Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
19. Seberkas Hati Yang Baru (1)


__ADS_3

Gibran


Kuhela napas sekali lagi sebelum melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku untuk ketiga kalinya. Jam 12.50, dan itu artinya gadis itu sudah terlambat hampir setengah jam dari janji awal kalau kami untuk bertemu hari ini jam 12.30. Aku bahkan sudah menghabiskan makan siangku dua puluh menit yang lalu dan isi gelas es tehku juga tinggal tersisa setengah.


“Harusnya kuminta nomor ponselnya kemarin.” gumamku sembari melepas kacamata dan meletakkan benda itu tepat disamping ponselku yang sejak tadi kuabaikan.


Baiklah, kalau sampai jam 13.00 gadis itu tidak juga muncul, maka aku akan pergi ke kantor Tempo Press untuk menemui pak Reynaldi seorang diri. Bagaimanapun rencana untuk menyerahkan proposal seminar nasional ke kantor Tempo tidak bisa dibatalkan begitu saja hanya karena gadis itu tidak datang.


Tepat pukul 13.00. Dan aku baru saja akan beranjak dari kursiku saat dari arah pintu masuk kantin seorang gadis dengan gamis merah bata dan jilbab lebar khasnya berjalan gontai menuju kearahku. Aku bahkan kembali meletakkan kacamata yang sebenarnya sudah akan kupakai. Ada perasaan lega saat gadis itu semakin dekat kearahku sebelum akhirnya dengan napas tersengal gadis itu duduk di kursi dihadapanku dan meletakkan tas ranselnya yang terlihat berat di kursi disampingnya.


“Maaf terlambat, pak. Saya ketiduran tadi.” Ucapnya dengan penuh penyesalan yang membuatku mengerutkan kening. Bukan merasa heran karena gadis ini begitu merasa bersalah karena datang terlambat, tapi karena merasa aneh dengan suaranya yang terdengar sengau. “Saya sebenarnya sudah naik ke kantor fakultas, tapi kata pak Fuad bapak ada di kantin.” Sambungnya setelah berhasil mengatur napas dan mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya. Sekarang aku tahu kenapa suara gadis ini terdengar sengau.


“Kamu sakit?” tanyaku alih-alih mencecari gadis ini, yang tak lain adalah Faza dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa dia bisa terlambat selama setengah jam dari janji awal kami.


“Tidak, pak. Hanya flu.” Jawabnya sembari menyeka ujung hidungnya yang memerah. Dan untuk alasan yang tidak kuketahui, Faza terlihat imut saat sedang flu seperti ini.


“Sejak kapan flu tidak masuk kedalam kategori penyakit, Za?” dan gadis ini hanya tersenyum samar mendengar pertanyaan retorikku sembari kembali menarik selembar tisu dari dalam bungkusnya. “Makan siang dulu?”


“Saya sudah makan siang di rumah, pak.” Jawabnya acuh sembari mengeluarkan buku agenda dari dalam ranselnya dan memeriksa catatan yang entah tentang apa. Jika saja gadis yang duduk dihadapanku ini bukan Faza, akan seperti apa reaksinya kuperhatikan seperti ini?


“Semalam mas Gilang meminta saya untuk follow up ke mas Fahri, pak. Founder sekaligus ketua perkumpulan sahabat pena regional Surabaya yang akan menjadi salah satu pembicara di seminar bulan depan. Jadi misal nanti jam tiga kita belum bisa bertemu pak Reynaldi, kita langsung ke markas sahabat pena saja pak. Saya sudah menghubungi mas Fahri dan janji temu dengan beliau jam setengah empat.” Jelas Faza panjang sembari terus mengusap ujung hidungnya dengan tisu di tangan kirinya sementara tangan kananya mencatatat sesuatu pada buku agendanya. Dan aku, memperhatikan Faza seperti seorang pria tua memperhatikan gadis muda incarannya.


“Kamu sudah minum obat?” tanyaku tanpa sadar hingga aku perlu berpikir kenapa aku harus menanyakan hal itu pada Faza. Membuatku mengerutkan kening karena merasa kalau aku tidak harus bertanya sejauh itu.


“Sudah, pak.” Tapi lagi-lagi aku justru bertanya dalam hati kalau saja gadis ini bukan Faza, akan seperti apa dia menanggapi pertanyaan sederhanaku. “Jadi bagaimana menurut pak Gibran? Sejauh yang saya tahu menemui pak Reynaldi sama sulitnya dengan ketemu pak rektor.” tanya Faza lagi sembari melempar tisu bekasnya pada tempat sampah tak jauh dari kami.


“Bisa. Nanti saya coba bicara dengan resepsionis untuk bisa menemui pak Reynaldi saat itu juga. Dan setelahnya kita bisa melakukan follow up dengan pak Fahri.” Jawabku santai sembari memakai kacamata dan meraih jaket serta tas ranselku. Masih memperhatikan beberapa hal yang dijelaskan oleh Faza tentang sahabat pena dan juga tentang Muhammad Fahri yang tanpa sadar membuatku mendengus pelan beberapa kali.


“Mas Fahri, pak. Usianya baru 25 tahun, jadi rasanya aneh kalau dia dipanggil ‘pak’.” Astaga, gadis ini bahkan protes karena aku memanggil Fahri itu dengan panggilan ‘pak’.

__ADS_1


“Dan saya baru 28 tahun, Faza. Kenapa kamu memanggil saya ‘pak’ dan bukannya ‘mas’?”


Dasar Gibran bodoh. Untuk apa aku menanyakan hal tidak penting seperti itu dan mempermalukan diri sendiri? Faza bahkan bergeming di depan pintu mobilku yang sebenarnya sudah terbuka hanya untuk memberiku tatapan ngeri. Tapi aku tidak berbohong saat mendapati wajah gadis itu memerah saat aku menaikkan sebelah alisku dan menatapnya lamat-lamat setelah berhasil mengendalikan diriku sendiri.


“Tentu saja karena tidak ada mahasiswa yang memanggil dosennya dengan panggilan ‘mas’ pak.” Jawabnya dengan nada datar yang membuatku terpaku untuk beberapa saat dan kembali mengamatinya hampir semenit penuh.


“Masuklah.”


Lagi-lagi aku mulai berpikir bagaimana jadinya jika gadis yang kini duduk disampingku sembari terus menyeka ujung hidungnya ini bukan Faza Aulia. Tentang bagaimana jadinya jika aku bukanlah dosen Faza dan gadis ini bukan mahasiswiku sendiri.


Apakah semua rasa akan lebih mudah untuk tersampaikan? Atau, justru kami tidak akan pernah dipertemukan? Ah, lagi-lagi semua memang terjadi untuk sebuah alasan.


* * * * *


Agung Reynaldi, laki-laki awal empat puluhan yang telah mengenalku dengan baik dan kami sering bertemu beberapa kali saat laki-laki itu masih menjabat sebagai asisten redaktur di Tempo Jakarta. Dulu, saat aku dan profesor Himawan sering mengadakan penelitian tentang media masa, kami sering bertemu dengan pak Agung Reynaldi di kantor Tempo Jakarta. Pertemuan yang akhirnya membuatku akrab dengannya dan beberapa kali kami makan siang bersama untuk sekedar membahas tentang penelitian-penelitian yang sedang kulakukan atau tulisan-tulisanku yang berhasil dimuat oleh koran terbitan Tempo press.


“Gibran Wibisana,”


Dulu, aku dan pak Reynaldi sempat berjanji akan bertemu jika suatu saat aku berkunjung ke Surabaya atau melakukan penelitian di Jawa Timur. Itulah kenapa aku dan Faza hanya perlu menunggu kurang dari lima belas menit di lobi kantor hingga seorang pria parubaya dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku menghampiri kami dengan wajah sumringah.


Faza bahkan menyipitkan mata saat aku berbicara pada resepsionis dan meminta untuk dipertemukan dengan Agung Reynaldi dengan mengatasnamakan Gibran Wibisana alih-alih membawa nama kampus. Membuat gadis itu berbisik padaku begitu kami duduk di sofa lobi dan mengatakan kalau aku tidak adil karena menyerobot antrian janji temu dengan pak Reynaldi.


“Mereka pasti jengkel setengah mati pak kalau tahu kita menyerobot antrian mereka untuk bertemu dengan pak Reynaldi.”


“Hemm, bagaimana kalau kita anggap saja ini sebagai temu kangen antara dua teman lama, Za?” Balasku dengan nada penuh persekongkolan yang membuat gadis itu justru mengerutkan kening tanda dia tidak mengerti dengan ucapanku.


“Benar juga, saya lupa kalau bapak kenal baik dengan pak Agung Reynaldi.” Gumam Faza yang hanya kutanggapi dengan seulas senyum tipis. Sungguh, aku tidak tahu kalau melakukan percakapan dengan Faza Aulia akan sesulit ini.


“Pak Rey,” Agung Reynaldi. Nyatanya pria ini masih sama bersahabatnya seperti beberapa tahun yang lalu. Pria ini bahkan memelukku dengan begitu hangat sebelum menanyakan kabarku dan bagaimana aku bisa tiba-tiba ada di kantor Tempo Surabaya.

__ADS_1


“Benar-benar tipikal pak Reylandi yang seperti tidak bertambah tua. Malah saya pikir pak Rey bertambah muda saja sejak dua tahun yang lalu.” hampir lima menit aku dan pak Reynaldi berbicara ngalor ngidul hingga aku lupa kalau aku membawa serta Faza yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan ocehanku dengan pak Rey. Astaga, aku akan meminta maaf pada Faza setelah ini.


“Dan kamu tetap saja Gibran yang suka membual. Lalu, kapan kamu akan memperkenalkan gadis cantik ini pada saya, anak muda? Istri kamu?” aku tidak tahu bagaimana reaksi Faza saat ini sebab aku terlalu senang karena pak Reynaldi menebak Faza sebagai istriku, bukan adikku. Dan, itu artinya Faza Aulia memang pantas menjadi istriku ‘kan?


“Doanya saja, pak.” Oke, mungkin setelah keluar dari kantor Tempo nanti, Faza pasti akan memasang wajah penuh permusuhan denganku. “Dan saya pikir pak Rey sudah kenal dengan Faza Aulia?”


“Faza Aulia? Astaga, benar juga. Kenapa saya bisa lupa pada kamu? Ini bukan pertama kalinya kamu datang ke Tempo ‘kan? Maaf, terlalu banyak orang yang saya temui sampai lupa pada kamu, Faza.” Untuk beberapa saat aku terkesima pada cara Faza tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada saat pak Rey mengulurkan tangan kananya untuk menjabat gadis itu. Tapi alih-alih tersinggung, pria ini justru tersenyum aneh kearahku dan mengerlingkan mata kirinya padaku.


“Tidak apa-apa, pak. Hal yang wajar kalau orang sesibuk pak Reynaldi tidak ingat siapa saya.”


“Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin saya dan Faza bicarakan dengan pak Rey. Bapak punya waktu sebentar?”


“Berapapun waktu yang kalian butuhkan. Mari ke ruangan saya.”


Tepat seperti apa yang kupikirkan selama aku dan Faza berada di ruangan pak Rey untuk negosiasi masalah sponsor dan pengajuan proposal seminar, kalau setelah kami keluar dari gedung, Faza pasti akan memasang wajah permusuhan padaku. Gadis itu bahkan sudah beberapa kali menghala napas kesal begitu kami keluar ruangan pak Rey dan berpamitan pada pria itu. Tapi alih-alih tersinggung karena mahasiswiku telah bersikap tidak sopan padaku, aku justru tersenyum aneh dan membuat Faza semakin jengkel.


“Baiklah, dengan senang hati Tempo press akan menjadi salah satu sponsor untuk acara seminar di kampus kalian.”


Aku bahkan masih ingat bagaimana reaksi Faza saat pak Rey dengan begitu mudah menandatangani berkas permohonan sponsor yang gadis itu ajukan. Pria itu bahkan menuliskan nominal angka yang tidak sedikit untuk dia berikan sebagai dana sponsor.


“Semoga acara seminar nasionalnya sukses, dan sukses juga untuk hubungan kalian.”


“Terima kasih banyak, pak.”


Dan kalimat itulah yang membuat Faza uring-uringan seperti remaja labil padaku begitu kami keluar dari ruangan pak Reynaldi. Sebenarnya bukan kalimat pak Rey yang membuat gadis itu memasang wajah permusuhan padaku, tapi justru kalimatkulah yang membuat Faza jengkel.


Hanya saja, terkadang ada saat dimana aku bisa tiba-tiba menjelma menjadi pria muda yang sedanh jatuh cinta. Membiarkan orang lain beranggapan yang tidak tidak tentang hubunganku dengan Faza, hingga melihat reaksi gadis itu. Entahlah, barangkali perasaanku memang sudah dikendalikan oleh gadis muda ini.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2