
Kanaya mengenyitkan keningnya, tidak mengerti, "Kamu siapa?" tanyanya.
"Jangan berpura-pura tidak mengenalku, aku minta maaf sudah membohongimu. Aku berjanji akan melamarmu setelah mengurus perpisahan dengan istriku," Yogie menatapnya penuh harap.
"A...aku tidak kenal!!" ucap Kanaya gelagapan, melirik ekspresi Daniel yang semakin kesal saja.
"Coky, Farel, Kemal, Fahri ditambah satu lagi," Daniel menatap sinis, menghela napas kasar enggan berdebat di depan kantor. Berjalan berlalu meninggalkan Kanaya mengatasi urusannya sendiri.
"Lepas!!" ucap Kanaya, menepis tangan Yogie, berlari menyusul Daniel."Sayang!! Maksudku pak Daniel!!" panggilnya.
Yogie terdiam menatap kepergian Kanaya, "Beginikah rasanya dicampakkan?" gumamnya tertegun, dengan jemari tangan mengepal, matanya memerah, menahan perasaan sesak dihatinya.
Salah paham? Mungkin itulah yang terjadi, Yogie memberikan foto yang didapatkannya dari CCTV depan rumah dan club'malam pada detektif. Meyakini Kinara belum pulang ke kampung halamannya, masih berada di kota. Namun belum sempat banyak bicara, sang detektif tersenyum. Menunjukkan majalah bisnis lama.
Wajah yang benar-benar serupa namun nama yang berbeda. "Mungkin setelah bertunangan dengan keluarga konglomerat dia mengganti namanya," jawab sang detektif enteng. Enggan mengambil kemungkinan lain.
Memenangkan hati Kinara? Hal yang ingin dilakukannya saat ini, berjalan mendekati kantor Ananta Group.
***
Tak...tak... tak...
Setelah mengetik beberapa kata, Daniel tidak dapat konsentrasi sama sekali, sesekali memutar kursinya menatap kearah deretan gedung pencakar langit. Hingga suara ketukan pintu terdengar. Ken masuk, membawa serta seorang pemuda.
"Tuan, orang dari PT Grahadi (salah satu partner bisnis Ananta Group) ingin bertemu dengan anda," ucapnya menunduk memberi hormat.
"Biarkan masuk," Daniel, menghela napas kasar mulai berbalik.
"Maaf, aku ingin bicara denganmu..." Yogie tersenyum, datang menggunakan nama perusahaan ayahnya.
"Ken, minta office boy membawa minuman," ucapnya tenang, mengeluarkan aura dingin, mulai duduk di sofa yang berhadapan dengan Yogie.
"Baik tuan..." Ken meninggalkan ruangan, menghubungi pantry.
"Karenamu dia mengganti namanya?" Yogie menatap sinis, memulai pembicaraan."Kita bicara langsung saja, tinggalkan Kanaya," ucapnya.
"Kenapa harus meninggalkannya?" tanya Daniel, menghela napas kasar.
"Kamu tidak suka barang bekas bukan? Aku dulu pernah memakainya, aku akan bertanggung jawab padanya," jawabnya sungguh-sungguh.
__ADS_1
Daniel terdiam sejenak, menatap pantulan bayangannya dari kaca transparan meja di hadapannya,"Tidak masalah jika kamu pernah memakainya. Aku seorang duda, perjaka? Tidak mungkin aku masih perjaka bukan?" jawabnya tersenyum menghina.
"Dia dari desa, apa kamu akan menyukai wanita desa yang bodoh?" tanya Yogie kembali, menginginkan pria di hadapannya melepaskan Kanaya yang disangkanya adalah Kinara yang mengganti namanya.
Daniel mengambil berkas diatas meja melemparkannya di hadapan Yogie,"Kanaya adalah salah satu karyawan andalanku. Walaupun tidak pandai negosiasi, tapi dia cerdas,"
Berkas yang dilemparkan Daniel? Tentu saja hasil kerja gadis yang membuatnya hatinya selalu resah.
"Aku masih mencintainya, apa dia membiarkanmu menyentuhnya? Dia membiarkanku menyentuhnya, itu artinya perasaannya padamu hanya sebatas ingin mendapatkan jabatan. Tolong lepaskan dia..." pinta Yogie.
Tangan Daniel mengepal berusaha bersabar. "Taukah kamu tipikal pria bagaikan 'CEO sombong'? Aku akan mengikat wanita yang aku sukai, selepas dia menyukaiku atau tidak. Pulanglah, urusi rumah tanggamu yang kacau..." ucapnya benar-benar jengkel.
Yogie tertunduk, mulai beranjak, sesekali melihat ke arah belakang. Tidak akan menyerah? Mungkin itulah hal yang dilakukannya. Berpapasan dengan Ken yang membawa minuman dingin, perlahan diletakkannya di atas meja.
Daniel bagaikan kepanasan, meminum segelas minumannya dengan cepat.
"Tuan?" Ken mengenyitkan keningnya, tidak mengerti dengan tingkah Daniel yang bagaikan kelabakan.
"Ken, Kanaya pernah menjadi selingkuhan pria beristri. Menghabiskan malam dengan Kemal..." ucapnya kesal, membayangkan hal yang dulu antara terjadi dan tidak terjadi.
"Lalu jika dia sama saja dengan Renata, apa anda akan meninggalkannya?" tanya Ken penasaran.
"Kalau begitu jangan marah, keperjakaan anda juga sudah diambil Renata. Menikah dengan Jeny, anda tidak mungkin tidak pernah menyentuhnya kan? Kepergian wanita yang membuat anda terpuruk," Ken menghela napasnya, mulai memikirkan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Renata masih perawan tidak saat anda melakukannya?" tanyanya, terus terang.
"Tidak, dia mengatakan dirinya dilecehkan dulu," jawab Daniel meraih kembali minuman dingin diatas meja.
"Lalu anda percaya?" tanya Ken menghela napas kasar.
Daniel mengangguk, sedikit termenung,"Saat itu aku benar-benar kacau, gadis yang aku sukai berselingkuh. Kemudian setiap wanita yang aku dekati bernasib sial. Hanya Renata yang ada di hadapanku, menganggapnya sebagai satu-satunya wanita yang tidak akan meninggalkanku,"
"Tapi, siapa sangka Renata-lah yang membuat semua gadis walau hanya sekedar berteman denganku, celaka," lanjutnya, mulai kembali minum, seolah Renata adalah luka lamanya yang sudah terhapus.
"Kalau Jeny, apa dia masih perawan?" Ken kembali bertanya, bersamaan dengan Daniel menyemburkan minuman dingin dari mulutnya, terbatuk-batuk.
"Masih, aku mabuk saat pertama kali melakukannya dengan Jeny. Tidak perlu diungkit lagi, aku sangat jahat saat itu. Menyalahkannya, menganggapnya sebagai penyebab Renata meninggalkanku ke luar negeri," Daniel mengusap-usap pakaian dan mulutnya yang basah menggunakan saputangan.
"Awalnya, aku ingin mengejarnya agar kembali padaku, memulai semuanya dari awal. Tapi dia sudah lebih bahagia bersama Farel. Mendapatkan kata maaf darinya aku sudah cukup bersyukur. Tidak terikat rasa bersalah yang terlalu dalam lagi..." lanjutnya tersenyum, mengikhlaskan segalanya.
__ADS_1
"Jadi Kanaya yang nakal, mendekati banyak pria. Seperti Renata atau Jeny di hati anda?" tanya Ken membandingkan.
Daniel tertawa kecil, mengingat tingkah polos dan ceroboh Kanaya,"Kanaya adalah Kanaya, tidak mirip seperti siapapun. Menggodaku dan baik hati, terlepas apapun yang dia lakukan. Aku akan tetap mencintainya, seluruh hatiku saat ini hanya tertuju padanya. Dia yang membuatku dapat mengikhlaskan segalanya,"
Ken menatap tuannya penuh haru, mencintai tanpa memikirkan masa lalu Kanaya?"Tuan anda keren," pujianya
Hingga Kanaya datang membawa makan siang mereka.
"Sayang..." ucapnya tanpa malu, dan mengetuk pintu. Langsung membuka dua kotak bekal buatannya, meletakkan di atas meja.
Ekspresi wajah Daniel tiba-tiba berubah dingin,"Kapan kamu tidur dengan pria di depan kantor tadi? Kamu selingkuh ya?" tanyanya mengintimidasi.
Aku berubah fikiran, Daniel benar-benar protektif... gumam Ken dalam hati berlalu meninggalkan ruangan.
"A...aku tidak kenal dengannya. Aku bersumpah," jawab Kanaya jujur.
Daniel mengenyitkan keningnya, lebih mengintimidasi lagi,"Kalian dulu tidur bersama? Aku akan menyentuh bagian tubuhmu yang sempat disentuhnya, agar jejaknya menghilang,"
Kanaya yang duduk di sofa mulai dipojokkannya, jantung gadis itu berdegup cepat menatap mata Daniel, wajah rupawan yang terlihat menggoda.
"Dimana saja dia dulu menyentuhmu?" tanyanya berbisik dengan nada sensual.
"A...aku tidak," Kanaya lebih gelagapan lagi, namun kecupan lembut di dapatkannya, pada dahi, pipi, hidung, bermuara pada bibirnya, yang mulai bertaut lembut. Perlahan Kanaya menikmatinya, memejamkan matanya.
Bibir Daniel turun menuju leher, menelusurinya pelan. Salah satu tangannya memijat pelan benda yang berada dihadapannya masih berbalut kemeja kerja sang gadis. Lenguhan halus keluar dari mulut Kanaya.
Daniel mulai menghentikan tindakannya, kembali makan dengan tenang.
"Kenapa berhenti!?" Kanaya mengenyitkan keningnya.
"Mobilku penyok karena dilempar singkong, aku tidak ingin berikutnya kepalaku yang penyok..." jawabnya, dengan mulut penuh.
Kanaya mengenyitkan keningnya kecewa, gadis perawan mesum itu mulai memikirkan sesuatu. Jemarinya menunjuk leher, punggung, dada,"Iya dia menyentuhku!! Disini!! Disini!! Disini!! Lalu dilanjutkan dengan..." kata-katanya yang penuh kebohongan, agar Daniel melanjutkan kegiatannya terpotong. Mulut Kanaya disumpal sang pemuda dengan satu sendok penuh makanan.
"Tunggu malam pertama!! Aku akan melakukannya semalaman!! Lihat dan bandingkan!! Yang mana lebih hebat melakukannya, pria tadi atau aku!!" ucapnya kesal dengan mulut penuh. Tidak mengetahui hanya otak Kanaya yang mesum, namun pengalamannya di tempat tidur nol besar.
"Kapan aku dapat menikmati malam dingin menggairahkan," cibirnya, melirik ke arah Daniel sambil mengunyah makanannya.
"Aku akan membuatmu tidak bisa bangun, karena terlalu puas!! Jangan remehkan kemampuanku..." Daniel menghela napas kasar, mungkin mengatur strategi untuk memuaskan gadis mesum yang disangkanya, wanita berpengalaman.
__ADS_1