Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Keegoisan Seorang Anak


__ADS_3

"Tidak disangka mereka akan menikah? Nona tidak cemburu?" Farel mengenyitkan keningnya, menatap sinis.


Jeny menangkupkan tangannya pada pipi Farel, mencium bibir suaminya, kemudian tersenyum."Aku hanya dapat mencintaimu..." ucapnya.


"Aku masih harus," Farel, tersenyum kembali mendekatkan bibirnya, mengecup bibir istrinya singkat, namun berkali-kali."Bibirmu selalu manis,"


"Ren, tentang pamanmu," kata-kata Jeny terhenti.


Farel menghela napas kasar, beralih menatap ke arah jendela."Api dibalas dengan api hanya akan menghasilkan abu. Jika aku dulu hanya fokus untuk menyembuhkan matamu, bukan untuk balas dendam, mungkin nyawa nona dan putraku tidak akan terancam. Karena itu memaafkan mungkin lebih baik, membalas api dengan air. Hingga api yang terlanjur berkobar dapat padam..." ucapnya tersenyum.


***


China...


Seorang pria mengenakan jas dan kacamata, membuka koper yang dibawanya di hadapan sipir. Kemudian menutup kopernya kembali, setelah diijinkan masuk.


Melangkah perlahan, hingga sampai di tempatnya menunggu tahanan. Seperti biasa, amplop coklat disiapkannya untuk sipir yang berjaga, menginginkan masuk ke dalam penjara walau hanya beberapa jam saja.


***


Tak...


Gabriel tersenyum, merasa hampir menang dalam langkahnya memainkan catur Cina (Weiqi).


"Kita ulang saja!!" Lery mengenyitkan keningnya, terlihat jengkel.


"Dasar curang, di ulang juga hasilnya akan sama..." Gabriel menahan tawanya, dalam senyuman. Mulai menyusun ulang bidaknya.


Lery tertunduk, masih ikut menyusun ulang bidak,"Anakmu sudah sadar?" tanyanya.


"Sudah satu minggu yang lalu..." Gabriel menghela napas kasar.


"Aku tidak akan minta maaf," ucap Lery, tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan permainan.


"Aku tau, dia menipumu, memasukkanmu ke dalam penjara, setelah mendapatkan kepercayaanmu..." Gabriel tersenyum simpul,"Yang terpenting dia selamat dan masih hidup,"


Lery ikut tersenyum, menatap ke arah adiknya,"Tapi tolong sampaikan rasa terimakasihku padanya. Rasanya lebih nyaman, tinggal disini, aku dapat tidur dengan lebih baik,"


Tak...


Gabriel mengambil langkah pertama,"Lebih nyaman?"


Tak...


Lery ikut mengambil langkah,"Benar, lebih nyaman. Aku dapat bermain catur denganmu, tanpa rasa takut, curiga atau dendam. Clarissa juga lebih sering kemari,"


"Benarkah? Lalu apa kamu sudah menyetujui pernikahannya?" tanya Gabriel antusias, sembari menggerakkan satu poinnya.


Lery menyilangkan lengan di dadanya, mulai berpikir untuk langkah selanjutnya,"Itulah, setuju atau tidak setuju mereka tetap sudah menikah. Selain itu aku juga ingin memiliki cucu sepertimu..."


***


"Emmmnnngghhh..." terdengar suara wanita, melenguh.


Cahaya memasuki celah-celah tirai sebuah kamar. Seorang pemuda rupawan tidak mengenakan busananya, hanya berbalut selimut tebal, tersenyum, menatap wanita yang tengah hamil dengan perut membuncit di hadapannya. Wanita yang juga tertidur tanpa busana sama dengannya.


"Sayang..." ucap Zion tersenyum, membelai rambut Clarissa.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" Clarissa tersenyum, menatap pemuda rupawan di hadapannya."Aku tidak ingin bangun, terlalu malas..." lanjutnya, memeluk tubuh polos pemuda itu di balik selimut.


"Memelukmu begini seperti mimpi bagiku, tapi kita harus tetap bangun..." ucap Zion tersenyum simpul.


Pasangan panas? Mungkin itulah mereka, mandi bersama selama 45 menit. Yang dilakukan selain mandi? Entahlah...


Pakaian Clarissa disiapkan Zion, pemuda itu sudah lengkap memakai seragam office boynya. Menatap istrinya yang masih berbalut jubah mandi, merias dirinya di hadapan cermin.


Harum aroma kopi tercium, bersamaan dengan matangnya roti. Perlahan dua buah telur setengah matang diletakkannya di atas dua buah roti.


Suara juicer terdengar nyaring. Zion mulai menuangkan juice buatannya ke dalam dua buah gelas.


"Selesai..." ucap Zion merenggangkan otot-ototnya.


Sarapan penuh senyuman, hanya berdua, mengisi waktu mereka. Foto pernikahan terpajang di atas meja, dua mempelai yang nampak saling mencintai.


"Jam berapa jadwal kuliahnya?" tanya Clarissa mengenyitkan keningnya.


"Aku mengambil jadwal kuliah sore. Tapi aku tidak akan pulang larut," jawabnya, tersenyum menatap istrinya yang tengah hamil, jemarinya mengelus pelan perut buncit istrinya.


Clarissa menghela napas kasar, "Kuliah, bekerja, mengurusku. Apa kamu tidak lelah?" tanyanya, menatap iba.


"Tidak, bahkan tadi malam aku bisa memuaskanmu kan?" bisiknya di leher Clarissa.


Wajah wanita itu memerah, mengingat malam panas mereka, walaupun hal yang sering terjadi.


"Jangan bicara begitu!!" bentak Clarissa, berusaha tenang.


"Jangan bicara, lebih baik dilakukan," Zion tertawa kecil, merasa berhasil menggoda istrinya. Kembali memakan sarapannya.


***


"Aku mual, nanti saja ya?" Clarissa menutup mulutnya.


"Anak kita harus berkembang dengan baik dan cerdas..." ucapnya meletakkan nampan, meraih susu ibu hamil yang dibawanya. Memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.


Tubuh Clarissa dipeluknya, bibir wanita itu mulai dijamahnya memasukkan susu rasa vanilla itu perlahan. "Jika begini tidak mual kan?" tanya Zion tersenyum.


Clarissa hanya membalas senyumannya, mengalungkan tangannya pada leher pemuda di hadapannya. Zion meraih susu yang ada diatas meja lagi, memasukan beberapa teguk ke dalam bibirnya, kembali meraih bibir wanita di hadapannya.


Tubuh wanita hamil itu mundur beberapa langkah, didudukan Zion di atas meja, tanpa melepaskan tautan mereka. Bersamaan dengan jatuhnya beberapa benda diatas meja.


Rok Clarissa sedikit tersingkap, masih menikmati ciumannya, seolah melupakan tempat. Jemari tangannya merayap hendak melepaskan ikat pinggang suaminya, tidak ingin menahan gairah mereka.


"Buk, berkas yang tadi ada kesalahan..." seorang pegawai menerobos masuk,"Maaf..." ucapnya keluar dengan wajah memerah.


"Kamu tidak mengunci pintunya!?" Clarissa melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku hanya bermaksud membawakan susu, jadi aku fikir tidak perlu mengunci pintu..." Zion menipiskan bibir menahan tawanya, menatap wajah istrinya yang kesal.


"Aku akan ganti rugi, full service malam ini..." bisik Zion.


***


Di tempat lain, tempatnya panti asuhan tempat Hans menghabiskan hari-harinya...


Panti asuhan yang dibuka Taka dengan nama Hyeri.

__ADS_1


Pemuda itu, mulai menyerut kayu, kemudian mengecat, memperbaiki sebuah mainan kuda-kudaan yang terbuat dari kayu.


Sepasang mata tua renta mengamatinya. "Warnanya jelek..." ucapnya jujur.


"Pink, putrimu suka warna pink. Anak perempuan disini akan menyukainya..." sinis Hans.


Hans? Pria itu terbebas dari jerat hukum karena Taka. Tidak membunuh lagi, seperti keinginan Hyeri dulu. Menghabiskan masa-masanya, dengan meminum obat-obatan menekan gangguan kepribadiannya.


Hanya tersenyum tulus seperti saat Hyeri ada, mengganggap anak-anak yang berlarian adalah anak Hyeri yang belum sempat terlahir.


"Kamu tau apa!! Hyeri menyukai warna biru muda," bentak Taka.


Hans menatap sinis, kembali mengecat dengan warna pink. Mengetahui pria tua di hadapannya hanya mencari-cari alasan, agar tidak kalah dalam berdebat.


"Hans, kamu belum sembuh, tapi setidaknya gangguan kepribadianmu sudah ditekan. Apa kamu tidak memiliki niatan untuk menikah? Melupakan Hyeri?" tanya Taka, menghela napas kasar.


Hans tersenyum, menggeleng-gelengkan kepalanya,"Anda tau kenapa seorang psikopat tidak pernah kukuh menjali hubungan dengan satu wanita?"


Taka menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak mengetahui.


"Karena kami tidak mampu mencintai, tidak dapat jujur, membuat wanita terpesona dengan tipuan, memiliki rasa jenuh pada pasangan, kemudian menyalahkan mereka atas segalanya,"


"Tapi hanya Hyeri yang dapat membuatku mampu mencintai, walau hatiku hanya tertuju padanya," ucapnya, tersenyum menatap ke arah halaman tempat anak-anak bermain.


***


Singapura...


Farel, mengelus perut istrinya sembari tersenyum,"Dimana Tomy?" tanyanya mengetahui ketidak hadiran pemuda itu.


Jeny tersenyum, membisikkan sesuatu di telinga Farel.


"Benarkah?" Farel tertawa kencang, sejenak kemudian menetralkan dirinya, berusaha menghentikan tawanya. Menahan rasa sakit mengingat masih banyaknya luka yang belum benar-benar sembuh.


"Aku mencemaskan Rafa," Jeny menghela napas kasar.


"Kenapa?" Farel mengenyitkan keningnya.


"Dia terlalu pintar, dan egois untuk anak seusia satu tahun. Mungkin suatu hari nanti dia akan berbuat kenakalan yang fatal..." jawabnya murung.


***


Kesalahan fatal? Batin seorang ibu mungkin tidak pernah salah.


Enam tahun kemudian...


Tepatnya saat usia Rafa tujuh tahun, adik laki-lakinya kini berusia sekitar enam tahun tinggal dengan Taka di Jepang. Sementara dirinya tinggal di Indonesia bersama ibunya...


Salah seorang pelayan di rumah Jeny, rumah besar yang baru rampung empat tahun yang lalu, melahirkan di sebuah rumah sakit.


Rafa kecil yang menengok sang bayi menghela napas kecewa, mengamati anak dari pelayannya di ruang khusus bayi, bayi perempuan mungil yang tidak sesuai seleranya.


Tak...tak...


Terdengar suara kecil dari arah sampingnya, seorang bayi perempuan mungil lainnya masih berkulit merah tanda baru dilahirkan yang lebih cantik dari anak pelayannya, tersenyum melihatnya.


Senyuman menyungging di wajah Rafa, "Calon pelayanku harus cantik. Kita akan bersama-sama selamanya, kamu harus menghapal semua yang aku sukai, dan tidak aku sukai..." gumamnya sembari menukar papan nama bayi pelayannya dengan bayi lain yang disukainya.

__ADS_1


Sengaja? Benar anak jenius itu, dengan sadar dan penuh kesengajaan melakukannya.


Tamat


__ADS_2