidak ingin Tuhan mengambil tubuh tertidur yang menahan semua rasa sakit itu.
Gabriel kembali masuk, mengenakan pakaian operasi,"Anastesi," ucapnya memberikan intrupsi, sembari menatap monitor. Ventilator terpasang, menunjang pernapasan pemuda yang terbaring, dimasukkan melalui mulut.
Benar-benar rapuh tidak terlihat lagi wajah ceria yang angkuh. Pria yang memasak penuh senyuman, hanya tubuh yang lahan perlahan mendingin saat ini.
"Pinset..." ucapnya.
"Penjepit..."
Perlahan proyektil peluru di keluarkannya.
Tag...
Suara proyektil berlumuran darah yang membentur wadah alumunium.
Tidak melakukan rontgen? Operasi memang dilakukan tanpa peralatan medis yang memadai. Tangan Gabriel gemetar, menyadari salah satu proyektil berada tepat di jalur pembuluh darah putranya.
__ADS_1
Ayah mohon bertahanlah... gumamnya dalam hati, mengangkat proyektil dengan cepat, bersamaan dengan darah yang terciprat mengenai masker dan wajahnya.
"Hisap!!" ucapnya memberikan intrupsi, pada perawat, tangannya gemetaran masih memegang penjepit.
"Tidak dengar!! Aku bilang hisap!!" bentak Gabriel dengan air mata yang mengalir tidak terkendali.
Sucktion pump (alat penghisap cairan yang berlebihan) mulai dipergunakan. Darah yang memenuhi luka mulai terlihat sedikit demi sedikit terhisap, Gabriel menggunakan benang operasinya, berusaha menghentikan pendarahan.
Darah masih mengalir kantung, terhubung dengan selang menuju pergelangan tangan Farel. Entah apa yang salah, mungkin terlalu banyak luka dalam. Alarm mulai berbunyi pertanda detak jantung pasien tidak stabil. Tepatnya menurun...
"Bertahanlah...!!" racaunya putus asa, menatap wajah putra satu-satunya. Wajah yang sering mengancam akan mencari ayah baru jika keinginannya tidak terpenuhi. Wajah menyebalkan yang sering mengadu pada ibunya.
Kini wajah itu terlihat pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya bahkan terpasang selang seakan bernapaspun sulit.
"Tetaplah hidup..." gumamnya di tengah alarm peringatan yang terus berbunyi, dalam keputusasaannya.
***
Jeny tertunduk diam, menunggu di depan ruang operasi. Air matanya mengalir tidak terkendali,"Ren..." ucapnya mengelus perut ratanya, seakan meminta suaminya untuk kuat bertahan demi dapat melihat calon anak kedua mereka.
'Jeny...' sebuah suara bagaikan memanggilnya, dalam lorong yang sepi. Suara yang benar-benar hangat, sama dengan suara saat masih berada di lorong kapal pesiar, suara yang dikenalnya, namun tidak ada seorangpun disana.
Tak...tak...tak...
Terdengar suara langkah kaki seorang pria yang sudah tidak berusia muda lagi. Langkah yang cepat, pria itu menatap pintu yang tertutup kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan cucu menantunya.
Menguatkan? Seharusnya kakek itu bicara dengan cucu menantunya bukan, saling menguatkan. Namun, Taka hanya terdiam bagaikan menghindari Jeny. Tidak satupun kata keluar dari mulutnya.
"Maaf, aku melarikan diri dari Okinawa..." Jeny menangis sesenggukan, menatap kakek tua yang masih tertunduk diam.
Air mata sang kakek mengalir, "Terimakasih, sudah melarikan diri. Farel akan senang melihat kalian masih hidup..." ucapnya lirih, menatap perut cucu menantunya.
"Dia tidak menyukai takoyaki, dia hanya senang saat berbagi makanan denganku..." lanjutnya meracau, berharap operasi segera berakhir.
"Ren bodoh..." Jeny menonggakkan kepalanya mengusap sembari menahan air matanya yang hendak kembali mengalir."Aku menyukai sate ayam tanpa kecap dengan irisan bawang. Karena itulah, dia sering membeli, atau membuatkannya. Bukan karena menyukainya, dia hanya ingin aku makan bersamanya. Jadi kita seri..."
Tidak mengetahui apa yang Farel sukai, tidak pernah memperhatikan orang yang paling perhatian pada mereka. Bahkan makanan kesukaan? Kedua orang kaku itu tidak mengetahui sama sekali.
"Kakek aku..." kata-kata Jeny terhenti.
__ADS_1
"Kemungkinan hidup cucuku sangat tipis. Ini memang sulit, tapi harus aku katakan. Jika Farel tidak selamat, tolong temani aku dan Ayana, besarkan kedua anak kalian bersama kami..." Taka menundukkan kepalanya seakan memohon, air matanya masih terus menerus mengalir.
Farel... racaunya dalam hati, menginginkan cucunya tetap hidup. Namun, di sisi lain dengan banyaknya luka di tubuhnya, Farel seharusnya sudah tidak bernapas lagi.
Mungkin istri dan anaknya yang membuatnya bertahan tersiksa dengan tubuh yang dingin. Tubuh yang seharusnya tidak dapat diselamatkan.
Apa ini akan membuatmu lega, kakek ingin kamu tetap hidup. Menemani di sisa usia tuaku. Tapi jika Tuhan mentakdirkan tetap tidak bisa, maka pergilah jangan menyiksa dirimu. Kakek dan ibumu akan menjaga tunas kecil yang ingin kamu lindungi...
Jeny tersenyum, menatap wajah sang kakek,"Apa kakek merelakannya?" tanyanya.
"Tidak..." Taka menggelengkan kepalanya, menggenggam erat tongkatnya. Dalam batinnya tidak ingin kehilangan cucu satu-satunya.
"Biarkan dia menahan sakit, tapi tetap hidup untuk kita. Seumur hidupnya memang dihabiskan untuk menahan rasa sakit bukan? Kita harus lebih menyiksanya," Jeny masih setia tersenyum."Ancamlah dia agar tidak pergi..." ucapnya memberikan rasa optimis untuk sang kakek, sekaligus menguatkan dirinya sendiri.
"Fa... Farel tetaplah hidup, jika tidak kakek akan menghancurkan JH Corporation milikmu," ucapnya lirih, terisak.
"Ren, tetaplah hidup jika tidak aku akan membakar semua foto pernikahan kita..." Jeny menimpali masih menitikkan air matanya.
"Takoyaki milik kakek, akan kakek habiskan jika kamu tidak bangun," Taka menghapus air matanya, walaupun hal yang percuma. Namun, hanya ini hal yang dapat dilakukannya, setidaknya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Aku akan menikah lagi, mencarikan ayah baru untuk Rafa jika kamu tidak bertahan..." ucapnya Jeny masih meracau di tengah doa dalam hatinya dan rasa dukanya.
"Aku akan menikahkan Jeny-mu dengan Tomy jika kamu tidak bertahan!!" Taka meninggikan intonasi suaranya, masih terdengar isakannya.
"Benar, Tomy dan aku akan menikah jika kamu tidak bangun!!" Jeny menghebuskan napas kasar menahan tangisnya.
Seseorang melangkah dengan cepat mendengar semuanya,"Kalian sudah gila ya!?" bentaknya datang ditengah rasa duka dengan pakaian kapten kapal.
"Jeny kasar!! Kamu bukan tipeku!! Aku menyukai wanita lembut!!" bentaknya pada istri tuannya.
"Dan kakek tua!! Aku tidak ingin di jodohkan dengan janda satu anak yang tengah hamil..." Tomy untuk pertama kalinya berani mengumpat pada Taka.
Kedua orang yang hanya bicara asal itu mengenyitkan keningnya menatap sang kapten kapal, tidak mengerti.
"Bos pelit!! Bangunlah, aku mohon, wanita itu sangat kasar!! Tipe wanita yang paling aku benci!! Tidak mungkin aku bisa jatuh cinta padanya!!" ucapnya berlutut sambil menangis, menginginkan bos pelitnya menghentikan kata-kata perjodohan yang baru di dengarnya.
Pernikahan dengan kakak cantik harus aku batalkan? Menikah dengan nona muda tukang perintah? Tolong hiduplah!! Aku tidak ingin memenuhi wasiat warisanmu yang menyusahkan. Firaun pelit... umpatnya dalam hati.
Bersambung
__ADS_1