Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Kamarku


__ADS_3

πŸŒΈπŸŒΈπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€Anak di bawah umur, mohon skip. Walaupun tidak fulgar, mengandung konten dewasa...πŸŒΈπŸŒΈπŸŒΈπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


πŸŒΈπŸ€ Happy reading πŸŒΈπŸ€


Kehidupan Jeny berjalan seperti biasanya, terasa aneh memang baginya. Pasalnya usahanya tiba-tiba maju lumayan cepat, banyak perusahaan kelas kecil atau menengah mengadakan acara ulang tahun atau event lainnya dengan menggunakan jasa EOnya.


Perlahan terlihat pesawat melintas jauh diatas gedung kantornya. Jeny hanya dapat menghebuskan napas kasar, tersenyum menyambut kliennya.


Wanita itu terkadang, menangis terisak seorang diri di ruangannya. Bukan karena merenungi nasibnya yang buruk. Namun, merindukan sosok Farel, yang ternyata satu-satunya orang yang menggenggam hatinya dari awal.


Penyesalan!? Tidak, Jeny tidak pernah menyesal dengan keputusannya. Merenung menunduk tanpa berniat mendengarkan sebuah berita di televisi yang menyala.


Terdengar suara televisi yang tidak ditontonnya...


'Selebriti pendatang baru yang digosipkan mengencani seorang produser, Renata menampik semua gosip. Bahkan dikabarkan akan mengadakan pesta pertunangan bulan ini dengan Roy direktur utama dari perusahaan asuransi Permata Harapan, anak cabang perusahaan JH Corporation, yang berbasis di Singapura,'


Jeny yang masih melamun menghebuskan napas kasar. Perlahan membalik beberapa kertas di atas meja kerjanya. Menatap dengan wajah pucat, sebuah dokumen yang disetujui Helen tanpa sepengetahuan Jeny.


"Kenapa Helen menerima permintaan perayaan pembukaan cabang kantor baru dari anak perusahaan JH Corporation!!" teriaknya panik, tidak ingin bertemu dengan monster bernama Tomy tanpa kehadiran Farel.


Hari semakin sore, Jeny mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sudah tiga bulan lamanya sosok Farel tidak terlihat, menghilang bagaikan tidak pernah ada. Bahkan Helen yang hendak mengirim uang denda pembatalan kontrak kerja, tidak dapat menghubungi nomor yang tercatat.


Perlahan mobil terhenti, terlihat Daniel menunggu di depan rumahnya, membawa beberapa peralatan bayi.


"Jeny!?" pemuda itu tersenyum menunjukkan beberapa paper bag.


"Ada apa!?" Jeny menatap jenuh.


"Aku hanya ingin mengingatkan, ibumu ingin kamu datang ke acara makan malam besok. Dan ini untuk Rafa..." jawabnya.


"Ini tidak akan membicarakan tentang pernikahan kita lagi kan!? Aku sudah bilang aku masih istri dari Farel..." ucap Jeny sembari berjalan menuju ke dalam rumah.


"Tidak tau, omong ngomong Rafa dimana!?" tanya Daniel menelisik.


"Mungkin sudah tidur," Jeny menghebuskan napas kasar duduk di sofa, menatap aneh pada Daniel,"Daniel sudah aku bilang kita tidak akan cocok, carilah wanita lain..." ucapnya.


"Selama kamu tidak memiliki pasangan sesungguhnya, aku tidak akan menyerah," Daniel, menatap wajah Jeny intens.


"Ini sudah pukul 10 malam, kamu mau aku dituduh wanita tidak bermoral. Membawa pria masuk ke rumah di malam hari tanpa keberadaan suami!?" tanya Jeny tersenyum dipaksakan.


"Kalau konsekwensinya menikah dan kita kembali bersama. Tidak apa-apa..." jawabnya.


"Konsekwensinya, rambutmu dicukur hingga habis, ditelanjangi dan diarak keliling kompleks. Terakhir dipenjara karena tuduhan berbuat asusila, kenapa kamu mau!? Besok kita akan menjadi berita utama..." ucap Jeny dengan nada serius


"A...aku pulang dulu!!" Daniel mengambil kunci mobilnya yang diletakkan di atas meja. Pergi dengan segera meninggalkan rumah Jeny.


Jeny menghembuskan napas kasar mendengar kepergian mobil Daniel,"Dasar bodoh, ini tahun berapa!? Dan dimana!? Masih saja percaya, hukuman masyarakat zaman dulu yang bagaikan pelanggaran HAM..." wanita itu menggeleng gelengkan kepalanya heran.


***


Hidangan restauran hotel yang memukau, alunan melodi yang indah, pelayan yang ramah. Tirta masih tengah membicarakan koalisi bisnisnya dengan Jony yang telah berjalan selama tiga tahun.


Jeny yang hanya sekedar hadir menghembuskan napas kasar, mengiris daging di hadapannya. Berharap piring bisa segera tandas dan dapat melarikan diri dari situasi yang canggung ini.


"Paman, bibi, aku ingin kembali bersama Jeny. Aku sudah memutuskan akan menerima Rafa," ucap pemuda itu melirik ke arah Jeny.


"Sebaiknya, kamu terima saja niat baik Daniel. Lagipula, suamimu hilang entah kemana beberapa bulan ini..." Dea berucap.


"Tidak bisa aku..." ucapan Jeny terpotong, Daniel berlutut di hadapannya, menunjukkan sebuah kotak berisikan cincin,"Kembalilah, bersamaku aku mohon... Maaf, sebelumnya sudah melanggar janji suci pernikahan kita..." ucap Daniel dengan keras, menarik perhatian para pengunjung.


"Terima..."


"Terima..."


"Terima..."


Teriak beberapa pengunjung serempak, merasa terharu, sekaligus iri pada pasangan tersebut.


Sudah beberapa kali ditolak olehmu, kali ini tidak akan gagal, jika aku melamar di depan umum... gumam Daniel dalam hatinya.


Jeny terdiam dalam kebingungan, menunduk tidak ingin wajahnya direkam beberapa pengunjung rangkap netizen restoran hotel itu dari jauh. Hingga terdengar suara yang familiar baginya.


"Berharap melamar istriku, dengan cincin murah!? Jangan bermimpi..." Farel mengenyitkan keningnya tertawa kecil, kemudian menarik tangan Jeny untuk segera bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan kerumunan orang yang mulai menggunjingkannya.


Jeny terdiam, jemari tangan hangat menariknya entah kemana. Punggung Farel yang selalu dirindukannya terlihat membimbingnya.


Tanpa disadari, pemuda itu menarik Jeny, hingga menuju lift, menekan tombol hingga sampai ke lantai delapan.


"Kita akan kemana!? Lepas!!" Jeny memberanikan dirinya berucap, berusaha melepaskan cengkraman tangan Farel.


"Kamar sahabatku!! Kamu tau bagaimana rasanya merindukan seseorang selama berbulan-bulan, dan tiba-tiba melihatnya dilamar di depan umum!!" Farel membentak Jeny untuk pertama kalinya.


Jeny hanya tertunduk diam, bibirnya terasa kelu untuk bicara. Tangannya saat ini gemetar, menatap kemarahan Farel yang tidak pernah dilihatnya. Takut akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan saat bersama dengan Daniel. Rasa trauma itu masih ada dalam dirinya.


Farel membuka kamar Tomy, meletakkan tanda 'Don't disturb' pada hendel pintu, lalu menguncinya dari dalam.


"Tidak bisakah nona mencintaiku!?" tanyanya, mencium bibir Jeny penuh nafsu, tanpa mendapatkan balasan sedikitpun. Perlahan menelusuri leher wanita itu dengan bibirnya. Satu persatu kancing kemeja Jeny dibukanya, hingga tiba-tiba aktivitasnya terhenti. Terdengar isak tangisan dari mulut Jeny.


"Jangan menangis," Farel menghentikan aktivitasnya, menghebuskan napas kasar, mengusap air mata istrinya,"Aku minta maaf, tidak apa-apa jika kamu tidak mencintaiku... pergilah!!" ucapnya mengusap rambut Jeny.

__ADS_1


Pemuda itu berusaha tersenyum berjalan berlalu. Mengetikkan sesuatu di phonecellnya, kemudian menatap ke arah jendela kaca besar yang menunjukkan pandangan padatnya jalan perkotaan.


Aku yang membuatnya menangis lagi... Apa mungkin karenaku nona tidak akan pernah bahagia... tanyanya merasakan sesak di dadanya.


Jemari tangan lembut seorang wanita tiba-tiba memeluknya erat dari belakang,"Ren...." ucapnya lirih.


"Nona sudah tau!?" tanyanya, membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Jeny.


Jeny mengangguk, air matanya mengalir terus menerus,"Siapa yang tau apa saja yang aku sukai!? Siapa yang berani meminta imbalan ciuman untuk satu pekerjaan, membalikkan permintaanku!? Siapa yang tau bagaimana caranya menyelamatkan nyawaku!?" tanyanya.


Jeny kembali menghebuskan napas kasar, tertunduk seakan mengikhlaskan segalanya,"Aku akan mengatur perceraian kita. Aku tidak pantas untuk...." kata-kata Jeny terhenti.


Bibirnya dibungkam oleh Farel, perlahan memejamkan matanya menikmati ciuman mereka,"Nona bodoh!! Apa ada wanita yang lebih pantas untukku!?" tanyanya dengan napas terengah-engah.


"Tiga bulan ini aku hampir gila memikirkanmu!! Jika kamu menyuruhku hidup dengan wanita lain. Aku mungkin akan mati karena merindukanmu..." lanjutnya penuh senyuman, meyakinkan Jeny. Dengan lembut, merapikan anak rambut istrinya, menatap lekat matanya.


Jeny tertawa kecil, dalam tangisannya,"Mulutmu seperti dilumuri gula, aku mencintaimu..." bisiknya.


"Stttt... dari sari pati tebu pilihan..." perlahan Farel kembali mengusap air mata Jeny."Tidurlah, kamu pasti lelah. Aku akan tidur nanti," lanjutnya.


"Kenapa!?" Jeny mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Aku harus minum obat dulu, aku akan tunggu pesananku datang..." jawabnya ambigu.


"Obat apa, kamu sakit!?" tanyanya penasaran.


"Bukan apa-apa..." Farel tertawa kecil.


"Obat apa!?" tanya Jeny tegas, dengan nada tinggi.


"Obat tidur..." Farel tertunduk menahan rasa malunya.


"Fungsinya!?" Jeny kembali mengenyitkan keningnya.


"A...aku menderita insomnia," jawabnya.


"Apa fungsinya!?" Jeny kembali membentak.


"Aku tidak bisa tidur nyenyak jika bersama wanita yang aku cintai!! Aku ini juga laki-laki normal, walaupun hanya bereaksi di dekat nona!!" ucapnya tegas, sejenak kemudian tertunduk diam.


"Dasar bodoh... maaf..." Jeny berjinjit mencium Farel dengan penuh nafsu, tangannya mengalung di leher pemuda itu. Seakan menumpahkan semua perasaan rindu yang ditahannya. Suara decapan bibir terasa di ruangan yang lampunya memang dari awal belum menyala.


"Nona!?" tanyanya tidak mengerti dengan perubahan sikap Jeny. Menahan desiran dalam dirinya dengan napas yang mulai tidak teratur.


"Aku percaya padamu, panggil aku Jeny..." jawabnya, pertahanan dirinya mungkin telah runtuh oleh prilaku penuh kasih dari Farel. Seakan melepaskan semua trauma masa lalunya, di perlakukan dengan buruk penuh kekerasan di tempat tidur maupun dalam kegiatan sehari-hari, oleh sosok mantan suaminya.


"Jeny..." panggilnya dengan ragu penuh senyuman, mengecup kening, pipi, dagu, hidung, bermuara pada bibir Jeny.


Langkah demi langkah tidak terasa, hingga sampai di atas tempat tidur, ciuman itu sesekali terlepas hanya untuk kedua pelakunya menghirup napas. Tautan bibir yang lembut, saling menutut.


Sedikit demi sedikit hasrat mereka mulai terbakar, tangan Farel yang dingin mulai melepaskan kancing kemeja wanita yang kini berada di bawahnya. Menyusupkan tangannya perlahan.


"Farel..." Jeny berucap dengan suara parau.


"Maaf, kali ini aku tidak akan berhenti," Farel dengan nada suara berat, berbisik di leher Jeny, hembusan napas yang membuat Jeny terasa bagaikan mabuk, mengikuti semua kehendak pemuda yang kini menguasai dirinya.


Sebuah kemeja teronggok di lantai, diikuti dengan celana panjang seorang wanita. Serta kemeja, kaos dalaman dan celana panjang kaki-kaki.


Tirai tipis yang menghiasi tempat tidur mulai tertutup,"Farel... hentikan..." Jeny berucap dengan suara parau, merasakan leher pundak semuanya tidak luput dari kenakalan bibir pemuda yang bersetatus suaminya.


"Ugghhh...." suara parau kembali yang lebih erotis terdengar, seiring terbukanya pengait pakaian dalam bagian atas Jeny. Menjambak pelan rambut pemuda yang tengah memainkan bibir nakal dan jemari tangannya yang memijat, dan menyesap tiada henti.


"Farel..." ucapnya


"Diam dan tenanglah, pertama kali setelah nifas akan sakit, aku pernah membacanya di internet..." ucapnya berbisik, melepaskan sepasang kain yang menutupi tubuh mereka.


Selanjutnya hanya terdengar suara erangan erotis, saling memanggil nama pasangannya. Menikmati malam yang dingin, menyatukan hasrat mereka.


Pagi menjelang, sinar matahari memasuki celah tirai. Farel telah membersihkan dirinya, memakai jubah mandinya dengan rambut yang basah. Tanda 'Don't disturb' telah dicabutnya, hingga pelayan hotel berani mengetuk pintu membawakan makanan yang dipesan Farel.


"Jeny bangun... jika tidak aku akan melakukannya lagi," bisik Farel.


"Eemmmgghhhh..." ucap wanita yang hanya berbalut selimut tanpa busana itu, menggeliat kemudian kembali tertidur.


Farel menghebuskan napas kasar, mengecup bibir Jeny pelan. Jeny mengerjap ngerjapkan matanya, masih menyangka malam hangat yang dijalaninya adalah mimpi.


"Mandi, setelah itu sarapan..." ucap Farel tersenyum cerah, menyentil dahi Jeny.


"Sakit...!!" Jeny membentak, mengusap dahinya yang kebas.


"Istri pendekku," ucapnya tertawa kecil membalas ejekan Jeny ketika remaja yang sering menyebutnya 'pacar pendekku,'


"Omong ngomong, kamu tidak menyewa kamar ini, kamar ini disewa oleh siapa...!?" Jeny mengenyitkan keningnya penasaran.


"Milik...." Farel menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa bersalah.


Flashback on


Seorang pemuda berjalan dari area kedatangan penumpang dengan tergesa-gesa. Tomy yang menjemput segera meraih koper tuannya.

__ADS_1


"Bagaimana tuan!? Apa semuanya sudah stabil!?" tanyanya, sembari berjalan cepat.


"Sudah, harga saham sempat anjlok, tapi sekarang sudah stabil. Ayah pengelola sementara yang baik..." jawabnya.


"Tuan, setelah ini ada pertemuan dengan beberapa pejabat. Saya membuka bisnis baru di bidang tekstil, tentu harus memiliki akses pembuangan dan pengolahan limbah. Sudah saya jelaskan jika pengolahan limbah yang kita gunakan adalah yang terbaik, bahkan kwalitas internasional. Tapi tetap saja tidak lolos. Padahal perusahaan lainnya teknologi mereka lebih buruk, tapi diloloskan dengan mudah..." Tomy menghembuskan napas kasar.


"Kita ancam mereka..." ucap Farel menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Saya akan menemui anda di hotel GH nanti malam di restaurannya. Sebaiknya, tuan ganti baju di kamar saya. Tuan setelah ini akan pulang menemui istri anda di rumahnya bukan!?" tanyanya, sembari melempar kunci kamar hotel yang ditempatinya.


"Tau saja..." Farel kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya.


Akal busuk pria yang tidak mendapatkan jatah berbulan-bulan siapa yang tidak bisa menebaknya. Apalagi dengan tumpukan hadiah yang dibawa Firaun ini... Tomy menghebuskan napas kasar, menatap koper lain yang diambil Farel dari tempat penitipan barang.


***


Suasana Restauran nampak ramai, perdebatan alot terjadi antara Tomy dengan dua orang pejabat negara di hadapannya. Hingga Farel datang membawa sebuah koper berukuran besar.


"Apa ini cukup untuk meloloskan kami dari pengujian!?" tanyanya membuka isi koper, dengan uang ratusan ribu bertumpuk berjejer rapi.


"Anda ternyata lebih mengerti maksud kami," ucap salah seorang pejabat, meraih tas yang dibawa Farel.


"Jadi perusahaan lainnya juga melakukan hal yang sama!?" tanya Farel penasaran, merebut minuman Tomy, kemudian meminumnya dengan tidak tau malu.


"Tentu saja, kalian baru di bisnis ini jadi kalau kalian mengikuti kata-kata kami maka..." ucapan salah satu pejabat itu dipotong oleh Farel.


"Perusahaan mana saja yang terlibat!?" tanyanya seakan penasaran.


"PT F&D, Perusahaan kain dengan merek Brenda dan bermerek Bold, ada lagi perusahaan kelas kecil bermerek Rara," jawab pejabat lainnya.


"Owh...mereka juga memberi uang!?" tanya Farel kembali, seakan pegawai kecil, orang yang baru di bidang bisnis.


"Iya, jumlahnya cukup besar..." jawabnya.


"Loloskan pengujian kami!! Jika tidak, besok kalian akan ada di berita utama..." ucapnya mengeluarkan alat perekam kecil.


"Kamu cuma punya satu buk..." kata-kata salah satu pejabat disela, oleh Farel.


"Koper yang kalian bawa yakin isinya uang!?" Farel mengenyitkan keningnya.


Dengan cepat salah satu pejabat membuka koper, menggeledah isi koper yang hanya uang di bagian atasnya. Dengan tumpukan kertas putih dan kamera kecil bagaikan CCTV kwalitas tinggi didalamnya.


"Br*ngsek!!" salah satu pejabat, hendak meraih kerah kemeja Farel.


"Ditambah penganiayaan, aku yakin kalian akan diberhentikan secara tidak hormat. Kecuali..." kata-kata Farel terhenti.


"Kecuali apa!?" sang pejabat membentak.


"Lakukan pengujian pengolahan limbah yang adil. Yang lolos harus lolos, yang tidak lolos tutup saja pabriknya. Jika tidak, biarkan KPK saja yang bergerak menggati pejabatnya," Farel menyeringai penuh senyuman licik.


Tuan, aku akan memberi banyak like di akun media sosial anda. Ini bukan hanya akan dapat meloloskan kita dari pengujian pengolahan limbah. Tapi juga, dapat menyingkirkan beberapa saingan bisnis kita... Tomy berdecak kagum dalam hatinya.


Kedua orang pejabat itu saling melirik, bagaikan tidak memiliki pilihan lain,"Kami setuju..." jawab mereka menghembuskan napas kasar.


"Baik ... kita sepakat, rekaman video dan percakapan akan aku kirim jika uji pengolahan limbah yang adil sudah dilakukan," Farel menyunggingkan senyuman di wajahnya, sembari meminum segelas orange juice milk Tomy.


Hingga suara keributan yang mengalihkan perhatiannya terdengar...


"Terima!!"


"Terima!!"


Terdengar suara serempak dari pengunjung restauran. Wajah Farel seketika pucat, menatap sosok orang yang di lamar.


"Tomy, urus yang ada disini!!" ucapnya memberikan alat perekam pada Tomy.


Semoga anda selamat dari amukan tuan... nona Jeny.... Tomy menghebuskan napas kasar, menatap dari jauh Farel menarik Jeny pergi dari restauran.


Beberapa jam berlalu, Tomy mulai berjalan berlalu hendak ke kamarnya. Seorang pengirim paket nampak bingung dengan tanda 'Don't disturb' (jangan diganggu) pada kamar hotel yang disewa Tomy.


"Kamu siapa!?" tanyanya.


"Saya pengantar paket, ini pesanan kilat dari kamar ini. Tapi ketika saya kemari ada tanda tidak boleh diganggu..." sang kurir menghebuskan napas kasar.


Jangan diganggu!? Tuan, anda berbuat mesum di kamar yang saya sewa!? Anda punya beberapa apartemen, villa, dan hotel di luar negeri, seharusnya anda sekalian bulan madu kesana. Kenapa harus di kamar seorang singgel sepertiku...Aku tidur dimana malam ini... batinnya menahan kekesalannya.


"Tuan...!?" sang kurir mengenyitkan keningnya.


"Apa isinya, apa sudah dibayar!?" Tomy menghebuskan napas kasar.


"Obat tidur, sudah dibayar via transfer," jawab sang kurir.


"Aku pemilik kamar ini, orang yang memesannya tidak memerlukannya lagi. Aku yang memerlukannya sekarang, inilah hidup seorang singgel..." Tomy kembali menghembuskan napas kasar, meraih obat tidur yang dikirimkan oleh kurir, turun ke lantai satu menuju meja resepsionis guna memesan kamar lain.


Jika kamu merasa seperti diabaikan teman terbaikmu ketika dia sudah menikah. Jangan dobrak pintu rumahnya dan menariknya keluar dari kamar pengantin... karena itu hanya akan membuatmu lebih dari kesal menjadi iri, jadilah pria singgel sejati yang berkualitas... tinggalkan mereka berdua untuk mencetak anak... walaupun meminjam kamarku... ucapnya dalam hati merenung, menendang-nendang udara kesal.


"Dasar gila..." sang kurir menggeleng gelengkan kepalanya heran.


**Flashback off

__ADS_1


Bersambung**


__ADS_2