
ππππAda yang kangen Tomy? Sesuai request terbanyak, novel berikutnya yang akan rilis adalah tentang Tomy. Rilis di sini, tanggal 1 November di platform iniππππ Aku baru cari cover dan tulis sinopsisnya.πΈπΈπΈπΈ Sabar menunggu tanggal 1, ok? π€π€π€π€ judulnya "Extraordinary Husband" (Suami yang luar biasa) ini covernya ππππ
ππππ Yang milih "Secret Of CEO" dan "Menantu Kesayangan Pembuat Masalah" maaf aku tunda dulu. Alasannya, sehari aku paling banyak dapat menulis 1300-2500 kata, jadi aku rilis satu-satu tapi fokus pada cerita, agar menghindari hole plotππππ
ππππ Happy Reading ππππ
Dalam mobil pick up yang melaju, Kinara mengenyitkan keningnya menatap tanda dijual pada salah satu lahan luas milik suaminya."Kenapa ada tanda dijual?" tanyanya.
"Ada keperluan uang mendesak, tapi sudah teratasi. Nanti sore tandanya akan aku cabut, tidak jadi dijual" jawab Fahri, sedikit tersenyum, kemudian kembali memasang wajah tanpa ekspresi.
Kinara ikut tersenyum, memulai hidup barunya, menatap wajah suaminya yang fokus menyetir mobil pickup,"Kamu tidak jelek, kulit sawo matang, dan lesung pipi yang menggemaskan," ucapnya mencolek-colek pipi suaminya.
Fahri, tetap menatap jalanan, menahan hatinya yang berdebar. Ingin rasanya tersenyum kembali, dirinya hampir tidak percaya ketika bangun tadi pagi. Berkali-kali membasuh wajahnya, setelah membersihkan diri, mencubit pipinya sendiri. Namun, sosok Kinara yang terbaring malas tanpa busana hanya berbalut selimut tetap terlihat di kamarnya.
"Sudah selesai mandi?" tanya Kinara saat itu, tersenyum tulus padanya, sembari mengutak-atik phoncell.
Wanita itu meraih handuk, melilitkan pada tubuh putihnya yang bertebaran tanda keunguan hasil pergulatan mereka, "Seharusnya kita tadi mandi bersama," ucapnya menggoda.
Jantung Fahri rasanya mau keluar saat itu. Mimpi? Apakah ini mimpi? Tapi dirinya belum terbangun juga. Menatap Kinara yang memasuki kamar mandi, bergantian dengannya. Melirik ke arah tempat tidur yang kacau balau.
"Aku melakukannya dengan Kinara!? Semalam aku benar-benar melakukannya!? Bahkan berkali-kali!?" gumamnya, mengacak-acak rambutnya. Berguling-guling sendiri di atas tempat tidur, sembari tertawa kecil. Bahagia? Tentu saja, akhirnya perasaannya berbalas.
Tujuan mereka hari ini adalah Weed Villas and Spa, menemui putra tunggal mereka. Lobby villa terlihat, sebelum akhirnya memasuki jalan setapak dengan taman tertata rapi menuju deretan villa yang bernuansa minimalis, menyatu dengan alam. Beberapa turis lokal dan asing berjalan-jalan, hanya sekedar joging, atau mengenakan bikini, hendak menuju kolam renang besar dekat restauran.
Fahri tersenyum-senyum sendiri, melangkah bersama Kinara,"Mata keranjang!! Kamu senang melihat perempuan memakai bikini ya!?" bentak Kinara, mengamati senyuman aneh suaminya.
"Tidak, aku..." kata-kata Fahri terhenti, terlalu memalukan baginya mengatakan terus terang. Hal yang terbayang hanya dinginnya malam yang mereka lewati bersama.
"Aku apa!?" bentaknya mengintimidasi.
"Aku masih mengingat yang semalam!!" ucap Fahri cepat menutup matanya sejenak, menahan rasa malunya.
Kinara tertawa kecil,"Masih banyak waktu, sudah waktunya Ega punya adik..."
Wanita itu berjalan mendahului suaminya, masih menertawakan Fahri yang baru menikmati malam pertama mereka. Namun, senyuman tulus menyungging sejenak di bibirnya... Andai aku tau akan sebahagia ini, mungkin sejak dulu aku berusaha menerima orang kaku yang polos ini...
"Adik Ega? Punya adik?" Fahri masih tertegun, sejenak kemudian baru menyadari, istrinya yang telah melangkah jauh didepannya. "Kinara, tunggu!!" teriaknya berlari menyusul.
Suara bel terdengar, Sumi meninggalkan Ega yang tengah bermain di kamarnya sejenak. Perlahan membuka pintu di hadapannya.
"Kinara?" Sumi tertegun sesaat.
"Kanaya bilang oleh-olehnya untukku ibu yang simpan?" ucapnya tersenyum canggung.
Sumi membalas senyumanya, menghela napas kasar,"Masuklah..."
Villa bernuansa sama dengan villa yang dahulu dihuni Daniel, terlihat. Perabotan yang bernilai fantastis, bahkan desain villa yang detail.
__ADS_1
Kinara menunduk terdiam, kemudian menghela napas kasar,"Ibu, aku ingin minta maaf. Uang penjualan rumah dan tanah, sama sekali belum aku pakai. Boleh aku bertemu dengan Ega?" tanyanya, sembari menyodorkan amplop coklat berukuran besar.
Sumi tersenyum, menghela napasnya, menatap kesungguhan dalam mata putrinya,"Seperti kata Singkong, maksud ibu pacar Kanaya," ucapnya tertawa kecil, merasa salah bicara, masih mengingat banyaknya singkong yang harus dibagikan pada para tetangganya. Karena seorang pemuda aneh.
"Uang hasil penjualan rumah dan tanah, diperuntukkan untukmu dan Ega, tabunglah untuk pendidikannya. Ibu dan ayah sudah cukup bahagia dapat sering bertemu dengan Ega," lanjutnya.
"Tapi sebagiannya milik kakak...maaf..." tertunduk? Dirinya hanya dapat tertunduk saat ini, telah menghancurkan acara lamaran kakaknya. Bahkan, menjatuhkan nama keluarganya. Menjual tanah serta rumah, untuk keegoisannya.
"Anak nakal," Sumi memeluk putrinya erat. Isakan tangis yang halus terdengar dari mulut Kinara, memeluk tubuh renta ibunya.
"Ibu..." ucapnya berteriak menangis, pengalaman tinggal sendiri di kota membuatnya menyadari sesuatu. Merindukan ibu dan ayahnya, bahkan Fahri yang hanya sedikit bicara padanya.
Benar, Kinara adalah anak manja yang tidak pernah tinggal seorang diri. Hamilpun kedua orang tuanya dengan sabar mencarikan sesuatu yang dapat meredam rasa mual putrinya. Tinggal dengan Fahri juga sama saja, pemuda kaku itu memperhatikan setiap detail keinginan istrinya. Bahkan bersedia merubah sifat aslinya, hanya agar Kinara memandangnya.
Hidup sendiri di kota, ketika penyakit mag-nya kambuh, berjalan ke apotek seorang diri. Kamar kost yang sepi tanpa seorangpun disana, ketakutan ketika mendengar suara aneh. Fahri adalah tempatnya pulang. Sumi dan Candra, orang tua yang akan tetap menjaganya walaupun berbuat kesalahan.
Hampir kehilangan segalanya? Begitulah pemikirannya saat ini. Setelah merasakan hidup seorang diri selama dua minggu.
"Jangan menangis, kamu tidak malu pada Fahri?" ucap Sumi, jemari keriputnya menepuk pelan punggung putrinya yang masih terisak.
"Tidak, dia hanya tiang kaku yang berdiri. Mana mungkin punya hati..." jawabnya masih menangis.
Sumi menipiskan bibir menahan tawanya, menatap Fahri yang terdiam tanpa ekspresi. Setidaknya buat suamimu tersenyum, sebelum Ega keluar.
"Tersenyum!! Atau aku akan mencium bibirmu di hadapan ibu!!" bentak Kinara, melepaskan pelukannya pada Sumi, sembari menghapus air matanya.
"Menggemaskan..." Kinara mencubit pipi suaminya gemas.
"Sudah-sudah, ibu panggilkan Ega dulu," Sumi hendak beranjak. Namun, seorang pria meletakkan sepatu bootsnya baru pulang dari meladang berjalan mendekat."Tunggu...!!" ucapnya dengan nada tinggi.
Plak...
Pipi putrinya ditampar, pria tua itu menatap tajam dengan tangan gemetar.
"Ayah maaf...aku," kata-kata Kinara terhenti, Candra mulai menangis terisak.
"Ayah merindukanmu," ucapnya tertunduk, menitikkan air matanya,"Kita seri, ayah sudah menamparmu lagi, jangan ragu untuk mendatangi ayah. Fahri sudah mengatakannya, kamu canggung untuk kemari, sebelum mengembalikan hasil penjualan rumah dan tanah,"
"Tidak usah dikembalikan, ayah merindukanmu..." lanjutnya.
Kinara meraih tangan ayahnya, menggenggam erat jemari tangan keriput pria yang membesarkannya. Sedikit melirik kearah suaminya.
Fahri hanya terdiam, masih tersenyum dengan lesung pipinya yang terlihat. Hal yang dilakukannya? Saat pertama kali mengunjungi Ega, Fahri berlutut meminta maaf di hadapan Candra ketika Ega telah tertidur.
Berbohong? Benar, pemuda itu berbohong, mengatakan Kinara sudah menyesali kesalahannya. Namun, terlalu malu untuk meminta maaf secara langsung.
Uang penjualan rumah dan tanah? Pemuda yang tersenyum dengan lesung pipinya, berniat menjual sebagian tanahnya. Jika Kinara tidak kembali dari kota. Meminta maaf atas nama istrinya, agar Kinara tidak dianggap sebagai anak tidak berbakti oleh kedua orang tuanya.
Kinara mengenyitkan keningnya, masih menduga-duga hal yang terjadi. Hingga akhirnya memeluk tubuh Candra,"Maaf..." ucapnya tersenyum tulus.
__ADS_1
"Ibu!! Ayah!!" Ega tiba-tiba keluar dari kamar, tersenyum menyambut kedua orang tuanya. Mulai naik, tanpa rasa canggung ke dalam pangkuan pemuda yang sama sekali tidak mirip dengannya.
Tertawa kecil menceritakan harinya di taman kanak-kanak pada sang ayah. Tidak serupa, namun hati yang terkait, mengangguk, tertawa kecil mendengarkan semua cerita yang keluar dari mulut kecil putranya.
Kinara berjalan menuju dapur, mengambil minuman serta cemilan untuk ayah dan suaminya dibantu Sumi. Mendengar tawa disela candaan terdengar suara anak yang masih sedikit cadel, tidak hentinya bicara.
"Minumannya, jangan terlalu banyak tertawa, nanti tersedak!!" Kinara tersenyum cerah.
...Rupa? Hubungan darah? Apa itu penting? Tentu saja, namun jika melihat lebih dalam, apa hanya dengan wajah rupawan dapat membahagiakanmu? Apa mencintai seorang anak yang tidak memiliki hubungan darah denganmu itu sulit.......
...Wajah rupawan dapat membahagiakanmu, jika kamu melihatnya dari sisi yang berbeda. Mulai menerima? Begitulah caranya, maka kamu akan melihat wajah rupawannya yang sebelumnya disembunyikan oleh penolakan hatimu. ...
...Mencintai seseorang anak yang tidak memiliki hubungan darah? Mereka pantas untuk dicintai, jika kamu melihatnya sebagai makhluk yang lahir atas restu Tuhan. Jemari kecil yang menggengam tanganmu hangat......
Author...
***
Kinara mengenyitkan keningnya, berjalan kembali ke area parkir menatap wajah suaminya yang kembali terdiam tanpa ekspresi. "Kamu tidak bertanya kenapa aku tidak membawa Ega pulang?"
"Masih merasa bersalah, karena sebelumnya menumpahkan kekesalanmu padanya," jawab Fahri apa adanya.
Kinara menghentikan langkahnya terlihat jengkel,"Mulutmu benar-benar tajam ya?"
"Maaf..." Fahri tertunduk merasa salah bicara, tidak ingin hubungannya merenggang.
"Tidak apa-apa, kamu tidak salah, aku memang masih merasa bersalah, sering membentak dan mencubitnya. Ayo kita pulang..." ucapnya, menaiki mobil pickup.
Mobil kembali melaju meninggalkan area parkir villa. Melewati jalan desa, di udara senja yang terasa semakin dingin.
"Berhenti..." ucap Kinara, di dekat salah satu lahan suaminya.
Wanita itu keluar, berjalan mendekati tanda dijual, kemudian mencabutnya.
"Maaf, aku lupa mencabutnya," ucap Fahri jujur.
Kinara berjalan mendekatinya, di tengah sinar matahari yang semakin redup. "Kenapa sebelumnya ingin dijual?"
Fahri hanya terdiam, tidak menjawab. Hingga Kinara mengalungkan tangannya pada leher suaminya,"Apa karena kamu ingin mengganti uang ayah dan ibu jika aku tidak pulang?" tanyanya sudah menduga semuanya.
Fahri masih tidak menjawab, menatap wajah putih istrinya terkena cahaya redup kejinggaan dari matahari yang hampir tenggelam. Kebisuan, yang dapat berarti mengiyakan.
"Maaf, pria bodoh..." ucapnya tersenyum tulus berjinjit, mengecup bibir suaminya perlahan. Tubuh mereka masih diterpa sinar matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat.
"Aku mencintaimu," kata-kata itu kembali berani dikeluarkan Fahri. Menyentuh tengkuk istrinya, melanjutkan ciumannya lebih dalam. Terhanyut akan perasaannya, ciuman memabukkan dari bibir wanita yang dicintainya. Matahari perlahan tenggelam dengan sempurna, mengakhiri bibir tautan bibir pasangan suami istri.
Berganti dengan kecupan kecil pada pipi Kinara,"Aku juga mencintaimu. Katakan lebih banyak lagi agar aku mengetahuinya," Kinara tersenyum simpul.
Fahri hanya mengangguk, tersenyum mengiyakan.
__ADS_1