Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Berikan Aku Pekerjaan


__ADS_3

Tangannya mengepal, namun senyuman palsu menyungging di bibirnya. Amarah yang tertahan, mungkin itulah perasaannya saat ini. Berdiri di belakang pria yang ingin rasanya dihabisinya saat ini.


"Cheers..."


Kepala keluarga mengangkat gelasnya, diikuti anggota keluarga lainnya, Clarissa tersenyum penuh kebanggaan. Merayakan keberhasilannya? Itulah mungkin tema makan malam hari ini.


"Jadi dia berkata akan bertanggung jawab!?" Lery tersenyum, menyesap gelas wine-nya yang hanya terisi seperempat.


"Benar, aku akan bertunangan dengannya, pernikahan akan terlaksana setelah mereka resmi bercerai..." Clarissa menghela napasnya, berucap penuh kebanggaan.


Deren tertawa kecil, sembari memutar-mutar garpu spaghetti di hadapannya,"Wanita malam yang berhasil merayu bos muda..." cibirnya.


"Dari pada kamu! Pewaris tunggal, tapi tidak pernah menghasilkan apa-apa untuk keluarga. Setidaknya, setelah aku menikah, statusku dapat mengukuhkan kekuasaan ayah. Dasar pewaris sampah...." ucap, Clarissa ikut tertawa kecil menyindir.


"Aku sudah kenyang," Sasha (istri Lery) bangkit dari tempat duduknya, merasa sudah cukup sesak dan muak berada di meja dingin tanpa keharmonisan di hadapannya.


"Mau kemana!?" Lery memegang tangan istrinya.


"Berbelanja, selagi aku disini. Berada di rumah, lumayan membosankan," ucapnya menepis tangan suaminya.


Kesal? Tentu saja, entah berapa wanita yang ditiduri suaminya di setiap negara, tanpa kehadirannya. Tidak dapat melawan, atau bercerai, sepenuhnya lepas dari jeratan Lery juga sulit. Hanya satu hiburannya, pria yang mengikutinya keluar melalui pintu utama, supir pribadinya.


***


Gabriel masih konsentrasi pada makanannya, menghela napas kasar,"Aku sudah selesai..." ucapnya menyeka bibirnya setelah meminum beberapa teguk air putih.


"Paman, kenapa paman belum menikah? Dari wajah paman seharusnya mudah mendapatkan istri...?" tanya Deren penasaran.


"Jika anak dan istriku ada, ayah kalian akan menembak tepat di kepala mereka," ucapnya sarkas penuh senyuman. Berjalan berlalu pergi menuju pintu depan.


Deren mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Tiba-tiba, bawahan Lery datang berbisik padanya. Pria paruh baya itu segera bangkit diikuti langkah Hans yang seolah menjaganya, serta beberapa pengawal lainnya.


"Kakak, kenapa paman bicara seperti itu?" Deren mengenyitkan keningnya tidak mengerti. Hangat dan memanjakan, itulah sosok Gabriel di mata pemuda itu. Satu-satunya orang yang tidak marah padanya saat berbuat kesalahan.


"Kamu tidak tau? Istrinya dibunuh dengan tangannya sendiri atas perintah ayah. Agar paman tidak memiliki anak dan hanya menyayangi kita. Setengah dari kekayaan ayah sebenarnya adalah milik paman yang diwariskan oleh kakek."


"Paman menjadi dokter, dan tidak ikut campur dengan urusan perusahaan, agar ayah percaya padanya tidak akan merebut apapun," Clarissa menjelaskan, kembali menyuapi mulutnya dengan potongan kentang.


Deren yang biasanya tidak begitu akrab dengan kakaknya mulai bertanya,"Menurutmu jika paman mempunyai anak. Kakak ingin kita memiliki sepupu seperti apa?"


"Emmm...." kakak beradik itu mulai berpikir.


"Aku ingin berotot besar seperti Rambo, membawa senjata laras panjang serta granat di pinggangnya..." lanjut Deren membayangkan memiliki sepupu yang keren versinya.


"Wanita atau laki-laki sama saja, yang terpenting idiot dan mudah ditindas. Agar tidak merebut hak warisnya. Tapi menurut kepribadian paman, mungkin jika dia memiliki anak..." Clarissa berpikir sejenak.


"Anaknya mungkin pintar, berwawasan luas, dingin dan tenang. Orang yang harus diwaspadai dan dibunuh..."

__ADS_1


***


Erangan erotis terdengar, beberapa puluh menit berlalu sang pemuda segera kembali memakai pakaiannya seusai membersihkan diri."Terimakasih tan..." ucapnya.


"Pelayananmu selalu memuaskan, bagaimana jika menikah dengan saya saja!? Hidupmu akan saya jamin..." tanya wanita yang masih berbalutkan selimut.


"Aku masih memiliki banyak tujuan," jawabnya ambigu, mengambil amplop uang. Pergi melangkah meninggalkan kamar.


Pria malam? Siapa yang ingin menjalani kehidupan menjadi seorang gigolo. Tidur dengan wanita yang tidak dicintainya, bahkan harus melayani wanita berumur.


Dua tahun yang lalu...


Bruk...


Satu hantaman mendarat di pipinya,"Bayar hutang ayahmu!!" bentak sang depth colector.


"Dia yang berhutang, kenapa harus aku yang membayar!!" jawabnya.


Dua orang depth colector berbadan besar, itu mengangkat kerah pakaiannya,"Ayahmu melarikan diri bersama istri muda dan adik tirimu. Hanya meninggalkan namamu sebagai jaminan. Bayar, atau kami preteli organmu satu persatu untuk di jual!?" tubuhnya di hempaskan asal, membentur ubin.


Keluarga? Zion memiliki keluarga yang lengkap, bahkan saking lengkapnya sang ayah memiliki dua istri. Ibunya meninggal, beberapa tahun yang lalu, bersamaan dengan usaha ayahnya yang bangkrut. Sang ayah melarikan diri bersama istri mudanya dan anak mereka.


Pinjaman dengan bunga yang besar, harus dibayar Zion jika ingin tetap bertahan hidup. Bersolek? penampilan adalah hal yang terpenting bagi pekerja malam sepertinya.


Buku kuliahnya telah berdebu tidak pernah dibacanya lagi. Untuk apa pintar, tapi tidak memiliki nyawa? Itulah yang terngiang dalam fikirannya.


Melayani memuaskan pelanggannya di tempat tidur, meninggalkan wanita yang memujanya, setelah pergulatan hangat tanpa adanya rasa. Dengan selalu membawa pergi amplop coklat, sebagai jimat penyelamat nyawanya, membayar hutang ayahnya sedikit demi sedikit.


Zion menghela napas kasar,"Tiga hari yang lalu, aku dibayar mahal, ditambah dengan yang aku dapatkan tadi malam. Semuanya sudah lunas..." ucapnya memberikan amplop coklat pada depth colector.


"Baik lunas," sang depth colector tersenyum menghitung uang yang didapatkannya."Lain kali, minta ayahmu berhutang lagi. Ternyata tubuhmu lebih mahal sewanya, dibandingkan dengan harga organmu..." cibirnya, tertawa menghina, berlalu pergi.


Zion menghebuskan napas kasar. Gigolo? Pekerjaan paling memuakan dalam hidupnya, menelan harga dirinya, hanya untuk dibayar mahal.


Pemuda itu mulai duduk di teras rumahnya, memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk masa depannya. Tidak mungkin seumur hidupnya menjadi pria bayaran. Setelah bebas dari depth colector, dirinya harus menyusun masa depan, itulah tekadnya. Agar suatu hari nanti saat memiliki keluarga dapat mengangkat kepalanya di hadapan istri dan anaknya kelak.


Satu persatu lowongan pekerjaan pada koran dilingkarinya. Hanya beberapa perkejaan saja yang cocok dengan ijasahnya yang hanya SMU, kuliahnya dulu terhenti di semester 7. Pelayan restauran, cleaning service, OB, itulah pekerjaan yang dilingkarinya.


Mengandalkan kemampuannya sendiri melamar pekerjaan ditengah ketatnya persaingan. Belasan kali ditolak, karena tidak memiliki pengalaman kerja.


Hingga sampai di wawancara sebuah kantor. Manager, staf administrasi, serta OB itulah lowongan yang tersedia di cabang perusahaan yang baru buka itu.


Namanya di panggil, terdapat tiga orang di sana, salah seorangnya tidak tertarik sama sekali untuk mewawancarai seseorang yang melamar menjadi OB. Terlihat acuh, namun Zion tidak, pemuda itu tersenyum ke arahnya, tanpa disadari orang tersebut.


"Tidak memiliki pengalaman kerja? Kantor cabang perusahaan kami memang baru buka, tapi tidak menerima orang yang tidak memiliki pengalaman..." ucap pegawai HRD melempar map milik Zion."Kamu tidak diterima..."


Pemuda itu menghela napasnya, berjalan keluar beberapa langkah, hingga depan pintu kantor. Senyuman menyungging di bibirnya, mengingat sosok Clarissa, salah seorang yang menginterview namun untuk jabatan lebih tinggi.


"Aku akan bekerja disini, bagaimanapun caranya..." gumamnya.

__ADS_1


***


Sore menjelang, gedung perkantoran telah sepi. Clarissa pulang lebih lambat hari ini, berjalan melewati lorong tempat parkir.


Tak..tak...tak...


Suara sepatu hak tingginya, namun siapa yang menduga, lengannya tiba-tiba ditarik orang tidak di kenal.


"Kamu siapa?" tanyanya, mulutnya tiba-tiba di bungkam dengan sebuah ciuman.


Clarissa meronta-ronta, namun tenaga pemuda itu lebih kuat darinya. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat, matanya mulai terpejam membalas tautan bibir pemuda yang tidak dikenalnya. Saling mengulum, bertautan, penuh hasrat.


Tidak menyadari satu foto diambil sang pemuda di tengah hasratnya memojokkan Clarissa.


"Dapat..." ucap sang pemuda dengan napas tidak teratur.


"A...apa yang kamu lakukan!? Siapa kamu!?" tanya Clarissa membentak mencoba meraih handphone yang menangkap gambar adegan ciuman panas mereka.


"Kirim..." ucapnya tersenyum setelah mengirim gambar pada temannya.


"Apa yang kamu lakukan!? Berani-beraninya menciumku, aku akan pastikan kamu mati dalam penderitaan!!" bentak Clarissa penuh ancaman.


"Jika aku mati, foto tadi akan disebar temanku melalui media sosial. Calon tunanganmu, jika tidak salah namanya Farel kan?" cibirnya penuh ancaman.


"Apa maumu!?" tanya Clarissa kembali, tidak ingin terjadi kesalahpahaman, yang berdampak pada hubungannya dengan Farel.


"Perkenalkan, namaku Zion, aku pelamar pekerjaan sebagai office boy di kantor ini. Aku ingin bekerja disini sebagai office boy..." Zion dengan tidak tau malunya mendekatkan bibirnya pada leher Clarissa, menghebuskan napas menggoda,"Jika perlu tempatkan aku dekat denganmu..." bisiknya.


Clarissa membulatkan matanya, tiba-tiba dilecehkan dan menerima ancaman, siapa yang akan terima. "Kamu akan mat..." kata-katanya terhenti, pemuda itu memegang dagunya menatapnya tajam, bibir Zion kembali menghujam bibir wanita di hadapannya,"Turuti keinginanku, atau calon tunanganmu, akan mendapatkan foto, betapa kamu menikmati ciuman dari pria tidak dikenal..." bisiknya, melempar tangkap handphonenya yang berisikan gambar ciuman panas yang tadi terjadi. Berjalan pergi penuh senyuman.


Sudah mengetahui? Tentu saja, semua sudah diketahui olehnya. Calon tunangan Clarissa adalah Farel sepupu wanita itu sendiri. Karena itulah dirinya dulu disewa, untuk menggantikan Farel meniduri Clarissa.


Tertarik? Sangat, perasaan aneh yang tidak dirasakannya pada klien lain. Berada di dekatnya, sekaligus mendapatkan pekerjaan baru. Sebuah keberuntungan bagi Zion.


"Br*ngsek!! Pria sialan!! Tidak waras!!" bentak Clarissa penuh rasa kekesalan, entah apa yang terjadi dirinya tidak dapat melawan, malah luluh saat ciuman itu terjadi.


***


Di tempat lain...


Lery ditemani Hans yang berdiri di belakangnya, sebagai salah satu tangan kanannya. Menemui seorang penghianat di bisnis gelapnya.


Dor...


Suara letupan senjata api terdengar, ditembakkan oleh salah satu pengawal Lery.


"Akibatnya, jika berkhianat..." gumamnya, menatap tubuh salah satu orang kepercayaannya yang bersimbah darah.


"Hans, awasi pergerakan Gabriel, dan satu lagi... Utus orang untuk mengikuti Clarissa, aku tidak ingin ada masalah sebelum Clarissa resmi menikah," perintahnya.

__ADS_1


"Baik tuan..." Hans menunduk memberi hormat. Sedikit senyuman ganjil menyungging di bibirnya, tidak disadari Lery.


Bersambung


__ADS_2