
Gibran
Outlander sport milikku baru saja memasuki pekarangan depan rumah saat pandangan mataku tertuju pada seorang gadis yang terlihat begitu santai duduk di kursi kayu teras rumah. Membuatku menyipit untuk memastikan jika aku tidak sedang salah lihat atau sedang berimajinasi. Tapi nyatanya gadis itu memang dia, Renata Wibisana adik perempuanku yang entah bagaimana caranya sudah ada di teras rumahku sore ini. Gadis itu bahkan hanya menampilkan cengiran lebar khas miliknya begitu aku keluar dari mobil dan mendekatinya.
“Selamat sore, pak dosen.” Sapanya aneh yang membuatku tertawa sebelum memeluk gadis itu.
Baru satu bulan aku tidak bertemu Renata, tapi rupanya aku merindukan adik perempuanku ini.
“Mas pikir kamu tidak cukup berani untuk naik kereta dari Jakarta sampai ke Surabaya seorang diri.” Ledekku sembari mengajak Renata memasuki rumahku dan membiarkan anak itu mulai berkomentar tentang segala hal yang bisa ia komentari. Duplikat mama. Benar-benar Renata Wibisana yang piawai sekali mengomentari perabotan rumah yang dipilih oleh seorang bujangan sepertiku.
“Siapa bilang aku naik kereta? Aku naik pesawat kok.” Jawabnya setelah menjatuhkan diri di atas sofa hitam di ruang tamuku. “Mas Gibran kok nggak pernah mendengarkanku sih? Kalau sofanya sudah hitam ya tirainya jangan hitam mas, suram nanti rumah kamu.” lihat kan? Baru saja dia berhenti mengoceh tentang warna cat yang menurutnya terlalu pucat, sekarang gadis itu bahkan kembali mengomentari sofa di ruang tamuku.
“Siapa yang membelikan tiket pesawat? Tidak mungkin kan kamu sudi pakai uang saku kamu untuk beli tiket pesawat?” dan kalau aku menanggapi komentar Renata tentang sofa dan tirai yang menurutnya terlalu gelap serta bisa membuat rumahku menjadi suram, maka sampai subuh-pun perdebatan kami tidak akan selesai. Itulah kenapa aku memilih untuk berjalan ke dapur dan membiarkan Renata mengikutiku.
“Pertanyaan kamu membuatku sakit hati, mas.” Dan selain piawai mengomentari apa saja yang bisa ia beri komentar, adik perempuanku ini juga jago sekali memasang wajah memelas seperti itu seolah dirinya adalah adik perempuan paling menderita di dunia ini.
“Tapi memang benar sih, papa yang membelikanku tiket. Lagipula uangku sudah habis untuk keperluan skripsi selama satu semester ini.” sambungnya yang membuatku mengerutkan kening dan meletakkan gelas berisi air putih di atas meja. Bukan heran karena uang Renata habis untuk keperluan skripsinya, tapi aku justru heran kenapa papa mau membelikan Renata tiket pesawat untuk kemudian mengunjungi kakak laki-lakinya di Surabaya.
“Papa? Maksudnya kamu merengek pada papa supaya dibelikan tiket pesawat?” tanyaku yang membuat Renata mencebik tidak suka.
“Tidak, papa yang dengan senang hati membelikan tiket pesawat untukku.”
“Masa?”
“Maskapai nomor satu penerbangan kelas bisnis untuk perjalanan pulang pergi.” imbuhnya dengan wajah menyebalkan seolah aku akan iri setengah mati hanya karena adik perempuanku dibelikan tiket pesawat kelas bisnis untuk perjalanan Jakarta-Surabaya sementara bulan yang lalu aku harus rela menyetir dari Jakarta hingga Surabaya.
“Dalam rangka apa papa membelikan kamu tiket pesawat?” tanyaku lagi yang mulai kehilangan kesabaran menghadapi Renata. Terkadang adik perempuanku ini benar-benar menyebalkan dengan tingkah kekanakannya yang kelewat batas meski sekarang usianya sudah 22 tahun. Tapi tidak jarang juga Renata bisa menjadi wanita dewasa dengan pikiran taktis saat sudah membicarakan tentang kehidupanku yang menurutnya terlalu menyedihkan.
“Hadiah untuk kelulusan kamu?” kali ini Renata yang memutar bola mata seolah pertanyaanku adalah sesuatu yang benar-benar menyebalkan untuknya.
Aku hanya menebaknya saja, sebab aku bahkan masih ingat bagaimana antusiasnya Renata saat berulang kali meneleponku dua minggu yang lalu saat aku masih di dalam kelas. Hanya untuk mengatakan padaku kalau dirinya baru saja menyelesaikan sidang skripsinya dan dinyatakan lulus menjadi sarjana ilmu biologi.
“Kalau papa memberiku hadiah kelulusan berupa tiket pesawat, jelas aku akan meminta tiket pesawat ke Thailand, mas. Bukannya ke Surabaya.”
“Lalu?”
“Biarkan adik mas Gibran yang paling cantik dan imut ini mandi dulu, capek mas.”
“Renata.” Aku tahu kalau adikku sudah mencari alibi seperti ini, itu artinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan padaku. Yang benar saja, tidak mandi dua hari dua malam juga Renata tidak akan peduli.
“Nanti kujelaskan. Sekarang aku mau mandi dulu.”
__ADS_1
Hingga Renata memasuki kamar tamu tepat disamping kamar pribadiku, aku masih memikirkan spekulasi tentang alasan Hendri Wibisana mengirim Renata ke Surabaya untuk menemuiku. Jelas papa tidak akan mau membuang-buang uang jutaan rupiah untuk membelikan anak bungsunya tiket pesawat kelas bisnis dari maskapai nomor satu hanya karena Renata merengek. Lagipula aku dan adik perempuanku tidak sedekat itu hingga Renata akan begitu merasa kehilangan karena aku pindah ke Surabaya. Baiklah, kami memang dekat sebab kami hanya dua bersaudara dan penerus tahta keluarga besar Wibisana dari garis papa. Jadi, tidak ada alasan bagiku ataupun Renata untuk tidak akrab satu sama lain.
Hanya saja, kali ini seperti ada keberuntungan yang hendak Renata sedot dariku bersamaan dengan kedatangannya ke Surabaya.
__________
“Pesta perayaan kelulusan kamu?” aku nyaris menyemburkan nasi goreng dimulutku mendengar Renata menjelaskan tentang kenapa dia datang kemari dan papa dengan begitu mudah membelikan anak itu tiket pesawat kelas bisnis. Mendengar penjelasan Renata tentang dia yang diminta papa untuk membujukku pulang ke Jakarta bulan depan karena papa pikir aku tidak akan mau pulang kalau hanya dibujuk melalui telepon.
“Pesta untuk sebuah kelulusan bukannya berlebihan, Nat?” tanyaku hati-hati dan berharap Renata tidak tersinggung meski yang menanyakannya adalah kakak laki-lakinya sendiri.
Aku bukannya iri karena saat aku lulus S2 sekalipun papa hanya mengucapkan selamat padaku untuk kemudian membiarkanku melakukan apa yang kumau, sementara papa bahkan mau mengadakan pesta untuk kelulusan Renata. Tapi sungguh, pesta untuk seorang anak yang baru saja lulus S1 benar-benar sesuatu yang berlebihan menurutku.
“Yap, aku juga berpikir begitu.” Dan Renata, kenapa anak ini justru terlihat begitu santai meski aku jelas-jelas tidak setuju dengan acara yang papa buat untuk dirinya?
“Sorry?”
“Kamu benar-benar tidak peka, mas.” Geram Renata sebelum meminum air dari gelasnya hingga hanya tinggal tersisa setengahnya saja. “Mas pikir untuk apa papa sudi membelikan tiket pesawat kelas bisnis untukku pulang pergi Jakarta-Surabaya kalau tidak ada maunya?”
Kali ini aku mulai bisa melihat benang merah tentang kenapa Renata bisa tiba-tiba ada di teras rumahku sore tadi. Papa yang meminta Renata untuk menemuiku di Surabaya. Dan lagi-lagi serasa keberuntunganku kembali berkurang sekarang.
“Jadi papa meminta kamu datang ke Surabaya untuk menjemput mas?”
“Tidak juga. Papa ingin aku bicara dengan mas Gibran.”
“Iya iya, jangan menatap adikmu seperti itu, mas.” Dan sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa Renata harus menunggu kuancam dulu hanya agar dia segera berbicara. “Pesta itu hanya alibi untuk acara perjodohan mas Gibran dengan tante Resa Adelia.” Sambung Renata ringan yang membuatku melongo.
“What?”
“Om Rudi datang ke Jakarta minggu lalu, dan om Rudi mengatakan pada papa kalau mas Gibran tidak mau dijodohkan olehnya. Itulah kenapa papa memutuskan untuk mengadakan pesta perjodohan mas dan tante Resa dengan menggunakan alibi kelulusanku. Semacam itulah.”
Lagi-lagi aku tidak mengerti bagaimana caranya Renata menjelaskan hal seperti itu padaku dengan begitu tenang sembari mengigit potongan timun yang ia tusuk dengan garpunya.
“Sebenarnya papa melarangku mengatakan yang sebenarnya pada mas Gibran, tapi karena aku tidak suka dengan tante Resa, yasudah aku jujur saja pada kamu mas.” Sambung Renata sementara aku masih berusaha menemukan kata-kata yang entah kenapa seperti berterbangan begitu saja di dalam kepalaku.
Om Rudi.
Ah, aku lupa kalau ‘ayah kedua’ku itu sudah menjadi informan terpercaya untuk papa. Dan tentu saja papa akan dengan senang hati mengadakan perjodohan konyol dengan gadis bernama Resa Adelia yang tidak lain adalah anak rekannya sendiri saat om Rudi mengatakan aku menolak dijodohkan olehnya.
Resa Adelia, sebenarnya tidak ada yang salah dengan gadis itu. Hanya karena Renata memanggilnya ‘tante’ bukan berarti Resa adalah seorang wanita paru baya yang tergila-gila dengan pria muda sepertiku. Bukan, Resa seumuran denganku dan kami sempat bertemu beberapa kali saat aku masih tinggal di Jakarta. Hanya saja, Renata terlalu tidak suka dengan dandanan Resa yang menurutnya terlalu ‘melampaui umur’ hingga membuat Resa terlihat seperti wanita 40 tahun alih-alih perempuan muda 28 tahun.
“Jawab mas dengan jujur, Nat.” mulaiku setelah beberapa saat terdiam dan mengusap wajah beberapa kali dan meletakkan kacamataku di samping gelasku yang sudah kosong. “Apa mas terlihat seputus asa itu sampai papa dan om Rudi begitu berambisi menjodohkan mas?” aku tahu pertanyaanku ini benar-benar lucu dan aneh, jadi aku tidak bisa menyalahkan Renata yang tertawa hingga ujung matanya berair sebelum memperhatikanku lama.
__ADS_1
“Dan, kenapa harus dengan Resa sih?”
“Apa kalau papa dan om Rudi menjodohkan mas dengan perempuan lain, lantas mas akan menerimanya?” kali ini tidak ada tawa ataupun senyum jahil di wajah Renata.
“Ya tidak begitu juga, Nat.”
“Aku tahu mas pasti sudah bosan sekali mendengarku mengatakan hal ini. Tapi aku akan tetap mengatakannya.” Renata tidak hanya menatapku lekat-lekat, dia bahkan meraih tangan kananku dan meletakannya didadaku sendiri. “Membuka hati bukan hal yang salah mas. Aku memang tidak tahu rasanya kehilangan orang yang kucintai. Tapi sekuat apapun mas Gibran mempertahankan mbak Aida di dalam hati, tetap saja mbak Aida tidak akan kembali.”
Alih-alih menanggapi kalimat Renata, aku justru menarik tangan kananku dan memalingkan wajahku dari Renata. Menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali dengan gusar. “Jangan terlalu lama mengunci hati dan menyiksa perasaan kamu sendiri, mas.”
Mengunci hati. Entahlah, aku sendiri tidak tahu harus kusebut apa sikap yang selama enam tahun ini kupelihara selepas kematian Aida. Entah aku yang mengunci hati, atau aku saja yang masih enggan menjalin hubungan dengan lawan jenis.
“Mas tidak menyiksa diri sendiri, Nat.” belaku yang membuat Renata berdecak kesal. Hanya karena aku tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis, tidak lantas aku menjadi tersiksa dan merana sendiri setiap malam minggu. Sungguh, bukankah itu kekanakan sekali?
“Kalau memang mas tidak menyiksa diri sendiri, lalu kenapa sampai sekarang mas Gibran belum juga punya calon?” tak urung aku berdecak kesal juga mendengar pertanyaan Renata. Apa keluarga besar Wibisana memang sedang ingin sekali mengadakan sebuah pesta pernikahan?
“Belum ketemu yang pas.” oke, aku sendiri merasa kalau kalimatku ini terdengar ragu.
Belum bertemu dengan orang yang pas? Entahlah, rasanya seperti aku sudah menemukan orang itu, tapi aku belum bisa mengakuinya pada Renata. Harus kuakui kalau membuka hati setelah aku menutupnya setelah bertahun-tahun bukanlah perkara mudah. Sebab tanpa sadar aku selalu membandingkan setiap gadis yang kutemui dengan mendiang Aida.
“Apa belum ada seseorang yang bisa menarik perhatian mas Gibran? Pagawai di kampus mas, mungkin?” Renata bahkan merasa perlu untuk memutar tubuhnya hingga menghadap kearahku. “Setidaknya mas Gibran bisa memperkenalkan seorang gadis pada papa dan om Rudi, dan tidak harus dijodohkan dengan tante Resa.”
“Yah, sebenarnya ada sih satu orang yang menarik perhatian mas.” Ucapku meski sedikit ragu. Dan tidak, gadis itu tidak hanya menarik perhatianku tapi juga telah mengusikku. Hanya saja aku sendiri belum yakin dengan hal itu, dan terlalu dini jika aku harus menamai perasaan itu sebagai rasa suka.
“Siapa? Dosen muda juga? Atau pegawai di kantor fakultas?” tanya Renata dengan penuh semangat yang justru membuatku menggaruk tengkuk yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Bagaimana aku mengatakannya pada Renata? Rasanya aneh sekali kalau aku mengatakan pada anak ini kalau kakak laki-lakinya tertarik pada gadis muda yang menjadi mahasiswinya sendiri.
“Ehm, bukan sih, Nat.”
“Lalu?”
“Sebenarnya dia salah satu mahasiswi yang mas ajar.”
“Apa?” dan aku sudah menduga kalau Renata akan bereaksi seperti itu saat mendengar kalau kakak laki-lakinya tertarik pada gadis yang usianya jauh dibawahku.
“Ya Allah, sejak kapan kamu menjadi pria pedofil begini, mas?” tak urung aku memberi Renata jitakan di kepala sebagai hadiah untuk kalimat biadabnya itu. Benar-benar adik yang keterlaluan karena mengatai kakak laki-lakinya sebagai seorang pedofil.
“Mas tidak lantas menjadi pedofil hanya karena menyukai gadis 20 tahun kan?” belaku yang terinspirasi oleh kata-kata Haris tempo hari.
“Oh, kukira mas Gibran menyukai mahasiswi semester dua.” Lagi-lagi gadis itu hanya meringis saat aku menjitak kepalanya sekali lagi.
Tapi benar juga, kalau nyatanya Faza Aulia masih seorang mahasiswi semester dua 18 tahun apakah aku juga akan tertarik padanya seperti ini? Ah, aku bahkan mulai berani mengaku pada Renata kalau aku menyukai Faza Aulia yang adalah mahasiswiku sendiri.
__ADS_1
* * * * *