Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
10. Dia, Seseorang dari masa lalu (2)


__ADS_3

Ini bukan pertama kalinya aku duduk di markas LPM kampus seperti ini dan mendiskusikan banyak hal bersama teman-teman LPM.


Sungguh, setiap minggu kami semua, para anggota LPM kampus berkumpul di ruangan ini dan membahas tentang wacana-wacana atau berdiskusi tentang tulisan-tulisan yang akan kami buat minggu berikutnya. Bahkan tidak jarang aku menjadi begitu bersemangat hingga lupa waktu dan harus diingatkan oleh Aruna atau Tania kalau sudah waktunya sholat ashar.


Tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda dari biasanya. Entah sudah berapa kali aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sejak aku memasuki ruang rapat ini lima belas menit yang lalu. Ini persis seperti saat pertama kali aku mengikuti LPM kampus untuk berkumpul bersama para kakak tingkat dan aku menjadi anggota termuda di LPM ini.


“Yang benar saja, ini tahun ketigamu di LPM, Za. Kenapa harus segugup ini sih?” gumamku kesal sendiri sembari mengeluarkan sebuah bloknote dari dalam ransel hitamku, tepat saat seseorang memasuki ruang rapat dan memberikan salam.


Dan aku semakin nelangsa saat menyadari jika orang yang baru saja memasuki ruang rapat tak lain adalah pak Gibran, Pembina LPM kami yang baru. Sungguh, aku tidak tahu kalau perasaan yang muncul dari seorang lawan jenis bisa semenyiksa ini. Pantas sejak dulu Ummi Usammah selalu memberiku wanti-wanti agar menjaga hati dari perasaan semacam ini.


Selama tiga tahun sejak aku keluar dari pondok pesantren aku selalu berhasil mengendalikan diri dari perasaan-perasaan yang muncul karena seorang laki-laki mencoba mendekatiku dan memperlakukanku seolah aku adalah orang istimewa. Bahkan saat mas Iman, salah satu seniorku begitu gencar mendekatiku, aku masih bisa mengendalikan perasaanku dengan baik. Aku selalu bisa menganggap apa yang mas Iman lakukan sebagai angin lalu yang tidak harus kutanggapi, meski bukan hanya sekali aku merasa bersalah pada pria itu.


‘Bukankah itu artinya pak dosen itu begitu istimewa hingga bisa membuat kamu kalang kabut seperti ini, Za?’


Entah pikiran apa dan darimana datangnya hingga kalimat-kalimat seperti itu seperti berjejalan didalam kepalaku. Membuatku menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Mengusap wajah dengan kedua tangan dan berulang kali beristighfar agar perasaan seperti ini tidak menjadi-jadi.


‘Akui saja kalau kamu memang menaruh rasa pada pak dosen itu, Za.’


Menaruh rasa? Memang rasa seperti apa yang bisa ditaruh sembarangan seperti itu? Sungguh, tidak ada hal apapun yang terjadi antara aku dan pak Gibran sebelum ini kecuali aku yang menawarinya sebuah payung tempo hari. Jadi bukankah berlebihan jika aku dikatakan menaruh rasa pada pak Gibran yang adalah dosenku sendiri?


‘Satu perbuatan bisa memunculkan sebuah rasa, Za. Dan sebuah rasa bisa menjelma menjadi rasa-rasa yang lain. Tidakkah kamu sudah paham dengan hal-hal seperti itu?’


Sebuah rasa yang menjelma menjadi rasa-rasa yang lain. Lagi-lagi aku masih terlalu awam untuk hal-hal seperti ini hingga mendeskripsikan sebuah rasa saja aku masih belum sanggup. Kehidupan di pondok pesantren tidak pernah mengajariku untuk hal-hal seperti mendeksripsikan sebuah rasa pada lawan jenis atau semacamnya. Disana aku hanya diajarkan untuk menjaga hatiku agar tidak sampai terjerumus pada hal-hal seperti ini. Aku hanya pernah diajarkan tentang bagaimana menyimpan perasaan seperti ini untuk diriku sendiri dan cukup membaginya dengan Rabb-ku saja.


‘Tidak, aku menghormati pak Gibran sebagai dosenku. Sebagai orang yang menyampaikan ilmu padaku.’


Setidaknya untuk saat ini aku masih melihat pak Gibran sebagai seorang dosen yang menyampaikan ilmu padaku. Cukup seperti itu dan tidak perlu memperbesar perasaan-perasaan aneh yang kurasakan setiap kali tanpa sadar kami saling berpapasan. Biarlah perasaan-perasaan aneh ini kutitipkan pada Rabb-ku saja dan dirawat oleh-Nya. Jika perasaan itu baik untukku, tentu saja perasaan itu akan kembali padaku dengan cara yang baik pula.


________


“Faza,”


Aku baru saja memasukkan bloknote kedalam tas dan melambaikan tangan pada Aruna saat seseorang memanggil namaku. Membuatku menoleh dan menyadari jika di ruang rapat itu hanya tersisa aku dan pak Gibran yang terlihat begitu santai bersandar pada salah satu kursi tanpa berniat untuk duduk. Aku tidak berbohong saat mengatakan kalau pak Gibran terlihat seperti sedang mengamatiku.


“Ya, pak?”


Beberapa saat kami hanya terdiam dan membiarkan detak jarum jam menjadi pengisi kekosongan ruang rapat ini. Pak Gibran yang nampak menimbang dan aku yang mengerutkan kening sembari menunggu kalimat apa yang sebenarnya ingin pria itu ucapkan.


Apa aku melakukan kesalahan selama rapat tadi hingga pak Gibran perlu untuk menahanku di ruangan ini, atau aku telah mengatakan hal yang tidak benar hingga pria ini perlu untuk menegurku? Tapi kurasa tidak, sebab dua detik kemudian pak Gibran mendekati tas ransel miliknya yang tergeletak diatas lantai dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


“Maaf melupakannya terlalu lama, Za.” Ucapnya datar sembari meletakkan sebuah payung lipat yang sudah terlihat usang diatas meja dihadapanku. Sebuah payung lipat warna merah yang warnanya sudah pudar dan empat huruf tertulis pada gagang kayu payung itu.


F.A.Z.A

__ADS_1


Tak urung aku tersenyum sembari menyentuh gagang payung itu. Tentu saja aku ingat payung itu. Payung yang abah belikan untukku saat aku kembali ke Surabaya karena mendapat jatah libur selama seminggu empat tahun yang lalu. Desember 2013. Bahkan abah sendiri yang menuliskan namaku pada gagang payung itu dengan tujuan agar payungku tidak tertukar dengan payung milik penghuni pondok yang lain. Payung merah pemberian abah yang kuberikan pada seorang pria muda yang terlihat terburu-buru saat di stasiun Cepu empat tahun yang lalu.


“Bapak masih mengingat payung ini rupanya.” Itu bukan pertanyaan. Itu adalah sebuah kalimat yang kugunakan untuk memastikan jika pria yang berdiri didepanku ini memang masih ingat saat dimana seorang gadis muda memanggilnya ‘pak’ dan dengan percaya diri menawarinya payung.


“Kamu sudah mengenali saya sejak awal?” tanya pak Gibran yang membuatku tanpa sadar menarik napas dalam.


Tentu saja aku sudah mengenali siapa dosen muda yang baru saja mulai mengajar dikampusku. Dua minggu yang lalu, saat menunggu bus di halte tepat di samping pintu gerbang kampus. Dua minggu yang lalu, saat ingatanku tiba-tiba saja terputar sesaat setelah untuk kedua kalinya aku menawari pak Gibran sebuah payung.


“Saya mengingatnya dua minggu yang lalu,” kuhela napas ringan sebelum melanjutkan kalimat yang memang sengaja kupotong. “Bukan saat pertama kali bapak masuk ke kelas saya, tapi saat lagi-lagi saya menawari bapak payung.”


Entah ini hanya perasaanku saja atau memang seperti ada sebuah beban yang baru saja pak Gibran coba lepaskan dari embusan napasnya sebelum mengulum senyum pada akhirnya.


“Dan kenapa kamu tidak mengingatkan saya saat itu? Kalau kita pernah bertemu empat tahun yang lalu di Blora.”


“Saya rasa sebuah payung tidak pantas kalau diungkit-ungkit setelah empat tahun berlalu, pak.” Dan maksud sebenarnya dari kalimatku adalah, bagaimana mungkin seorang mahasiswi bersapa-sapa ria dengan seorang dosen muda yang baru saja mulai mengajar dikampusnya hanya karena sebuah pertemuan kecil di masa lalu?


“Bagaimanapun payung kamu menyelamatkan saya waktu itu.”


“Senang bisa membantu pak Gibran.”


Melalui perantara sebuah payung. Dan perasaan yang kurasakan kembali bergejolak sore itu. Aku tidak tahu sejak kapan sebenarnya aku merasakan perasaan seperti ini terhadap pak Gibran. Entah sejak dua minggu yang lalu, atau sejak empat tahun yang lalu saat untuk pertama kalinya ada seorang pria yang membuatku tidak mampu berpaling. Saat seorang pria asing yang kutemi di stasiun begitu membuatku terpesona.


“Laki-laki itu, harusnya aku tidak memanggilnya dengan panggilan ‘pak’, Nun.” Aku bahkan masih ingat betul reaksi Ainun saat aku mengatakan hal itu padanya. “Dia masih terlalu muda untuk kupanggil ‘pak’. Bukankah begitu?” dan Ainun, yang sejak tadi misuh-misuh sendiri karena aku justru memberikan payung yang kubawa pada orang lain saat kami berdua juga butuh payung, hanya menaikkan ujung bibirnya untuk menanggapi kalimatku.


“Memang siapa yang peduli dengan panggilan konyol seperti itu, Za? Yang membuatku tidak mengerti adalah kenapa kamu memberikan payung itu padanya?”


“Dia peduli, Nun. Pasti laki-laki itu merasa aneh sekali saat kupanggil ‘pak’ padahal dia masih muda begitu.” Aku bahkan terkikik tanpa tahu diri saat itu. Membuat Ainun menjitak kepalaku dengan tangan kanannya. “Iya, iya, maaf. Tapi aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku harus meminjaminya payung. Kupikir dia bisa saja naik taksi ‘kan? Kenapa dia tidak melakukannya coba?”


Benar juga, kalau dipikir-pikir lagi, saat itu pak Gibran bisa saja naik taksi dan tidak harus berlari ke terminal ditengah hujan deras begitu dengan sebuah payung merah kecil. Tapi nyatanya pria itu justru misuh-misuh sendiri di stasiun yang membuatku tidak tega melihatnya.


“Kupikir dia lebih membutuhkan payung itu dibanding kita, Nun.”


Dan maksud lain dari kalimatku saat itu adalah aku merasa kalau akan ada pertemuan yang kedua antara aku dan pria itu. Meski setelahnya aku melupakan laki-laki muda yang kutemui di stasiun Cepu karena terlalu sibuk dengan kehidupanku selepas keluar dari pondok pesantren dan kembali tinggal di Surabaya.


Dengan mudah aku melupakan laki-laki yang membuatku terpesona ditengah hujan bulan Desember seolah aku tidak pernah bertemu dengannya dan melupakan payung merahku yang kupinjamkan padanya. Lantas, siapa yang menyangka kalau pada akhirnya aku kembali dipertemukan dengan laki-laki muda itu empat tahun berikutnya? Lagi-lagi oleh hujan dan sebuah payung.


* * * * *


Aku baru saja keluar dari kamar mandi saat mendapati mas Wahyu sudah begitu nyaman tiduran diatas ranjangku dan membaca buku yang tadi sempat kubaca. Hanya menoleh dengan tidak acuh saat aku merangkak naik keatas ranjang dan duduk disampingnya. Terkadang kami berdua memang bisa menjadi akrab hingga sering kali kami lupa perbedaan gender diantara kami. Seperti sekarang, aku bahkan tidak merasa aneh sedikitpun saat mulai menulis sementara mas Wahyu begitu nyaman dengan buku ditangannya.


Awalnya kupikir kedekatan kami akan berubah selepas aku berangkat mondok dan hidup terpisah dari kakak laki-lakiku. Sebab saat itu, aku ingat betul bagaimana wajah mas Wahyu saat ikut mengantarku ke pondok pesantren. Bagaimana wajah mas Wahyu yang seperti tidak rela kalau harus hidup terpisah dari adik satu-satunya. Tapi nyatanya kekhawatiranku sama sekali tidak beralasan sebab aku dan mas Wahyu masih dekat seperti sebelum aku berangkat mondok. Kami masih sering bertingkah konyol yang terkadang membuat ibu dan abah mengelus dada melihat tingkah kedua anaknya. Meski jarak usia kami terpaut enam tahun, tidak sekalipun mas Wahyu terkesan mengintimidasiku dengan statusnya sebagai seorang kakak.


“Kamu sudah melihat data diri mas Arifin yang abah bawa kemarin malam, dek?” tanya mas Wahyu setelah hampir setengah jam kami hanya saling terdiam dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Pertanyaan yang membuatku menarik napas dalam dan menghentikan kegiatanku menulis pada bloknote yang sejak tadi menyibukkanku.

__ADS_1


“Sudah,” jawabku singkat yang membuat mas Wahyu beranjak duduk dan menutup buku ditangannya. Duduk bersila dan menatapku dengan tatapan yang benar-benar membuatku tidak nyaman.


“Lalu?”


Yah, meski sebenarnya aku tidak ingin membahasnya, nyatanya aku memang harus memberi kejelasan tentang lamaran yang tempo hari abah bicarakan. Tentang seorang laki-laki bernama Arifin yang berniat untuk melamarku.


“Aku belum memutuskannya, mas.”


“Arifin Putra, sejauh informasi yang mas dapat, dia laki-laki yang baik.”


Arifin Putra. Tentu saja aku sudah membaca data anak laki-laki pak Burhan itu begitu aku membuka pintu kamar dan mendapati sebuah kertas yang berisi data diri seorang laki-laki bernama Arifin Putra.


Dan mas Arifin memang tepat seperti apa yang kubayangkan sebelumnya. Seorang laki-laki muda 27 tahun yang bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asuransi di kota kami. 27 tahun, dan itu artinya mas Arifin ini setahun lebih muda dari pak Gibran. Ah, lagi-lagi pria itu.


“Jika datang seorang laki-laki baik kepada kalian dengan niat untuk menikahi kalian, sementara kalian mengetahui nasab serta derajatnya yang baik pula, maka terimalah. Yang seperti itu lebih baik untuk kalian.” bahkan kalimat yang pernah Ummi Haidar sampaikan padaku beberapa tahun yang lalu tiba-tiba saja terngiang dikepalaku tanpa perintah.


Seolah mendukungku untuk menerima lamaran mas Arifin, meski sebenarnya aku sendiri masih ragu dengan keputusan yang akan kuambil. Apakah aku harus menerima tawaran abah untuk melakukan ta’aruf dengan mas Arifin meski dengan setengah hati, atau menolaknya dan membuat abah kecewa pada anak perempuannya?


Mustahil aku tidak memikirkan tentang mas Arifin setelah aku membaca semua data dirinya mulai dari dimana laki-laki itu menempuh pendidikan SMP hingga menamatkan S1-nya empat tahun yang lalu. Bahkan sudah dua kali aku melirik selembar foto yang terselip diantara dua kertas berisi data diri mas Arifin. Foto seorang pria yang sedang duduk di atas sebuah kursi kerja di sebuah ruangan yang kutebak adalah ruang kerja laki-laki itu.


“Seorang manajer dan mapan. Aku justru heran kenapa mas Arifin mau mengajukan lamaran untuk bocah sepertiku yang bahkan kuliah saja belum lulus, mas.” Tanyaku tak urung juga yang membuat mas Wahyu tertawa.


Tapi sebenarnya bukan itu yang mengganjal pikiranku. Tentu saja tidak semua pria menginginkan seorang wanita karir untuk dijadikan calon istrinya, jadi aku tidak harus seheran itu saat mas Arifin, yang seorang manajer sudi mengajukan lamaran pada seorang Faza Aulia sepertiku.


“Mas Arifin butuhnya istri, dek. Partner untuk meraih surga Allah bersama-sama. Bukan partner bersaing dalam karir.”


“Mas,” panggilku setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan mas Wahyu kembali sibuk dengan buku ditangannya.


“Hm?”


“Kalau aku menolak lamaran ini….” aku bukan bermaksud membiarkan kalimatku menggantung begitu saja, tapi aku berhenti karena memang aku gagal menemukan kata untuk menyambungnya. Aku tidak bisa menemukan kalimat apa yang bisa kugunakan untuk menyampaikan apa yang kurasakan pada mas Wahyu. Aku terlalu takut untuk sekedar mengatakan apa yang kurasakan pada kakak laki-lakiku sendiri.


“Abah sudah menyerahkan semua keputusannya pada kamu ‘kan?” Kali ini mas Wahyu bahkan mennutup bukunya dan kembali menatapku. “Hanya karena mas Arifin adalah anak laki-laki dari sahabat abah, bukan berarti kamu harus menerima lamaran ini sementara kamu sendiri tidak bisa menerimanya.”


Benarkah aku menjadi seperti ini karena tidak bisa menerima lamaran mas Arifin? Kurasa tidak sesederhana itu. Seperti ada sesuatu yang lain yang masih mengganjal di dalam hatiku dan aku masih kesulitan meski hanya sekedar mengatakannya pada mas Wahyu.


“Kamu yang nantinya akan menjalani pernikahan dengan mas Arifin. Jadi tidak ada yang bisa memaksa kamu untuk menerima lamaran ini, sekalipun itu adalah abah.”


“Bukan seperti itu, mas.”


“Atau sudah ada seseorang yang tanpa sadar membuat hati kamu terpaut?”


Seseorang yang membuat hatiku terpaut? Lagi-lagi aku tidak yakin dengan hal seperti itu. Aku memang ragu tentang keputusan apa yang akan kuberikan pada abah tentang lamaran ini. Hanya saja aku tidak tahu apa semua keraguan ini karena aku memang masih belum ingin terikat atau seperti yang mas Wahyu katakan kalau tanpa sadar ada seseorang yang membuat hatiku terpaut?

__ADS_1


Ya Rabb, kenapa masalah perasaan yang menyangkut hati manusia bisa menjadi serumit ini?


* * * * *


__ADS_2