Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Jangan Bermimpi!!


__ADS_3

......Menyelamatkan nyawa manusia? Mungkin egoku yang terlalu tinggi. Darah putraku mengotori sarung tangan operasi yang aku pakai. Alarm sialan itu terus berbunyi....


...Bertahanlah... hanya itu satu kata yang tertahan, ingin untuk aku ucapkan......


Gabriel...


Kepanikan? Itulah yang terlihat di ruang operasi, dokter anastesi mulai menyuntikkan beberapa obat-obatan. Tangan Gabriel selaku dokter bedah masih sibuk menghentikan pendarahan. Hingga perhatian semua orang teralih pada monitor, terdengar suara yang lebih panjang dan nyaring...


"Detak jantung pasien terhenti!! Hentikan operasi, lakukan RJP!! Persiapkan defibriliator!!" intrupsi diucapkan Gabriel berusaha untuk tenang. Memotong benang terakhir, dengan luka di tubuh putranya masih terbuka.


Henti jantung? Itulah yang terjadi saat ini, darah yang terlalu banyak keluar penyebabnya. Terlalu menderita? Itulah yang dilihatnya saat ini pada tubuh putranya. Memar, tikaman, bahkan beberapa peluru yang belum sempat diangkatnya.


Maaf... apa terlalu menyakitkan? Bertahanlah, sedikit lagi, ayah mohon... Gabriel memberikan RJP menekan dada berlumuran darah itu berkali-kali hingga defibriliator telah siap.


Tegangan listrik mulai diatur... Kembalilah berdetak... mohonnya pada tubuh mendingin masih lengkap dengan selang pernapasan yang terhubung pada mulutnya sang pemuda.


Percobaan pertama, tubuh itu menegang, namun alarm panjang masih berbunyi.


Percobaan kedua, "Tambah daya!!" ucapnya menggunakan menggunakan alat pacu jantung tanpa adanya pengawasan dokter spesialis jantung.


Ayah mohon, kembalilah... Gabriel kembali menitikkan air matanya.


Putus asa? Benar, dirinya saat ini putus asa, sempat terbersit di benaknya tidak tega melihat penderitaan putranya yang hanya memiliki sedikit harapan bertahan hidup. Apa mungkin lebih baik membiarkannya pergi saja? Dia terlalu menderita...


Sejenak kedua tangannya, yang memegang defibriliator mengerat... Tidak, dia harus hidup... jangan meninggalkan ayahmu ini...


Suara panjang alarm berganti,"Detak jantung pasien kembali," seorang suster yang mengamati monitor berucap pada perawat dan dokter yang berada di depan tubuh dingin sang pemuda.


Terimakasih... pria itu menatap wajah dingin putranya penuh rasa haru, tangannya masih gemetar meletakkan kembali defibriliator.


Obat dari dokter yang menangani anastesi mulai bekerja, alarm panjang tidak berbunyi lagi, pertanda detak jantung pasien stabil. Gabriel mengepalkan tangannya.


"Lanjutkan operasi..." interupsinya kembali meraih peralatan bedah, berusaha untuk tetap tenang.


Tang...


Satu proyektil berlumuran darah lagi diangkatnya, berbenturan dengan wadah alumunium, sesekali melirik wajah putranya. Ayah tidak menginginkanmu untuk mati, karena itu bertahanlah sebentar lagi...


Beberapa jam berlalu...


Gabriel keluar dari ruang operasi, masker yang dikotori darah dilepaskannya. Memejamkan matanya sejenak, menghela napasnya.


Tiga orang yang duduk di depan ruangan mulai bangkit, seakan ingin bertanya pada dokter bedah di hadapannya.


"Operasi berhasil, 48 jam kedepan masih memasuki masa kritis..." ucapnya dengan langkah kaki lemas, operasi yang melelahkan baginya, menyayat kulit putranya sendiri. Menyaksikan sendiri darah putra yang tidak pernah mendapatkan kasih sayangnya mengalir tidak dapat dihentikannya.


Jemarinya masih gemetaran, sesuatu yang ditahannya, berusaha tenang menyembunyikan rasa duka dan takut kehilangannya. Untuk pertama kali, dirinya merasa ketakutan dengan darah. Langkahnya lemas, berjalan menelusuri lorong, hingga tiba di tempat untuk berganti pakaian.


Masker berlumuran darah dilemparkannya ke dalam tempat sampah, sarung tangan mulai dilepaskannya. Rasanya tidak kuat lagi. Pria itu menyenderkan tubuhnya pada dinding, suara tangisnya mulai keluar. Perlahan mulai duduk di lantai, menangis terisak, menangisi putranya. Tubuh lemah yang menderita, menahan rasa sakit yang begitu besar.


Bertahan hidup? Putranya masih berjuang untuk bertahan. Tubuh yang dipenuhi luka itu masih bernapas.


'Ayah...' suara lirih didengarnya dalam ruangan kosong, suara yang dikenalnya. Tidak menganggap suara itu ada, Gabriel menunduk merindukan pelukan putranya.


"Seharusnya aku lebih banyak bersamanya menghabiskan 2 bulan yang singkat ini..." gumamnya, menangis tidak berdaya duduk di lantai yang dingin.


Nikmatilah saat-saat yang berharga dengan hati yang hangat. Karena tidak akan tau kapan akan bertemu lagi. Saat aku berjalan sendiri, aku ingin bertemu dengan kalian. Tangan hangat yang sering aku ancam. Ayah, maafkan putramu yang nakal ini...


Pemuda itu mulai menyentuh tangan ayahnya yang masih gemetaran, namun tidak berhasil. Berdiri menatap penuh senyuman tidak disadari sang ayah, berjalan perlahan menelusuri lorong, tempat yang seharusnya gelap, namun ujung lorong yang terasa terang dan hangat.

__ADS_1


***


Berbagai alat medis masih terpasang di tubuhnya, ventilator masih terpasang memasuki rongga di mulutnya, pertanda tubuh itu masih kesulitan bernapas. Jemari tangan seorang wanita yang tengah hamil muda, meraba pelan sekat kaca. Tempat pasien yang kini kondisinya masih kritis.


Wajah hangat yang selalu memanggilnya nona, kini putih pucat, menggantungkan hidupnya yang rapuh pada alat-alat medis.


"Terimakasih masih tetap bertahan, aku mencintaimu..." ucapnya terisak, tidak tega melihat banyaknya alat medis yang terpasang di tubuh suaminya. Air matanya mengalir, diseka oleh jemari tangannya.


"Ren tetaplah hidup, apa kamu dengar!? Ini perintahku..." racaunya dalam tangisan.


"Anak, kamu ingin anak kembar kan? Jika kamu bangun aku berjanji, kita akan membuat anak kembar setelah kelahiran anak kedua kita..." lanjutnya, menggenggam erat dua buah kalung matahari yang berada di lehernya.


'Aku mencintaimu...' suara hangat seseorang terdengar. Jeny menatap kembali ke arah sampingnya, namun tidak ada seorangpun disana, hanya sebuah lorong panjang yang kosong.


Seorang pemuda tidak terlihat olehnya, duduk di lantai, mengamati, mendengar setiap kata-katanya. Sang pemuda hanya tersenyum, masih duduk di sana.


Beban? Apa rasa kasih adalah beban yang mengikatku untuk tetap hidup? Entah, sampai kapan tubuh ini akan tetap bernapas. Menatap senyumanmu lebih menyenangkan daripada tangisanmu. Maaf, tidak dapat menghapus air matamu...


***


Singapura, 3 bulan kemudian...


Tak...tak...tak...


Suara guntingan kuku terdengar, seorang wanita hamil, menggenggam jemari tangan seorang pemuda. Memotongnya kuku yang mulai panjang sedikit demi sedikit.


Matahari menembus jendela rumah sakit, wajah yang masih tertidur itu, tidak terlihat tersenyum atau menangis.


"Kukumu sudah rapi..." ucapnya tersenyum, dengan perut yang membuncit.


Koma? Begitulah kondisi suaminya saat ini. Henti jantung yang terjadi beberapa saat di tengah operasi penyebabnya, suplai oksigen ke dalam otak berkurang menyebabkan gangguan pada syaraf yang mengatur kesadaran.


"Terimakasih tetap hidup..." setiap hari hanya satu kalimat yang sering di ucapkan sang wanita hamil pada suaminya.


"Maaf hari ini terlambat datang, Rafa sedikit rewel, tidak ingin aku tinggalkan untuk menemuimu. Aku punya kejutan untukmu..." Jeny tersenyum, memperlihatkan kartu undangan.


Istri yang tegar dan sabar, itulah dirinya saat ini, menatap tubuh rupawan yang terbaring itu, menantikannya untuk kembali bangkit.


Mungkin dirinya saat ini sama dengan sosok yang dikatakan Ren remaja pada supir pick up, yang dulu mengantar mereka pulang. Jeny akan menjadi istri tersabar dan terbaik baginya.


"Aku juga tidak menyangka, mau aku ceritakan kejadiannya...?" Jeny tertawa kecil, menggenggam erat tangan dingin suaminya yang tidak bergerak sama sekali.


***


Indonesia, 3 bulan yang lalu...


Tik...tok ....tik...tok...


Suara jarum jam bergerak terdengar, jam makan siang telah tiba, tapi pintu di hadapannya masih tertutup. Seorang pemuda melirik ke arah pintu, sesekali kembali mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk.


Cuti? Pertama kalinya Kanaya mengambil cuti hanya untuk pulang ke kampung halamannya.


Perutnya mulai lapar, telpon mulai ditekannya, memesan delivery menjadi pilihannya.


Beberapa puluh menit menunggu, makanannya tiba, bungkus kotak sushi dibukanya. Terlihat berbagai bentuk sushi yang menggoda untuk dimakan.


Kurang? Tetap saja ada yang kurang. Setelah suapan pertama sang pemuda bangkit, berjalan mundar-mandir layaknya orang kebingungan.


"Kanaya? Apa dia sudah sampai?" gumamnya penasaran, lebih tepatnya rindu berlapis gengsi.

__ADS_1


Pekerjaan? Dengan alasan pekerjaan, Daniel mulai menggeledah dokumennya, akhirnya ada satu yang belum diselesaikan dengan benar oleh gadis itu.


Jemari tangannya menghubungi Kanaya dengan cepat menggunakan telfon kantor bagaikan sudah hafal benar, nomor telfon gadis itu.


Beberapa saat, panggilannya diangkat...


"Kamu dimana?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Kereta, kenapa? Apa pak Daniel merindukanku? Ingin pulang kampung bersamaku? Ingin melamarku?" tanyanya antusias.


"Ti... tidak, dokumen yang kamu kerjakan salah ketik..." alasannya, dalam hatinya hanya ingin mendengar suara gadis yang menjalani hubungan tanpa status dengannya.


"Menelfonku hanya karena salah ketik?" Kanaya memastikan, penuh kekecewaan.


"Iya... karena itu, cepatlah kembali," akhirnya Daniel mengucapkan kata-kata yang tertahan.


Suara isakan sedikit terdengar,"Apa pak Daniel sudah menyukaiku?" tanyanya, berusaha untuk tenang.


Daniel ragu untuk menjawab, tidak ingin terlalu cepat menjalani hubungan, tidak ingin memiliki pengalaman pahit lagi, akhirnya mulutnya menampik semuanya,"Kamu sudah seperti adikku, jadi..."


"Adik ya? Setidaknya aku naik kasta dari teman menjadi adik..." tangisnya terdengar semakin menjerit.


Aku menyukainya... tapi... Daniel memiliki banyak pemikiran dalam benaknya.


"Tenang ya? Cepatlah kembali kemudian kita makan siang bersama lagi, buatkan aku rendang yang enak..." ucapnya berusaha menghibur.


"Rendang? Biar aku tendang wajahmu!! Pria br*ngsek!! Pemberi harapan palsu!! Waktuku yang hanya beberapa bulan mencari pacar, habis hanya karenamu!!" bentakan dari Kanaya terdengar, Daniel menjauhkan handphone sejenak dari telinganya.


Kalau dia marah ternyata cukup menyeramkan, tapi terdengar manis... gumamnya menahan tawanya.


"Beberapa hari lagi aku akan mengirim surat resign!! Aku berhenti!!" lanjutnya penuh emosi.


"Be... berhenti ke... kenapa?" Daniel mengenyitkan keningnya.


"Aku akan menikah, tinggal di kampung menjadi ibu rumah tangga!!" Kanaya kembali membentak, merasa perasaan tulusnya hanya dijadikan mainan.


"Menikah, tipemu sangat tinggi, tidak mungkin ada pria kampung yang menyamai ketampanan dan..." kata-kata Daniel hendak menyombongkan dirinya sendiri terpotong.


"Sapi dikampungku lebih bermartabat dan tampan darimu!! Setidaknya sapi betina, tidak akan di beri harapan palsu olehnya!!" bentaknya, mematikan panggilannya.


"Halo...? Halo...? Halo!?" Daniel terdengar panik, beberapa kali mencoba menghubungi nomor itu namun tetap tidak aktif.


"Dia membandingkanku dengan sapi?" Daniel tertegun sejenak.


"Ken...!!" panggilnya pada asistennya yang berada di luar sana.


Seorang pemuda masuk, tertunduk memberi hormat pada Daniel. "Cari biodata dan alamat seorang pegawai bernama Kanaya..." ucapnya, namun sang asisten malah berlari dengan cepat keluar dari ruangan kemudian datang dengan menyerahkan sebuah map.


"Tuan Tirta, pernah meminta saya melakukannya, karena mencurigai hubungan anda dengan pegawai tersebut. Ini biodata dan alamat lengkap, serta beberapa informasi yang saya dulu sempat selidiki..." ucapnya.


"Kemal? Dia siapa?" tanyanya dengan wajah pucat, menemukan biodata seorang pria.


"Emm... sebenarnya Kanaya melarikan diri dari perjodohan di kampungnya, karena mantan kekasihnya yang bernama Coky. Kemal, adalah tunangannya..." jawabnya ragu.


Tunangan? Jadi dia memiliki tunangan? Tangan Daniel mengepal, tidak dapat menahan rasa cemburunya lagi. Mengelak perasaan? Sekarang sudah tidak bisa, fikirannya tidak jernih.


"Siapkan kendaraan paling cepat, aku ingin ke rumah wanita tukang selingkuh ini..." ucapnya merasa dikhianati. Dikhianati? Bukannya hanya hubungan tanpa status? Tapi egonya berkata, berbeda. Kekasih!! Kanaya adalah kekasihnya.


Ken segera berlari dengan cepat, mengetahui kemarahan majikannya.

__ADS_1


"Kamu perhatian padaku, mengatakan menyukaiku? Lalu menikahi pria lain? Jangan bermimpi..." ucapnya melempar map yang berisikan biodata seorang polisi bernama Kemal.


Bersambung


__ADS_2