
Tawa terdengar dari mulut Jony,"One shoot..." ucapnya menembak balon tepat sasaran."Ini untuk anak ayah..." lanjutnya memberikan hadiah yang diberikan penjaga stand permainan.
"Boneka Teddy bear?" Dimas mengenyitkan keningnya, diberikan boneka Teddy bear, berwarna pink berukuran raksasa oleh ayahnya.
"Maaf, tadi ayah ingin menembak ke arah mobil remote control, tapi yang kena malah Tedy bear," Jony tertawa kecil, melihat wajah cemberut putranya.
"Akan aku kembalikan!!" ucap Dimas kesal.
"Jangan!! Coba rasakan baik-baik, pelukannya sehangat pelukan ayah kan...?" Jony menghebuskan napas kasar, menghibur putranya.
"Karena ini hadiah tulus dari ayah, aku terima..." ucapnya memaksakan dirinya untuk tersenyum, tidak ingin mengecewakan Jony.
Tidak dipungkiri, inilah pertama kalinya Dimas menghabiskan waktu dengan ayahnya. Mendapatkan perhatian secara khusus.
Tanpa kasih sayang? Tidak, Jony menyayanginya hanya saja seperti enggan berada di rumah. Hanya ketika Dea sudah tertidur, barulah Jony pulang. Lebih memilih tertidur di kamar putranya, dibandingkan dengan kamar utama yang besar.
Setiap malam ketika Dimas terbangun hanya untuk sekedar meminum air. Wajah tenang ayahnya masih lengkap menggunakan kemeja, celana panjang dan dasi tertidur di kamarnya yang terlihat.
Ketika pagi tiba, Jony sudah kembali menghilang dari tempat tidur putranya, bagaikan enggan bertemu dengan Dea. Saling menyakiti, itulah yang terjadi, jangan berpikir Dimas tidak mengetahui perselingkuhan ayahnya dengan Nana. Anak itu mengetahui semuanya, pernah sekali memergoki Jony berciuman, tanpa sepengetahuan ayahnya.
Termasuk ibunya yang sering membawa pria muda ke kamar utama. Dimas mengetahuinya, hanya menutup mata dan telinganya, menganggap tidak terjadi apapun. Agar, rumah tangga ibu dan ayahnya baik-baik saja. Memendam api dalam sekam, hingga akhirnya tetap saja perpisahan itu terjadi.
Namun, entah kenapa Dimas bahagia, menatap senyuman tulus di wajah ayahnya. Tidak seperti dulu, terkadang sang ayah termenung di ruang kerjanya, menangisi sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Ini untukmu? Coklat atau Vanila?" tanya Jony pada Dimas, menyodorkan dua corn ice cream.
"Aku tidak suka ice cream!!" ucapnya acuh, tidak ingin terlalu mudah didekati. Berpura-pura jual mahal.
"Ya sudah, ayah makan keduanya..." Jony kembali tersenyum, melirik ke arah putranya.
"Aku suka coklat!!" Dimas berteriak, memberikan boneka Teddy bear nya pada Jony.
Anak itu makan dengan lahap, seakan takut untuk direbut. "Cepatlah besar, anak ayah..."
Tidak diduga, setelah hampir 13 tahun, taman hiburan ini masih buka. Kemari bersama dengan putraku, sama menyenangkan bersama denganmu. Aku sudah bahagia... gumamnya dalam hati, menatap fatamorgana Ana, almarhum istrinya, berdiri di antara keramaian orang-orang yang lalu lalang. Ana menatapnya dan Dimas sembari tersenyum. Seakan ikut dalam kebahagiaan mereka, sejenak kemudian fatamorgana itu menghilang.
"Setelah ini kita naik apa?" tanyanya pada Dimas.
__ADS_1
"Itu...!!" Dimas menyunggingkan senyumannya.
"I...itu..." Jony berusaha tersenyum, mengeluarkan keringat dingin, ketakutan.
***
"Aaaaaa....aaaaa...aaaaa" suara memekik penuh ketakutan terdengar di arena permainan Loller coaster.
Permainan itu terhenti bersamaan dengan seseorang yang turun, berlari ke tempat sampah, mengeluarkan isi perutnya,"Uuuueekk...!!"
"Kita naik lagi ya!? Sangat menyenangkan!!" ucap Jony dengan rambut berantakan, mengikuti Dimas yang terlihat pucat pasi, berlari menuju tempat sampah.
"Menyenangkan apanya!? Tadi menyeramkan!! Jika aku mati maka uang tabunganku tidak akan ada yang menghabiskannya!! Uuuueekk...!!" bentak Dimas kembali mengeluarkan isi perutnya.
"Iya... maaf..." Jony menghela napasnya, memijit belakang leher, telinga, dan pelipis putranya menggunakan minyak angin aromatherapy.
"Aku sudah baik-baik saja..." ucap Dimas yang tadinya sok jagoan.
"Sudah lebih baik!? Bagaimana jika yang selanjutnya adalah yang itu..." Jony antusias adrenalinnya terlanjur terpacu. Menunjuk ke area permainan lain, terlihat berputar-putar di atas langit. Benar, halilintar...
"Sekali saja..." Jony kembali berusaha menarik Dimas.
"Tunggu, permainan yang lain saja ya?" Dimas menghela napasnya.
***
"Ayo kita ambil foto..." Jony tersenyum, mengarahkan kamera handphone padanya dan Dimas menaiki komedi putar berdampingan.
"Ayah!! Jangan ambil foto, itu memalukan..." ucapnya mendorong tongsis yang sengaja dibeli Jony. Sehingga hasil gambarnya samar. Namun, Jony tidak kenal menyerah, hingga belasan foto berhasil diambilnya.
Bahagia? Tentu saja, hatinya pasangan ayah dan anak itu terasa hangat saat ini. Jony tidak pernah tertawa selepas ini, selain bersama dengan Ana. Bermain bersama putranya tanpa kenal lelah, menarik tangan Dimas menikmati kebersamaannya dengan putranya.
Kelap kelip lampu rumah dan gedung di daerah perkotaan itu terlihat. Kincir raksasa di taman hiburan itu naik semakin tinggi. Dimas masih berusaha tidak terlihat bahagia di hadapan Jony, padahal dalam hatinya inilah satu-satunya saat paling membahagiakan bersama ayahnya.
Jony menghebuskan napas kasar tersenyum menatap putranya,"Maaf, harus berpisah dengan ibu..." ucapnya.
"Apa ayah bahagia?" tanya Dimas, menatap wajah cerah ayahnya.
__ADS_1
Rambut pria itu terkena hembusan angin malam yang dingin, tersenyum menatap lampu perkotaan dari Kincir Ria yang terus naik."Ayah bahagia, saling melukai dengan ibumu selama belasan tahun membuat ayah lelah ..." jawabnya.
Dimas menghela napasnya,"Bisakah kalian kembali bersama?" tanyanya kembali, tangannya mengepal, menunduk memendam semuanya. Belum rela dengan perpisahan kedua orang tuanya.
Jony menatap mata putranya, memegang kedua bahunya bagaikan menegarkan,"Apa kamu tau alasan ayah ingin berpisah?"
"A...aku tau!! Aku melihat ayah berciuman dengan bibi Nana!! Ibu juga, membawa orang tidak dikenal ke kamar kalian!! Kalian fikir aku tidak tau!!" Dimas membentak, nada suaranya bergetar mengeluarkan amarahnya, matanya memerah mulai menangis terisak.
Jony berlutut di hadapan Dimas, mensejajarkan tingginya, dengan putranya yang tengah duduk. Kemudian memeluknya erat,"Maaf... bertahun-tahun memberikanmu pengalaman menyakitkan..." ucapnya lirih.
"Ayah tolong maafkan ibu... Kembalilah bersama, lupakan bibi Nana..." ucapan ganjil keluar dari anak yang masih berusia terlalu muda itu. Diam dan mengetahui segalanya, merengek bagaikan anak manja hal yang dilakukannya dulu, berharap dirinya menjadi perekat hubungan ibu dan ayahnya.
Jony menggeleng gelengkan kepalanya,"Walaupun bibi Nana tidak ada, ayah tidak dapat bersama kembali dengan ibumu..."
Jony melonggarkan pelukannya, tangan dinginnya, menghapus air mata putranya.
"Kenapa? Aku akan meminta ibu..." kata-kata Dimas terhenti, ayahnya kembali tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Keluarga, bukanlah hal yang berharga bagi Dea. Hanya sekedar mewarisi darahnya saja. Cinta? Ibumu hanya mencintai kesempurnaan, tidak pernah benar-benar mencintai ayah. Karena itulah, ayah dulu mengorbankan orang lain demi bersama kalian... Dan lahirlah anak ayah ini, satu-satunya hal yang tidak membuat ayah menyesal menikah dengan ibumu..." jawabnya tersenyum, mengacak-acak rambut putranya menjelaskan singkat. Tidak ingin, mengutarakan alasannya secara lengkap.
Ingin melindungi Dimas? Itulah alasan utama, tidak ingin Dimas bernasib sama seperti putri tirinya Jeny, yang dipaksakan untuk menjadi sempurna. Kemudian tidak diakui jika tidak bersedia menjadi bonekanya lagi.
Dimas menghela napasnya berusaha mengalihkan pembicaraan,"Siapa yang ayah korbankan untuk bersamaku dan ibu?" tanyanya.
"Malaikat baik hati, yang memiliki banyak anak..." ucapnya, dengan setetes air mata mengalir di pipinya.
Terluka? untuk pertama kalinya, Dimas melihat wajah sendu ayahnya, jemari tangannya yang kini mengusap air mata di pipi Jony,"Siapa? Jika bukan bibi Nana, Siapa yang membuat ayahku dapat menangis, aku ingin menemuinya,"
"Tidak bisa..." Jony menggeleng gelengkan kepalanya, berusaha kembali tersenyum.
"Aku ingin melihatnya, mungkin jika dia kaya. Aku bisa mempertimbangkan menjadi ibu tiriku..." ucapnya tersenyum, tidak ingin melihat wajah sedih ayahnya.
Jony tertawa kecil, mengacak-acak rambut putranya,"Anak nakal..." cemoohnya.
Ana, bahkan putraku bersedia menjadi anak tirimu. Tersenyumlah di sana, sampai suatu hari nanti saat usiaku habis, aku akan menemanimu disana...
Bersambung
__ADS_1