Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Hati Yang Sedikit Terbuka


__ADS_3

Farel memejamkan matanya, membayangkan aktivitas yang dilakukan Jeny ketika memunggunginya. Hingga satu kata membuatnya lega.


"Selesai..." Jeny berucap sembari kembali merapikan gaunnya.


"Nona tetap akan memakai itu!?" tanyanya melihat gaun yang sedari tadi membuatnya kesal.


"Sebenarnya aku tidak begitu suka, tapi karena sudah terlanjur memakainya..." ucapan Jeny terhenti. Pemuda yang hanya memakai handuk melilit di pinggangnya itu mengenyitkan keningnya, menatap tidak suka padanya.


"Aku akan membantu nona mengganti pakaian..." Farel menatap intens.


Farel kamu bisa, saat berusia 7 tahun kamu sering membatu nona mengganti pakaiannya. Jangan biarkan nona keluar memakai pakaian terkutuk itu.... tekadnya dalam hati.


"Tidak!! Biar aku sendiri saja!!" Jeny menghembuskan napas kasar.


"Saya adalah asisten nona yang baik, saya tidak akan berbuat macam-macam tanpa seijin nona," sanggahnya.


Tidak berbuat macam-macam mulutmu!! Nanti tangan dan bibirmu tidak akan bisa diam... Jeny menggerutu dalam hatinya.


"Tapi aku bisa sendiri, dasar Casanova!!" Jeny bangkit hendak melarikan diri ke dalam kamar mandi.


"Tunggu..." Farel, mencengkram erat tangan Jeny, menghentikan langkah wanita yang kini bersetatus sebagai istrinya.


"Aku saja," ucap Farel yang sudah bisa mengendalikan diri. Resleting gaun mulai diturunkannya. Hanya menatap Jeny yang menutupi bagian tubuhnya dengan tangan menahan tawanya. Gaun merah teronggok di lantai, memperlihatkan punggung putih dengan lekuk tubuh indah dari nonanya.


"Aku bisa sendiri!!" Jeny membentak kesal, memunggungi Farel, sedikit memberontak.


"Nona diamlah, ini hanya mengganti baju saja..." ucapnya tersenyum lembut.


Hasrat yang terpendam berganti dengan rasa sayang. Dalam penglihatan Farel mungkin yang berada di hadapannya adalah punggung Jeny kecil yang berusia 7 tahun.


"Biar aku saja!!" Jeny merebut pakaian dalam bagian atasnya, yang hendak dipasangkan Farel. Kemudian mengenakan dengan cepat.


"Aku akan membantu nona!!" Farel membentak kesal, memegang erat minidrees nonanya. Mungkin saat-saat melayani Jeny cukup dirindukannya.


Saat yang membahagiakan lebih dari 13 tahun yang lalu, walaupun menjadi pesuruh Jeny bagaikan kacung. Cara aneh dari Jeny untuk mencari perhatian Ren, itulah yang dirindukan pemuda itu.


"Tidak boleh!! Aku bisa sendiri!!" Jeny menarik lebih kencang. Namun, tanpa diduga mini dress putih itu koyak. Jeny terjatuh, pemuda yang berusaha menahannya malah ikut terjatuh menindih tubuh Jeny dalam posisi tidak mengenakan.


Jeny terdiam sejenak, menatap tubuh atletis pria yang hanya memakai handuk di pinggangnya. Wanita itu, menelan ludahnya, merasakan kulit mereka yang hampir tanpa busana bersentuhan. Perlahan memejamkan matanya, seakan menunggu hal yang akan terjadi.


Terlalu menggoda, yang terjadi, terjadilah... ucapnya dalam hati benar-benar tergoda dengan pemuda yang kini menindihnya, hampir tanpa busana.

__ADS_1


"Nona tidak apa-apa!? Maaf gaunnya jadi sobek. Saya akan memilihkan yang baru," ucap Farel bangkit dari tubuh Jeny.


"A...aku tidak apa-apa..." wajah Jeny tiba-tiba pucat, mengacak-acak rambutnya frustasi.


Apa yang aku fikirkan!? Kenapa aku tiba-tiba tertular mesum begini... Tapi dia... Jeny kembali tertegun menatap punggung Farel.


"Nona, gaun ini cukup bagus..." Farel berucap penuh senyuman. Sembari membantu Jeny mengenakan gaunnya.


"Kamu tidak ingin menciumku?" tanya Jeny memunggungi Farel, yang tengah menarik resleting gaunnya. Antara ragu dan ingin merasakan bibir pemuda itu. Mungkin perlahan perasaan aneh sudah tumbuh dan menjalar dalam dirinya, ciuman yang tiba-tiba menjadi candu mirip saat bersama dengan Ren 13 tahun yang lalu.


"Ingin..." Farel membalik tubuh Jeny sedikit membungkuk, mencium pipi dan kening istrinya.


"Aku mencintai nona, apa nona mau berusaha menyukaiku!?" tanyanya.


"Apa aku bisa!?" Jeny terlihat ragu dengan perasaannya yang masih sering memikirkan Ren, kekasih kecilnya.


"Tentu saja, tolong relakan dia..." ucap Farel mencium bibir Jeny sekilas, senyuman menyungging di bibirnya.


Jeny terdiam tidak menjawab, akankah Farel dapat menyayanginya seperti Ren!? Atau akan berubah seperti monster bagaikan Daniel!? banyak pertanyaan terngiang dalam dirinya. Ragu akan semua hal yang akan terjadi.


***


Pemuda itu menghembuskan napas kasar, mulai berjalan mengikuti langkah kedua orang tuanya.


"Selamat datang..." Jony merentangkan tangannya, menyalami Tirta mantan besannya penuh senyuman.


"Maaf, dulu kami sempat salah paham pada Jeny. Kami ingin sekalian minta maaf padanya. Dimana Jeny sekarang!?" tanya Tirta, tersenyum hangat.


"Sebentar lagi akan turun... Ayo kita makan dulu, nanti kita bicara setelah makan malam," Jony mempersilahkan tamunya berjalan menuju ruang makan. Merangkul bahu Tirta seolah teman akrab.


Mata Daniel menelisik setelah duduk di kursi meja makan menanti kedatangan wanita yang dua tahun ini bersabar menghadapi prilaku buruknya.


Tawa terdengar dari mulut Tirta dan Jony yang sekedar membicarakan masalah tender dan bisnis. Menunggu para pelayan, tengah menata meja makan. Dan menghidangkan makanan satu persatu.


Nana menyunggingkan senyuman di bibirnya, mengamati tingkah laku Daniel yang seperti mencari seseorang. "Apa kamu mencari Jeny!?" tanyanya.


"Kelihatan sekali ya!?" tanya Daniel berusaha untuk tersenyum.


"Kalian pasangan yang serasi..." jawab Nana, tersenyum ramah meminum air putih dingin yang sudah dihidangkan pelayan.


Sangat serasi, satunya penyebab kematian remaja yang baik bagaikan malaikat. Satunya suami yang berselingkuh dan kasar. Nana tersenyum menahan rasa muaknya, menanti kedatangan Jeny.

__ADS_1


Seorang pemuda rupawan, menggandeng tangan Jeny penuh senyuman. Jeny saat ini memakai minidrees tertutup berwarna pich, dengan rambut digerai, diikal rapi, makeup tipis bagaikan remaja berumur 18 tahun. Tampilan yang berbeda dengan yang disiapkan Dea, seharusnya memakai gaun terbuka yang menampilkan kesan wanita dewasa menampakan keindahan tubuhnya.


"Jeny, dimana gaunmu!?" Dea membentak, telah mempersiapkan secara hati-hati, penampilan putrinya untuk menggoda Daniel.


Tanpa diduga Daniel tersenyum, diam terpaku, menatap wajah Jeny dari jauh kemudian bangkit, berjalan mendekat, membawa beberapa paper bag dengan salah satu tangannya.


"Jeny!? Aku menyukai penampilan barumu, apa ini khusus untuk bertemu denganku!?" Daniel berusaha memegang jemari tangan wanita yang dicintainya,"Jangan berusaha membuatku cemburu lagi, aku akan menerima Rafa sebagai putraku. Aku menyiapkan ini untuknya," Daniel menunjukkan beberapa paper bag yang sengaja dibawanya untuk putra mantan istrinya.


"Maaf, putraku tidak memerlukannya..." Farel mengenyitkan keningnya, memakai tubuhnya sebagai perisai, memisahkan tangan Daniel dari Jeny. Berdiri diantara mereka.


"Kamu punya hak apa!?" tanya Daniel membentak.


"Dia suamiku sekarang..." Jeny bergelayut manja, menarik tangan Farel menuju meja makan.


"Orang berwajah play boy tengik ini suamimu!?" wajah Daniel pucat, mengikuti langkah Jeny menuju meja makan.


"Iya, dia suamiku..." ucapnya mulai duduk berdampingan dengan Farel.


Wajah Daniel pias, duduk di dekat kedua orang tuanya.


Gina menghembuskan napas kasar, berbisik pada putranya,"Benarkan!? kamu bukan satu-satunya pria di dunia ini."


"Dasar g*golo!!... Jeny, apa kamu menyewanya, menjadi suami pura-puramu!?" Daniel mengenyitkan keningnya, curiga pada sosok pemuda rupawan, yang cukup mustahil menyukai singgel parent seperti Jeny.


"Jeny menyewaku!? Memang... bayarannya tentu saja ini..." Farel tersenyum, tertawa kecil, mengusap bibir Jeny pelan. "Aku akan menjaga istriku seumur hidupnya,"


Jeny terpaku diam, menatap Farel yang tersenyum tulus kepadanya. Apa pemuda ini serius!? mungkin pertanyaan itulah yang saat ini ada dalam batinnya. Hatinya kembali berdebar masih bingung dengan perasaannya. Tidak dapat melupakan sosok Ren, namun disaat yang sama hatinya mulai terbuka untuk Farel.


"Sudahlah, pelan-pelan Jeny akan menyadari siapa yang terbaik..." ucap Nana memberi semangat pada Daniel.


Farel sulit untuk ditangani... tapi entah kenapa aku menyukai karakternya yang bertolak belakang dengan Ren... Bad boy and good boy... gumamnya dalam hati sedikit tersenyum mendengar kelakuan Farel.


"Iya, aku tidak akan menyerah dengan mudah,"Daniel kembali tersenyum melihat wajah mantan istrinya, yang duduk berseberangan dengannya.


"Berharap saja terus..." Farel mengenyitkan keningnya.


"Maaf, aku ke kamar mandi sebentar..."Farel bangkit dari kursinya, hendak berjalan meninggalkan ruangan makan yang cukup besar itu. Mengacak-acak rambut Jeny gemas kemudian berlalu pergi, tanpa mengetahui rencana busuk seseorang pada istrinya.


Semua sajian telah terhidang, acara makan malam dimulai. Salah satu orang menyunggingkan senyumnya mulai makan. Menatap Jeny menyantap makanan malam di hadapannya, tanpa rasa curiga.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2