
Gibran
Hampir sepuluh menit, dan seperti tidak ada yang ingin memulai pembicaraan terlebih dahulu diantara kami berdua. Aku yang masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria dihadapanku, yang tak lain adalah Arifin Putra, sementara pria itu yang seperti sedang menimbang kalimat yang ia ingin katakan padaku.
Setelah apa yang terjadi antara aku dan Faza tempo hari di pelataran kampus dan kenyataan yang kutahu kalau Arifin Putra-lah yang menjadi calon suami Faza, mustahil aku masih bisa melihat Arifin sebagai seorang teman lama. Bukan berarti aku menganggap Arifin sebagai musuh yang telah merebut Faza dariku, hanya saja aku tidak bisa melihat Arifin dan menganggap pria itu sebagai teman lamaku tanpa terbayang tangisan Faza sore itu. Itulah kenapa aku memilih diam dan menunggu hingga Arifin membuka suara dan mengatakan padaku kenapa dia memintaku untuk menemuinya di kedai kopi sore ini.
“Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Rif?” tanyaku tak urung juga karena tidak tahan dengan situasi kami.
Setengah jam yang lalu, saat aku baru saja melangkah keluar dari kantor fakultas dan hendak pulang, sederet nomor tak kukenal menelepon dan membuatku mengerutkan kening tidak mengerti. Hanya sebentar, sebelum kerutan kening itu berganti menjadi emosi yang bahkan aku sendiri sulit menerjemahkannya saat si penelepon menyebutkan namanya. Memintaku untuk menemuinya di kedai kopi tempat terakhir kali kami bertemu tanpa berbasa-basi menanyakan kabar, atau sekedar mencari tahu apakah aku sedang sibuk atau tidak.
“Ada banyak yang ingin kubicarakan dengan kamu, mas.” Dan jawaban Arifin tak gagal membuatku tersenyum kecut dan meraih cangkir dihadapanku. Menyesapnya perlahan untuk mengurai kegusaran yang kurasakan.
Aku tahu kalau tujuan Arifin mengundangku ke kedai kopi sore ini bukan hanya untuk sekedar ngopi bersama seperti yang pernah kami katakan sebelumnya. Alasan kenapa kami duduk berhadapan seperti ini adalah karena kejadian di pelataran parkir tempo hari. Tidak ada yang lain.
“Jangan bertele-tele lah, Rif.” Tidak, aku bukan kesal karena saat ini aku sedang berhadapan dengan pria yang akan menjadi suami Faza. Tapi rasanya ada sesuatu yang membuatku kesal setengah mati setiap kali pandanganku mendapati wajah tenang milik Arifin.
“Aku membatalkan rencana pernikahan kami.” Ucapnya datar setelah mengela napas berkali-kali dan membuatku mengerutkan kening. Tentu saja aku mengerutkan kening mendengar Arifin mengatakan hal itu dengan begitu ringan seolah dia baru saja membatalkan pesanan nasi goreng pada pelayan yang menghampirinya.
“Memang kedengarannya jahat sekali, tapi kurasa ini adalah keputusan terbaik yang sanggup kuambil.” Sambungnya sembari mengulum senyum tipis dan membalas tatapanku setelah beberapa saat yang lalu Arifin sibuk mengamati jalanan di depan kedai dari jendela disampingnya.
“Kamu mengatakan hal seperti itu seolah kamu sedang mengatakan padaku kalau pekan depan kamu batal berkunjung kerumahku, Rif.”
“Aku yang lebih tahu apa yang kurasakan, mas.” Balas Arifin seolah aku telah mengatakan sesuatu yang salah dan amat membuatnya kesal. Pria itu bahkan menatapku dengan begitu tajam seolah aku telah mencuri satu dari dari dua ginjalnya yang berharga itu.
“Jangan mas Gibran pikir aku tidak terluka dengan keputusan ini.” sambungnya dengan nada yang lebih bersahabat dari sebelumnya.
Dan perubahan emosi Arifin sejak tadi cukup untuk membuatku sadar dan mengerti kalau Arifin Putra tidak dengan senang hati membatalkan rencana pernikahannya dengan Faza.
“Kenapa kamu melakukannya?” tapi nyatanya bukan hanya Arifin saja yang emosinya terpantik sore ini. Pun begitu denganku yang sekuat tenaga menahan diri agar tanganku tidak bergerak diluar kendali dan memukul wajah Arifin. Kenyataan bahwa Arifin begitu mudah mengatakan kalau rencana pernikahannya dengan Faza telah ia batalkan membuatku berpikir kalau Arifin telah begitu merendahkan harga diri seorag Faza Aulia.
“Kamu mendatangi keluarganya, merencanakan pernikahan dengannya, dan kemudian dengan begitu ringan kamu katakan padaku kalau kamu sudah membatalkan rencana pernikahan itu. Katakan padaku, Rif. Laki-laki macam apa kamu sebenarnya?” sambungku penuh dengan penekanan yang membuat Arifin mendengus dan menyesap kopi pesanannya yang sejak tadi hanya ia abaikan.
“Kamu bertanya aku lelaki macam apa? Aku memang tidak sebaik apa yang terlihat, tapi setidaknya aku juga tidak sebrengsek apa yang mas Gibran pikirkan saat ini.”
Sekarang aku mulai berpikir, jika saja aku dan Arifin bukanlah dua orang yang sudah saling mengenal dan pernah bertemu tiga tahun yang lalu, akan menjadi seperti apa pembicaraan kami sore ini? Ah, barangkali akan ada baku hantam antara aku dan pria ini.
“Aku mencintai Faza, meski aku tidak tahu siapa diantara kita berdua yang lebih mencintainya, mas. Hanya saja aku cukup tahu diri kalau Faza sama sekali tidak mencintaiku.” Kali ini Arifin kembali tertawa kecut sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bukan, bahkan sejak awal Faza tidak pernah menyukaiku barang sedikit saja.”
“Kamu membatalkan rencana pernikahan kalian karena kamu mendengar pengakuan Faza padaku?”
__ADS_1
“Kurasa kalian memang berjodoh, mas. Faza juga menanyakan hal yang sama padaku.”
“Rif.!”
“Jika saja mas Gibran yang ada diposisiku. Jika saja mas Gibran yang menyaksikan dengan mata kepala mas Gibran sendiri saat Faza mengakui perasaannya padaku, apa yang akan mas Gibran lakukan? Keputusan seperti apa yang akan mas ambil saat melihat gadis yang mas cintai menangis dan mengakui perasaannya pada pria lain sementara kalian akan menikah sebentar lagi?”
Jadi karena pengakuan Faza tempo hari. Sebesar itukah kesalahan yang telah kami lakukan hingga semesta menghukum kami seperti ini? Lantas, siapa lagi yang harus kusalahkan disini selain diriku sendiri atas situasi yang menjeratku dan menyiksa Faza? Siapa lagi yang harus kusalahkan kecuali diriku sendiri untuk semua kekacauan ini? Jika saja saat itu aku tidak menahan Faza dan tidak bertanya tentang dirinya, apakah semua masih baik-baik saja? Ah, lagi-lagi aku menyesali sesuatu yang terjadi di masa laluku.
“Kalau kamu memang mencintai Faza, tidak seharusnya kamu membatalkan pernikahan kalian. Tidakkah kamu paham kalau keputusan kamu membuat Faza terluka, Rif? Sejauh mana kamu memahami Faza sampai kamu ambil keputusan sebesar ini?”
“Sudah kubilang ‘kan mas kalau aku tidak ingin melukai Faza terlalu dalam? Faza mencintai kamu. Lantas bagaimana bisa aku menikahi gadis yang sudah menambatkan hatinya untuk pria lain, mas?”
Dan dua detik kemudian aku baru menyadari jika saat ini aku benar-benar terlihat seperti seorang pria yang telah menghancurkan hubungan orang lain.
“Pengakuan itu hanya angin lalu, Rif. Tidakkah kamu menyadarinya? Untuk apa Faza menerima pinangan kamu kalau dia tidak mencintai kamu? Tidakkah kamu bisa berpikir sejauh itu?” kulepas kacamataku dengan gusar dan sebelum mengusap wajah dengan kedua tangan.
Sungguh, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran pria dihadapanku ini. Aku memang mencintai Faza, tapi aku sama sekali tidak berniat untuk menjadi penghalang pernikahan gadis itu dengan Arifin Putra.
“Itu artinya mas Gibran yang belum benar-benar memahami, Faza.”
“Sorry?”
“Kalau mas Gibran memang memahami seperti apa Faza Aulia itu, harusnya mas paham kalau apa yang Faza ucapkan tempo hari bukanlah angin lalu. Harusnya mas Gibran paham kalau gadis seperti Faza tidak akan semudah itu mengakui perasaannya pada seorang pria.”
“Faza mencintai kamu, mas. Dan satu-satunya alasan kenapa Faza menerima lamaranku adalah karena dia tidak ingin mengecewakan abahnya.” Sambung Arifin yang nampak menimbang kata-kata dalam kepalanya sebelum memilih untuk diam.
“Aku ingin menikahi Faza, mas. Aku ingin menjaga Faza sebagai istriku, sebagai kekasih halalku. Hanya saja, bukan aku laki-laki yang Faza inginkan untuk menjadi suaminya.”
“Dan kamu ingin menyerahkan Faza padaku karena gadis itu telah mengakui perasaannya padaku?” tanyaku tanpa tedeng aling-aling karena aku sendiri sudah benar-benar kehilangan kata-kata untuk semua kalimat yang Arifin katakan padaku. “Serendah itu Faza dimatamu, Rif?”
“Jika aku tetap menikahi Faza, lantas pernikahan seperti apa yang nantinya akan kami jalani, mas? Harus sampai kapan aku menunggu hingga Faza bisa mencintaiku dan perasaannya terhadapmu bisa memudar?” Hingga detik ini, aku bahkan belum benar-benar mamahami perasaan yang Faza sampaikan padaku tempo hari.
Aku tahu jika semua yang Faza katakan padaku hanyalah sebuah angin lalu, maka tidak mungkin gadis itu akan menangis seperti itu. Sungguh, tidak ada rasa sekedar angin lalu yang membuat kami tersiksa seperti ini. Tapi mendengar semua alibi Arifin tentang pembatalan rencana pernikahannya dengan Faza tidak lantas membuatku segera bangkit dan mendatangi keluarga gadis itu di rumahnya.
“Meski aku tidak bisa membuat Faza jatuh cinta padaku, setidaknya aku tidak membuat Faza terluka karena harus bersanding di pelaminan bersamaku.”
“Tanpa kamu sadari kamu telah melukai perasaannya, Rif.”
“Dan luka itu akan sembuh saat Faza telah bersamamu, mas.” Merelakan seseorang yang kucintai untuk bersama orang lain, jika saja kami bertukar posisi, sanggupkah aku melepaskan seperti yang Arifin lakukan?
__ADS_1
“Tolong jangan anggap Faza sebagai gadis murahan yang kuserahkan padamu karena aku tidak ingin memilikinya, mas. Demi Allah, Faza adalah gadis paling terjaga yang pernah kutemui selama ini.” aku tahu betul ada sesuatu yang begitu besar yang saat ini mengganggu Arifin dan menyesakkan dada pria ini. Aku bisa merasakannya dari setiap kalimat yang dia ucapkan dengan begitu berat.
“Tolong gantikan aku menjaga Faza, mas. Tolong jaga mutiaraku.”
“Kamu ingin aku menikahi Faza?”
Sebenarnya, tanpa bertanya seperti itu-pun aku sudah paham jika maksud dari semua yang Arifin katakan padaku adalah Arifin ingin aku melamar Faza dan menggantikan dirinya sebagai pengantin laki-laki. Tapi kupikir tidak ada laki-laki yang bisa menerima begitu saja maksud dan permintaan Arifin tanpa bertanya apa yang sebenarnya ada dalam kepala pria ini.
“Sungguh Rif, bagaimana kamu bisa mempermalukan Faza sampai sejauh ini?”
“Tolong berhenti berpikir kalau aku sedang merendahkan harga diri Faza, mas.!” Arifin memang tidak berteriak, tapi aku merasakan penekanan yang amat kentara dari kalimatnya. “Aku menghormatinya selayaknya aku menghormati ibu dan adik perempuanku. Tidakkah mas Gibran berpikir kalau inilah jalan yang Allah pilihkan untuk kita bertiga? Jika aku dan Faza memang ditakdirkan untuk menjadi sepasang suami istri, tidak mungkin sekarang aku duduk didepanmu dan berbicara panjang lebar seperti ini.”
Lagi-lagi seperti ada tangan tak kasatmata yang menampar wajahku dengan begitu keras saat aku memikirkan kalimat Arifin. Tentang semua yang kami alami yang tidak lepas dari campur tangan Allah didalamnya. Tentang segala hal yang tidak akan terjadi tanpa seijin dari-Nya termasuk saat Arifin meneleponku dan memintaku untuk berbicara berdua di tempat ini. Akal sehatku mungkin memang sedang sedikit bermasalah hingga aku lalai memikirkan hal sepenting itu.
“Bagaimana dengan keluarga Faza?” tanyaku pada akhirnya. Menyerah untuk terus mendebat Arifin tentang keputusan yang ia ambil.
“Abah sangat marah saat tahu aku membatalkan rencana pernikahan kami karena aku tahu kalau Faza telah mengakui perasaannya pada mas Gibran.”
“Faza mengakui semua itu pada keluarganya?”
“Dan akhir semester ini Faza diminta oleh abah untuk kembali ke Blora.”
“Apa?”
Kali ini aku bahkan nyaris berteriak jika saja aku tidak ingat kalau banyak orang yang mengunjungi kedai kopi ini. Apa maksud Arifin dengan ‘diminta untuk kembali’?
“Faza diminta cuti kuliah selepas semester ini dan abah akan mengirimnya ke Blora. Ke pondok pesantren tempatnya dulu mondok.”
“Demi Allah, Rif. Bukan Faza yang bersalah atas pengakuan itu.! Dia tidak akan mengakuinya kalau aku tidak menahannya dan bertanya tentang laki-laki yang mengkhitbahnya. Tidak seharusnya dia dihukum sampai sejauh ini.”
Ya, rasanya tidak adil sekali saat seorang gadis yang hanya mengakui perasaannya pada seorang pria lantas harus dihukum dengan diasingkan di sebuah ponsok pesantren. Sementara diluar sana banyak sekali gadis-gadis yang bahkan melanggar norma agama dengan berzina dengan lawan jenisnya, namun mereka dibiarkan berkeliaran begitu saja. Rasanya tidak adil sekali kalau Faza harus disingkirkan hanya karena pengakuaannya padaku sementara gadis itu bahkan tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan lawan jenis, termasuk aku.
“Itulah kenapa aku berbicara seperti ini pada kamu, mas. Aku ingin mas Gibran menemui abah dan minta restunya untuk menikahi Faza.”
“Menikah bukan perkara semudah itu, Rif.”
“Memang benar. Tapi apa mas Gibran ingin kehilangan Faza untuk kedua kalinya karena dia akan diasingkan ke Blora tiga minggu lagi? Setidaknya temui keluarganya, mas. Tolong bujuk abah dan katakan kalau kamu mencintai Faza dan akan menjaganya.”
Mencoba mendatangi keluarga Faza dan memohon restu untuk meminang gadis itu. Betapa keinginan itu sudah tertanam kuat dalam hatiku bahkan jauh sebelum hari ini.
__ADS_1
Aku ingin sekali mendatangi keluarga Faza dengan cara terhormat dan menjemput gadis itu dengan cara yang mulia. Tapi pertanyaanku sekarang adalah, sudikah keluarga Faza menerima laki-laki yang telah menjadi penyebab batalnya pernikahan anak gadis mereka dengan Arifin Putra?
* * * * *