Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Rasa Iri


__ADS_3

Angin berhembus menerpa wajah seorang pemuda, menatap ke arah jendela mobil yang melewati jalanan perkotaan.


"Kamu sudah tau konsekuensinya kan?" tanya seseorang dengan tato bar kode di tangan kirinya.


Gabriel menghembuskan napas kasar,"Aku kuliah kedokteran, tidak terlibat dalam bisnis. Kenapa kalian mengusik kehidupan pribadiku!!" teriaknya kesal.


"Tunjukkan kesetiaanmu pada tuan, akhiri semuanya sendiri. Atau kamu ingin aku yang mengakhirinya..." seseorang dari kursi pengemudi berucap penuh senyuman, seakan haus dengan darah.


"Aku yang akan mengakhirinya, jangan berani menyentuhnya!! Atau aku akan menggunakan kekuasaanku yang hanya sedikit untuk menghancurkan kakakku..." Gabriel mengenyitkan keningnya kesal.


"Mau membunuh saja harus mengatakan kata-kata perpisahan. Merepotkan..." ucapnya menginjak pedal gasnya diikuti sebuah mobil hitam di belakang mereka.


***


Malam semakin gelap, Citra tengah menidurkan putranya. Ren kecil, belum juga terlelap, hingga terdengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka.


Citra segera bangkit menuju ruang tamu, diikuti Ren. Ibu beranak satu itu mengintip dari tirai jendela, terlihat pemuda yang dirindukannya turun dari mobil dengan wajah muram.


"Ayah..." Ren kecil terlihat senang, hendak membuka pintu rumah, menyambut kedatangan ayahnya.


Namun, jemari tangan kecilnya dihentikan oleh Citra. Menatap dengan wajah pucat, seorang pemuda dengan rambut panjang terikat yang dulu mencari Gabriel. Dengan senjata api di pinggangnya.


Citra segera menarik lengan putranya, memasukkannya ke dalam lemari besar tempat menyimpan peralatan.


'Jangan keluar, kecuali ibu yang membuka pintu lemari. Dan jangan menengok keluar,' Citra berucap menggunakan bahasa isyaratnya.


Ren menggenggam jemari tangan ibunya yang dingin, seakan ketakutan, tidak mengerti dengan situasi yang akan terjadi.


Citra tersenyum, menggeleng gelengkan kepalanya, mencium kening putranya. Sebelum akhirnya pintu lemari yang cukup besar itu ditutup.


Ren kecil terlihat penasaran, mengintip dari celah pintu lemari yang sedikit berlubang.


Suara pintu diketuk terdengar, Citra membuka pintu memberi jalan agar tamunya masuk. Hanya dua orang disana, seorang pemuda dengan wajah mirip di foto pernikahan ibunya. Dan seorang pemuda lainnya yang memiliki rambut panjang terikat, Ren sedikit melirik pemuda itu sempat mendekati lemari. Terdapat tato barcode di pergelangan tangan kirinya.


Citra tersenyum berjalan menuju dapur membuatkan teh melati. Sejenak kemudian, harum aroma teh memenuhi ruangan, wanita itu menyajikan tiga cangkir teh di malam yang terasa dingin.


Gabriel berusaha tersenyum, sejenak kemudian menghapus air matanya, meminum teh di hadapannya.


"Apa kamu hidup dengan baik?" tanyanya.


Citra mengangguk mengiyakan, duduk berhadapan dengan Gabriel. Wanita itu tersenyum, kerinduan terlihat di raut wajahnya.

__ADS_1


"Kamu bertambah kurus..." Gabriel kembali tersenyum.


Citra menghebuskan napas kasar, berjalan menuju kamarnya, menunjukkan kotak kayu berisikan puluhan batangan emas yang setiap satuannya seberat 20 gram.


"Cici, kenapa tidak menggunakannya?" tanyanya lirih,"Aku sudah bisa bahasa isyarat sekarang..." lanjutnya.


Citra mulai menggerakkan tangannya,'Aku ingin menggunakannya saat kamu kembali, dan kita tinggal bersama seperti dulu...' jawabnya tulus.


Gabriel mulai menitikkan air matanya, pemuda di belakangnya, menepuk bahunya."Jika kamu tidak bisa, biar aku saja..." bisiknya.


"Tidak biar aku saja..." Gabriel mulai bangkit, "Cici, berdirilah..." ucapnya.


Wanita itu mulai berdiri, Gabriel berjalan mendekatinya, memeluknya erat,"Maaf, aku mohon tidurlah..." bisiknya, menusukkan pisau bedah kecil yang terselip di sakunya pada tubuh wanita yang masih bersetatus istrinya.


Citra tersenyum dengan mata berkaca-kaca menahan tangisannya, tubuhnya jatuh bersimbah darah, menatap ke arah lemari tempat di hadapannya.


Lendra... ucapnya dalam hati, memegangi perutnya, agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah. Tidak ingin putranya membenci ayah kandungnya.


Namun, kesadarannya hilang, Citra mulai memejamkan matanya.


"Sudah puas?" tanya Gabriel pada pemuda itu, air mata masih mengalir di pipinya, berjalan berlalu meninggalkan rumah.


"Lumayan..." pemuda itu tersenyum, mengikuti langkah Gabriel, meninggalkan rumah kecil yang ditempati Citra.


Wajah anak itu pucat, terdiam di lemari. Menunggu, berharap ibunya yang bersimbah darah di lantai akan bangkit, membukakan pintu untuknya.


Namun, tubuh wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu di bawa seseorang ber jas hitam yang datang dengan mobil lainnya, terlihat seperti orang-orang yang datang dengan pria berdarah dingin di mata putranya kini.


Ruangan dipenuhi asap, rumahnya seperti dibakar dengan sengaja. Ren kecil keluar dari lemari, dengan terbatuk-batuk. Melirik ke arah kotak kayu berisikan emas kiriman ayahnya selama bertahun-tahun. Kemudian membantingnya, kayu atap mulai tubuh, salah satu genting menimpa lengan kirinya.


Anak berusia 5 tahu itu, berjalan keluar dari rumahnya melalui dapur memegang lengan tangan kanannya yang terasa sakit.


Ren yang memang cukup cerdas untuk anak seusianya, merogoh sakunya berisikan uang 5000 rupiah. Berjalan terhuyung meninggalkan rumahnya, yang sedikit demi sedikit berubah menjadi tumpukan abu.


Langkahnya lemas, hingga sampai di dekat mobil pick up pengangkut teh milik pak Wijoyo. Terlihat salah satu anak orang terkaya di desanya itu memakan ice cream, yang dibelikan lelaki tua itu.


Benar kata tetangga, kenapa ibuku dulu tidak menikah dengannya saja? Uang dan kekuasaan, semuanya lebih berharga dari pada hanya rasa kasih sayang... anggapannya yang salah, membuat dirinya akan tunduk pada Dea, meminta Jeny mencintai siapapun yang akan menikahinya.


Rasa rendah diri, tumbuh perlahan di hati anak dengan tubuh kotor itu.


Mesin mobil pick up mulai menyala, Ren kecil diam-diam naik ke atasnya bersembunyi di atas tumpukan daun teh yang telah dikemas dalam beberapa karung.

__ADS_1


Hidup dalam hati yang terluka, tidak ingin ditemukan lagi oleh semua anggota keluarganya. Menangis merindukan kehangatan jemari tangan ibunya, yang mungkin sudah tidak dapat lagi dirasakannya.


***


Ramainya hiruk-pikuk perkotaan, gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Apa yang harus dilakukan? Tidak ada tempat untuk menanam kentang? Bagaimana caranya bisa makan? pertanyaan bodoh yang terlintas di kepala anak itu.


Ren, memegangi uangnya yang hanya 5000 rupiah, satu satunya jimat yang dimilikinya saat ini. Rasa haus menderunya, melewati sebuah warung makan,"Buk, boleh saya minta air?" tanyanya.


"Yang itu harganya lima ratus..." ucap sang penjaga warung makan, menunjuk air kemasan terkecil.


"Tidak, saya ingin minta, segelas saja," Ren kecil berucap. Di desanya dulu cukup mudah hanya untuk meminta segelas air, namun jawaban kasar yang didapatkan anak berusia 5 tahun itu.


"Dasar kalau ingin ngemis jangan disini!! Setelah minta air, pasti minta makan!! Disini tidak ada yang gratis!! Kamu cuma buat pelanggan saya kabur!!" ucapnya menarik lengan Ren, mendorongnya keluar dari warung.


Tidak ada yang gratis? Namun, uang di tangannya hanya 5000 rupiah. Entah dapat bertahan sampai kapan. Hingga akhirnya, anak itu menemukan keran air taman kota. Tangan kecilnya menadah air meminumnya perlahan.


***


Hari demi hari, uang 5000 rupiahnya sudah habis, hanya untuk membeli roti. Dari beberapa hari lalu anak itu mengais tempat sampah, berharap menemukan makanan sisa, memakannya walaupun hanya menemukan sedikit.


Tidak mungkin terjadi? Tapi itulah kenyataannya, anak lima tahun yang terbiasa hidup di desa, harus beradaptasi dengan keadaan di kota tanpa kehadiran orang tuanya. Tubuhnya terasa panas, anak itu mungkin demam saat ini.


Berteduh di tengah hujan deras di depan toko yang tertutup, meringkuk di tengah dinginnya lantai,"Ibu..." ucapnya lirih dengan air mata mengalir.


Hingga, seseorang membawa anak yang setengah sadar itu ke dalam mobil.


"Kenapa lemas begitu? Apa masih hidup?" tanya salah satu orang.


"Masih bernapas, setelah sehat bisa kita kirim langsung..." orang yang memangkunya di dalam mobil berucap.


Benar, merupakan kenyataan di culik oleh agen penjualan organ tubuh manusia adalah hal terbaik yang terjadi padanya dalam beberapa minggu ini...


***


Di tempat lain, beberapa minggu yang lalu...


Gabriel segera berlari dalam kepanikan."Bagaimana? Apa orang itu dan kakak melihat kalian membawanya?" tanyanya.


"Tidak," ucap orang yang membawa tubuh Citra.


Gabriel yang seorang dokter bedah, segera mengenakan pakaian hijau, serta sarung tangan, serta maskernya."Sayang, maaf, bertahanlah..." ucapnya dengan nada bergetar menahan tangis, mulai menjahit luka yang tidak menembus satupun organ dalam Citra. Darah mengalir melalui selang menuju pergelangan tangan istrinya.

__ADS_1


Gabriel menghembuskan napas kasar setelah keadaan istrinya stabil, mulai menyadari kejanggalan. Struktur perutnya seperti orang yang pernah gemuk atau pernah melahirkan... pemuda itu terdiam sejenak, belum mengetahui tentang kehadiran putranya di dunia ini.


Bersambung


__ADS_2