
Clarissa menyunggingkan senyumnya, dapat mendekati Farel merupakan langkah pertamanya untuk menjadi cucu menantu dari tuan Taka. Sekaligus, istri dari pemilik perusahaan JH Corporation. Menyingkirkan Jeny? Cepat atau lambat harus dilakukannya, namun untuk sementara waktu memasang wajah baik hati tanpa dosa harus dilakukannya.
Perebut suami orang? Kata-kata menyebalkan keluar dari mulut Jeny. Wanita yang terlihat mengenakan minidrees tertutup berwarna hijau muda itu berusaha untuk tersenyum, ingin rasanya dirinya mengumpat 'J*lang!!' kemudian menampar wajah Jeny. Namun, dihadapan calon ibu mertuanya, harus menjadi gadis lembut kan?
"Jeny, aku dan Farel hanya berteman, kamu..." kata-kata Clarissa disela.
Jeny mengayunkan tongkat penuntunnya sembarang, mengenai betis Clarissa,"Maaf, aku hanya istri buta tidak berdaya. Aku tidak sengaja memukul wanita murahan..." ucapnya.
"Jeny!! Clarissa adalah tamu kita. Teman dari suamimu..." Ayana meninggikan intonasi suaranya, menyerahkan Rafa pada baby sitter.
Jeny!! Seharusnya kamu pukul lebih keras lagi... seru wanita paruh baya itu, dalam hati.
"Tamu...!?" Jeny tertawa kecil menghina,"Kalian hanya ingin menggantikan posisiku kan. Dengan wanita jelek tidak laku yang menginginkan suami orang lain... wanita b*jingan pinggir jalan dengan harga satu dolar ..." cibirnya.
Ayana membulatkan matanya, mendengar betapa pedasnya kata-kata menantu kesayangannya. Terkejut? Tentu saja, selama ini ternyata Jeny menyimpan banyak sisi gelapnya yang keren.
Wanita b*jingan pinggir jalan dengan harga satu dolar? Hinaan yang paling rendah bagi Clarissa, kesabarannya benar-benar diuji saat ini.
Clarissa memejamkan matanya sejenak, berusaha bersabar, sedikit melirik ke arah Ayana. Kemudian menghela napasnya kembali tersenyum.
"Jeny kamu salah paham padaku," wanita itu mulai duduk di sofa tanpa canggung, membuka salah satu paperbag-nya.
"Aku tulus ingin berteman denganmu, karena itu aku membelikan alat tata rias dan perawatan kulit, semuanya dari merek terkenal..." lanjutnya, mengeluarkan banyak produk kecantikan
Tangan Jeny meraba-raba ke arah meja, mendorong meja di hadapannya sekuat tenaga, hingga semua benda jatuh berserakan."Aku berubah fikiran, wanita b*jingan pinggir jalan dibayar untuk servisnya. Sedangkan kamu malah menyuap untuk mendapatkan service dari suamiku. Hargamu bukan satu dolar, tapi minus..." senyuman menghina menyungging di bibirnya. Setelah menjatuhkan semua peralatan makeup berharga fantastis yang berada di atas meja.
"Jeny, jaga prilakumu!! Clarissa adalah anak dari rekan bisnis ayahku. Dengar!! Jika bukan karena Rafa, aku juga tidak akan sudi memiliki menantu cacat, licik, pembohong sepertimu!!" bentak Ayana, terlihat emosi.
Ayolah, hina lebih banyak lagi, agar dia cepat pulang.... batin Ayana.
"Farel...?" Jeny tertawa kecil,"Ternyata seleranya hanya sampai wanita murahan..."
Clarissa yang sedari tadi terdiam, mengepalkan tangannya gemetaran tidak dapat menahan emosi lagi. Dengan cepat bangkit hendak menampar wanita cacat di hadapannya.
"Clarissa kamu...!?" ucap Ayana mengenyitkan keningnya, agar Clarissa kembali menjaga perilakunya yang berpura-pura memiliki etika tinggi.
"Emm...enggg... maaf bibi, aku hanya ingin mengusir nyamuk..." ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya di sekitar Jeny, menahan rasa geramnya.
__ADS_1
***
Suara mobil terdengar, Farel menghebuskan napas kasar. Semenjak, Jeny tinggal di rumah, dirinya mulai kembali ke kantor mengembangkan bisnis perusahaan di negeri ini. Merekrut lebih banyak orang kepercayaannya untuk membantu Tomy.
"Tuan, mobil itu..." Tomy mengenyitkan keningnya.
"Clarissa, kita hanya perlu memakannya pelan-pelan," ucapnya, mengenyitkan keningnya berpikir.
Kedua pemuda itu melangkah memasuki rumah. Farel tersenyum ramah pada sosok wanita yang dilihatnya."Clarissa?" ucapnya.
Wanita itu hanya mengganguk tersenyum sopan. Budaya timur yang menurutnya kolot, terpaksa harus dilakoninya, berusaha menjadi wanita sopan. Hanya sampai Jeny dan Rafa mati, kemudian dirinya menyandang status istri Farel.
"Kamu sudah lama sampai?" Farel terlihat antusias.
"Aku baru saja sampai, bibi (Ayana) dan Jeny orang yang menyenangkan untuk diajak mengobrol..." ucapnya tersenyum ramah, menahan semua rasa geramnya demi menjaga etika di depan Farel.
"Fa... Farel?" Jeny mulai bangkit, berjalan beberapa langkah, kemudian menjatuhkan dirinya. Tangannya meraba-raba seolah-olah tidak dapat menemukan tongkat penuntunnya.
Iba? Siapa yang tidak iba melihat wanita itu, jika tidak mengetahui Jeny sudah bisa melihat walau masih agak kabur dan berbayang.
"Jangan menyusahkanku lagi..." ucap pemuda itu, bagaikan jengkel, menuntun Jeny untuk bangkit.
"Farel..." Jeny mulai menitikkan air matanya,"Teman wanitamu itu, sengaja memberikanku alat make up hanya untuk menghinaku yang tidak dapat melihat. Aku tidak dapat merias diri. Kalian senangkan? Kalian akan menggantikanku..." ucapnya berteriak bagaikan depresi.
Farel menghebuskan napas kasar,"Diamlah, dan tenang, kita kembali ke kamar ya...?" ucapnya, membimbing Jeny perlahan.
***
Ayana menghembuskan napas kasar, menatap Clarissa penuh senyuman."Begitulah, kelakuannya bibi tidak bisa berbuat apa-apa lagi..."
"Bibi yang tegar ya?" Clarissa menggenggam jemari tangan Ayana.
Wanita paruh baya itu mulai tersenyum,"Inilah yang membedakan wanita baik-baik sepertimu dan wanita penggoda tidak tau malu. Andai saja kamu dan Farel bertemu lebih awal..." ucapnya tersenyum pada Clarissa.
Sedangkan di lantai atas, tepatnya dalam kamar. Penyiksaan, mungkin itulah yang terjadi."Jangan menyusahkanku lagi? kamu merasa kesusahan karenaku!? Tau begitu aku kembali saja pada Daniel, dia terlihat lebih tulus!!" bentaknya menjambak rambut Farel.
"Nona ...sa... sayang, tadi aku hanya berusaha terlihat alami..." Farel berusaha melepaskan jambakan rambut Jeny.
__ADS_1
Jeny menghebuskan napas kasar, berusaha untuk tenang, tangannya meraba-raba wajah Farel yang terlihat samar, mengecup bibir suaminya pelan.
"Aku mencintai mu..." ucapnya seakan takut kehilangan Farel.
"Aku juga," balas Farel, kembali mencium agresif bibir istrinya. Tubuh Jeny direbahkan di tempat tidur. Tangannya merayap, memasuki celah pakaian Jeny, mencari tali pengait yang hendak dilepaskannya.
"Emmgghhh..." terdengar lenguhan Jeny merasakan area sensitif bagian atasnya dimainkan pelan.
Satu dari sepasang telinga menempel di pintu,"Tidak, tidak boleh!! Clarissa masih di lantai satu..." Tomy yang sedari tadi menunggu Farel di depan pintu kamar yang tertutup bergumam sendiri, mendengar suara lenguhan dari dalam.
Tok...tok...tok...
Dengan ragu, perjaka tanggung itu mengetuk pintu, tidak lama pintu terbuka. Terlihat Jeny merapikan pakaiannya yang sedikit kusut duduk di atas tempat tidur. Sedangkan Farel sendiri, membuka pintu dengan rambut sedikit acak, mungkin karena jemari tangan istrinya yang tergoda oleh hal yang dilakukan suaminya."Kenapa?" Farel menghebuskan napas kasar, merasa kegiatannya terganggu.
"Clarissa masih di lantai satu. Pengantin baru mabuk cinta sampai lupa diri itu biasa. Tapi anda bahkan sudah memiliki seorang anak, tidakkah anda bosan berbuat mesum tanpa mengenal situasi!?" tanyanya.
"Maaf, aku lupa..." Farel hendak keluar kamar.
"Ren, jangan coba-coba menyentuhnya seperti kamu menyentuhku...!!" Jeny berucap dari tepi tempat tidur, mengeluarkan aura istri posesif yang cemburu.
Farel menyunggingkan senyumannya, kembali masuk ke kamar, berjalan mendekati Jeny. "Dari awal tubuhku adalah milik nona..." ucapnya tulus mengacak-acak rambut Jeny gemas.
***
Menarik perhatian Ayana merupakan salah satu tujuannya, namun yang utama adalah seorang pemuda yang turun sembari membicarakan pekerjaannya dengan Tomy.
"Maaf lama, tadi kami terlalu lama mengobrol tentang proyek baru..." Farel menyunggingkan senyumannya.
Tepatnya tuan mengobrol dengan nonanya, untuk proyek pengadaan anak kedua. Namun, proyek ditunda oleh seorang perjaka kesepian ... Tomy menghebuskan napas kasar berusaha bersabar.
"Tidak apa-apa, omong-ngomong bagaimana jika malam ini kamu menemaniku berjalan-jalan. Aku termasuk baru di kota ini ..." ucap Clarissa, bagaikan tidak dapat menerima penolakan.
Tomy melirik ke arah Farel yang terlihat berusaha tersenyum. Setidaknya, jika pergi bersama tuanya mau tidak mau, terpaksa, atau dipaksa harus berciuman dengan wanita agresif.
Sial ... umpat Farel dalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1