Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Restu sudah dikantonginya, menunggu kedatangan Gina, hal yang dilakukannya. Daniel tersenyum menghela napas kasar menatap pasangan suami istri yang menjaga cucu mereka penuh senyuman.


"Besok aku harus kembali, pengelolaan kebun, dan villa akan dibantu orang profesional lainnya. Ayah mertua dapat belajar pelan-pelan dari mereka..." ucap Daniel menghela napas kasar.


"Terimakasih," satu kata canggung keluar dari mulut Candra yang hanya dapat tertunduk, bagaikan tidak memiliki muka menatap pemuda di hadapannya.


"Tidak apa-apa, aku yang seharusnya berterimakasih sudah membesarkan dan menjaga Kanaya dengan baik. Setelah ibuku pulang, aku akan meminta putri kalian..." ucapnya tersenyum tulus.


"Aku menang lagi!!" Kanaya berteriak, menenangkan game balap melawan Ega. Memakai celana pendek, rambutnya diikat asal asalan, lengkap dengan kaos pemilu dengan pasangan foto calon anggota DPR. Sesekali jemarinya menggaruk punggung dan pantatnya yang gatal.


Sumi menghela napas kasar menatap anaknya,"Maaf Kanaya memang seperti anak kecil, kurang memperhatikan penampilannya..." ucapnya pada Daniel.


Pemuda itu tertawa kecil,"Cuma seperti ini saja masih wajar. Aku sering melihat penampilannya yang lebih parah. Tapi itulah nilai plusnya..."


"Maaf penampilan yang bagaimana?" Sumi mengenyitkan keningnya penasaran.


"Dia pernah menakut-nakutiku, memakai pakaian motif macan, sepatu hak tinggi, lengkap dengan riasan yang luntur. Berdiri di gedung pencakar langit ingin..." kata-kata Daniel terhenti, entah muncul dari mana. Kanaya membekap mulutnya.


"Pak Daniel jangan asal bicara," ucap Kanaya cepat, tidak ingin keterpurukannya tentang Coky terungkap.


Hingga suara bel terdengar, Sumi berjalan membuka pintu perlahan. Fahri terdiam murung, berusaha tersenyum, membawa kantung kresek hitam.


"Ini untuk Ega..." ucapnya, memberikan bawaannya pada Sumi."Aku permisi..." lanjutnya.


Sumi hanya tersenyum menerimanya, kemudian menutup pintu depan. "Siapa?" Kanaya mengenyitkan keningnya, setelah melepaskan bekapan tangannya dari mulut Daniel.


"Fahri," jawab Sumi singkat, meletakkan kantung buah yang berisikan 1kg buah anggur merah segar.


Kanaya berlari membuka pintu depan, "Fahri!!" panggilnya dengan kencang.


Pemuda itu menoleh, menghela napasnya canggung. Namun, Kanaya berlari mendekat menarik tangan mantan teman sekelasnya ke dalam villa.


"Jika merindukan Ega, harus bertemu!! 6 tahun tidak ada perkembangan, hanya memperhatikannya dari jauh..." cibir Kanaya mengetahui semuanya.


Tangan Fahri ditarik ke dalam, tidak mempedulikan bagaimana sikap Fahri sebelumnya. Memperhatikan Ega? Fahri satu-satunya pria tulus yang menyayangi Ega, walaupun tidak pandai dekat atau berhadapan dengannya.


Bertambah canggung lagi, begitulah suasana saat ini. Fahri tertunduk, melirik kearah Daniel dan Ken yang menatap sinis padanya. Sial!! Aku hanya ingin membawakan buah kesukaan Ega, kenapa malah ditarik kemari... gumamnya dalam hati.


"Paman?" Ega mengenyitkan keningnya.


"Ega panggil dia ayah!! Dia sudah berbaik hati membawakan anggur!!" ucap Kanaya tegas.


"Ayah..." anak polos itu tersenyum, terlihat menggemaskan.


"Bibi lelah nanti lanjut bermain dengan ayahmu saja!!" Kanaya mendorong tubuh Fahri, yang terdiam tidak tahu harus berbuat apa.


"Ini untuk ayah," Ega tersenyum memberikan stik pada Fahri. Jemarinya yang berkulit sawo matang, meraih stik PS dari tangan kecil anak berkulit putih.

__ADS_1


"Apa maksudmu kemari?" Ken menatap sinis pada pemuda yang terlihat kasar beberapa hari yang lalu.


"Stt...diam!!" Kanaya memukul bahu Ken, agar tidak membuat suasana terasa canggung.


"Kalian bermainlah," lanjut Kanaya tersenyum, menatap Fahri yang mulai duduk tidak kuasa menolak semangat anak yang mulai memilih pilihan motor balap pada monitor.


Ken menghela napas kasar berusaha bersabar,"Kenapa kamu malah menyuruhnya masuk!! Orang sepertinya tidak pantas..." kata-kata Ken disela.


"Lihat ibu dan ayahku tersenyum," Kanaya ikut menghela napasnya,"Fahri memang baru beberapa minggu menikah dengan Kinara. Dia dari dulu menyayangi Ega walaupun tidak pernah menunjukkan kepeduliannya. Tentang merebut lahan dan rumah, itu karena dia terlalu menyukai Kinara,"


"Tapi..." Ken mengenyitkan keningnya.


"Hak asuh ada di tangan kita, tidak ada yang perlu ditakuti. Biarkan Ega mengetahui rasanya memiliki seorang ayah," ucapnya tersenyum, berjalan berlalu mengambilkan cemilan dan minuman untuk dua orang yang tengah bermain.


"Ayah kalah," Fahri tersenyum, sengaja menabrakkan motor balap masih bermain PS.


"Aku menang!! Aku menang!! Aku menang!!" Ega kegirangan, pasalnya tidak pernah menang melawan Kanaya.


"Ega hebat, bisa mengalahkan ayahnya!! Ini hadiah cemilannya..." Kanaya tersenyum menghidangkan wafer cokelat dan minuman rasa buah di hadapan ayah dan anak yang nampak mulai saling akrab.


"Terimakasih," Fahri tersenyum canggung pada Kanaya, mungkin karena sebelumnya mengikuti dan membenarkan pemikiran istrinya.


"Jangan canggung begitu, kita ini keluarga," Kanaya tertawa kecil, penuh semangat.


Dua sosok yang berbeda bukan? Kanaya yang nampak biasa-biasa saja, namun memiliki aura yang cerah. Sedang, Kinara anggun penuh senyuman, kerap berbohong, pandai menggoda. Namun, entah kenapa Fahri terjerat akan perasaannya lebih dalam pada Kinara.


"Kinara ingin bercerai denganku," Fahri tertunduk, menghela napas kasar enggan untuk bercerita.


"Aku fikir dia jahat, mereka seperti keluarga yang ditakdirkan..." Ken menatap penuh haru, wajah tulus Fahri yang mengelus pelan rambut Ega.


"Aku pernah melihat wajah iblis berkedok ayah sepertinya," Daniel mengenyitkan keningnya kesal, menatap pemandangan bagaikan keluarga bahagia di hadapannya. Dengan ibu, ayah, dan anak.


"Maksudnya?" tanya Ken tidak mengerti.


"Keluarga bahagia? Tidak apa-apa bahagia, asal jangan melibatkan Kanaya. Iblis berkedok ayah," jawabnya geram, menatap kesamaan tingkah Farel yang menyayangi Rafa, dengan tingkah Fahri tersenyum tulus pada Ega.


Ken menahan tawanya, mengetahui perasaan cemburu majikannya. Muncul suatu ide memperkeruh keadaan. Pemuda itu mulai berbisik,"Istrinya ingin bercerai? Sedangkan dia menyayangi anak tirinya? Ada satu jalan untuk tetap mengikat hubungan keluarga," bisiknya pada Daniel."Turun ranjang..."


"Turun ranjang?" Daniel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Biasanya menikahi saudari istrinya saat istrinya sudah meninggal, agar tetap mengikat tali persaudaraan. Tapi istrinya ingin bercerai, untuk mengikat kembali tali persaudaraan mungkin..." kata-kata Ken terhenti.


"Mungkin apa?" Daniel menahan perasaannya yang semakin geram saja.


"Mungkin jika kedua keluarga setuju, wajah Kanaya hampir sama dengan Kinara. Tidak akan sulit bagi Fahri untuk menggantikan Kinara di hatinya," bisiknya menahan tawa, ingin menyulut kecemburuan majikannya.


Daniel menghela napas kasar mulai bangkit sembari tersenyum,"Sayang, kamu ikut aku kembali ke kota besok ya?"

__ADS_1


"Aku masih ingin liburan..." kata-kata Kanaya disela.


"Tanggal cutimu sudah lewat dua hari. Kamu harus kembali," wajah dingin Daniel terlihat.


"I...iya besok aku kembali," Kanaya gelagapan.


Percuma punya pacar anak pemilik perusahaan. Pelit sekali soal cuti... kesalnya dalam hati, tetap berusaha tersenyum. Mulai meraih Ega hendak memangkunya


"Hari liburmu sudah lewat!! Jadi, bantu aku menyusun ulang berkas, sekarang!!" ucapnya tersenyum menyeringai, menarik tangan Kanaya.


"Ta...tapi aku masih ingin main. Mulai besok ya!?" Kanaya memelas. Tidak diindahkan oleh Daniel, yang tetap saja menariknya pergi.


"Tidak kita menyusun berkas sekarang!!" bentaknya, menarik Kanaya pergi, bagaikan melupakan sopan santun di hadapan mertuanya, tanpa permisi meninggalkan villa.


"Mau turun ranjang, naik ranjang. Dasar wanita mata keranjang," kumat-kamit Daniel berjalan menarik tangan Kanaya, meninggalkan villa yang dihuni Candra, menuju villa yang dihuninya.


Sedangkan Fahri tertawa kecil, kembali melirik anak di sampingnya dengan perasaan canggung.


"Ayah, ayo kita lanjut mainnya," Ega tersenyum menggenggam stik PS menyodorkan pada Fahri. Dengan ragu, pemuda itu meraihnya, sembari tersenyum.


Tidak sesulit dan secanggung pemikirannya. Setidaknya anak ini terlihat menyayanginya dengan tulus, anak yang saat kelahirannya dibencinya. Namun perlahan disayanginya dari jauh.


"Ayo, kita main!!" ucapnya tersenyum tulus pada Ega.


***


Dengan membawa uang hasil penjualan rumah dan tanah keluarganya, seorang wanita tersenyum. Menyewa tempat kost menjadi pilihannya. Hal yang akan dilakukannya? Hal bodoh yang tidak dapat terbayangkan.


Status dan kekayaan? Mungkin itulah penyebab Yogie tidak dapat datang mencarinya. Namun, kali ini Kinara memiliki uang, mungkin keluarga Yogie akan menerimanya. Setidaknya itu pemikirannya, tersenyum menatap gedung kampus yang terdapat di lambang jaket milik Yogie 7 tahun yang lalu. Berharap menemukan informasi tentang pemuda itu.


Dan benar saja, sebuah alamat didapatkannya dengan mudah. Anak pejabat? Apa benar sosok Yogie anak dari seorang pejabat?


Tidak, orang tuanya pengusaha, sedangkan dirinya kini pemilik sebuah club'malam. Pria brengsek juga menginginkan istri dari keluarga baik-baik bukan? Begitulah dirinya, memiliki istri seorang model dari keluarga terpandang.


Tangan Kinara mengepal mengetahui segalanya, berusaha tersenyum hendak menekan bel, menatap Yogie yang masuk kedalam mobil dari balik pagar rumah.


Hingga akhirnya, ketika mobil pemuda itu hendak meninggalkan rumah, sosok wanita cantik yang dijamahnya 7 tahun yang lalu terlihat. Wajah Yogie pucat pasi, menghentikan mobilnya, mulai turun, menarik Kinara ke dalam mobilnya.


"Aku ..." kata-kata Kinara terhenti, wanita yang sudah memiliki sedikit informasi tentang Yogie itu, mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Maaf, orang tuaku belum mengijinkan aku untuk melamarmu jadi...." kata-kata Yogie dalam mobil yang melaju terhenti, terlihat kembali murung.


Kinara, sudah menduga semuanya. Tangannya gemetaran, tidak ingin menatap sosok pemuda yang satu mobil dengannya.


"Aku masih mencintaimu," rayunya, menggenggam jemari tangan Kinara."Kita bicara di tempat lain ya..."


Jijik itulah perasaan yang tersisa, seharusnya Yogie meninta maaf bukan? Tidak melanjutkan kebohongannya. Kinara terdiam, tidak senaif dulu, mengalihkan pandangannya melihat ke arah jendela mobil yang masih melaju.

__ADS_1


Pangeran tampan? Apa seorang pangeran tampan sebenarnya selalu baik hati? Bagaimana dengan prajurit atau tukang roti di negeri dongeng? Seharusnya mereka lebih pantas bahagia dibandingkan dengan pangeran yang akan memiliki puluhan selir bukan...


Bersambung


__ADS_2