Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Peterpan in Neverland


__ADS_3

......Tidak semua tindakan kita dianggap benar oleh orang lain. Terkadang, bagaimanapun membenarkan tindakan kita. Mata dan mulut orang lain yang tidak mengalaminya, langsung akan menganggapnya salah......


Author...


"Ren bangun!!...Ren...!!" suara Jeny berbisik, membangunkan suaminya terdengar.


Farel sedikit membuka matanya, kemudian tersenyum,"Kita akhirnya bersama..." ucapnya, seakan kebersamaannya dengan Jeny hanya angan-angan.


Jeny tersenyum dan mengangguk, namun dirinya yang duduk di tepi tempat tidur malah ditarik oleh suaminya.


Pemuda itu membenamkan tubuh Jeny dalam pelukannya sembari memejamkan mata,"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Aku perlu tenaga untuk menghadapi dunia,"


Jika ini mimpi, ini adalah mimpi terindah dalam hidupku. Aku tidak ingin bangun lagi, walau harus mati sekalipun... Farel mengeratkan pelukannya, seakan takut kehilangan Jeny.


"Ren, kamu kenapa!?" Jeny mengenyitkan keningnya, masih dalam pelukan Farel.


"Tidak apa-apa, hanya merasa bahagia..." jawabnya, memeluk Jeny lebih erat.


"Ren, kita..." kata-kata Jeny terpotong, Farel mengecup bibirnya pelan, kemudian kembali tersenyum.


"Aku akan menentang dunia untuk nona," ucapnya.


***


Hari ini Farel memberikan jadwal beberapa les privat dan tugas rumah untuk Dimas, yang masih di skors. Tanpa marah atau membentak, berganti dengan hukuman yang menyulitkan. Sedangkan Jeny berangkat seperti biasanya, tanpa menyadari perasaan gelisah dari suaminya.


"Kakak ipar, apa kamu dulu adalah antek-antek Belanda!?" tanya Dimas, yang tengah melipat pakaian kering miliknya.


"Bukan aku adalah antek-antek Jepang," ucapnya tertawa kecil.


Hingga suara mesin mobil berhenti di depan rumah mereka terdengar. Farel menghembuskan napas kasar sudah menduga hal yang akan terjadi.


Perlahan pintu dibukanya, terlihat seorang pria berbadan tegap, berkebangsaan asing, menunduk memberi hormat padanya."Ohayou gozaimasu... Farel-dono," ucapnya.


"Kakekku dimana!?" tanyanya menghebuskan napas kasar.


Dimas mati-matian menahan tawanya, Ternyata dia memang antek-antek Jepang.


"Dimas, jaga rumah dan ikuti kursusmu nanti. Jika Jeny bertanya aku kemana. Katakan di jemput oleh seorang teman," Farel berucap penuh senyuman.


Dimas yang duduk di kursi sembari melipat pakaian berjalan mendekati Farel menadahkan tangannya, tanda meminta uang tutup mulut.


Plak...


Farel malah memukul tangan Dimas layaknya orang tos. Dimas mengenyitkan keningnya, menatap heran pada telapak tangannya yang kosong, menatap senyuman Farel dan telapak tangannya bergantian.


"Ingat jaga rumah, jadi anak yang baik!!" ucap Farel penuh senyuman, mengacak-acak rambut Dimas yang masih memandangi telapak tangannya yang kosong tanpa satu rupiahpun.


"Kakak ipar komisinya...!?" Dimas menahan egonya berucap terus terang, pada kakak ipar yang mungkin tidak mengerti dengan kode menadahkan tangannya.


Seketika aura Farel berubah menyeramkan,"Komisi apa!?" tanyanya.


"Ti... tidak, aku akan menjadi anak yang baik, dan membantu bibi menjaga keponakanku!!" ucapnya ketakutan, mengeluarkan keringat dingin.


"Bagus..." Farel berlalu pergi masuk ke dalam mobil, tanpa mengganti pakaiannya masih memakai celemek.

__ADS_1


"Dasar antek-antek Jepang, pelit!! Kak Daniel rela mengosongkan dompetnya untuk kakakku!! Kikir!!" umpatnya setelah kepergian Farel.


***


Farel menghebuskan napas kasar, mulai masuk ke dalam sebuah kamar hotel. Terlihat seorang pria yang usianya tidak muda lagi duduk dengan tongkat kayu di tangannya.


"Warugaki (bocah)!!" umpatnya kesal melemparkan asbak ke arah Farel, tepat mengenai dinding di sebelahnya.


Farel berjalan, kemudian berlutut tanpa pembelaan,"Ini kesalahanku..." ucapnya.


"Ayana mengatakan tidak dapat memiliki keturunan. Jadi akan mengadopsi anak dan mendidiknya dengan baik!! Aku belajar bahasa asing untuk ikut mendidik anak itu!! Tapi itu percuma saja!! Ingat apa saja laranganmu, agar menjadi manusia beradab!!" Taka membentak, menendang Farel yang berlutut di depannya, Farel yang tersungkur kembali berlutut.


"Menghormati guru dan dokter, menghargai orang yang menolongku, mengutamakan etika dan tata krama, tidak menyusahkan orang lain, tidak menginginkan milik orang..." ucapnya terpotong, Taka memukul punggungnya dengan tongkat. Farel mencengkram celemeknya menahan rasa sakitnya.


"Kamu tau apa yang kamu langgar!! Masih banyak wanita di dunia ini. Jangan pernah menginginkan milik orang lain!!" Taka membentak kesal.


"Aku menginginkannya..." Farel masih berlutut, wajahnya di tampar dengan cukup kencang oleh Taka. Pemuda itu, kembali tersungkur, namun kembali bangkit dan berlutut, tidak menyeka ujung bibirnya yang sedikit terluka.


Taka tersenyum miris,"Istri orang lain!? Kakek cukup terkejut, ketika nomor orang asing menghubungi kakek. Mengatakan kelakuanmu yang menghamili menantunya, bahkan menikahinya setelah resmi bercerai!!" kata-kata Taka terhenti menanti pembelaan cucunya.


"Aku melakukannya, dan anak itu adalah putraku..." pengakuan yang keluar dari mulut Farel, tidak dapat mengelak semua kata-kata kakeknya.


Taka yang emosi kembali menendang cucu angkatnya,"Dimana anak baik yang kakek banggakan!?" tanyanya membentak, mencengkram kerah pakaian Farel.


"Aku menyayangi kakek..." ucapnya tersenyum lembut dengan sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.


Taka, ikut duduk bersimpuh melepaskan kerah pakaian cucunya, sembari menangis,"Kakek mendidikmu dengan baik. Apa yang kurang!? Sehingga kamu menjadi manusia tercela seperti ini..." tanyanya.


"Ini kesalahanku, maaf..." Farel menunduk,"Tapi jika waktu dapat terulang aku juga akan membuat kesalahan yang sama. Bagaimanapun putraku terlahir karena kesalah itu," ucapnya, tetap memaksakan dirinya tersenyum, sesekali memegangi dadanya yang masih terasa nyeri.


"Rawatlah putramu, tapi berpisahlah dengan ibunya, mintalah padanya untuk kembali pada mantan suaminya," Taka menghebuskan napas kasar, menyentuh bahu cucunya, berharap Farel memperbaiki kesalahannya.


"Kamu tidak ingin menjelaskannya, tapi kakek tau kamu tidak mungkin dengan sengaja melakukan semuanya. Tapi apapun alasannya, tidak dibenarkan meniduri istri orang lain, walaupun kamu membeli dari suaminya. Seharusnya, dari awal ketika mengetahui kehamilannya, jangan menikahinya. Mintalah anakmu dan berikan dia kompensasi untuk menjalani kehidupannya," Taka menghebuskan napas kasar.


"Aku mencintainya dari awal, tidak akan bisa melepaskannya..." Farel masih tertunduk.


Taka mulai bangkit,"Masyarakat tidak akan berfikir kamu berada di pihak yang benar. Keluar!! Kakek memberimu waktu 1 bulan. Jika, kamu dapat merubah paradigma masyarakat saat kamu mengumumkannya. Kakek akan merestuimu, tapi jika tidak, berhentilah bermain-main di sini atau Singapura. Tinggallah dengan kakek di Jepang bersama putramu. Jangan berpikir untuk membawa istrimu. Karena saat itu, kakek sendiri yang akan bertindak..." ucap Taka memalingkan tubuh dari Farel menatap ke arah balkon kamar.


"Terimakasih, untuk kesempatannya..." ucap Farel berusaha bangkit, membungkuk memberi hormat. Kemudian pergi sembari memegangi dadanya yang masih terasa nyeri.


Karma dari prilaku kebaikan akan mendatangkan kebaikan, begitu pula prilaku buruk akan mendatangkan keburukan. Entah itu prilaku baik atau buruk yang kamu lakukan. Perbaikilah, dan tebus segalanya... cucuku...


***


Farel berjalan dengan langkah kaki gontai, memesan taksi online, menuju deretan pertokoan yang dipenuhi dengan buku anak-anak bergambar, wajahnya nampak tersenyum.


Untuk pertama kalinya pemuda itu berbelanja sendiri, membelikan mainan anak-anak, bahkan beberapa helai pakaian serta peralatan rumah tangga untuk Jeny.


"Aku akan menjadi ayah, suami, dan kakak ipar yang baik..." ucapnya tersenyum tulus.


Malam mulai menjelang, Jeny pulang lebih awal, menyajikan makanan hangat satu persatu. Hingga suara ketukan pintu terdengar.


Wanita itu menyunggingkan senyuman di wajahnya, namun sejenak berpura-pura kesal, membuka pintu perlahan,"Dari mana saja!?" ucapnya membentak, menahan rasa rindu dan cemasnya.


"Berbelanja..." Farel berucap penuh senyuman membawa beberapa paper bag dan kotak.

__ADS_1


"Jangan pulang terlalu malam!! Lagipula Ren-ku dapat uang dari mana!?" tanyanya memukul bahu Farel pelan.


Namun reaksi aneh didapatkannya, Farel menjerit kesakitan, memegangi bahunya.


"Ren, bibirmu!?" Jeny mengenyitkan keningnya, penuh kecemasan baru menyadari luka di sudut bibir Farel.


"Paling juga, dipukuli gengster," Dimas mencibir dengan suara kecil.


"Adik ipar yang pintar, ini untukmu," ucapnya membawakan buku bergambar anak-anak.


"Aku bukan anak kecil!!" Dimas menghembuskan napas kasar.


"Aku menantangmu membaca tiga halaman setiap bukunya. Jika kamu mau, waktu pemakaian smartphonemu aku tambah dari 15 menjadi 20 menit perharinya," Farel berucap penuh senyuman, mengacak-acak rambut Dimas.


"Siap komandan!!" jawabnya meraih buku cerita anak-anak yang lebih banyak mengandung pendidikan moral itu, dibandingkan game pertarungan yang hanya akan membuat ego dan rasa pedulinya berkurang.


"Ini untukmu dan Rafa, aku menggunakan uang tabunganku. Tidak perlu cemas..." Farel menyerahkan dua paperbag lainnya pada Jeny, serta meletakkan beberapa kotak di atas meja.


"Ren!?" ucap istrinya, menatap senyuman tulus dari suaminya, yang berjalan perlahan menuju kamar mereka.


Beberapa puluh menit berlalu...


Jeny memasuki kamar, menatap Farel yang telah selesai membersihkan diri, mengobati lukanya seorang diri. Dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.


Terlihat kulitnya yang awalnya ditutupi pakaiannya, dipenuhi dengan luka lecet dan lebam.


"Dasar bodoh!! Kenapa bisa terluka seperti ini!?" Jeny meraih obat dan kapas yang berada di tangan Farel, menekan lukanya dengan keras.


"Sakit!!" ringisan, Farel.


"Karena itu jangan terluka, jangan cidera, dan jangan mati..." Jeny membentak, mengobati punggung Farel sembari menitikkan air matanya. Teringat akan rasa kehilangannya 13 tahun yang lalu.


"Iya... untuk nonaku, aku akan selalu ada," Farel membalikkan badannya, menatap mata Jeny, menyeka air mata istrinya. Jeny mulai tersenyum, menggerakkan tangannya kembali.


"Aduh... pelan-pelan!!" suara Farel terdengar, bersamaan dengan Jeny yang mengobati luka di perut suaminya.


"Jika sampai terluka lagi, aku tidak mau melihatmu!!" ancam Jeny merajuk.


"Tapi aku akan selalu ingin menatap wajah nona..." Farel tertawa kecil.


***


Sementara itu, bibi pengasuh yang sudah bersiap-siap pulang, mendengar suara rintihan Farel berkali-kali yang meminta Jeny untuk pelan-pelan.


"Penganten baru, Rafa tidur malah berisik, minta pelan-pelan. Ternyata di tempat tidur galakan istrinya..." ucapnya, tersenyum dengan wajah memerah, menguping dari balik pintu, dalam fikirannya, mungkin adegan penuh gairah dari pengantin baru.


"Aku jadi ingin, semoga bapak sudah di rumah," gumamnya, berjalan pulang berniat menjadikan suaminya mangsanya. Bagaikan singa kelaparan.


***


Dikamar Dimas....


Dimas menatap heran pada salah satu dongeng buku anak bergambar yang dibacanya, berjudul Peter Pan in Never land...


"Jika menyukai Wendy dan teman-temannya kenapa Peter Pan harus kembali ke Neverland, dan menjadi kesepian di sana!? Aku tidak mengerti," gumamnya, tidak menyukai dengan dongeng anak yang berakhir tidak sesuai harapannya.

__ADS_1


"Padahal aku berharap, Peterpan akan terus bermain dan bahagia bersama dengan Wendy..." lanjutnya, sembari menutup buku.


Bersambung


__ADS_2