
Udara dingin masih menusuk, masih terlalu pagi memang. Tatanan yang selalu rapi, Daniel menghela napas kasar mengenakan sweater serta pakaian santai, menahan rasa dingin, tetap tersenyum menunggu di depan rumah, selalu dengan serikat bunga di tangannya.
Tidak ada orang yang membukakan pintu gerbang, setelah berkali-kali mengetuk bahkan memanggil penghuninya. Mungkin itulah yang membuatnya berdiri di depan pagar selama beberapa jam. Matanya beralih sejenak, tubuh lemas tertidur dari seorang gadis melekat menempel pada punggung seorang pemuda.
Berjalan perlahan, hingga sampai ke area depan rumah,"Kalian dari mana?" tanyanya menatap Kanaya yang masih tertidur dalam gendongan Kemal.
"Bukan urusanmu..." Kemal tersenyum menatap tajam.
Jemari tangannya mengepal, namun sejak tertunduk terdiam, berusaha tersenyum. Sesak? Begitulah perasaannya saat ini. Namun, apa yang dapat dilakukannya? Hanya dapat melihat tubuh yang masih tertidur itu memasuki rumah. Hubungan tanpa status? Kenapa dirinya dulu harus membuat batasan? Ini kesalahanku... gumamnya dalam senyumannya.
"Paman, bibi..." panggil Kemal, di area halaman rumah.
Pasangan suami istri itu segera keluar, menyambut kedatangan Kemal dengan putri mereka yang masih tertidur di dalam gendongan punggung sang pemuda.
Tidak diterima? Mungkin begitulah Daniel saat ini, mengetuk pagar berkali-kali, bahkan sempat memanggil. Namun, tidak ada yang keluar untuk membukakan pintu.
Tapi Kemal? Pria ini diterima dengan mudah.
"Kamu keluar dengan Kanaya? Kami fikir kemana Kanaya menghilang pagi-pagi. Ayo masuk, bibi baru buat singkong rebus. Masih hangat..." Sumi tersenyum, menuntun Kemal memasuki ruang tamu, segera menutup pintu. Tanpa mempedulikan pria yang berdiri di depan rumah.
Langkah Daniel terlihat kecewa, sesekali menengok ke belakang. Masih terbayang jelas wajah gadis yang tertidur dengan tenang. Begitu tenang di punggung orang lain.
Wajah tenang pemuda itu melangkah perlahan, sejenak menatap ke atas, angin berhembus, guguran dedaunan kecil beterbangan sepanjang jalan kepergiannya. Hanya meninggalkan seikat bunga yang dipetiknya di kebun depan villa yang disewanya.
Perlahan handphone diraihnya, menghubungi seseorang,"Ibu..." ucapnya.
"Iya, kenapa?" terdengar suara acuh Gina dari seberang sana, bagaikan tengah sibuk mengerjakan sesuatu.
Tangan sang pemuda terulur meraih guguran daun kecil yang berjatuhan,"Ibu, aku menyukai seseorang, bisa ibu membantuku. Aku ingin memintanya menjadi pendampingku, tolong temui keluarganya. Sebentar saja..." pintanya.
"Sebulan lagi ibu akan pulang, ayahmu masih sibuk. Saat ini ibu masih di Kanada, membantu pamanmu. Mintalah keluarganya bersabar ya..." ucapnya mematikan panggilan sepihak, tidak mendengarkan kata-kata putranya.
Jemari tangan Daniel menggenggam erat daun kecil yang gugur, menyimpan kembali handphone di sakunya.
"Lendra, apa aku harus mengalah lagi?" tanyanya menatap ke arah celah-celah cahaya matahari tipis yang mulai menembus pepohonan.
Wajahnya tertunduk, melamar? Apa hanya dengan itu dapat menunjukkan kesungguhan? Hanya dengan perasaan ini, apakah tidak cukup?
Setetes air matanya mengalir, dari wajahnya yang tertunduk berjalan menelusuri jalan perkampungan yang sepi. Merindukan wajah wanita yang dikasihinya, walaupun hari ini hanya melihatnya tertidur tenang di punggung pria lain.
Apa yang mereka lakukan bersama? Apa mereka tidur bersama? Melakukan hubungan suami-istri? Sesuatu yang saat ini tidak aku pedulikan. Aku hanya ingin berjalan bersama dengannya, dimasa depan. Agar aku tidak perlu merasa sesak karena merindukannya, menatap wajahnya yang tenang setiap pagi...
Bunga liar, yang diikatkannya menggunakan ilalang tergeletak di depan pagar rumah. Bunga kecil berwarna kuning yang indah.
......Rasa cintaku yang bertahan padamu bagaikan bunga liar tidak berguna. Berapa kalipun aku membasminya akan tetap tumbuh....
......Tidak pernah aku rawat? Begitulah bunga liar. Namun, bunga itu tetap tegar, menanti hujan yang membuatnya mekar perlahan, hingga menjadi bunga yang indah......
__ADS_1
......Sama dengan rasa kasihku, entah kenapa dapat tumbuh tidak terkendali bagaikan bunga liar yang terlihat indah......
Author...
***
Beberapa belas menit berlalu, cuaca di luar rumah masih mendung. Seorang gadis mulai duduk di tempat tidurnya. Melangkah perlahan menuju ruang tamu. Namun, pembicaraan aneh di dengarnya, di tengah kegiatan ayahnya yang hendak meladang.
"Pak, apa tidak terlalu cepat mengambil keputusan?" Sumi, menghebuskan napas kasar, menatap suaminya.
"Tidak, orang kota pandai merayu dan memberikan janji palsu. Kamu tidak ingat nasib Kinara? Kamu mau Kanaya mengalami hal yang sama?" tanyanya meraih cangkul.
"Tapi kelihatannya dia anak baik. Dia menunggu di depan rumah dari jam 4 pagi. Kenapa tidak bicara baik-baik dulu?" tanyanya.
"Tidak perlu, melamar untuk menikah saja masih fikir-fikir. Kanaya cuma akan dijadikan mainan penghangat tempat tidurnya saja..." ucapnya berlalu pergi meninggalkan rumah.
Gadis itu terdiam, Dia menunggu dari pagi? Menurunkan egonya serendah itu? Kenapa? Apa pak Daniel bersungguh-sungguh... banyak pertanyaan berkutat di fikirannya. Kembali ke kamarnya yang tidak begitu luas.
Merindukan? Benar, Kanaya merindukan makhluk kaku itu. Makhluk yang tidak mudah membuka pintu hatinya. Berbaring terdiam, tidak mengerti dengan perasaannya yang sudah dipermainkan.
Hal yang akan dilakukannya? Gadis itu berlari meraih handuk, membersihkan dirinya sekedarnya. Bahagia? Mungkin itulah perasaannya, memilih pakaian dengan cepat untuk dikenakan.
Pakaian santai, celana jeans dengan setelah kaos. Berlari meninggalkan rumah tanpa sarapan.
"Kanaya, kamu mau kemana?" tanya sang ibu, mengamati putrinya memakai sepasang sepatu.
"Aku pergi sebentar..." hanya itu jawabannya, berjalan cepat penuh senyuman.
***
Hujan mulai deras, Daniel menggosok-gosokan tangannya berteduh di tengah derasnya air hujan yang mengguyur. Di sebuah kubu terlantar? Disanalah dirinya berteduh, terjebak di tengah derasnya hujan.
Kubu yang berjarak beberapa puluh meter dari villa tempatnya menginap. Dekat memang, namun lebih menyenangkan baginya dapat mencium bau tanah, menikmati dedaunan yang terlihat bahagia merasakan air hujan.
"Aku masih merindukannya..." gumamnya, berusaha tersenyum, menadahkan air hujan dengan jemarinya, yang sudah mendingin.
Sejenak perhatiannya teralih, seorang gadis berlari menuju arah sebuah villa, penginapan satu-satunya di desa itu. Bagaikan tidak mempedulikan pakaiannya yang basah, hanya menggunakan daun talas sebagai payung.
"Kanaya?" ucapnya.
Sang gadis menoleh, menatap pemuda yang memanggil namanya. Berjalan cepat, menuju kubu kecil yang terlantar.
"Pak Daniel..." hanya itu yang terucap dari bibirnya.
"Aku mencintaimu, aku bersungguh-sungguh..." Daniel, menarik Kanaya dalam pelukannya.
Gadis itu hanya terdiam, merasakan hangatnya pelukan atasan yang dulu ditatapnya penuh hormat.
__ADS_1
"Apa kamu menyukainya?" tanyanya melepaskan pelukannya, menatap mata gadis yang terlihat basah kuyup. Ingatan Kemal menggendong Kanaya pulang masih terngiang. Mungkin gadis ini sudah jenuh dengannya, itulah yang kini ada dalam hatinya.
"Kemal dia..." kata-kata Kanaya di sela.
"Anggap saja aku egois, apapun yang kalian lakukan tadi malam aku tidak peduli. Apa kamu masih mencintaiku?" tanyanya putus asa, wajahnya tetap tersenyum, namun matanya memerah, bagaikan ada air mata yang tertahan disana.
"Apa pak Daniel tidak akan mempermainkanku?" tanyanya.
"Bodoh..." pemuda itu, menarik tengkuk Kanaya. Sepasang bibir yang kedinginan mulai bergesek. Bagaikan saling menutut kehangatan, kedua mulut yang terbuka bertaut bagaikan menyatu.
"Jangan meninggalkanku lagi..." napas Daniel terengah-engah tidak beraturan. Menatap mata itu dalam-dalam, kembali menyalurkan rasa rindunya, menghangatkan hatinya walau hanya dengan decapan bibir yang bertaut.
***
Kanaya terdiam, air hujan mengguyur pepohonan dari balkon kamar sebuah villa terlihat. Dinginnya air hujan masih terasa, tubuhnya kini hanya berbalut jubah mandi.
Tangan seorang pemuda terulur, memeluknya dari belakang. "Aku mencintaimu..." bisiknya, yang juga hanya mengenakan jubah mandi.
"Pak Daniel tidak berniat macam-macam padaku kan?" Kanaya menghela napas kasar, menatap sebotol wine, dan paket makan romantis yang di pesan Daniel. Anehnya lagi, diatas tempat tidur terlihat kelopak bunga mawar merah membentuk tanda hati.
"Tidak..." jawabnya yakin.
"Wine? Makanan?" tanya Kanaya kembali.
"Wine untuk menghangatkan diri cuaca terlalu dingin. Makanan, siapa tau saja Kanaya yang bodoh lapar..." Daniel menghebuskan napas kasar.
"Tempat tidur?" Kanaya mengenyitkan keningnya curiga.
Daniel mulai melepaskan pelukannya,"Jika ingin mendapatkan kamar terbaik, sudah tersetting otomatis. Harus paket honeymoon,"
"Pakaianku mana? Saat aku tinggalkan membersihkan diri masih ada di ruang ganti. Anda pasti berniat mesum kan!?" tuduhnya.
"Masih basah, asistenku sedang membelikanmu yang baru..." Daniel tiba-tiba mendekat, menatap tajam."Apa kamu mengira aku akan berbuat sesuatu padamu?" tanyanya curiga, tersenyum menyeringai.
"Siapa tau saja..." Kanaya bersungut-sungut, membalikkan tubuhnya. Kembali menatap balkon.
"Imajinasimu sangat liar..." Daniel menghembuskan napas kasar. Menatap wajah Kanaya yang bagaikan terus menganti hujan, bagaikan ingin segera reda, seakan tidak sabar untuk meninggalkannya.
Kalian menghabiskan malam bersama, mungkin juga melakukannya. Tapi, entah kenapa hanya karena berada satu ruangan denganku membuatmu ketakutan. Apakah aku tidak memiliki harapan lagi... gumamnya terus menerus menatap punggung gadis itu.
Jantung Kanaya berdebar kencang, melirik ke belakang terlalu menakutkan baginya. Pria yang disukainya, dengan berbagai atribut bulan madu? Bahkan dirinya hanya memakai jubah mandi yang akan lepas hanya dengan satu tarikan?
Matilah aku, jika aku berbalik, kemudian dia tiba-tiba menciumku. Melakukan apa saja, mungkin aku akan terbawa suasana. Dasar Duda!! Jangan mempraktekkan pengalaman dan jurusmu pada gadis polos sepertiku...
"Kanaya?" Daniel berusaha kembali memulai pembicaraan.
Gadis itu tidak menyahut bagaikan hanya menunggu hujan segera berhenti. Yang memanggilku adalah setan... gumamnya dalam hati. Jemari tangannya gemetaran, masih menatap ke arah balkon.
__ADS_1
Apa kamu tidak dapat membuka hati untukku lagi? Apa ciuman tadi hanya untuk menghiburku? Tapi entah kenapa, aku ingin menunggumu, hingga hati ini benar-benar menyerah... Daniel ikut terdiam menatap guyuran air hujan.
Bersambung