
Farel menghembuskan napas kasar, sembari tersenyum di pojok ruangan memberikan susu formula pada putranya yang sudah dijaganya semalaman.
"Kemarikan Rafa, aku akan menyusuinya," Jeny merentangkan tangannya dari tempat tidur pasien.
"Tangan nona saja masih diinfus, makan bubur di atas meja dulu!! Baru boleh menyentuh Rafa!!" ucapnya tegas, sembari menatap wajah putranya yang mulai tertidur nyenyak. Dengan perlahan menidurkan bayi mungil itu di atas kereta dorong.
Jeny menghembuskan napas kasar,"Apa kamu sudah pernah menikah!?" tanyanya penasaran, menyadari kecakapan Farel menangani Rafa yang rewel.
"Tidak, tapi ketika aku menyentuhnya mungkin naluriku sebagai seorang ayah tergerak," jawabnya, menatap Jeny penuh senyuman.
"Kenapa belum makan juga!?" Farel berjalan mendekat, meraih seporsi bubur yang terhidang di atas meja. Mulai berusaha menyuapi Jeny.
"Aku tidak mau, lidahku pahit..." Jeny menutup mulutnya memberi alasan.
Farel merogoh sakunya seakan mengetahui apa yang difikirkan nonanya yang sebenarnya berwatak manja itu,"Aku punya coklat, ini untuk nona, jika nona sudah menghabiskan buburnya," ucapnya menyerahkan mangkuk bubur dan coklat pada Jeny. Entah kenapa wanita itu menurut memakan bubur di hadapannya dengan lahap.
Perlahan Farel mengacak-acak rambut Jeny gemas,"Makanlah yang banyak nona..." ucapnya.
"Aku bukan anak kecil!!" Jeny berucap dengan mulut penuh.
"Jika bukan anak kecil, bagaimana kalau kita mulai menjalin hubungan. Agar aku dapat mencium nona dengan bebas," Farel tersenyum tipis, tidak dapat menahan rasa gemasnya pada Jeny, tiba-tiba merebut mangkuk wanita itu. Mengunci pergerakannya, menatap mata Jeny dengan tatapan mendominasi.
"Ka..kamu mau apa!? Aku bisa memecatmu jika berbuat mesum!!" Jeny membentak, menahan debaran di hatinya.
"Mencicipi rasa buburnya..." Farel memejamkan matanya, tidak dapat menahan rasa sayang dan gemasnya, mengecup bibir Jeny sekilas.
"Rasanya buburnya lumayan..." ucapnya penuh senyuman.
"Tidak tau malu!!" Jeny berteriak kesal.
***
Wajah terawat dari Renata tidak terlihat lagi, kembali ke penampilannya bagaikan gadis desa. Uang tabungannya terkuras habis untuk kebiasaan belanjanya yang berlebihan, sedangkan pemasukannya dari profesinya sebagai artis hampir sama sekali tidak ada, hanya sesekali menjadi bintang tamu di acara kuis atau acara sitkom komedi.
"Pel yang bersih!! Jika tidak bersih tidak akan ada makanan!!" Gina membuang kulit kacangnya sembarangan di lantai dengan sengaja. Menumpahkan rasa kesalnya, pada Renata yang menghasutnya dan menyebabkan Jeny pergi. Serta selama bertahun-tahun, dimana Renata yang dulu menumpang di rumah keluarga Ananta setelah keluar dari rumah Fani, mantan majikannya, bukannya tau diri. Malah semakin berani menghambur-hamburkan uang Daniel saat itu.
Suara mesin mobil terdengar, suara yang sangat dikenal Renata. Wanita itu tersenyum setelah beberapa bulan ini, Daniel mengaku berada di luar kota, pemuda itu kini pulang ke rumah.
"Kenapa berhenti!? Pel lantainya!?" Gina mengenyitkan keningnya membentak.
"Tante pel saja sendiri!! Calon suami saya sudah datang!!" ucapnya menyombong, melemparkan tongkat pelnya pada Gina.
Dengan penuh semangat, seakan menemukan perlindungan, Renata berlari hendak memeluk tubuh Daniel,"Berhenti!!" Daniel menyunggingkan senyuman di wajahnya, sebelum Renata terlalu dekat.
"Ke... kenapa!?" Renata mengenyitkan keningnya.
"Aku ingin kita putus!! Pelayan!!" panggilnya berteriak.
__ADS_1
Dua orang berpakaian pelayan yang berada di dekat sana, berjalan mendekati mereka.
"Keluarkan barang-barang wanita ini dari kamarku," perintah Daniel.
"Baik tuan muda..." Kedua pelayan sedikit melirik ke arah Renata, kemudian berbisik-bisik membicarakan wanita yang dulu selalu berprilaku bagaikan pemilik rumah itu, sembari berjalan menaiki tangga menuju kamar Daniel.
"Sayang, kamu kenapa!?" Renata memegang lengan kemeja Daniel tidak mengerti, namun pemuda itu malah menepisnya.
"Pengelihatanku sudah kembali, selama ini aku buta karena mencintai wanita keji dengan tulus!!" Daniel tersenyum menyeringai.
"Bukannya kita akan menikah setelah kalian berpisah!?" Renata meninggikan intonasi suaranya.
"Maaf, tapi aku berubah fikiran. Kamu ingat Wina, gadis kutu buku yang sering mendekatiku ketika kuliah!? Gadis malang yang bunuh diri akibat mengalami pelecehan!?" tanyanya.
"Di...dia," Renata gelagapan, mengeluarkan keringat dingin.
"Orang mati tidak dapat hidup kembali, tapi orang hidup dapat membalaskan dendam orang mati," Daniel tersenyum, bersamaan dengan itu seorang pemuda berbadan tegap datang dari luar.
"Perkenalkan namanya Zoya, kakak dari Wina," ucap Daniel pada Renata
"Tuan Zoya, aku meminta maaf karena tidak tau menahu tentang perasaan adikmu padaku. Tapi sesuai bukti yang aku serahkan. Orang yang membuat adikmu depresi hingga bunuh diri adalah orang ini," Daniel berucap tanpa dosa, mulai duduk di atas kursi.
Zoya terlihat kesal, marah, bercampur aduk menjadi satu, pemuda itu mulai mencaci dan membentak,"Karenamu, ibuku meninggal terkena serangan jantung!! Ayahku kecanduan alkohol, karena kematian ibu dan adikku!!" Zoya menendang dan menampar Renata tanpa ampun. Menginjak kakinya dengan kencang.
"Bu... bukan aku!!" racaunya berteriak ketakutan, menahan rasa sakit, "Daniel tolong aku, katakan aku tidak bersalah," Renata menyeret-nyeret kakinya yang sulit untuk bangkit, menegang kaki Daniel yang tengah duduk di atas kursi.
"Maaf, aku sudah terlalu baik hati, kamu ingat Violen yang lumpuh karena kasus tabrak lari!? atau Bella yang sampai saat ini berada di rumah sakit jiwa!?" tanyanya mengingat sosok beberapa wanita yang dekat dengannya walaupun hanya sekedar berteman, celaka satu persatu.
"Daniel tolong aku!!" teriaknya ketakutan.
"Kali ini tidak!! Aku awalnya menganggapmu sebagai teman, bahkan banyak menolongmu!! Semua wanita yang dekat denganku lenyap satu persatu!! Aku fikir kamu adalah satu-satunya malaikat yang setia dan tidak akan pernah mengkhianatiku!! Hingga aku menyayangimu dengan sepenuh hati, tapi ternyata kamu yang menyingkirkan mereka..." Daniel tertawa kecil miris mengingat kebodohannya.
"Daniel tolong aku!! Pasti Jeny yang menjebakku!!" ucapnya berteriak, mencari alasan, sembari ditarik Zoya dengan kasar.
"Semua yang terjadi pada Jeny adalah kesalahanku. Aku akan menjaganya, dan menebus kesalahanku. Bodoh!!" Daniel mulai bangkit, mendekati Renata yang ditarik paksa oleh Zoya, kemudian menamparnya dengan kencang.
"Ini adalah kemurahan hatiku, hanya memberikan balasan satu tamparan. Uangku yang dulu kamu pergunakan anggap saja sebagai bayaran pelayananmu di atas tempat tidur," ucapnya pada Renata, jemari tangan wanita itu gemetar ketakutan. Situasi saat ini lebih mengerikan dibandingkan dengan saat berhadapan dengan Tomy. Zoya terlihat penuh dendam, menariknya entah apa yang akan dilakukan pria itu.
"Zoya, aku menyerahkannya pada mu. Rasa dendamku cukup berakhir dengan satu tamparan. Kamu boleh berbuat apa saja padanya," Daniel kembali duduk di kursi.
"Terimakasih..." Zoya berucap, menarik paksa Renata ke dalam mobil.
"Daniel!! Daniel!! Daniel!!" teriaknya dengan rambut acak-acakan dan beberapa luka di tubuhnya.
Dua orang pelayan yang diperintahkan Daniel turun dari lantai dua, menarik tiga buah koper besar,"Tuan ini barang-barang nona Renata," ucap salah satu pelayan.
"Bawa barang-barangnya ke dalam mobil orang yang menarik Renata ke luar dan siapkan empat kotak bekal untukku..." ucapnya menghebuskan napas kasar.
__ADS_1
"Baik, tuan!!" kedua pelayan berlalu pergi.
***
Waktu masih menunjukkan pukul 11 siang, selama beberapa bulan sebelum persalinan Jeny hingga sekarang bayi itu telah lahir, Daniel tinggal di rumah yang dulu mereka tempati. Pergi ke kantor, dan pulang dengan rasa kesepian. Berfikir Jeny akan pulang dengan mudah setelah menyerahkan anaknya kepada pemilik JH Corporation. Namun, ternyata kenyataan tidak semudah rencananya.
Perlahan mobilnya terparkir di sebuah pasar, Daniel membuka pintu mobilnya berjalan ke arah kios yang berjejer di pinggir jalan.
"Daniel!?" Deo menghentikan kegiatannya yang tengah menghitung dan mengelompokkan barang-barang elektronik yang baru datang.
"Aku membawa makanan..." ucapnya penuh senyuman, seakan kembali ke masa SMUnya. Daniel yang ramah pada semua orang.
"Tidak perlu repot-repot, nanti Fani juga akan membawakanku makanan," Deo menghembuskan napas kasar, mulai mempersilahkan Daniel duduk di kursi belakang toko.
"Makanan yang aku bawa lebih enak!! Aku kan lebih kaya dibandingkan dengan kalian!!" ucapnya tertawa kecil seakan menyombong.
"Dasar!!" Deo ikut tertawa mulai makan makanan di hadapannya.
Daniel terdiam sejenak memberanikan dirinya bicara, menatap Deo yang mulai makan,"Deo aku memberikan Renata pada kakak dari salah satu temanku yang bunuh diri beberapa tahun lalu, dan sempat menyerahkannya pada JH Corporation yang ingin membalas perbuatan Renata pada tuan mereka. Apa kamu ingin menyelamatkan adikmu!?" tanyanya dengan ragu.
Deo menghentikan aktivitas makannya,"Jika hal ini terjadi dulu, mungkin aku sudah menggila dan melawan apapun untuk menyelamatkannya. Tapi, dia sudah keterlaluan, masa depanku hancur karena tuduhannya memberikan narkotika pada minumanku. Aku mencari jalan tengah, untuk melindunginya dan Fani. Dengan menggantikan preman-preman yang disewanya untuk melecehkan Fani. Tapi dia tidak pernah akan berubah, semakin banyak saja orang yang menjadi batu pijakannya. Mungkin kerasnya hidup dapat mendidiknya dan memberikannya pelajaran, agar menjadi lebih baik..." ucapnya tertunduk, mengingat prilaku asli adik satu-satunya.
"Omong ngomong, bagaimana dengan mantan istrimu!? Apa dia sudah kembali pulang!?" tanya Deo kembali makan makanan di hadapannya.
"Belum, dia memiliki anak dengan pria lain, karena aku pernah sempat menjualnya. Aku sedang berusaha membujuknya untuk kembali padaku dan menyerahkan anak itu pada ayah kandungnya," Daniel menghembuskan napas kasar.
"Jika begitu, sampai matipun dia tidak akan kembali padamu," Deo menatap jenuh, meminum air mineral kemasan miliknya.
"Kenapa!? Bukannya seperti kata Fani tidak ada yang kurang dariku..." Daniel mengenyitkan keningnya.
"Setampan apapun, sekaya apapun, tidak ada wanita yang akan memilih hidup dengan pria yang pernah memperlakukannya dengan buruk. Apa lagi ingin memisahkannya dengan anaknya," ucapnya.
"Tapi itu anak orang lain!! Aku tidak akan sanggup membesarkan dan tersenyum padanya..." Daniel mengenyitkan keningnya.
Pemuda di hadapan Daniel terlihat geram, tiba-tiba menggebrak meja,"Itu anak istrimu!! Kamu mencintai istrimu!? Anaknya adalah bagian dari tubuhnya!! Jika kamu mencintai wajahnya yang cantik, cintai juga tangannya, walau tangannya kotor sekalipun!!"
Daniel terdiam, mencintai bayi mungil itu!? Apa bisa... tanyanya dalam hati. Mengingat foto-foto bayi yang terpajang di dinding rumah Jeny.
"Untukku mana!?" seorang wanita yang tengah hamil besar tinggal menunggu waktu persalinannya saja berucap.
"Masih ada..." Deo tertawa kecil.
"Dasar rakus," Daniel berucap, menatap Fani yang kesulitan untuk duduk, perlahan dibantu oleh Deo.
Apa Jeny juga mengalaminya!? Siapa yang menjaganya saat itu!?... gumam Daniel dalam hatinya, merasa bersalah dengan ketidak beradaannya.
Matanya menelisik daster tipis yang dikenakan Fani seperti tiba-tiba memiliki pergerakan,"Perutmu bergerak!! apa bayinya tidak apa-apa!? Apa sudah waktunya melahirkan!? Apa aku perlu menelfon dokter!?" tanyanya dengan panik masih awam pada fase kehamilan wanita.
__ADS_1
Deo tertawa kecil,"Anakku dan Fani saja kamu panik, apalagi anak istrimu, kamu akan menjadi ayah yang baik," ucapnya.
Bersambung