
Sebab cinta adalah sebuah rasa
Maka ia mengalun mendekap hangat jiwa
Meski cinta berbatas jarak dan waktu
Ia akan tetap mengalir dalam syahdu
Menyelami hakikat keterbatasan manusia
Dan menegaskan kekuasaan Sang Maha Pengatur Segala
Maka, kutitipkan cintaku dalam doa
Kuserahkan segenap harap pada Dzat sang pemilik cinta
Hanya pada-Nya kutitipkan segala rasa
Sebab yang kutahu, Dialah sebaik-baik penjaga
(Faza)
Mungkin ini bukanlah apa-apa
Hanya sebuah gejolak yang kurasa sementara
__ADS_1
Mungkin ini juga bukanlah sesuatu yang istimewa
Hanya angin lalu yang akan segera terlupa
Tapi nyatanya, semua menjadi begitu sempurna
Seperti mawar yang senantiasa terjaga
Layaknya dirimu yang terlihat begitu berbeda
Juga seperti dirimu yang mampu menggetarkan jiwa
Lalu, pantaskah aku mengaku jika aku telah jatuh cinta?
(Gibran)
* * * * *
Blora, Desember 2013
“Sepertinya hujan akan turun sampai sore, Za.”
Gadis berjilbab merah bata itu menoleh kearah gadis berjilbab putih yang berdiri disampingnya. Mengalihkan perhatiannya dari hujan yang masih saja menderas diluar sana dan belum sedikitpun menampakkan tanda-tanda akan berhenti.
“Ngajinya bolos saja, Nun.” Dan gadis berjilbab merah bata itu tidak tahu apa yang salah dari kalimatnya hingga temannya memberi sebuah jitakan yang membuatnya meringis. “Kalau kita nekat menerobos hujan pakai payung ini, kita hanya akan basah kuyup, Ainun. Tidak apa-apa bolos, nanti aku yang bilang ke Ummi Haidar.” Sambung gadis berjilbab merah bata dengan tenang.
__ADS_1
Kembali memperhatikan hujan di luar stasiun Cepu siang itu dan orang-orang yang sesekali nekat menerobos hujan yang masih menderas. Mungkin orang-orang itu begitu terburu-buru hingga nekat menerobos hujan dibandingkan menunggu hingga hujan sedikit reda.
“Kalau ngajinya bolos, bodoh lah kita, Za. Mana ada laki-laki yang mau dengan perempuan bodoh seperti kita?” kali ini gadis berjilbab merah bata itu tertawa kecil mendengar temannya yang bernama Ainun itu mulai berceloteh tidak jelas.
Ini bukan pertama kalinya mereka berdua membolos ngaji. Itulah kenapa gadis berjilbab merah bata itu hanya tertawa kecil sebelum perhatiannya teralihkan oleh suara panik seorang laki-laki yang berdiri disampingnya dan hanya berjarak dua langkah dari tempatnya berdiri saat ini.
“Saya masih di stasiun, Prof. Hujannya lebat sekali, dan sepertinya saya tidak bisa sampai di auditorium dalam setengah jam.”
Gadis berjilbab merah bata itu bahkan menoleh dan memperhatikan laki-laki muda dengan jaket coklat gelap yang lengannya digulung hingga siku. Laki-laki muda yang terlihat resah karena terus saja melihat jam di pergelangan tangan kirinya sementara tangan kanannya masih memegang ponsel.
“Kalau saya bawa payung, saya sudah ada di dalam bus sejak tadi, Prof.” Kali ini laki-laki muda itu mendesah dengan setengah kesal dan melepas kacamatanya. “Baiklah, saya usahakan sampai dalam empat puluh menit.”
Gadis berjilbab merah bata itu tidak tahu apa yang mendorongnya untuk menyodorkan payung yang sejak tadi ia pegang pada lelaki muda disampingnya itu.
“Sedang terburu-buru ya, pak?” dan laki-laki muda itu menoleh dengan wajah heran. Untuk beberapa saat gadis berjilbab merah bata itu menyesal karena telah memanggil laki-laki muda itu dengan sebutan ‘pak’. Sungguh, laki-laki muda itu lebih pantas dipanggil ‘mas’ dan nampak konyol dengan panggilan ‘pak’. “Silahkan pakai payung saya, sepertinya hujan masih akan turun sampai sore.”
“Kamu sendiri bagaimana?” tanya laki-laki muda itu setelah beberapa saat nampak menimbang dan mengamati gadis berjilbab merah bata itu yang kini tersenyum dan menampilkan sepasang lesung pada kedua pipinya yang tidak terlalu dalam.
“Jemputan saya sedang dalam perjalanan.” Jawabnya dengan nada yakin.
“Begitu.” Dan laki-laki muda itu, entah keyakinan darimana ia meraih payung lipat warna merah yang gadis berjilbab merah bata itu berikan padanya. Mengulum senyum tipis yang lagi-lagi membuat gadis berjilbab merah bata itu terpesona. “Terima kasih.” Entah karena terlalu senang sebab mendapat pinjaman payung dari seorang gadis muda atau karena memang sedang terburu-buru. Laki-laki muda itu bahkan tidak bertanya kemana dia harus mengembalikan payung itu dan siapa nama gadis berjilbab merah bata itu.
Dan hingga laki-laki muda itu belari menjauhi stasiun dengan payung merah miliknya, gadis berjilbab merah bata itu masih terpaku tanpa mempedulikan Ainun yang mulai misuh-misuh sendiri. Laki-laki muda dengan payung merah di tengah derasnya hujan bulan Desember. Untuk pertama kalinya, gadis berjilbab merah bata itu terpesona pada lawan jenisnya.
* * * * *
__ADS_1