Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
37. Assalamu'alaikum Cinta (1)


__ADS_3

Faza


Awalnya kupikir hari pernikahanku hanya akan berjalan biasa saja sebab aku sendiri sadar kalau tidak banyak yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan pernikahan dalam waktu tiga minggu. Aku yang hari kamis kemarin bahkan masih sibuk mengikuti ujian akhir semester benar-benar tidak bisa ikut mengurus pernikahanku sendiri. Bahkan mas Wahyu yang mengurus baju pengantinku dan mengantarnya ke kamarku dua hari yang lalu.


Tidak ada acara khusus yang kami rencanakan setelah acara ijab qabul dilaksanakan. Tidak ada undangan untuk teman-temanku kecuali Hana dan Ainun yang kuhubungi dua hari yang lalu. Juga tidak ada rencana-rencana lain yang biasanya direncanakan oleh pasangan pengantin selepas akad nikah. Yah, kupikir hal itu tidak penting juga karena yang terpenting adalah sahnya kami menjadi suami istri.


“Memang apa yang kamu harapkan dari pernikahan yang hanya disiapkan dalam waktu tiga minggu, Za?” aku bahkan sempat membisikkan kalimat itu beberapa kali selepas sholat subuh dan aku diminta untuk mulai bersiap-siap oleh ibu.


Tapi nyatanya dugaanku salah. Aku memang tidak ikut terlibat dalam mempersiapkan pernikahanku dengan mas Gibran, tapi mas Wahyu, ibu, dan abah melakukannya untukku. Dekorasi yang semula kupikir hanya akan sangat biasa ternyata dibuat sangat cantik atas permintaan mas Wahyu. Juga gaun pengantin yang kakak laki-lakiku pilihkan benar-benar cantik dan pas ditubuhku. Dan aku tidak tahu kalau seorang exterior designer seperti dirinya bisa mengurus gaun pengantin untuk adik perempuannya.


“Sayang sekali kalau pengantin secantik ini harus ditutup dengan kain cadar.” Goda mbak Retno, tetangga sekaligus saudara jauh ibu yang membantuku bersiap-siap dan merias wajahku. “Tapi memang kencantikan seorang wanita yang sebenarnya hanya boleh dilihat oleh suaminya.” Imbuh mbak Retno yang membuatku mengulum senyum tipis sembari mengikuti perintah mbak Retno yang masih sibuk merias wajahku.


Tepat saat aku membuka mata, seorang perempuan muda dengan gamis lebar warna marun dan jilbab lebarnya berdiri di ambang pintu kamarku sembari mengulum senyum bahagia. Dan ini adalah satu dari dua kejutan terbaik yang kudapatkan dihari pernikahanku.


“Ainun,” kupikir karena aku menghubungi Ainun dua hari menjelang pernikahanku dengan mas Gibran sementara Ainun sekarang menetap di Semarang, dia tidak akan datang ditambah kondisinya yang sedang hamil. Tapi nyatanya dia ada disana. Ainun berjalan kearahku dan memelukku lama yang nyaris membuatku menangis karena haru kalau saja mbak Retno memintaku untuk tidak menangis.


“Kupikir kamu tidak akan datang, Nun.”


“Maaf baru bisa datang hari ini, Za. Aku sebenarnya ingin datang sejak semalam dan menemani kamu pengajian, tapi suamiku baru bisa hari ini.” ucapnya penuh sesal setelah melepaskan pelukanku dan menyentuh sisi wajahku dengan lembut. “Dan apa kamu pikir aku setega itu sampai tidak datang dihari pernikahan saudariku?”


“Terima kasih.”


“Dan aku membawa kejutan untuk kamu.”

__ADS_1


Dan kejutan yang Ainun bawa untukku menjadi kejutan terbaik yang kudapatkan pagi ini. Kejutan yang lagi-lagi membuatku nyaris menangis karena saking terharunya. Lagi-lagi di ambang pintu kamarku, seorang wanita paru baya berdiri dan menyungging senyum tulus sementara ditangannya sebuket bunga lili segar yang tampak sangat indah.


“Ummi,” kali ini aku yang bangkit dari kursiku untuk menghampiri ummi Usammah dan memeluk wanita itu. Benar-benar mengejutkan saat mendapati ibu asuhku ini ada dirumahku sementara aku tidak pernah mengatakan padanya tentang pernikahan ini.


“Ummi tahu darimana kalau hari ini Za menikah?” tanyaku selayaknya seorang anak yang lama tidak bertemu dengan ibunya. Mengajak ummi Usammah duduk di tepi ranjangku dan membuat Ainun serta mbak Retno menggelengkan kepala melihat tingkah manjaku kepada ummi Usammah.


“Ainun yang mengabarkan pada ummi. Dan kenapa kamu tega sekali tidak mengundang ummi ke acara pernikahan kamu?”


“Acaranya mendadak, mi. Za saja tidak sempat menyiapkan apa-apa.” Belaku yang membuat ummi Usammah mencubit pipiku sebelum kembali memelukku dengan lembut.


“Bismillah, semoga ini adalah pernikahan pertama dan terakhirmu, sayang. Semoga Allah berkahi pernikahan kalian berdua dan Allah karuniakan kebaikan-Nya untuk kalian berdua.” ucap ummi dengan lembut sebelum menyerahkan sebuket bunga lili segar yang sejak tadi dibawanya kepadaku.


Dan aku baru saja ingin kembali memeluk ummi dan mengucapkan terima kasih saat dua orang perempuan kembali masuk kedalam kamarku bersama ibu. Seorang perempuan seusia ibu dan satu perempuan lagi yang mungkin seusia dengan Ainun, tapi dia terlihat lebih muda. Dua orang perempuan itu terlihat cantik dengan kebaya panjang dan jilbab abu-abunya.


“Masya Allah, cantik sekali anak perempuan mama.” Ucap perempuan itu sembari mendekat kearahku dan memelukku. Dan tanpa bertanyapun aku sudah tahu siapa wanita ini meski sebenarnya aku belum pernah melihatnya. Dialah Liana Wibisana, ibunda mas Gibran yang tinggal di Jakarta.


“Selamat datang, bu.” Ucapku pada akhirnya setelah Renata melepas pelukannya dariku dan meraih tangan kanan ibu Liana dan menciumnya dengan takzim.


“Panggil mama, sayang.”


“Assalamu’alaikum, ma.”


“Wa’alakumsalam, Faza. Maaf baru bisa bertemu hari ini, nak.” Seolah orang-orang yang hadir dihari pernikahanku hari ini sedang mencoba untuk mengurangi kegugupan yang kurasakan sejak semalam. Pun begitu dengan mama yang dengan lembut mencium keningku seolah dia ingin mengatakan kalau semua akan berjalan lancar dan semua akan baik-baik saja. “Selamat datang di keluarga besar Wibisana, sayang.”

__ADS_1


“Dan biarpun usiaku dua tahun lebih tua dari kamu, aku akan tetap memanggil kamu mbak.” Ucap Renata yang membuat semua orang yang ada di dalam kamarku tertawa karenanya. “Tapi yang terpenting, selamat bergabung menajdi bagian dari keluarga Wibisana, kakak ipar.”


Dan tawa serta candaan kami baru berhenti saat mbak Rento mengatakan kalau acara ijab qabul akan segera dimulai dan aku harus segera siap. Beruntung karena aku tidak memakai banyak perhiasan dan cukup dengan jilbab sederhana dan sebuah hiasan kepala. Itulah kenapa aku tidak perlu membuat mbak Retno uring-uringan karena butuh waktu lama untuk mempersiapkan riasan pengantin perempuan.


“Berdoalah, mintalah kepada Allah agar meridhoi pernikahan kalian hari ini, nak.” Ucap ummi Usammah sembari memasangkan kain cadar diwajahku dan menuntunku keluar kamar. Duduk disampingku dan mengganggam tangan kananku selama prosesi ijab qabul dilakukan di luar rumah. Mendengarkan dengan seksama setiap kata yang penghulu ucapkan untuk kami berdua, juga rentetan kalimat arahan yang diberikan pada mas Gibran sebelum melakukan ijab qabul bersama abah.


Dan rasa gugupku justru semakin menjadi-jadi saat para saksi menyatakan kalau pernikahan kami sah setelah mas Gibran berhasil mengucapkan kalimat ijab qabul dalam sekali tarikan napas. Rasa gugup yang bercampur dengan perasaan lega saat abah memimpin do’a untuk kami berdua dan untuk para tamu undangan dengan suara serak.


“Alhamdulillah,” bisikku setelah abah selesai membaca rangkaian do’a dan ummi serta Ainun mendampingiku berjalan keluar rumah untuk menghampiri abah dan mas Gibran.


Suamiku.


Ah, rasanya aneh sekali saat aku menyebut pria itu dengan kata ‘suamiku’ meski nyatanya hari ini dia memang telah sah menjadi suamiku. Aku tidak berbohong saat mengatakan kalau aku masih sangat canggung saat abah memintaku untuk duduk di samping mas Gibran dan menandatangani buku nikah milikku. Aku bahkan bisa merasakan tanganku yang gemetar dan membuat abah meledekku serta mengundang tawa tamu yang hadir hari ini, termasuk mas Gibran.


“Terima kasih, mas.” Benar, rasanya memang canggung sekali saat aku mengulurkan tangan kananku dan membiarkan mas Gibran memakaikan sebuah cincin dijari manisku. Tapi rasa canggung dan gugup yang sejak tadi kurasakan menguar begitu saja saat pria ini menyentuh puncak kepalaku dengan tangan kanannya dan memanjatkan serangkaian do’a untukku. Dan rasa canggung itu berganti menjadi kebahagiaan yang membuncah didalam hatiku saat dengan begitu lembut mas Gibran mencium keningku tanpa ragu di hadapan seluruh tamu yang hadir hari ini.


“Tabarakallah, sayang.”


Sayang.


Lagi-lagi rasanya memang terlalu terburu-buru jika mengingat kalau bulan lalu, mas Gibran bahkan berpaling dariku saat aku mengakui perasaanku padanya. Rasanya seperti segalanya terjadi begitu cepat saat mengingat kalau bulan lalu, banyak sekali kejadian yang membuat kami saling memunggungi meski pada awalnya kami sempat bersitatap.


Tapi panggilan ‘sayang’ yang mas Gibran berikan padaku hari ini, dan sentuhan yang kudapat darinya hari ini membuat mataku terbuka dan mengerti. Bahwa jika Allah telah berkehendak, apapun dapat terjadi.

__ADS_1


Ya, bukankah Allah-lah Sang Maha Pengatur segala? Sama seperti Dia yang mengatur agar Gibran Wibisana-lah yang akan menjadi penggenap separuh agamaku.


* * * * *


__ADS_2