
Sebuah kemeja putih teronggok di lantai, masih terdapat taburan kelopak mawar berceceran di bawahnya. Beberapa helai pakaian lainya juga terlihat serupa. Tubuh putih atletis seorang pemuda di mengeratkan pelukannya dalam selimut putih hangat, matanya perlahan terbuka.
Senyuman hangat menyungging di bibirnya,"Nona..." ucapnya, membelai pipi halus wanita yang masih terlelap tidur.
Farel mulai bangkit perlahan tidak ingin mengusik wajah damai yang masih terlelap dalam mimpinya."Aku mencintaimu..." bisiknya.
Jeny menggeliat, masih tertidur, kembali membenahi posisi tidurnya mencari kenyamanan.
Satu jam berselang, aroma pancake menyebar ke seluruh ruangan, maple sirup membasahi sisi atas, melumber ke bawahnya.
Jeny telah terbangun dan membersihkan dirinya, memakai minidrees, duduk di kursi meja makan, mengamati seorang pemuda memakai celemek, tengah konsentrasi memberi taburan brown sugar, serta blue berry dan daun mint sebagai hiasannya.
"Selesai... spesial blue berry pancake with maple sirup, untuk nonaku yang bertambah tua..." ucapnya tersenyum simpul, menghidangkan makanan.
"Bertambah tua? Kita seumuran..." Jeny menatap sinis, mulai memotong pancake di hadapannya.
"Tidak, dalam surat adopsi tuan Doni kita memang seumuran. Tapi sebenarnya, aku lebih muda 8 bulan..." ucapnya mulai duduk di hadapan Jeny.
"Pantas saja kamu dulu sangat pendek..." Jeny mulai tertawa kecil."Omong-ngomong, kapan ulang tahun Deren? Apa aku harus hadir?" lanjutnya, mulai menyuapi mulutnya dengan pancake.
"Harus, sebagai istri yang tidak dicintai, bersikap j*lang dan tidak tau malulah," Farel mulai menghidupkan laptopnya, mengerjakan pekerjaannya yang tidak sedikit."Tomy akan segera pulang, aku akan memintanya menjagamu di pesta nanti..."
"Baik...!!" Jeny tersenyum penuh keceriaan, sejenak kemudian suara garpu dan pisaunya yang beradu terhenti."Ren, setelah ini aku ingin menyelidiki kasus kematian ayah..." ucapnya ragu.
Jemari tangan Farel yang tengah menari di atas laptopnya terhenti, pemuda itu diam tertegun sejenak,"Aku akan mencari pelakunya, jangan mencoba mencari tau, itu terlalu berbahaya..."
Jeny menunduk kecewa menghebuskan napas kasar, sejenak menatap ke arah jendela, entah apa yang ada di fikirannya saat ini.
***
Pesta tertutup kalangan atas? Benar, itulah yang terlihat, tidak satupun media diijinkan meliput pesta yang bahkan menyewa seluruh kamar di hotel milik JH Corporation, khusus untuk tamu undangannya yang sebagian besar berasal dari negara lain. Farel memegang tabnya, menunggu penata busana yang tengah merias istrinya.
"Tuan, kenapa menawarkan untuk menggunakan gedung hotel anda?" tanya Tomy menghebuskan napas kasar.
"Selain keuntungan finansial, CCTV, keamanan, pekerja, semuanya ada dalam kendali kita, kecuali pengawal mereka. Aku tidak ingin Jeny terluka sedikitpun..." jawabnya, masih fokus pada tabnya.
Kriet...
Gorden besar terbuka, terlihat busana berwarna pich membalut lembut tubuh Jeny, kombinasi sempurna dengan warna kulitnya, hiasan kristal kecil bertengkar di rambutnya. Tata rias simpel terlihat alami, menambah kesan cinta pertama yang anggun.
"Ca... cantik..." Tomy tertegun.
Ayo Ren puji aku ... Jeny bergumam dalam hatinya, berharap mendapatkan respon dari suaminya.
Kagum begitulah harapannya, namun...
__ADS_1
Farel sedikit melirik,"Jelek, ganti..." ucapnya kembali konsentrasi pada tabnya.
Tomy membulatkan matanya, Jelek? Pertapa gunung yang hanya memuja nonanya ini mengatakan jelek? Aku tidak salah dengarkan...
Jeny mencoba untuk bersabar, gorden besar kembali tertutup. Beberapa belas menit berlalu, gorden kembali terbuka.
Gaun mewah berwarna putih, berhiaskan kristal, beberapa renda dan kain brokat berlapis menghiasinya. Bagian punggung, sedikit terbuka, berbalut kain tipis menambah kesan seksi. Hiasan rambut dengan silver berukir indah, makeup redup terlihat kesan bagaikan gadis polos. Mungkin tema kali ini bagaikan pengantin bahagia.
Tomy tertegun diam tidak dapat berkata-kata, wajah galak ala wanita karir Jeny tidak terlihat lagi. Berganti wajah dewasa yang cantik, bagaikan istri idaman. Hatinya berdebar tidak dapat dikondisikan.Perasaan yang aneh, namun sulit ditepisnya.
Pria br*ngsek, katakan aku cantik... Jeny memaksakan diri tersenyum hangat, menunjukkan pesonanya berharap mendapatkan pujian.
Farel kembali melirik,"Kalian tidak bisa merias ya!? Jelek!! Ganti cepat!! Karena kalian aku hampir terlambat!!" bentaknya.
Mata Jeny terbelalak, terlihat kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah suaminya saat ini. Namun, gorden keburu tertutup kembali, make over kembali dilakukan beberapa orang profesional.
Beberapa belas menit berselang, gorden kembali terbuka. Senyuman tidak terlihat lagi di wajah Jeny.
Wanita itu, mengenakan gaun merah tertutup, kontras dengan warna kulitnya terlihat indah menggoda, riasan wajah natural namun warna merah darah menghiasi di bibirnya. Rambut hitam panjang digerai, tanpa hiasan, hanya ditata rapi.
"Kamu mau bilang jelek lagi!? Kalau bilang jelek lagi, kenapa tidak kamu saja yang mencoba pakai gaun!!" bentaknya kesal.
Tuan menggunakan gaun? Jeny kamu tidak tau saja dengan kelakuan bos pelitku yang pernah memakai pakaian suster... gumamnya dalam hati, pernah melihat sekali saat menemui Farel di rumah sakit, ketika Jeny kecelakaan.
Farel tersenyum kecil,"Sempurna..." ucapnya.
"Gaun merah bertujuan menggoda suaminya, tanpa terlalu banyak tatanan rambut akan terlihat lebih praktis untuk wanita yang tidak dapat melihat. Riasan dengan lipstik menggoda, terlihat bagaikan wanita kesepian yang tengah mencari perhatian..." jawabnya tersenyum simpul."Ayo kita pergi..." Farel bangkit dari tempat duduknya, memberikan tongkat penuntun pada Jeny, sambil menggandeng tangannya.
Apapun yang mereka kenakan terlihat serasi dari sudut manapun. Tomy menghebuskan napas kasar, sedikit melirik ke gorden yang hanya terdapat beberapa stylish disana.
Beberapa puluh menit yang lalu, hatinya berdebar cepat. Sesuatu yang tidak pernah terjadi padanya. Tomy mengepalkan tangannya, kemudian tersenyum,"Itu hanya ilusi..." ucapnya, meyakinkan dirinya sendiri. Cinta? Perasaan berdebar? Hal yang awam baginya.
***
Ulang tahun Deren, pewaris seluruh perusahaan milik Lery? Tentunya mengundang banyak pengusaha ternama, baik dari kalangan pebisnis resmi maupun tidak resmi. Perusahaan legal maupun ilegal, mafia, pejabat, pengusaha, tidak ada yang tidak hadir.
Pesta tertutup tanpa seorang wartawanpun yang diperbolehkan meliput. Pemilik JH Corporation? Jika dibandingkan, Farel hanya pengusaha muda yang baru memasuki dunia bisnis disana.
Namanya diperhitungkan dan dihormati karena kecepatan perkembangan bisnisnya. Serta latar belakang keluarganya. Mata semua orang tertuju pada pasangan suami istri yang baru masuk, diikuti asistennya.
Jeny menggunakan tongkat penuntunnya, berjalan perlahan."Nona, maaf jangan diambil hati..." bisik Farel pada Jeny meminta ijin memulai dramanya, memasang wajah jenuh. Bagaikan terpaksa hadir menggandeng istrinya yang cacat.
Ekting yang sempurna, kenapa tidak jadi YouTubers saja menggantikan Ata Halilintar... cibir Jeny dalam hatinya berpura-pura tidak berdaya, berpura-pura tidak dapat melihat, memasang raut wajah tidak nyaman.
Wanita j*lang yang memanfaatkan kecacatannya? Begitulah perannya hari ini.
__ADS_1
"Farel..." Lery datang sendiri menyambut pemuda yang kini tengah mencoba tersenyum.
"Selamat malam, kadonya sudah aku kirimkan langsung ke alamat anda..." ucapnya Farel menjabat tangan Lery seolah-olah akrab dengannya.
"Tidak perlu sungkan, ayo kita ngobrol disana, Clarissa juga ada disana ..." Lery berusaha membimbing Farel pergi, namun jemari tangan lain menghentikannya.
Tangan Jeny meraba-raba, seolah-olah tidak dapat melihat meraih lengan suaminya, berucap memelas,"Aku sendirian tidak kenal siapapun, jangan pergi..."
"Hanya sebentar, Tomy akan menjagamu, kamu tidak akan tersesat. Aku akan kembali..." Farel, melepaskan jemari tangan istrinya terlihat jenuh, pergi bersama Lery.
Tersenyum? Lery merasa sudah menang, hanya tinggal menyingkirkan seorang wanita buta yang rapuh. Apa susahnya? Kekuasaan Taka, menantu pintar yang dapat dikendalikan, JH Corporation, perusahaan yang baru menunjukkan taringnya di beberapa negara. Semua akan dimilikinya, memperkokoh kekuasaannya.
***
Beberapa puluh menit berlalu, Farel menghembuskan napas kasar, tersenyum menatap Clarissa, yang memakai make up tips, gaun cream yang redup, bagaikan tokoh wanita utama. Apa sebenarnya tujuannya hadir? Matanya sejenak teralih, mencari keberadaan Hans.
Hingga, seorang pria berpakaian pelayan, dengan rambut panjang terikat berjalan masuk ke area lorong menuju kitchen. "Maaf, aku ingin ke toilet..." Farel tersenyum ramah, berjalan perlahan meninggalkan Clarissa.
***
Di tempat lain...
Tepatnya area pinggir kolam renang yang sepi, di luar tempat pesta diadakan seorang wanita tengah mengamuk.
"Ren br*ngsek!! Jika masalah ini sudah selesai, aku akan menghukumnya!!" ucapnya kesal menendang meja di hadapannya.
Kalau mengamuk, mengerikan juga... gumam Tomy menahan tawanya.
Jeny menghela napas kasar, menatap tajam ke arah Tomy,"Bagaimana caranya mengatur tuanmu!!" bentaknya.
"Mantra..." Tomy menjawab datar.
"Mantra?" Jeny mulai tertarik, terlihat antusias.
"Dia adalah seorang pertapa gunung yang hanya memuja seorang dewi dalam hatinya. Mantra apapun yang dikatakan sang dewi akan dilakukannya tanpa membantah. Bahkan, melindungi sang dewi dengan nyawanya..." jawab Tomy ambigu.
"Dewi!? Kamu sedang menceritakan CEO sombong pemilik JH Corporation atau legenda Gunung Merapi!? Kenapa tidak sekalian ada Nyai Blorong dan Mak Lampirnya saja!!" ucapnya kembali mengamuk, bahkan sebuah handuk properti hotel melayang tepat ke wajah Tomy, penuh rasa kecemburuan, walaupun mengetahui itu hanya sandiwara.
"Tenang aku hanya bercanda, magsudku bos pelit hanya menurut dan peduli pada anda..." ucapnya menerangkan.
Aku tidak mungkin menyukainya, wanita lembut yang keluar dari gorden ruang ganti adalah tipeku. Tapi imajinasi sesaat sudah lenyap, dia wanita penindas yang hanya cocok dengan bos pelitku...
***
Farel, berjalan cepat menelusuri lorong yang sepi, kehilangan jejak,"Sial..." umpatnya. Tidak menyadari, pelayan yang dicarinya memegangi jarum suntik. Entah apa isinya, bersembunyi di tikungan lorong lainnya tepat di belakang Farel. Tersenyum senang, seakan mendapatkan sumber kesenangan baru.
__ADS_1
Bersambung