Asisten Nona Muda

Asisten Nona Muda
Foto Kenangan


__ADS_3

Penuh tawa itulah yang terlihat, pemuda itu tersenyum dengan semua gurauan Lery. Calon menantu yang diinginkan, namun sulit diraih, itulah tujuan Farel.


"Bagaimana? Apa berhasil?" Lery mengenyitkan keningnya.


"Sudah, semua data sudah kembali. Tapi data yang dicuri sempat dicopy atau tidak. Aku sulit memastikannya..." ucapnya masih konsentrasi mengutak-atik perangkat keras di ruangan tersebut.


Farel menghela napas kasar, kemudian tersenyum,"Clarissa menangani perusahaan anda dengan baik, aku jadi iri..."


"Dia hanya gadis kecil yang polos. Aku sedang mencarikan calon suami untuknya, agar ada yang menjaganya..." Lery tersenyum, sedikit melirik ke arah Farel.


"Gadis sempurna sepertinya, tentunya harus mendapatkan pria sempurna kan?" Farel membalas, senyuman Lery memendam amarahnya dalam hati.


"Sistem pengamanan baru sudah aku pasang, bawahan anda harus mengembangkannya. Aku harap hal seperti ini tidak terjadi lagi..."lanjutnya menghela napas kasar.


"Farel...?" Clarissa yang baru datang dari luar berjalan memasuki ruangan. Senyuman menyungging di wajahnya mencoba mendekati pemuda itu untuk sekedar mencium pipi kanan dan kiri. Namun, tidak diduga Farel menghindar.


"Maaf, kakekku sangat menjunjung budaya timur. Jadi aku tidak terbiasa..." ucapnya terlihat kikuk.


"Don't worry..." Clarissa berusaha untuk tersenyum.


Menjunjung budaya timur? Adalah kenyataan, jika Taka tipikal pria seperti itu. Namun, seorang Farel? Jangan pernah lupa pada anak berusia 14 tahun yang ketagihan mencium bibir nonanya. Mungkin hanya pada Jeny, budaya timurnya tidak pernah berlaku.


Farel tetap berusaha tersenyum, menatap wajah wanita yang hampir membunuh nonanya, hingga taktik mengejar wanita tanpa hatipun dimulainya. Pemuda itu menghela napas kasar,"Maaf saat di club'malam aku harus kembali ke lantai dua..." ucapnya berdiri dari tempat duduknya, merapikan anak rambut Clarissa.


"Tidak apa-apa..." wanita itu menghembuskan napas kasar, berusaha tersenyum.


"Kamu terlihat seperti gadis baik-baik. Apa menemani temanmu?" tanyanya ambigu.


"Me... menemani teman?" Clarissa mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Benar, gadis baik sepertimu, pasti dipaksa ke club'malam kan? Tidak mungkin sukarela..." tanya Farel meninggikan sosok Clarissa, dengan sengaja membuat wanita itu, mengakui kebohongan yang rekayasanya hanya untuk menjaga image.


"I...iya teman-temanku yang memaksaku kesana..." dustanya.


"Benar-benar calon ibu yang baik, orang yang akan menikahimu pasti sangat beruntung. Jagalah malam pertamamu (keperawanan) untuknya..." ucapnya mengacak-acak rambut Clarissa.


Clarissa mengeluarkan keringat dingin, sedikit gugup. Keperawanan? Apa itu penting? Gaya hidup yang cukup bebas di negeri lain membuatnya lupa diri. Apalagi pernah tinggal bersama neneknya di USA. Pendidikan yang mapan, namun kebudayaan yang benar-benar berbeda. **** bebas bukanlah hal yang tabu baginya.


Kakeknya berdarah asli Cina, sedangkan neneknya (ibu dari Lery) dan ibu kandung Clarissa berasal dari California. Hanya almarhum nenek sambungnya (ibu dari Gabriel) yang berasal dari Indonesia. Tidak pernah belajar budaya timur? Tentunya, karena saat kelahirannya sang kakek yang berdarah asli Cina sudah meninggal.


"I... iya..." Clarissa, berusaha tersenyum, menjaga imagenya.


"Tuan..." Tomy menunduk memberi hormat,"Sudah waktunya,"


"Tunggu sebentar..." ucapnya pada Tomy.


"Aku hanya memiliki ayah angkat saja, boleh aku panggil tuan, papa agar terdengar lebih akrab?," tanya Farel menghela napas kasar, sedikit melirik ke arah Clarissa. Berusaha terlihat ingin mendekatkan diri pada Lery karena putri dari pria itu.


"Kalian berteman, apalagi kamu pernah membela Clarissa. Kamu boleh memanggilku papa..." Lery menghela napasnya, berdiri sambil menenggak Gin (sejenis minuman keras) yang hanya mengisi 1/8 gelas. Kemudian menuangkannya lagi.


"Ini hadiah untuk Clarissa, gadis terbaik yang pernah aku temui," ucapnya memberikan kotak berisikan kalung bertahtakan berlian, kemudian memakaikannya,"Jagalah dirimu baik-baik, karena aku tidak akan senang melihatmu terluka..." ucapnya, penuh senyuman.


"Terimakasih..." wajah Clarissa merah merona, menatap wajah rupawan orang yang memakaikannya kalung, dari jarak dekat.


"Ini untuk wanita terbaik, jangan sungkan..." Farel tersenyum simpul.


"Tuan...?" Tomy mengingatkan.


"Papa, Clarissa...Aku masih ada urusan, maaf tidak bisa lama-lama..." ucapnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, titipkan salamku untuk kakekmu..." Lery mulai meletakkan gelas minumannya ke atas meja.


"Iya...aku pamit..." Farel menyunggingkan senyumannya, terlihat kecewa. Melirik ke arah Clarissa. Meninggalkan kesan, bagaikan dirinya terpaksa harus pergi.


Kedua pemuda itu mulai melangkah sepanjang lorong. Barulah Clarissa mulai bergelayut manja pada ayahnya.


"Aku menginginkannya..." rengekannya


"Kita harus waspada pada setiap orang..." Lery mencabut paksa kalung yang melingkar di leher putrinya kemudian menginjaknya.


Kalung itu putus, hanya berlian berkualitas tingginya saja yang tidak rusak."Kenapa ayah merusaknya!!" Clarissa membentak kesal.


"Memastikan tidak ada alat penyadap, atau GPS. Ternyata memang benar orang itu menyukaimu, bahkan memberikan kalung dengan permata berkualitas tinggi..." Lery meraih gelas minumannya, menghela napas kasar. Tidak menemukan kejanggalan pada kalung putrinya.


"Sekarang ayah yakin akan pesonaku kan?" tanyanya menyombong.


"Iya... anak ayah memang cantik," Pria paruh baya itu tersenyum, merangkul pundak putrinya."Sebagai hadiah balasan, ayah akan mengirimkan jam antik yang kita beli di pelelangan padanya..."


"Aku setuju..." Clarissa menyunggingkan senyumannya.


Harga jam sebesar lemari pakaian itu mungkin dua kali lipat dari kalung yang diberikan Farel. Namun, untuk memuluskan langkahnya menjadi cucu menantu Taka. Sekaligus istri pemilik JH Corporation, kenapa tidak.


***


Di dalam mobil yang melaju...


"Apa yang kamu dapatkan ketika tadi permisi ke toilet?" Farel menghebuskan napas kasar.


"Tissue dan celana yang sedikit basah..." Tomy menjawab datar.


Plak...


"Aku hanya bercanda!!" ucapnya mengusap-usap lengannya yang kebas."Di sana, ada bebauan aneh dari saluran udara, semacam bau zat kimia. Tempat asal bebauan dijaga lumayan ketat,"


"Bebauan aneh?" tanyanya.


"Ada sedikit bau seperti zat yang menghilangkan pewarna kuku, ada juga bebauan mirip obat bius dan beberapa bebauan lainnya," jawab Tomy tidak yakin.


"Kemungkinan tempat pembuatan narkotika..." Farel menghebuskan napas kasar, duduk menyender mulai berpikir.


"Apa yang anda dapatkan selain merayu wanita?" Tomy tertawa kecil menyindir, merasa berbuat lebih banyak dibandingkan Farel.


"Aku bilang aku adalah ulat rakus," Farel tersenyum, menunjukkan flash disk kecil yang dibunyikan di balik kantong kecil bagian dalam tangan jasnya.


"Semua data sudah tercopy. Bahkan rincian dana pengeluaran dan pemasukan mereka. Dalam komputer mereka juga sudah aku masukkan virus, berkedok pengamanan. Setiap data akan tercopy dan terkirim otomatis dalam komputer kita. Tanpa disadari ahli IT mereka..." ucapnya, memasukkan kembali dalam kantung jasnya.


"Memang licik, mungkin orang tua anda adalah siluman rubah. Sehingga putranya licik begini..." Tomy menggeleng gelengkan kepalanya heran.


"Omong-ngomong kenapa anda membimbingnya untuk berbohong soal keperawanan? Dia sudah mulai berkencan dengan beberapa pria dari usia SMU, hingga sekarang bahkan saat ini masih memiliki kekasih lain..." lanjutnya penasaran.


"Mudah, jaga diri agar dia tidak meminta aku tiduri. Dia sudah berbohong mengatakan dirinya perawan, jadi selama belum menikah denganku sedekat apapun, dia tidak akan meminta berhubungan badan..." jawab Farel penuh senyuman."Aku hanya bernafsu untuk meniduri nonaku. Aku merindukannya..."


Sejenak kemudian Tomy terdiam mulai berpikir,"Tuan, anda rugi besar kali ini, nilai kalung itu sekitar lima juta dolar. Tapi memang sepadan dengan data curian anda,"


Farel tertawa memegangi perutnya,"Siapa bilang aku rela mengeluarkan uang untuk mereka? Lery mulai mempercayaiku, berarti tidak akan melepaskanku. Clarissa? Melihat wajah bodohnya yang tersenyum, aku ingin merusaknya,"


"Karena mereka menginginkanku, hadiah balasan akan dikirim. Menurut ego dari dua orang itu, nilainya akan melebihi harga kalung..." ucapnya, mulai membuka laptopnya, hendak mengerjakan pekerjaannya kembali.


"Dasar si pelit licik..." cibir Tomy dengan suara kecil.

__ADS_1


"Bukan pelit, ini namanya menjadi ulat parasit yang rakus. Aku akan melebarkan sayap JH Corporation ke lebih banyak negara lagi, agar kelak tidak ada yang berani mengusik istri dan putraku..." ucapnya, masih konsentrasi dengan laptopnya.


"Ulat adalah binatang pengurai yang terdapat di dasar rantai makanan. Tapi kenapa aku merasa kita seperti berada di puncak rantai makanan...?" tanya Tomy heran, dengan keberanian mereka memasuki sarang penyamun.


"Semua tumbuhan dan hewan akan membusuk, kitalah yang akan menikmati daging mereka. Karena itulah jangan meremehkan seekor ulat..." jawabnya.


Iblis rendahan akan menatap tajam bagaikan singa yang siap menerkam. Tapi iblis tingkat atas akan tersenyum mulai berteman dengan manusia yang ingin dijadikannya budak, memakannya perlahan dari dalam... itulah bos pelit yang aku kenal...


***


Bunyi deru mesin AC terdengar, pria penghibur yang dipesannya sudah lama pergi. Tidak satu suarapun yang terdengar saat ini.


Ting...


Gelas anggur tidak sengaja membentur botolnya. Minuman merah itu mengalir ke dalam gelas. Sedikit disesapnya, masuk ke dalam mulutnya perlahan.


"Apa kamu bahagia?" tanyanya pada seseorang berseragam polisi yang duduk di kursi sampingnya.


Orang itu tidak menjawab, hanya menatap ke arah jendela kaca sembari tersenyum.


"Aku lebih bahagia darimu. Lihatlah posisinya sekarang, kamu hanya orang mati..." racau wanita yang hanya mengenakan jubah mandinya itu. Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya.


Sang pria tidak menjawab, masih tersenyum menatap ke arah jendela.


"Pria tampan tadi ribuan kali lebih hebat di tempat tidur darimu," wanita itu tertawa kecil mengejek, meminum minumannya sekali teguk.


"Apa bagusnya seragam sialan itu!! Seragammu bahkan tidak dapat menghasilkan uang!! Lap pel bahkan lebih berguna!!" ucapnya berteriak, kursi yang didudukinya terjatuh, bersamaan dengan dirinya yang terduduk di lantai menitikkan air matanya.


"Doni bodoh!!" racaunya menangis dalam keadaan mabuk. Pria berseragam itu tetap duduk sembari tersenyum, entah apa yang ditatapnya di luar sana.


Seragam? Mungkin karena seragamnya atau mengetahui putrinya sudah dijaga dengan baik.


"Pada akhirnya hanya kamu yang menungguku... Aku sendirian sekarang!! Aaaggghhhh..." ucapnya melempar gelas wine ke arah jendela. Jendela besar yang menghadap langsung ke balkon kamar itu pecah.


"Dengan uang aku cukup bahagia... Aku cukup bahagia tanpa rasa cintamu yang bodoh..." botol wine menggelinding, tumpah di hadapannya. Dalam cairan merah itu terlihat bayangan wajah Dea.


Wajah yang berantakan, tidak terlihat tersenyum, rambutnya acak-acakan. Raut wajah yang sendu terlihat kesepian."A... apa aku tidak bahagia!?" tanyanya pada sosok pria berseragam yang duduk di kursi.


Namun, dari awal kursi itu kosong, dirinya hanya duduk seorang diri di kamarnya yang megah. Doni? Pria itu memang mengingkari kata-katanya untuk menunggu Dea. Mati dalam menjalankan tugasnya, belasan tahun yang lalu.


Satu satunya pria bodoh yang mencintainya dengan tulus dan menunggunya mengakui dirinya sebagai keluarga, hingga akhirnya waktunya untuk menunggu telah habis beberapa belas tahun yang lalu.


"Doni bodoh!!" teriaknya, menangisi rasa kesepiannya, didalam istana megahnya.


***


Dea menghebuskan napas kasar, hendak menemui putranya dalam perayaan ulang tahun sekolah anak itu. Untuk pertama kalinya, Dea menginjakan kakinya di sekolah putranya sendiri.


Suara merdu terdengar dari nyanyian paduan suara beberapa orang siswa di atas panggung. Terlihat Dimas diatas sana tersenyum penuh kebahagiaan. Hingga hal yang memalukan dilihatnya. Jony berlari dengan cepat membawa kamera, bagaikan fotografer profesional mengambil gambar putra kesayangannya, berjongkok, menggelinding tidak tahu malu untuk mendapatkan view terbaik baginya.


Dan benar saja saat turun dari panggung,"Denda perfoto yang diambil 100.000, ayah berjanji tidak akan mempermalukanku kan? Aku malu!!" Dimas menatap kesal.


"Baik, tapi nanti malam kita makan...apa namanya yang ada daging gilingnya itu...?" Jony mengenyitkan keningnya, menggendong ransel putranya.


"Hot dog!! Ayah seorang pengusaha besar, tapi yang begitu saja tidak tau..." Dimas merajuk.


"Dari dulu hingga sekarang, ayah hanya orang kampung yang menganggap tahu dan tempe sebagai ayam goreng..." ucapnya mengacak-acak, rambut Dimas gemas, hendak berjalan keluar dari aula, hingga seorang wanita menghentikan langkah mereka.


"Aku adalah fans Dimas sang penyanyi terkenal, bolehkah aku mengambil foto dengan kalian?" tanya Dea penuh senyuman.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2