
Faza
Kekasihku
Dan dia berpaling setelah mengatakan hal itu padaku. Dia berpaling dan meninggalkanku menangis seperti gadis bodoh yang baru saja dicampakkan oleh kekasihnya. Membuatku terus mengucapkan maaf hingga dadaku terasa sangat sesak dan tenggorokanku yang tercekat oleh permintaan maaf yang tak kunjung berbalas.
Kekasihku
Rasanya sakit sekali mendengarnya menyebutku sebagai kekasihnya dengan nada seperti itu. Rasanya sesak sekali saat aku harus menyaksikan punggungnya yang menjauh hingga akhirnya menghilang dibalik pintu selasar kampus dan meninggalkanku di pelataran parkir seorang diri.
‘Jika kamu memang tidak berjodoh dengan laki-laki itu, semoga Allah menjodohkan kamu dengan seseorang yang lebih baik darinya, sayang. Lebih baik menurut Allah, bukan menurut kamu.’
Setelah semua yang terjadi sore ini, lantas bagaimana aku bisa menatapnya tanpa merasa bersalah dan membuat dadaku terasa semakin sesak? Bagaimana nanti aku harus mengikuti perkuliahannya dan melihatnya sebagai seorang dosen tanpa teralihkan oleh kenyataan bahwa pria itu pernah menyebutku dengan kata ‘kekasihku’?
‘Ya Allah, aku sungguh tidak tahu jika urusan hati bisa semenyakitkan ini.’
Biarlah orang-orang akan menganggapku gadis aneh yang berjongkok dan menangis di depan pintu gerbang kampus. Saat ini aku hanya ingin melakukannya. Aku hanya ingin menangis hingga nantinya aku tidak perlu lagi merasakan sakit yang menyiksa ini.
“Faza,”
Aku bahkan lupa kalau sejak tadi aku sedang menunggu mas Wahyu datang menjemputku saat pak Gibran menahan langkahku dan kami terlibat percakapan yang membuatku berakhir seperti ini. Tapi aku yakin jika pria yang baru saja memanggil namaku bukanlah mas Wahyu, sungguh, aku masih hapal betul suara kakak laki-lakiku.
“Mas Arifin,” gumamku pelan saat mendapati seorang pria dengan kaus polo putih berdiri dua langkah dariku dan menatapku lamat-lamat. Ada sorot yang tidak bisa kuartikan dari tatapan itu.
“Tadi mas Wahyu bilang kalau kamu hari ini pulang malam karena harus mengurus seminar, jadi kupikir tidak ada salahnya kalau kujemput kamu sebab mas Wahyu sedang ada rapat.” Jelas mas Arifin tanpa kuminta untuk menjelaskan kenapa dia ada disini. Lagi-lagi ada setitik rasa bersalah saat aku berdiri dan membalas tatapan pria itu.
“Sejak kapan mas Arifin ada disini?” tanyaku heran sebab sejak tadi aku tidak mendengar langkah kaki mendekat kearahku.
“Cukup lama,” dan dua detik kemudian aku tahu jika sesuatu yang tidak baik baru saja terjadi disini. Meski nyatanya mas Arifin masih tersenyum kearahku, tetap saja aku tahu jika setelah ini, semua rencana yang telah disusun oleh keluargaku dan keluarga mas Arifin tidak akan berjalan dengan baik.
“Mas,”
“Dan keberadaanku disini cukup untuk membuatku mengerti kalau kamu terpaksa menerima lamaranku, Za.”
“Aku bisa jelaskan semuanya.” Tentu saja aku tidak bisa membiarkan mas Arifin berspekulasi terlalu jauh tentang apa yang dia dengar beberapa saat yang lalu. Semua akan menjadi semakin rumit kalau kubiarkan pria ini menelan mentah-mentah apa yang baru saja terjadi diantara aku dan pak Gibran.
“Tidak perlu, Za. Semua sudah cukup jelas dan aku sudah sangat mengerti.”
“Tidak seperti itu, mas.”
“Maaf kalau selama ini aku terlalu memaksakan kehendak. Maaf karena aku lalai memperhatikan perasaan kamu, Za. Maafkan aku.”
__ADS_1
“Aku yang harus meminta maaf disini. Semua yang mas Arifin dengar tentang aku dan pak Gibran tidak lebih dari sekedar angin lalu.” dan itu adalah dusta sebab aku tahu kalau tidak ada angin lalu yang membuatku begitu gusar hingga menangis tidak terkendali di hadapan pak Gibran seperti tadi. Itu bukan angin lalu.
Sungguh, jika itu hanya angin lalu, aku yakin kalau dadaku tidak akan sesakit ini saat melihatnya berpaling dengan seulas senyum getir diwajahnya. Bahkan hingga sekarang, rasanya dadaku masih begitu nyeri setiap kali kutarik napas dalam dan mengingat kalimat terakhirnya.
“Tidak apa-apa. Sebaiknya kita pulang karena abah akan khawatir kalau kamu belum pulang selarut ini.”
Saat aku melangkahkan kaki untuk mengikuti mas Arifin menuju mobilnya, aku sadar jika hari ini, aku telah melukai hati dua orang pria. Aku telah melukai perasaan pria yang kucintai, dan menyakiti hati pria yang mencintaiku. Lantas, masih pantaskah aku masih berharap tentang sebuah ketulusan dari dua orang laki-laki yang bahkan telah kupatahkan hatinya ini?
* * * * *
“Sakit lagi?” tanya Hana tanpa basa-basi sedikitpun dan langsung menempelkan tangan kanannya didahiku begitu gadis itu duduk disampingku. Membuatku mengangkat wajah dan mengamati kelas yang masih sepi dan hanya beberapa anak yang baru masuk sebab kelas masih akan dimulai sepuluh menit lagi.
“Kenapa jam pertama tidak masuk?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian Hana dan menurunkan tangan gadis itu dari dahiku.
“Kesiangan. Dan apa yang kamu lakukan selama seminar nasional jumat kemarin sampai jadi sakit begini?” tapi Hana tetaplah Hana yang tidak bisa begitu saja kualihkan perhatiannya. Itulah kenapa aku hanya memasang cengiran andalanku untuk menjawab pertanyaan Hana.
“Terlalu capek mungkin.” Bohong. Nyatanya aku bukan tipikal gadis yang akan jatuh sakit hanya karena terlalu lelah mengurus seminar nasional yang diadakan oleh LPM kemarin jumat.
Kesehatanku memang menurun sejak sabtu kemarin, tapi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan acara seminar hari sebelumnya. Baiklah, kedengarannya memang berlebihan sekali, tapi kurasa alasan kenapa kesehatanku menurun adalah percakapan antara aku dan pak Gibran sore itu, dan aku yang tidak tidur semalaman karena memikirkan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kami.
Juga memikirkan mas Arifin dan segala spekulasi tentang perasaan pria itu. Ah, tanpa kupikirkan-pun sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang mas Arifin rasakan. Sungguh, tidak ada laki-laki yang baik-baik saja saat menyaksikan calon istrinya menyatakan perasaan pada pria lain.
Dan sore itu, saat aku mengikuti mobil mas Arifin dengan pandanganku hingga mobil itu menghilang dibalik tikungan, aku sadar satu hal lagi, bahwa hubunganku dengan mas Arifin tidak akan pernah bisa sebaik sebelumnya. Juga tentang hubunganku dengan abah yang juga kuyakin tidak semudah sebelumnya.
“Kenapa mas Wahyu minta mas Arifin untuk menjemputku?”
“Mas Arifin tidak bilang kalau kemarin sore mas ada rapat?”
“Bilang. Maksudku kenapa mas tidak minta aku untuk pulang sendiri saja? Aku bisa pulang sendiri.”
“Mas tidak minta mas Arifin untuk menjemput kamu, dek. Dia sendiri yang menawarkan diri untuk menjemput kamu. Dan mas pikir tidak baik anak perempuan pulang sendirian selarut itu.”
“Kenapa bisa begitu?” cecarku seolah tidak puas dengan jawaban yang mas Wahyu berikan untukku. Membuat mas Wahyu menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan sebelum mendekatiku dan duduk di sisi ranjang.
“Karena saat itu mas Arifin bertanya kabar kamu, dan mas jawab kalau hari itu kamu belum pulang karena harus mengurus seminar, dan setelahnya kamu bisa tahu apa yang terjadi.” Jelas mas Wahyu dengan pelan seolah ingin mengimbangiku yang terdengar begitu marah dan tidak sabaran.
“Sesuatu yang buruk terjadi ‘kan?” itu bukan pertanyaan. Itu adalah desakan yang mas Wahyu berikan agar aku menceritakan semua yang terjadi padanya.
“Aku sudah mengaku padanya, mas.” Lagi-lagi mataku memanas saat mulai menceritakan pada mas Wahyu tentang apa yang terjadi kemarin sore di pelataran parkir kampus. “Dia bertanya padaku apakah sudah ada laki-laki yang mengkhitbahku atau belum, dan saat itu aku mengaku padanya tentang perasaanku.”
“Dan mas Arifin mendengar pengakuan kamu?”
__ADS_1
Dan tangisanku kembali tidak bisa kutahan saat mengangguk mengiyakan pertanyaan mas Wahyu.
“Aku takut abah kecewa padaku, mas.”
“Tidak, semua akan baik-baik saja.”
Tapi tetap saja meski mas Wahyu sudah memelukku begitu erat, aku tetap merasa takut. Aku takut kalau hal buruk akan terjadi setelah ini. Pikiran dan ketakutan yang berakhir dengan kambuhnya magh yang kuderita hingga aku harus dibawa ke klinik kemarin pagi.
“Za, kamu dengar tidak sih?” dan aku nyaris melompat dari kursiku karena kaget saat Hana menepuk lenganku.
“Apa?”
“Selain sakit, kamu sedang banyak pikiran ternyata.”
“Tidak, siapa yang bilang begitu?”
“Tidak ada yang bilang. Tapi sikap kamu sudah cukup untuk membuatku paham kalau kamu sedang menyimpan masalah.”
Aku baru saja akan membantah kalimat Hana saat pintu kelas terbuka dan seorang pria masuk kedalam kelas. Membuat seisi kelas terdiam dan membalas salam yang diberikan oleh pria itu. Dua detik kami berserobok pandang, tapi dua detik saja sudah cukup untuk memporakporandakan pertahananku yang tidak seberapa ini.
Seulas senyum tipis yang ia berikan untukku pada detik kedua pandangan kami bertemu membuatku kembali mengingat raut wajah gusarnya jumat sore kemarin. Juga wajah sendunya saat pria itu berpaling dariku dan meninggalkanku yang masih menangis seperti gadis bodoh.
“Semua yang terjadi memang sudah Allah takdirkan untuk terjadi…”
Berulang kali aku merapalkan kalimat itu untuk membuat hatiku sedikit lebih baik meski setelahnya perasaanku kembali menjadi tidak karuan.
Bohong jika aku mengatakan kalau aku sama sekali tidak pernah berharap kalau laki-laki yang mengajukan lamaran pada abah untukku adalah Gibran Wibisana.
Berulang kali aku bahkan berdoa semoga pak Gibran menyadari perasaanku meski aku tidak mengatakan padanya. Meski berulang kali pula aku dikecewakan oleh harapan konyol itu sendiri dan membuatku hanya mampu menghela napas panjang. Terlalu muluk-muluk kalau aku kembali memikirkan apa yang sempat kuminta pada Allah tentang pak Gibran. Hanya saja, aku selalu melakukan pembelaan pada setiap hal yang kuminta dengan alibi kalau aku masihlah gadis 20 tahun dengan segala pergolakan batin dan perasaan yang kurasakan.
“Jika dua orang telah berjodoh, sejauh apapun jarak membentang, seberapapun lama waktu memisahkan, mereka akan tetap bersatu. Bisa jadi dua orang telah yakin satu sama lain kalau mereka akan berjodoh, tapi nyatanya dua orang itu berpisah, itu namanya bukan jodoh. Sebagai manusia, kita harus paham jika Allah ta’ala selalu punya cara yang indah untuk menyatukan.”
Nasehat demi nasehat yang ummi Usammah berikan padaku saat aku mengunjunginya di Blora sebulan yang lalu-pun seolah menghakimiku dengan kembali terngiang dikepalaku tanpa perintah.
“Sama seperti kamu yang mungkin belum yakin siapa yang akan menjadi jodoh kamu, entah itu Arifin, atau itu Gibran, atau bukan kedua orang itu. Tapi percayalah Za kalau rencana Allah itu yang paling indah.”
Aku tahu. Bahkan sebelum aku menerima nasehat-nasehat itu dari ummi Usammah, aku sudah paham dengan sendirinya tentang konsep jodoh yang Allah tuliskan untukku bahkan sebelum aku terlahir kedunia ini. Hanya saja, lagi-lagi sebagai manusia aku selalu memiliki celah untuk mengeluh dan menginginkan lebih dari apa yang sebenarnya mampu kugenggam. Termasuk ingin mengetahui lebih dini tentang siapa yang sebenarnya menjadi jodohku.
“Jika Allah tidak menuliskan Gibran Wibisana untuk menjadi jodohmu, insyaa Allah, atas seijin Allah perasaan kamu akan memudar dengan sendirinya, sayang. Dan jika Allah menuliskan Arifin Putra sebagai jodoh kamu, dengan ijin Allah pula akan tumbuh rasa cinta yang amat dalam untuknya.”
Sesederhana itu. Meski sebenarnya aku sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana caranya perasaan yang sudah terlanjur kurasakan untuk pak Gibran akan memudar dan tergantikan dengan perasaan untuk mas Arifin.
__ADS_1
Dan seharusnya semua memang sesederhana itu. Sesederhana menyerahkan semua rasa yang kurasakan pada Allah, Sang Pemilik Segala rasa.
* * * * *