
Faza
“Bagaimanapun, selamat untuk pernikahan kalian.” meski ragu, kuberanikan diri untuk mengangkat wajah dan mencari tahu ekspresi seperti apa yang sedang dipasang oleh pria yang duduk dihadapanku dan mas Gibran saat ini.
“Maaf karena baru bisa datang malam-malam begini. Maaf juga karena mengganggu istirahat kalian.” ucapnya lagi dengan penuh sesal seolah bertamu kerumah sepasang pengantin yang baru saja melaksanakan akad nikah dimalam hari adalah sebuah kesalahan besar.
“Terima kasih, mas.” Ucapku tak urung juga. Menarik napas dalam dan berusaha menyungging senyum untuk pria itu.
Setelah apa yang terjadi pada kami satu setengah bulan yang lalu, rasanya memang seperti tidak mungkin kalau aku masih bisa bersikap biasa saja pada pria ini. Meski saat ini dia menganggapku sebagai istri dari temannya sendiri, tetap saja ada rasa yang mengganjal saat tanpa sengaja tatapan kami bertemu sebelum aku menunduk untuk menghindari tatapan itu.
Arifin putra, laki-laki yang pernah melamarku beberapa bulan yang lalu, namun akhirnya menyerah dan membatalkan rencana pernikahan kami sebulan sebelum tanggal akad nikah.
Setengah jam yang lalu, saat aku baru saja selesai sholat isya dan mas Gibran juga baru kembali dari masjid, mas Wahyu mengetuk pintu kamar kami dan mengatakan padaku dan mas Gibran kalau mas Arifin datang berkunjung.
“Arifin?” tanya mas Gibran tak kalah kaget saat dia baru saja membuka pintu kamarku dan mas Wahyu masih berdiri di ambang pintu dengan canggung. Yah, tidak ada laki-laki yang tidak canggung saat harus mengetuk pintu kamar pengantin baru dimalam pertama mereka. Meski sebenarnya yang kulakukan bersama mas Gibran didalam kamar hanya mengemas barang-barang yang akan kubawa kerumahnya besok pagi.
“Bersama pak Burhan. Mas Arifin bilang ingin bertemu kalian berdua.” jelas mas Wahyu lagi yang membuatku beranjak dari sisi ranjang dan mendekati mas Gibran. “Tapi kalau kalian tidak berkenan bertemu, biar kukatakan pada mas Arifin kalau kalian sudah istirahat.”
“Biar kutemui Arifin sebentar lagi.” ucap mas Gibran pada akhirnya setelah menarik napas dalam dan menutup pintu kamar setelah mas Wahyu mengangguk dan berlalu.
Akupun sadar kalau mas Gibran juga merasakan apa yang kurasakan saat ini. Ada sesuatu yang mengganjal didalam hati kami, namun kami terlalu sulit untuk mengungkapkannya.
“Mas,” awalnya kupikir mas Gibran akan marah karena mantan calon suamiku berkunjung dimalam pernikahan kami. Tapi lagi-lagi pikiranku meleset karena pria ini justru tersenyum tipis dan menyentuh sisi wajahku.
“Tidak apa-apa, mungkin mas Arifin memang datang untuk berkunjung.”
“Bukan begitu,” dan aku tetap saja kesulitan untuk mengatakan apa yang sebenarnya sangat ingin kukatakan meski saat ini mas Gibran dengan sabar menungguku melanjutkan kalimatku yang menggatung. “Tapi…”
“Sayang, mas tahu kalau kamu khawatir pada kami berdua. Tapi sungguh, kami bukan anak kecil yang akan saling mencakar selayaknya dua orang musuh yang kembali dipertemukan.” Seolah mengerti kegundahanku, dengan lembut mas Gibran menarikku kedalam pelukannya dan mencium puncak kepalaku berkali-kali. “Apa mas sudah pernah bilang pada kamu kalau tiga tahun yang lalu mas pernah bertemu dengan Arifin di Malang?” sambung mas Gibran yang membuatku mengerutkan kening meski tidak berniat melepas pelukan suamiku.
“Malang?”
“Iya, saat itu mas sedang mengadakan monitoring dan evaluasi penelitian mas bersama profesor Himawan di Malang, dan mas bertemu dengan Arifin yang saat itu menjadi asisten profesor Erik. Jadi anggap saja kalau malam ini mas bertemu dengan teman lama.”
Dan betapa dunia memang tidak selebar yang kukira selama ini. Jadi mas Gibran dan mas Arifin pernah bertemu tiga tahun lalu? Tapi meski begitu, sanggupkah aku jika harus melihat mas Arifin tanpa kembali teringat apa yang telah kami bertiga lalui beberapa bulan ini?
“Boleh aku ikut bertemu mas Arifin?” tanyaku takut-takut dan tanpa sadar mengeratkan pelukanku pada mas Gibran. Tentu saja aku takut meski sebenarnya aku tahu kalau mas Gibran tidak akan marah hanya karena aku ingin ikut menemui mas Arifin. Aku takut kalau suamiku akan salah paham dengan permintaanku ini. “Aku ingin meminta maaf pada mas Arifin.”
“Kita temui mas Arifin bersama-sama.”
__ADS_1
Dan aku memang tidak bisa menoleh kearah mas Arifin tanpa teringat bagaimana wajah pria itu saat mendatangi rumahku dan mengatakan kalau dia telah membatalkan rencana pernikahan kami. Aku tidak bisa menoleh kearah Arifin Putra tanpa merasa bersalah seperti saat aku menyadari kalau pria itu telah berdiri dibelakangku dimalam saat aku mengakui perasaanku pada mas Gibran. Aku merasa telah menyakiti perasaan mas Arifin dan membuat pria itu mengambil keputusan yang sebenarnya tidak ingin dia ambil.
“Dan maaf untuk semua yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, mas.” Sambungku sembari menunduk dan menautkan kedua tanganku diatas pangkuan.
“Dengan kamu meminta maaf untuk semua yang terjadi diantara kita bertiga sama saja kamu menyalahkan Allah, Za.”
“Mas,”
“Bukankah Allah memang menghendaki semuanya untuk menjadi seperti ini? Bahkan sebelum kita bertiga terlahir ke dunia, Allah sudah mencacat kejadian hari ini. Sama seperti Allah mencatatkan kalau kamu memang berjodoh dengan mas Gibran, bukan denganku. Jadi berhenti merasa bersalah dan kita mulai semuanya dari awal.” Dan mas Arifin cukup bijak untuk tidak mengungkit-ungkit apa yang telah terjadi pada kami beberapa bulan terakhir dan memintaku untuk melupakannya. Membuatku hanya mampu menarik napas dalam dan mencoba membuat akal sehatku menjabarkan jika semua yang terjadi memanglah kehendak Allah. Kami, manusia hanya mampu mengusahakan sementara Allah yang menentukan. Sesederhana itu.
“Biar mulai saat ini kuanggap kamu sebagai istri dari teman baikku, Za. Dan sungguh, aku benar-benar bahagia dengan pernikahan kalian.”
“Rif,”
“Dan maaf kalau dua minggu terakhir ini aku tidak menjawab telepon kamu, mas. Bukan karena apa-apa, tapi ada beberapa hal yang harus kuurus di kantor dan itu nyaris membuatku gila.”
Meski sekeras itu mas Arifin mencoba untuk tidak menampakkannya, tapi tetap saja aku dan mas Gibran masih sanggup menyadari kalau saat ini mas Arifin sedang berusaha untuk tidak menampakkan kegusarannya.
“Kalau begitu aku mohon undur diri, mas. Sekali lagi terima kasih sudah mau datang berkunjung malam ini.”
Memang benar kalau apa yang terjadi adalah tentang kami bertiga, hanya saja rasanya tidak pantas kalau aku tetap duduk di ruang tamu bersama seorang laki-laki yang bukan mahramku. Itulah kenapa aku memilih untuk beranjak dari sisi mas Gibran dan membiarkan suamiku membicarakan apa yang memang harus dia bicarakan bersama mas Arifin.
Bukankah mulai hari ini tanggung jawab terhadap diriku sudah menjadi tanggung jawabnya? Lagipula, hanya akan menjadi fitnah kalau aku tetap duduk disana bersama mas Arifin meski disampingku duduk mas Gibran yang adalah suamiku sendiri.
Biarlah Allah menyembuhkan rasa sakit yang mas Arifin rasakan dan melapangkan hati mas Gibran. Biarlah semua yang terjadi menjadi pembelajaran untuk kami bertiga bahwa dengan ini Allah ingin mengajarkan pada kami untuk mengikhlaskan dan menerima dengan lapang dada takdir yang Ia tuliskan untuk kami.
__________
Aku baru saja meletakkan buku agendaku diatas meja kecil disamping ranjangku saat pintu kamar terbuka dan mas Gibran masuk kedalam kamarku.
“Mas Arifin sudah pulang, dan pak Burhan titip salam untuk kamu.”
Bohong kalau aku mengatakan aku tidak takut dan khawatir kalau-kalau mas Gibran akan marah padaku begitu dia masuk kedalam kamar. Tentu saja aku takut dia akan marah karena bagaimanapun mas Arifin adalah mantan calon suamiku yang pernah melamarku dan merencanakan sebuah pernikahan denganku. Itulah kenapa aku memilih untuk diam dan memperhatikan mas Gibran yang sedang berganti pakaian sebelum merangkak naik keatas ranjang dan duduk disampingku.
“Kamu tidak marah, mas?” tanyaku yang membuat mas Gibran menyipitkan mata dan menoleh kearahku.
“Marah karena apa?”
“Entahlah, hanya merasa kalau mas akan marah padaku karena tiba-tiba mas Arifin berkunjung malam ini.”
__ADS_1
“Kemari,” tapi alih-alih marah seperti yang kupikirkan, mas Gibran justru memintaku mendekat dan menarikku kedalam pelukannya. Lagi-lagi mengirimkan geleyar hangat saat tubuh kami tidak berjarak dan aku bisa mendengar detak jantungnya yang teratur itu. “Mas tidak marah, tapi mas cemburu karena bagaimanapun mas Arifin adalah laki-laki yang pernah melamar kamu. Mas laki-laki dan paham betul kalau mas Arifin masih mencintai kamu meski saat ini dia sedang mencoba mengikhlaskan kamu untuk menjadi istri mas.”
“Maaf, mas.” Jadi itu bukan perasaanku saja? Ah, entah harus berapa kali lagi aku menyakiti hati seseorang. “Maaf karena telah banyak menakiti kalian berdua.”
“Sayang, harus berapa kali mas katakan kalau semua ini bukan salah kamu.” dengan lembut mas Gibran menyusut air mataku dengan ibu jarinya. “Tidak ada yang salah diantara kita bertiga. Biar semua terjadi seperti seharusnya. Bukankah sebagai manusia kita hanya bisa menjalani apa yang sudah menjadi skenario-Nya?”
“Demi Allah, mas. Tidak ada sedikitpun perasaan cinta untuk mas Arifin meski dia pernah melamarku dan merencanakan pernikahan denganku.” Ya, sebab sejak awal satu-satunya pria yang membuatku terpesona dan membuatku merasa nyaman hanyalah Gibran Wibisana. Tidak ada yang lain.
“Iya, mas tahu kalau kamu memang tidak pernah mencintai mas Arifin.”
“Tahu darimana?” tanyaku aneh sembari menyeka ujung hidungku yang terasa gatal karena ingus yang keluar dari hidungku.
“Karena kalau kamu mencintai mas Arifin, kamu tidak akan membiarkan dia membatalkan rencana pernikahan kalian ‘kan? Dan yang jelas kamu juga tidak akan pernah mengakui perasaan kamu pada mas kalau kamu memang mencintai mas Arifin. Bukankah begitu?” tiba-tiba saja wajahku memanas saat mas Gibran menatapku dengan begitu lekat dan aku kembali mengingat malam dimana aku menangis seperti gadis bodoh dipelataran parkir setelah mengakui perasaanku pada mas Gibran.
“Kalau diingat-ingat aku jadi malu sendiri, mas. Pasti dari sekian banyak gadis-gadis cantik yang pernah menyatakan perasaan pada kamu, aku masuk kedalam daftar gadis paling tidak potensial untuk dijadikan istri oleh pria seperti mas Gibran.” Dan aku tidak tahu apa yang lucu dari kalimatku hingga mas Gibran harus tertawa seperti itu sebelum kembali menarik tubuhku dan memeluknya erat. Membuat tubuhku ikut terguncang karena tawanya itu.
“Tidak juga, ah.”
“Bohong,”
“Mas tidak berbohong, sayang. Memang benar kalau kamu adalah satu-satunya gadis yang mengakui perasaannya pada mas di pelataran parkir kampus.”
“Tuh ‘kan.”
“Tapi kamu juga satu-satunya gadis yang membuat mas tidak mampu berpaling bahkan sejak pertama kali mas melihat kamu. Kamu satu-satunya gadis yang mas inginkan, tapi tidak ingin mas sentuh. Bukan karena mas tidak menyukai kamu, tapi karena mas ingin mendapatkan kamu dengan cara yang mulia.”
“Mas,”
“Sejak awal mas memang sudah menginginkan kamu. Bukan untuk mas jadikan pacar, tapi untuk mas jadikan istri dan sandaran setiap kali mas merasa lelah.” Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, ini adalah pertama kalinya aku melihat mas Gibran bukan sebagai dosenku, melainkan sebagai sosok yang lain. “Rasanya memang terdengar seperti mas sedang membual pada kamu, tapi sungguh, mas tidak pernah merasa seyakin dan sebahagia ini.”
“Semua memang sudah seharusnya sesederhana ini. Sesederhana kita yang dipertemukan di Blora empat tahun yang lalu dan kembali dipertemukan empat tahun berikutnya. Sesederhana pertemuan demi pertemuan yang tanpa sadar membuat perasaan mas terpaut pada kamu. Juga sesederhana mas yang terus melangkah hingga kita tiba pada titik ini.”
Dan kurasa segala hal memang akan selalu menjadi mudah dan sederhana saat Allah telah memberikan petunjuk-Nya pada setiap hamba yang Dia kehendaki. Sesederhana seperti yang mas Gibran katakan tentang pertemuan-pertememuan kami. Pertemuan demi pertemuan yang juga tanpa sadar telah membuat hatiku terpaut padanya dan berujung dengan aku yang mengakui apa yang kurasakan terhadap pria ini. Sesederhana aku yang memilih untuk mengaku meski sebenarnya aku tidak ingin melakukannya.
Tapi, bukankah jika Allah telah berkehendak menjodohkan dua hati, maka Dia juga akan menggerakkan keduanya dan bukan hanya satu? Seperti Allah menggerakkan hatiku untuk mengaku dan Allah yang menggerakkan hati mas Gibran untuk melamarku meski saat itu dia tahu kalau dengan melamarku sama saja dia menyulut api kemarahan dalam diri abah. Tapi lagi-lagi Allah maha baik hingga memudahkan jalan kami berdua untuk menikah demi menghindari fitnah.
‘Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.’ (H.R Thabrani dan Hakim)
Dan nikmat Allah mana lagi yang sanggup kudustakan saat hidupku sudah berjalan sedemikian indah? Saat aku menemukan seorang laki-laki yang begitu memuliakanku sebagai seorang perempuan. Saat aku mampu menjaga kehormatanku dan hanya kuberikan pada suamiku. Dan saat aku mampu menjadi penyempurna untuk agama seorang laki-laki yang menjabat tangan ayahku dan mengambil alih tanggung jawab atasku darinya.
__ADS_1
Dan nikmat Allah mana lagi yang sanggup kudustakan saat dalam al-quran Allah bahkan telah berfirman sebanyak tiga puluh satu kali dengan kata yang sama dan berulang dengan makna yang sama. Tidakkah Allah begitu pemurah hingga Dia ulang firmannya hanya agar manusia mudah mengingat dan pandai bersyukur?
* * * * * *