
Olah TKP kembali dimulai, Tomy mulai naik ke atas panggung tempat acara sebelumnya diadakan, matanya menyelidik mengamati hal yang mungkin dianggapnya aneh. Hingga akhirnya kembali turun, pemuda yang memakai kacamata lengkap dengan dasi kupu-kupunya itu memejamkan matanya.
Membayangkan, Jeny dan Renata yang berdebat. Sejenak kemudian wanita itu diguyur air pel, menjadi perhatian beberapa tamu termasuk dirinya.
Tomy membuka matanya, melihat ke arah jam tangannya, berjalan dengan langkah cepat, mengikuti fatamorgana Renata yang berjalan dengan kesal menuju area parkir.
Mengukur waktu, itulah yang dilakukannya. Fatamorgana dalam bayangannya, wanita itu, kini tengah mengganti pakaiannya. Jam tangan Tomy terus berdetak, hingga waktu dimana diperkirakan bos pelitnya bertemu untuk terakhir kalinya dengan Renata.
Membayangkan kekesalan wanita itu, saat mobil Farel mulai melaju.
"Mulai dari sekarang..." gumamnya, menentukan waktu dimana Renata sendirian tanpa ada seorang saksipun.
Detektif amatir? Kata amatir tidak ada dalam kamus Tomy. Saat diberikan tugas apapun dia tidak akan pernah mengerjakannya setengah-setengah.
"Sayangnya tidak dapat menyelidiki di apartemennya. Tapi jika, dengan selisih waktu yang sedikit ini dia meninggal atau sengaja dibuat meninggal di hotel akan lebih mudah..." gumamnya berpikir, menghentikan adegan dalam imajinasinya, dimana Renata berdiri seorang diri.
Tomy berjalan seolah olah menjadi tersangka pembunuhan, mencari benda tumpul terdekat untuk memukul. Namun, area tempat parkir, tentunya hanya ada kunci Inggris.
Dengan cepat memukul bayangan kepala Renata."Tapi hasil lukanya tidak akan mendatar menyebar seperti tersamarkan jatuh dari gedung..." Tomy kembali meletakkan kunci Inggrisnya di dalam mobilnya, membatalkan asumsinya.
"Jika menggunakan balok kayu, jenis luka di kepala akan memanjang. Senjata apalagi yang ada disini?" gumamnya, melihat ke arah sekitarnya.
Dua orang tamu hotel melintas saling berbicara tentang kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan mereka ke hotel. Tomy membulatkan matanya mulai untuk tersenyum.
"Mobil!! Kenapa baru terpikirkan..." gumamnya, mengambil semprotan luminol (Zat kimia yang bereaksi dengan jejak sisa darah, menghasilkan reaksi berwarna cahaya kebiruan selama 30 detik) walaupun darah sudah dibersihkan, namun sedikit jejak zat besinya akan masih tersisa.
Tomy berjongkok, menyemprotkan di tempat Renata seharusnya berdiri menatap kepergian Farel, serta beberapa meter di dekatnya.
"Bereaksi..." Tomy tersenyum membenarkan asumsinya, menemukan titik terang atas jalan buntu yang dihadapinya. Satu hal yang masih mengganjal, bagaimana caranya membersihkan sisa darah, tanpa diketahui siapapun.
Detektif Tomy belum menyerah, mulai menyemprotkan luminol ke sembarang tempat di lantai tempat parkir. Hasilnya, jejak sisa darah lebih banyak lagi. Bahkan terdapat bagaikan tidak sengaja diinjak beberapa orang, serta genangan darah yang dilewati roda mobil.
"Kenapa tidak ada yang jijik atau curiga dengan darahnya," gumam Tomy kembali berpikir.
"Jika sudah dibersihkan, seharusnya menggunakan alat pembersih biasa kan?" dengan berbagai asumsinya, pemuda itu melangkah menuju tempat penyimpanan alat-alat pembersih.
Satu persatu, alat pembersih digeledahnya, tentunya dengan sudah menggunakan sarung tangan. Hingga, akhirnya terlihat beberapa alat pel meninggalkan noda merah.
"Anggur..." gumamnya, mengetahui sifat noda pada red wine hanya dapat dibersihkan dengan white wine.
Semprotan luminol kembali di keluarkan nya, kali ini hanya menyemprotkan sebagian kecil alat pel saja. Agar, DNA pada jejak sisa darah korban tidak rusak. Hasilnya, salah satu alat pel, menunjukkan reaksi.
Senyuman menyungging di wajah Tomy,"Kebenaran hanya ada satu..." ucapnya, membenarkan letak kacamatanya.
Reka ulang adegan menurut fatamorgana imajinasi Tomy pun dimulai, dari tempat ditemukannya jejak darah. Hingga membersihkan sisa-sisa jejak darah. Tomy terdiam sesekali melihat jam tangannya, sembari menatap dalam imajinasinya adegan pembunuhan secara sengaja, dengan lebih dari satu kali tabrakan.
Kemudian pelaku, menyembunyikan mayat, menumpahkan wine. Berpura-pura membersihkan tumpahannya yang bercampur dengan darah. Terakhir, melajukan mobilnya menuju apartemen Renata.
__ADS_1
"Waktu yang cukup, sangat rapi seperti seorang profesional..." Tomy menghembuskan napas kasar, menatap jam tangannya.
Tin...tin...tin...
"Kalau mau bunuh diri jangan disini!!" umpat seseorang dari dalam mobil, yang hendak masuk ke parkiran bawah tanah.
Pemuda yang mengenakan dasi kupu-kupu dan kacamatanya itu tertegun, menyingkir dari tengah jalan."Wong Edan!!" umpat pengendara dari mobil.
"Sialan!! Aku sedang menyelidiki kasus!! Aku doakan roh wanita pembuat masalah itu menghantuimu!! Karena menghalangi detektif Tomy mengungkap penyebab kematiannya!!" Tomy mengucapkan sumpah serapahnya.
Namun entah kenapa bulu kuduknya berdiri. Mengamati dari jauh orang yang tadi menegurnya keluar dari mobil diikuti bayangan hitam seorang wanita, berambut panjang.
"Astaga... Renata..." Tomy berlari pergi ketakutan, menghentikan penyelidikannya.
***
Tak...tak...tak ...
Suara jemari tangan yang menari di atas laptop terdengar, Farel menghembuskan napas kasar mengerjakan tugasnya. Sejenak kemudian tersenyum, mengamati istrinya yang tengah tertidur.
Pemuda itu masih memakai pakaian lengkap seorang suster. Kenapa harus memakai rok? Hanya untuk meyakinkan, pasalnya walaupun tidak dapat melihat, Jeny akan sedikit meraba-raba bagian tubuh orang yang membimbingnya.
Wanita itu terbangun, meraba-raba ke arah mejanya tanpa di sadari Farel, yang kembali konsentrasi pada pekerjaannya.
Prang....
"Nona..." Farel menghampiri, hendak membantu Jeny, yang tiba-tiba menangis terisak.
"Maaf, apakah sakit?" tanyanya membantu Jeny bangkit.
Tangan Jeny menepisnya,"Hanya mengambil air saja..." gumamnya sembari terisak."Menyebalkan..." umpatnya.
"Tidak apa-apa, aku akan menjadi mata anda selama anda disini," Farel tersenyum, meniup-niup jemari tangan Jeny yang terkena pecahan kaca.
"Bukan itu masalahnya, aku hanya akan menyusahkannya. Tapi, aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya..." ucapnya menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak, sembari menangis terisak-isak.
"Aku hanya akan menjadi benalu..." lanjutnya.
Farel memeluk istrinya yang masih menangis di lantai, membelai pelan lembut rambutnya, berusaha menenangkan."Dia tidak akan menganggapmu benalu. Jika merindukannya ijinkan dia bertemu denganmu..."
Jeny menggeleng gelengkan kepalanya,"Aku belum bisa..." ucapnya sedikit lebih tenang.
Pria berpakaian suster itu, membantu Jeny duduk. Mulai mengobati luka di tangan istrinya,"Anda jelek ketika menangis," Farel tertawa kecil.
"Dia bilang aku adalah yang tercantik, jadi di situasi apapun aku tidak mungkin jelek," Jeny mulai dapat tersenyum, entah kenapa dirinya terasa tidak asing dengan seorang suster yang baru sehari dikenalnya.
"Alat mandimu mirip dengan suamiku, baunya seperti apel hijau..." Jeny tertawa kecil.
__ADS_1
Farel membulatkan matanya, mengeluarkan keringat dingin,"Mu... mungkin kebetulan," jawabnya gelagapan.
"Omong ngomong tadi saat kamu memelukku..." Jeny berpikir sejenak, antara ragu dan tidak akan mengatakannya.
Aku mohon, jangan sampai ketahuan. Aku tidak ingin diusir lagi... gumam Farel dalam hatinya, jemari tangannya gemetaran masih mengobati luka di tangan Jeny.
"Aku tidak enak mengatakannya..." Jeny menghembuskan napas kasar.
"Katakan saja..." ucapnya cemas.
"Dadamu rata, apa tidak ada tindakan medis yang aman untuk memperbaikinya? Misalnya implan payudara?" Jeny tertawa kecil.
"Tidak semua orang dianugerahi dada berukuran proposional sepertiku..." tawa Jeny semakin kencang, menepuk pundak suster di sampingnya. Sedang, Farel ikut tertawa dipaksakan.
Untunglah nona hanya pintar di bidang akademis. Tapi dalam kehidupan nyata, mengalami sedikit kemunduran evolusi... syukurnya dalam hati.
Beberapa jam berlalu, Jeny mulai tertidur akibat pengaruh obat yang diberikan melalui infusnya.
Farel kembali mengerjakan tugasnya, masih mengenakan pakaian perawat. Hingga suara ketukan pintu terdengar. Pemuda itu, menghebuskan napas kasar, membuka pintu ruang rawat istrinya.
Terlihat seorang wanita cantik, berdiri tersenyum membawa sekeranjang buah,"Perkenalkan, namaku Clarissa, ayahku adalah teman kakek Taka. Aku kemari mewakili ayahku ..." ucapnya menahan tawa menatap penampilan Farel.
"Namaku Farel, salam kenal, terimakasih sudah sempat mengunjungi istriku ..." Farel berucap penuh senyuman, meraih keranjang buah yang diberikan Clarissa.
"Kamu lucu juga, kemarin Doraemon, dan sekarang suster..." wanita itu tertawa kecil, mulai duduk di sofa.
"Mood istriku sedang buruk, aku hanya menghiburnya saja ... Omong ngomong, kamu mau minum apa?" tanyanya, hendak meninggalkan ruangan, mengambil minuman kaleng dari mesin minuman yang berada di lorong kamar.
"Apa saja..." Clarissa tersenyum ramah.
Farel melangkah pergi, bersamaan dengan senyuman di wajah Clarissa yang menghilang, berjalan mendekati Jeny yang tengah tertidur."Suami yang terlalu sempurna, untuk makhluk tidak berkelas yang cacat. Aku akan membunuhmu dan putramu, menjadikan suamimu bonekaku yang berharga," bisiknyanya, dengan nada mengancam. Menyangka Jeny adalah wanita tidak berdaya yang tertidur.
Brak...
"Kamu siapa!?" Jeny yang baru terbangun membentak, refleks bergerak mendengar suara orang yang tidak dikenalnya. Wanita yang memang pandai beladiri itu, menindih tubuh Clarissa, mencari celah mengunci tubuh wanita itu di tengah matanya yang tidak dapat melihat.
"Lepas!!" teriak Clarissa memekik.
"Nona..." Farel kembali mengubah sedikit suaranya, membantu Jeny berdiri.
"Di...dia siapa? Kenapa ada di ruanganku..." tanyanya, mulai duduk di tepi tempat tidur.
"Aku tidak melakukan apa-apa, dia tiba-tiba histeris dan menyerangku..." Clarissa memelas bagaikan wanita tidak berdaya.
"Usir dia!!" Jeny membentak.
Mendengar perkataan Clarissa? Tentu saja, akan datang suatu titik dimana seekor kelinci kecil akan menggigit, menendang, bahkan mencakar. Sebagai pertahanan diri terakhirnya.
__ADS_1
Bersambung