
Faza
Untuk kesekian kalinya tanpa sadar aku menoleh kearah pintu ruang fakultas dari sofa tempatku duduk. Berharap pandangan mataku menangkap seseorang yang memang sedang kutunggu sejak tadi pagi. Seseorang yang membuatku galau tidak karuan sejak dua hari yang lalu dan berakhir membuatku terus menoleh kearah pintu ruang fakultas setiap kali pintu itu terbuka. Lagi-lagi untuk mencari tahu siapa yang membuka pintu itu. Apakah dia orang yang sedang kutunggu atau orang lain. Hanya untuk membuatku menarik napas dalam saat menyadari jika yang baru saja keluar dari ruang fakultas bukanlah dia.
“Kemana sih?”
Sebenarnya aku tidak akan galau seperti ini jika saja mas Wahyu tidak mengatakan padaku perihal keberangkatannya ke Jakarta hari jumat lalu. Mungkin aku akan bersikap biasa saja kalau saja mas Wahyu mengatakan padaku tentang alasan kenapa dia harus berangkat ke Jakarta selepas kami kembali dari KUA hari jumat kemarin.
“Ke Jakarta? Ngapain mas Gibran ke Jakarta, mas?” tanyaku kala itu.
Yah, rasanya aneh sekali kalau aku tetap memanggilnya dengan panggilan ‘pak’ sementara lima hari lagi insyaa Allah kami akan menikah. Meski kenyataannya aku harus menunduk malu setiap kali memanggilnya dengan panggilan ‘mas’ karena aku belum terbiasa. Tapi bukan itu yang penting sekarang, yang terpenting adalah apa yang dia lakukan di Jakarta sampai tidak datang ke kampus hari ini? Urusan apa yang harus dia selesaikan di Jakarta hingga terkesan terburu-buru begitu?
“Besok kamu tanyakan sendiri saja kenapa mas Gibran terburu-buru berangkat ke Jakarta menjelang hari pernikahan kalian.”
“Mas Gibran bilang pada mas Wahyu tentang kenapa dia tiba-tiba pergi ke Jakarta?”
“Iya. Tapi mas Gibran tidak mau mas bilang pada kamu alasannya pergi ke Jakarta.”
“Kenapa begitu?”
“Karena mas Gibran ingin kamu tahu dari mulutnya sendiri, Za. Bukan dari mas.”
Dan itu adalah jawaban mas Wahyu sebelum kakak laki-lakiku itu memintaku untuk berhenti bertanya karena dia tidak akan menjawabnya. Jawaban yang membuatku uring-uringan dan galau sejak kemarin jumat hingga hari ini.
“Apa yang mas lakukan di Jakarta sampai harus dirahasiakan dariku?”
__ADS_1
Tapi dibandingkan aku yang uring-uringan dan galau, sebenarnya lebih tepat dikatakan kalau aku khawatir dengan mas Gibran karena kenyataan hari ini sudah hari selasa dan sejak senin kemarin aku belum melihatnya di kampus. Memang benar kalau selama ujian akhir semester berlangsung tidak ada perkuliahan yang diadakan. Tapi tetap saja dosen harus tetap berangkat ke kampus karena terkadang mereka harus menjadi pengawas ujian.
“Apa mas Gibran belum pulang ke Surabaya?” tanyaku pada diri sendiri setelah sekian kali menoleh kearah pintu fakultas tapi tetap tidak kutemukan mas Gibran disana. Mendesah pelan sebelum menyalakan ponsel yang sejak pagi kumatikan dan mengamati layarnya lama. Hanya untuk kembali berdecak kesal karena kenyataan tidak ada yang bisa kulakukan dengan benda itu.
Aku dan mas Gibran tidak pernah bertukar nomor ponsel dan selama ini mas Gibran hanya bertanya tentang diriku melalui abah dan mas Wahyu, itulah kenapa aku tidak bisa menghubunginya sekarang. Yah, kalaupun aku punya nomor ponselnya, aku tidak yakin kalau aku berani mengiriminya pesan dan bertanya apa yang dia lakukan di Jakarta sampai belum kembali ke Surabaya.
“Tidak ada hal buruk yang terjadi ‘kan?”
Harus kuakui kalau aku khawatir hal buruk terjadi pada mas Gibran yang membuatnya tidak bisa secepatnya kembali ke Surabaya. Tidak, aku bukan khawatir kalau ada salah satu anggota keluarga besar Wibisana yang tidak menyetujui mas Gibran menikah dengan bocah sepertiku dan dia akan membatalkan pernikahan kami. Bukan seperti itu. Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang sedang dia hadapi di Jakarta. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja yang memang menjadi melankolis sekali sejak kemarin.
“Semoga kamu baik-baik saja, mas. Semoga Allah selalu melindungi kamu.”
Sudah jam empat sore, dan rasanya mustahil ada seorang dosen yang baru tiba di kampus jam empat sore disaat ujian akhir sedang berlangsung seperti ini. Itulah kenapa aku memilih untuk beranjak dari sofa dan berharap kalau besok mas Gibran sudah berangkat ke kampus dan berhenti membuatku khawatir seperti ini.
“Belum ada kabar juga sampai hari ini?” tanya Hana yang sejak tadi hanya duduk disampingku dan sesekali membuka buku akuntansi manajemennya. Mungkin Hana mulai tidak nyaman dengan kegelisahanku yang sejak tadi terus menerus menoleh kearah pintu fakultas ekonomi. Hari ini jadwal ujian terakhir untuk kelasku, dan jika sampai hari ini aku belum juga melihatnya, itu artinya aku harus menunggu mas Gibran hingga besok senin pada saat akad nikah.
“Apa mungkin dia belum kembali dari Jakarta?” tanyaku seolah Hana tahu segalanya tentang mas Gibran.
Yah, awalnya aku memang ingin merahasiakan pernikahanku dan mas Gibran dari Hana, tapi setelah kupikir lagi rasanya tidak adil kalau aku tidak mengundang Hana sementara gadis itu tahu perasaanku sejak awal.
“Mungkin saja seperti itu, Za. Atau ada urusan di Jakarta yang harus segera pak Gibran selesaikan.” Kali ini Hana memilih untuk menutup buku akuntansi manajemen yang sejak tadi menyita perhatiannya.
“Tidak usah cemas begitu. Pak Gibran bukan anak SD yang akan hilang karena melakukan perjalanan Surabaya-Jakarta seorang diri.” Sambung Hana sembari mengajakku beranjak dan masuk ke kelas karena ujian jam kedua akan dimulai lima menit lagi.
“Bukan begitu, Han. Aku hanya mengkhawatirkannya saja.”
__ADS_1
“Dia baik-baik saja. Pernikahan kalian masih besok senin ‘kan? Atau kamu saja yang terlalu merindukan calon suamimu?” bisik Hana dengan nada yang benar-benar menyebalkan sebelum berlalu dari kursiku dan berjalan dengan gelak tawa menuju kursinya di barisan nomor dua dari belakang. Sementara aku hanya berdecak kesal sebelum kembali menarik napas dalam.
Apa aku terlalu berlebihan mengkhawatirkan mas Gibran hanya karena aku tidak melihatnya selama satu minggu? Atau benar kata Hana kalau aku terlalu merindukan mas Gibran? Entahlah, aku hanya merasa kalau aku perlu untuk melihatnya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.
“Alhamdulillah,”
Dan rasanya seperti ada beban berat yang terangkat dari pundakku saat dari arah koridor seseorang berjalan menuju ruang ujianku dengan dua map coklat ditangannya. Memasuki ruang ujian kelasku setelah beberapa saat bercakap-cakap dengan pak Tamrin, dekan fakultas ekonomi yang entah untuk membicarakan apa. Dan aku tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Yang terpenting sekarang adalah dia ada di ruang ujian ini bersamaku dan dia baik-baik saja seperti saat terakhir kali aku melihatnya seminggu yang lalu.
Lagi-lagi hatiku menghangat saat mendapati sebuah kertas terselip antara lembar soal dan lembar jawab yang mas Gibran bagikan untukku. Sebuah lembar kertas dengan tulisan tangan khas miliknya yang membuatku mengerutkan kening sebelum aku menoleh kearahnya untuk meminta penjelasan. Tapi tentu saja mas Gibran tidak memberi respon apapun untuk tatapanku dan memilih untuk bercakap-cakap dengan mahasiswa lain yang menggodanya. Membuatku mendesah pelan sebelum membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisannya.
Assalamu’alaikum shalihah,
Semalam mas Wahyu bilang pada mas kalau kamu uring-uringan sendiri sepeninggal mas ke Jakarta. Benar begitu? Maaf karena pergi tiba-tiba dan menghilang selama seminggu serta membuat kamu khawatir. Tapi mas baik-baik saja. Dan mas juga senang karena kamu juga baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan mas.
Jaga kesehatan kamu. Sampai bertemu besok senin.
Wassalamu’alaikum
Mas Gibran
Campuran antara rasa malu dan lega lagi-lagi membuatku tidak berani untuk mengangkat kepala dan menoleh kearah mas Gibran yang duduk di depan kelas. Tapi rasanya lega sekali setelah aku membaca tulisan sederhana ini.
Kalau sudah seperti ini, lantas harus kunamai apa perasaanku ini? Lega karena kenyataan mas Gibran baik-baik saja, atau rasa rindu yang terobati karena pada akhirnya aku melihatnya hari ini?
* * * * *
__ADS_1