
......Kelebihan terkadang merupakan berkat. Namun, jika berada di tempat yang salah, akan berubah menjadi ujian. Menunjukkan kelebihan? Terkadang menjadi hal baik, terkadang juga dapat mendatangkan bencana. Yang terbaik jika jadilah rendah hati dengan kelebihan dan kekuranganmu......
Author...
Pagi yang benar-benar dingin, Gabriel tidak tidur sedikitpun, terdiam bangun mendengar suara dari arah dapur belakang rumah.
Perlahan pemuda itu merenggangkan otot-ototnya. Imajinasi tentang kejadian semalam masih terbayang di benaknya.
Aroma teh hangat tercium semerbak, bercampur dengan aroma bunga melati. Gabriel perlahan bangkit, untuk pertama kalinya dirinya bangun pukul 05.15 pagi. Maaf, bukan bangun, tapi tidak tidur sama sekali.
Pemuda itu mulai melangkah, mendapati secangkir teh melati telah terhidang, entah milik siapa. Sedangkan dari dapur asap mengepul.
Terlihat seorang gadis berjongkok dengan rambut yang digulung kearas. Kulit jemari tangan dan kakinyanya yang masih putih bersih, tertutup pakaian lengan panjang yang hangat.
Tangan Gabriel gemetar ragu, menepuk pundak gadis yang membuatnya tidak dapat tidur nyenyak.
Citra menengok menonggakkan kepalanya. Jangan fikir Gabriel akan terpesona. Pemuda itu tertawa dengan kencang, bidadari yang dilihatnya tadi malam mulai lenyap sosoknya.
Terlihat wajah Citra yang hitam berminyak, akibat terkena asap saat meniup-niup kayu bakar agar menyala.
"Burik..." mulut Gabriel keceplosan, gadis itu menatap sinis. Mulai bangkit dari hadapan tungku tempatnya memasak sekaligus menghangatkan tubuhnya di pagi yang dingin.
"Maaf, soal kemarin..." Gabriel tertunduk penuh senyuman.
Citra mengenyitkan keningnya, hendak berjalan pergi. Namun, pergelangan tangannya ditahan,"Aku ingin teh melati..." ucap Gabriel mencari alasan, agar dapat bicara lebih lama dengan gadis aneh yang tengah merajuk.
Gadis itu menghembuskan napas kasar, mulai merebus air dengan melati serta menyiapkan daun tehnya.
Gabriel mengusap usap tangannya kedinginan, tubuhnya sedikit gemetaran. Tangan, Citra yang hangat menggenggamnya agar mendekati tungku, menariknya untuk berjongkok, sembari menunggu air rebusan melati siap.
"Cici, kenapa kamu pura-pura berpenampilan buruk?" tanya Gabriel tidak mengerti.
Citra kembali menghela napas kasar, tidak dapat menjelaskan tanpa bahasa isyarat.
"Jika tinggal di kota dengan wajah dan bodymu. Kamu dapat menjadi model atau selebriti terkenal..." gumamnya, disambut dengan sentilan di dahi oleh Citra.
"Kenapa marah!?" bentak Gabriel, mengusap-usap keningnya yang kebas.
Pria mesum!! Aku selalu berhayal yang pertama melihat tubuhku adalah suamiku. Tapi malah orang tengik sepertimu... gumam Citra dalam hatinya, kembali menatap ke arah api di tungku.
"Cici, bagaimanapun penampilanmu, kamu terlihat cantik..." ucap Gabriel, tangannya yang mulai menghangat menyentuh pipi Citra. Mengusapnya perlahan, terlihat wajah yang kotor itu mulai sedikit bersih.
"Benar-benar cantik..." lanjutnya, sembari tersenyum. Sejenak pemuda itu, mengalihkan pandangannya, dengan hati yang berdebar-debar.
"Ka... kamu jika membersihkan diri terlihat cantik. Jangan salah paham aku hanya tidak ingin kamu dipermalukan seperti kemarin," ucapnya gelagapan.
Wajahnya sekarang hitam berminyak, tapi kenapa hatiku tetap tidak bisa dikondisikan ya... Gabriel heran pada dirinya sendiri, meraba dada kirinya yang berdebar aneh.
Citra tersenyum merasa aman, mengikuti keinginan hatinya. Entah kenapa jemari tangannya menggenggam erat tangan Gabriel. Seakan mendapatkan perlindungan.
'Aku akan membersihkan diri, jika kamu dapat menjagaku,' tangan Citra bergerak, mengatakan sesuatu dengan bahasa isyaratnya.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti bahasa isyarat, apa artinya?" Gabriel mengenyitkan keningnya.
Jika tidak bisa ya sudah... keluh gadis itu dalam hati. Mulai bangkit dari tempat mereka menghangatkan diri.
"Tunggu!!" Gabriel bangkit menarik tangan Citra. Pemuda itu, entah mendapatkan keberanian dari mana. Yang jelas saat ini, inilah hal yang ingin dilakukannya.
Wajah yang masih kotor itu, tidak membuatnya jijik sama sekali. Bola mata hitam yang berada di baliknya, seakan menenggelamkan dirinya.
Gabriel memeluk tubuh Citra, memegang belakang kepala gadis itu, agar terdiam dalam cengkeramannya. Perlahan mendekatkan bibirnya, awalnya hanya sebuah kecupan.
Gadis yang merasakan sensasi aneh itu terdiam, tidak merespon atau melawan. Gabriel kembali menatap matanya lekat.
Dia tidak meronta... gumamnya dalam hati, perasaannya masih berdebar tidak puas. Kembali memejamkan matanya, merasakan bibir gadis yang bahkan tidak merespon itu.
Gabriel yang juga awam hanya mengikuti keinginan hatinya, yang tidak puas dengan sebuah kecupan sebagai ciuman pertamanya.
Lidahnya, memasuki bibir Citra, wanita itu tertegun mulai menutup matanya. Apa ini? Ini menjijikkan. Aku ingin menghentikannya, tapi tidak bisa... Gabriel apa kamu lakukan, kenapa aku tidak dapat melawan... tanyanya dalam hati, masih awam dengan hal yang namanya berciuman. Debaran di hatinya semakin cepat, seakan menuntut lebih, hingga akhirnya Citra ikut menggerakkan lidahnya. Mengikuti permainan bibir Gabriel.
"A...aku menyukaimu," ucap pemuda itu gelagapan."Aku tidak tau apa itu jatuh cinta!! Yang jelas aku ingin menjagamu!!" bentaknya, menahan rasa malunya.
Menjaga... kata-kata yang membuat Citra luluh, tanpa aba-aba Gabriel kembali menyambar bibirnya. Seakan tidak puas dengan ciuman pertama bagai candu, yang baru pernah dirasakannya.
Apa tidak terlalu cepat? Apa perasaan ini salah? Tapi aku tidak ingin menahan ini, sesuatu yang membuatku merasa nyaman... Citra mengalungkan tangannya pada leher Gabriel yang lebih tinggi darinya.
Air rebusan melati yang telah mengepul sedari tadi mulai surut. Harum aroma melati yang memenuhi ruangan, tercium lama kelamaan, bagaikan sesuatu yang hangus.
***
Dirinya yang biasanya hanya mandi tengah malam. Kini setelah memberi pupuk dan mengurusi tanaman sayuran di belakang rumahnya, kembali membersihkan dirinya.
Bajunya memang masih lusuh, namun rambutnya kali ini tertata rapi. Wajah rupawannya nampak lebih jelas.
"Engg... lumayan," Gabriel mengalihkan pandangannya dengan wajah bersemu merah.
Lumayan? Jika aku berdandan, aku lebih cantik dari artis di TV milik kepala Desa. Dasar menyebalkan!! Jika kamu punya anak nanti.... kutukan dalam hati Citra terhenti, wanita itu membulatkan matanya.
A...aku sedikit menyukainya. Dia terang-terangan mengatakan menyukaiku. Berarti ada kemungkinan anaknya nanti adalah anakku kan?... Bisa-bisanya aku mengutuk calon anakku sendiri... gumam Citra dalam hati.
"Ayo berangkat!!" Gabriel tersenyum, memakaikan keranjang teh di punggung Citra.
Sesekali pemuda itu bergurau, tersenyum seperti biasanya, pada gadis yang tidak dapat berkomunikasi dengannya itu. Bahagia dalam kesederhanaan, duduk makan di bawah pohon rindang.
"Aku menyukaimu," ketulusan nampak dalam raut wajah Gabriel. Ekspresi dengan mata berkaca-kaca yang manis, tersenyum kecil menunggu Citra yang masih makan.
Ini!! Antara cinta dan mengiba, meminta makanan sisa. Aku tidak bisa membedakannya... Citra menghebuskan napas kasar, menyodorkan sisa makanannya.
"Terimakasih," Gabriel meraih makanan milik sisa milik Citra.
Tidak tau malu, kenapa aku bisa menyukainya? Kenapa aku terkena bujukannya... gumamnya dalam hati, mengamati pria yang mungkin bersetatus kekasihnya itu makan dengan lahap.
Makanannya tandas, pemuda itu meminum air yang mereka bawa."Aku minta dessert (makanan penutup) yang manis..." ucapnya.
__ADS_1
Dessert? Apa itu dessert? Apa sejenis sayuran... Citra bertanya tanya dalam hatinya, hingga bibinya kembali disambar tanpa aba-aba. Perlahan gadis itu memejamkan matanya, merasakan hangatnya bibir Gabriel, lidah saling bertaut, bertukar saliva.
Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Aku menyukai perasaan ini... hati Gabriel terasa berdebar cepat, terus menerus menuntut kenyamanan.
Jadi ini yang dinamakan dessert? Aktivitas berciuman, dengan bagian dalam bibir saling bersentuhan. Aku akan mengingat, istilah baru yang diajarkan Gabriel, agar tidak dianggap kampungan olehnya... Citra terus mengingat dalam hatinya, pelajaran baru yang diterima gadis buta huruf itu.
***
Hari mulai sore. Seperti biasanya, Gabriel menunggu di depan gudang tempat menimbang daun teh. Menghebuskan napas kasar, berharap Citra tidak di hina orang-orang lagi karena penampilannya.
Alasan gadis itu tidak membersihkan dirinya ketika keluar dari rumah, sama sekali tidak diketahui pemuda itu. Hingga hari ini dirinya akan mengerti segalanya.
"Berikutnya..." Wijoyo berucap sembari mencatat. Pria paruh baya itu, mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Adek cantik, namanya siapa?" tanyanya mendekat hendak menggoda gadis yang mungkin seusia dengan anaknya.
Citra menggerakkan tangannya, berucap dengan bahasa isyarat,'Citra, pemilik kebun kecil di belakang pabrik, tolong segera timbang,'
"Citra?" Wijoyo tertawa kecil, "Ternyata dek Citra cantik juga ya? Gimana kalau bapak lamar jadi istri ke empat. Nanti sekolah Tirta di kota biar saya biayai. Dek Citra tidak usah kerja..." ucapnya, menyentuh dagu gadis itu.
'Maaf, saya kemari hanya ingin menjual daun teh...' Citra menepis tangan pria yang mungkin seusia almarhum ayahnya, kembali menggerakkan tangannya, menyodorkan keranjangnya.
"Dek Citra marah ya? Karena sering saya marahi, kalau tau ada kembang desa secantik ini. Tidak bakal abang anggurin..." Wijoyo semakin berani menggoda di depan orang banyak yang masih mengantri untuk menjual pada tengkulak genit itu.
Citra menatap sinis,'Jika tidak ingin membeli daun teh yang saya petik. Jangan membuang waktu saya,' ucapnya dengan bahasa isyarat.
"Tenang, karena dek Citra cantik, saya timbang..." Wijoyo, menatap anak buahnya agar segera menimbang daun teh milik Citra. Kemudian menyerahkan uang dua kali lipat dari harga teh.
"Lebihnya, buat dek Citra beli baju," ucapnya, menyodorkan uang, sembari mengelus tangan Citra
Gabriel yang menahan amarahnya dari tadi mendekat, menepis tangan pria paruh baya itu. Kemudian mengambil uang yang seharusnya mereka dapatkan, mengembalikan sisa lebihnya."Ini sudah cukup untuk kami,"
"Bocah ingusan!! Kamu siapa!?" Wijoyo membentak.
"Calon suaminya!!" jawab Gabriel, mengambil keranjang-keranjang kosong yang dibawa Citra. Kemudian menatap tajam pada pria paruh baya itu. Melangkah pergi meninggalkan tempat penimbangan.
Wijoyo tersenyum kecil, "Berikutnya..." ucapnya memanggil antrian orang yang ingin menjual daun teh.
***
Akhirnya gudang penimbangan, sekaligus tempat penyimpanan daun teh itu kosong. Dari hiruk pikuk orang yang ingin menjual daun teh, atau pegawai pemetik daun teh di kebun miliknya. Hanya terdapat Wijoyo dengan dua orang karyawannya.
"Bocah ingusan!!" umpatnya kesal.
"Besok pagi, bawa si bisu kemari!! Saya tunggu di gudang!! Kemudian panggil warga desa kemari, sebarkan isu Citra menggoda saya!!" bentaknya memberi perintah.
"Ba...baik pak," jawab salah satu pegawainya gelagapan, penuh rasa ragu dan bersalah.
"Hanya memaksa gadis tidak bisa berteriak berhubungan sekali, apa susahnya? Setelah ini, tinggal libur, mengadakan acara kawinan dengan istri muda baru yang cantik..." Wijoyo tersenyum, membayangkan kulit putih halus, wajah teduh, dan tubuh molek gadis yang berniat dijadikannya istri ke empat.
Bagaikan harimau ganas, yang tengah mengintai, kelinci kecil tidak berdaya.
__ADS_1
Bersambung