Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Pacar Rahasia


__ADS_3

"Apa kamu menikmatinya!?" tanya Zion dengan deru napas tidak teratur.


"Ti... tidak!! Br*ngsek!!" bentak, Clarissa mendorong tubuh pria yang memojokkannya.


Berdebar? Semua perasaan yang berkecamuk ditahannya, meninggalkan Zion yang menunduk terdiam di lorong buntu, menuju toilet itu.


Ting...


Notifikasi pesan masuk dari Farel, 'Maaf, aku sudah datang menjemputmu. Tapi tiba-tiba ada telfon dari klien. Tender proyek terbesarku ingin direbut oleh musuh dalam selimut di perusahaanku. Hati-hati dijalan, hari sangat dingin, sebaiknya setelah sampai rumah segeralah mandi air hangat,'


"Dia sangat perhatian, maaf..." gumam Clarissa, setelah membaca pesan di handphonenya.


Tender proyek terbesar? Tentu saja adalah nonanya tersayang, Jeny. Musuh dalam selimut maksudnya Tomy. Begitulah arti sebenarnya, dari pesan yang dikirim Farel, tanpa disadari Clarissa.


Wanita itu tertunduk penuh rasa bersalah, menatap hujan lebat yang turun di hadapannya. Tangannya menadah tetesan air hujan, ada perasaan aneh dalam dirinya menyeruak.


"Mom..." racaunya tiba-tiba merindukan sosok wanita yang melahirkannya, membesarkannya penuh kasih. Walaupun, dari ketika masa kuliah hubungan ibu dan anak itu merenggang.


Tiba-tiba merindukannya? Itulah yang terasa, air matanya sedikit menetes. Diseka olehnya,"Kenapa aku merindukan wanita menyebalkan itu. Aku sudah mandiri sekarang. Tidak perlu bantuannya lagi..." gumamnya, merasakan kekosongan aneh dalam hatinya.


Terisak sendirian, hingga jemari tangan dingin seorang pria kembali menariknya yang terlihat termenung."Lepas!! Atau aku benar-benar akan meminta orang untuk membunuhmu!!" ucapnya berusaha melepaskan cengkraman tangan Zion.


"Kalau begitu kenapa takut padaku? Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Jangan menangis lagi, apa kamu akan di jemput? Jika iya, kita sebaiknya menunggu di tempat lain..." ucapnya tersenyum hangat, ingin menghapus raut wajah sedih wanita yang selalu terlihat kejam itu.


Membuka payung yang lumayan besar, merangkul bahu wanita yang sedikit lebih pendek darinya. Berjalan di tengah dinginnya hujan. Hangat? Anehnya tangan dingin ini terasa hangat, air mata Clarissa mengalir seiiring perjalanan mereka, seperti menemukan tempat yang nyaman untuk menangis.


"Aku tidak akan bertanya kenapa kamu menangis, tapi menangis di tengah hujan, tidak ada orang yang dapat mendengarnya. Jadi menangislah..." ucapnya merangkul Clarissa, berjalan perlahan di tengah hujan yang semakin deras.


***


Sebuah rumah kecil di dalam gang sempit, payung besar ditutup pemuda itu. Berlari kedalam rumah dengan cepat mengambil handuk. Wajahnya nampak tersenyum menggosok-gosok rambut Clarissa yang sedikit basah.


"Kamu tau jalan kemari, jika aku melakukan hal buruk padamu. Kirimlah pembunuh bayaran untuk membunuhku..." ucapnya tersenyum, menggunakan handuk kecil lainnya untuk mengeringkan rambutnya sendiri yang sedikit berembun.


Untuk apa kalangan atas sepertiku kesini? Itulah yang mungkin ada dalam fikiran Clarissa. Namun, rasa penasarannya dengan isi rumah pemuda itu membuatnya ikut masuk.


Rumah kecil yang rapi, sofa tua, TV analog, pajangan beberapa foto keluarga tidak ada yang istimewa. Wanita itu perlahan duduk di sofa, teh hangat mulai dihidangkan satu-satunya penghuni rumah ini.


"Kenapa menangis?" tanya Zion, duduk di samping Clarissa, mengawali percakapan mereka. Ingin mengusir rasa canggung.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukan wanita tidak penting..." ucapnya tertunduk, air matanya kembali menetes entah kenapa.


"Jika tidak penting, kamu tidak akan merindukannya..." Zion menghela napasnya, berusaha menjadi pendengar yang setia.


"A...aku merindukan ibuku. Dulu kami tinggal bersama di California. Dia terlalu mengatur hidupku, ka... karena itu aku membencinya," Clarissa tiba-tiba menangis semakin terisak, kekosongan di hatinya semakin terasa.


Ikatan ibu dan anak? Mungkin itulah yang membuatnya merasakan firasat aneh. Kematian Sasha? Hal yang sama sekali belum diketahui olehnya. Hanya sesak saja, merasakan keganjilan, rasa rindu yang mengacaukan perasaannya.


"Syukurlah, saat SMU ayah mulai membawaku ke negara lain. Jadi dia tidak mengatur..." Clarissa semakin terisak, bagaikan tidak akan pernah bertemu sosok itu lagi.


"Bodoh..." Zion menyeka air matanya sendiri yang terlanjur mengalir, menghela napasnya berusaha menenangkan diri. "Ibuku meninggal terkena tifus. Dia berobat seorang diri, tidak mengatakan dirinya sakit apa,"


"Hanya membentak ku supaya terus belajar dan berhenti bermain-main. Aku balas membentaknya saat itu, mengatakan berharap tidak memiliki ibu tukang atur sepertinya. Hal yang paling aku sesali, aku belum meminta maaf, hingga kematiannya...,"


Zion menghela napasnya, berusaha tersenyum,"Seorang ibu mempunyai cara yang berbeda untuk menyayangi anaknya. Bahkan nyawanya sendiri tidak berarti jika itu untuk anaknya. Jangan pernah membencinya, kasihilah dia, selagi dia ada..." ucapnya membelai pucuk rambut Clarissa.


"Tapi kami tidak begitu akur..." ragu, dan canggung begitulah pertimbangan dalam hati Clarissa.


"Darahnya dan dagingnya membentuk tubuhmu. Kamu adalah anggota tubuhnya, yang berada terpisah darinya. Dia juga merindukan dan mencintaimu. Tidak peduli, bagaimana renggangnya hubungan kalian. Rendahkan egomu, cintailah dia terlebih dahulu," Zion menghela napas kasar,"Berhentilah menangis, mulai saat ini, cintailah ibumu..."


Clarissa ikut menghebuskan napas mulai berusaha untuk tenang,"Terimakasih..." wanita itu tersenyum.


"Untuk tehnya? Atau kopi tadi siang?" pemuda itu mengenyitkan keningnya.


Zion tertegun sejenak, wajah cantik itu membuat hatinya kembali berdebar, mencium bibir dingin itu pelan. Cinta? Inikah rasanya, ketika hatimu melekat pada orang lain? banyak pertanyaan di dalam hatinya. Kala, Clarissa memejamkan mata, membalas gerakan bibir pelan itu.


"Bagaimana jika aku menjadi kekasih gelapmu? Aku akan menunggumu ketika dia tidak ada, membiarkan kalian bersama. Saat, kesepian kamu boleh menemuiku..." bisiknya dengan napas tidak teratur.


"Tapi..." kata-kata Clarissa terhenti, pemuda itu kembali menyesap bibirnya perlahan. Gerakan yang lembut, bibir mereka yang dingin perlahan menghangat. Mata mereka terbuka perlahan, seiringan dengan napas mereka yang tidak teratur berebut oksigen.


"Jadilah pacarku..." ucap Zion tersenyum, kening mereka masih bersentuhan, saling tertunduk. Mengatur napasnya, hingga bibir itu kembali bertaut.


Salah? Zion mengetahuinya identitas Clarissa, pemuda itu juga menyadari hubungan ini akan sulit. Membahayakan nyawanya sendiri, itulah yang dilakukannya. Namun, dirinya tidak ingin kehilangan satu-satunya hal yang menggugah hatinya dalam waktu singkat.


Tetesan air hujan terdengar dari atap yang bocor, tidak dipedulikan dua orang yang tengah memangut bibir mereka penuh hasrat, seakan tidak pernah menemukan titik kepuasan.


"Aku tidak mencintaimu..." mulut wanita itu berucap. Tidak seiring dengan debaran hatinya.


"Kalau begitu jangan cintai aku, aku hanya akan tetap menjalani cinta sepihak..." ucapnya, tersenyum. Tidak memiliki apa-apa lagi, keluarga? Kekayaan? Teman? Harga diri? Tidak ada masa depan untuknya.

__ADS_1


Tidak ada yang dipertaruhkan atau diperjuangkan olehnya. Hanya saja, entah kenapa dirinya ingin mengikuti wanita berhati kejam di sampingnya. Mungkin membimbing wanita itu dalam dekapannya, hanya itu...


***


Gabriel menghela napas kasar, mengirim hasil otopsi palsu pada pihak kepolisian. Menatap dua jasad di hadapannya.


"Kakak, kamu membunuh istrimu sendiri? Apa tidak ada yang berarti bagimu lagi? Jika Deren atau Clarissa berkhianat, apa yang akan kamu lakukan? Apa sama sepertiku yang diberi perintah untuk membunuh Citra? Atau sama seperti Sasha?" gumamnya iba, menatap wajah putih pucat tidak bernyawa.


Pria itu, keluar dari kamar mayat, berjalan beberapa langkah, dalam lorong rumah sakit yang gelap. Sekelebat, ada seseorang yang bagaikan mengikutinya, bersembunyi di salah satu lorong.


Gabriel menengok kebelakang, namun hanya lorong kosong yang terlihat. Kembali melanjutkan langkahnya, lebih cepat.


Tak...tak...tak...


Tak ...tak...tak...


Langkahnya memang diikuti langkah sepatu lainnya. Terdengar seperti sepatu pria, dengan cepat Gabriel berjalan berbelok di salah satu lorong.


Bersiap, menghadapi orang yang nampak berjalan lebih cepat seperti kehilangan jejaknya. Dengan satu langkah, pria berjas dokter itu, menjegal orang yang mengikutinya, kemudian membanting tubuhnya ke lantai. Mengunci pergerakan tangannya.


"Ayah... kamu sungguh kejam pada putramu..." ucap seseorang yang baru saja dilumpuhkannya.


"Fa... Farel? Maaf..." Gabriel dengan panik, membantu putranya bangkit.


"Aku akan mengadukan ini pada ibu!!" bentak anak yang teraniaya itu, memegangi punggungnya yang sakit, akibat terpelanting keras di lantai.


"Kamu yang salah!! Kenapa mengikuti ayah diam-diam," Gabriel tidak mau kalah.


"Kita harus pura-pura tidak akrab, apa ayah lupa? Aku sedang mencari kesempatan bertemu ayah di tempat sepi," bentaknya.


"Tapi tidak seharusnya kamu..." kata-kata Gabriel terpotong, oleh ocehan putranya.


"Lebih baik, ibu dan ayah bercerai saja, aku akan mencarikan ibu suami baru yang lebih dapat menyayangiku. Tidak menelantarkan ku, tidak menganiayaku seperti ini," keluhnya.


Gabriel membulatkan matanya, tidak pernah menang berdebat melawan kloning dirinya sendiri.


"Aku akan mencari ayah baru..." cibir Farel kembali, berjalan melewati ayahnya.


"Jangan begitu, ayah yang salah!!" Gabriel berlutut, memeluk kaki putranya, agar tidak mengadu pada Citra.

__ADS_1


Tanggung jawab sebagai seorang ayah memang sangat besar. Dulu aku ingin putraku yang pintar dan baik hidup kembali, bahkan jika perlu menukar nyawaku pun tidak apa-apa. Tapi setelah dia hidup, beginilah... Gabriel menghebuskan napas kasar, dalam kesabarannya.


Bersambung


__ADS_2