
Faza
Hari pertama ujian tengah semester diadakan, dan aku masih bersikap seolah semua masih baik-baik saja dan tidak ada hal besar apapun yang terjadi padaku dua hari sebelumnya. Aku masih bisa mengerjakan soal-soal mata kuliah ekonometrika dengan tenang dan lancar seperti yang kuharapkan. Meski pada ujian jam kedua, perasaanku mulai tidak karuan hanya karena hal sepele. Yah, hanya karena pada jam kedua aku harus menghadapi ujian mata kuliah fiqih muamalah dan aku harus menuliskan nama Gibran Wibisana sebagai dosen pengampu pada lembar jawab ujianku.
Dan nyatanya, sekeras apapun aku berusaha untuk bersikap biasa saja, semua tidak berjalan sebaik yang kupikirkan. Kejadian dua hari yang lalu begitu mempengaruhiku hingga rasanya hari ini aku enggan sekali untuk bertemu dengan teman-teman kuliahku. Memilih untuk segera berjalan menuju musolah fakultas ekonomi begitu ujianku hari ini telah selesai. Meninggalkan Hana yang menatapku tidak mengerti saat aku meninggalkannya begitu saja dan menuruni anak tangga dengan langkah gontai.
“Hari ini tidak datang ‘ya?” gumamku saat tanpa sadar menahan langkah di pelataran parkir gedung satu. Mengamati deretan mobil yang terparkir disana dan mencari sebuah outlander sport putih yang sudah familier untukku karena aku memang sering mengamatinya.
“Pantas aku tidak melihatnya.”
Entahlah, mungkin orang-orang akan menyebutku gila atau gadis tidak tahu diri karena begitu ingin menyatakan perasaan pada seorang pria disaat ada pria baik hati yang menawarinya sebuah pernikahan.
Mungkin juga orang-orang akan mengataiku bodoh karena menyia-nyiakan laki-laki sebaik mas Arifin sementara diriku hanyalah seorang gadis 20 tahun yang kuliahnya saja belum lulus. Tapi sekali lagi, urusan hati tidak ada yang bisa benar-benar mengerti kecuali Allah sang maha membolak-balikkan hati. Itulah kenapa aku bertekad untuk mengaku kalau aku menyimpan sebuah rasa untuk pak Gibran.
“Setidaknya kamu tidak menahan perasaan kamu terlalu lama dan membuat kamu menderita sendiri, dek.” Aku tahu mas Wahyu hanya ingin aku jujur pada diriku sendiri, juga pada pak Gibran. Tentang bagaimana nantinya pak Gibran menanggapi pengakuanku, itu akan menjadi urusanku nanti.
“Kalau kami memang berjodoh, aku pasti punya kesempatan untuk mengatakannya.” Aku bahkan menggumamkan kalimat itu berkali-kali hingga hari ketiga ujian tengah semester diadakan. Dan hingga hari ketiga itu pula aku tidak melihat pak Gibran di kampus, pun begitu dengan mobilnya yang tidak kulihat terparkir di pelataran parkir gedung satu dimana pria itu biasa memarkir mobilnya.
“Kalau sampai hari jumat kami tidak bertemu, aku tidak akan mengatakan padanya tentang perasaanku.”
Benar juga, kenapa aku baru sadar jika aku harus membuat batas untuk diri dan perasaanku sendiri? Setidaknya agar aku bisa memastikan langkah apa yang setelah ini harus kutempuh, juga tentang bagaimana aku harus mengelola perasaanku terhadap pak Gibran setelah ini. Hingga hari jumat, setidaknya aku harus bersikap tegas pada diriku sendiri sebab aku tidak bisa terus bertingkah seperti gadis tidak tahu diri dengan menggantungkan perasaan mas Arifin.
“Mungkin kami memang tidak berjodoh.”
Hari jumat pagi, dan aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda kehadiran pak Gibran di kampus. Mungkin pria itu sedang melakukan perjalanan keluar kota atau kesuatu tempat karena pada saat ujian seperti ini, tidak ada perkuliahan yang diadakan ataupun kegiata-kegiatan pada UKM kampus. Jadi hal yang wajar saat seorang dosen tidak datang ke kampus saat ujian tengah berlangsung seperti sekarang.
Dan hingga pada hari jumat siang, selepas sholat jumat dan aku baru saja menaiki bus yang sejak tadi kutunggu kedatangannya, dari arah berlawanan sebuah outlander sport yang beberapa hari ini kutunggu memasuki pintu gerbang kampus dan berlalu menuju pelataran parkir. Tepat saat aku menoleh keluar jendela bus dan merasakan dadaku yang tiba-tiba terasa sesak luar biasa.
Inikah jawaban dari permintaanku sejak hari senin kemarin? Inikah saatnya aku harus mulai melupakan perasaanku terhadapnya?
“Inikah jawaban untuk permintaanku ya Allah?”
Setarikan napas kemudian, aku menyadari satu hal bahwa kadang kala ada beberapa hal yang memang harus kurelakan meski sebenarnya aku sendiri belum sempat mengupayakan. Bukan karena aku tidak pantas mendapatkannya, tapi Allah sudah cukup memberi tanda bahwa aku tidak mempunyai kadar untuk hal sebesar itu. Termasuk tentang perasaanku terhadap pak Gibran. Setelah ini, aku akan belajar bagaimana caranya merelakan perasaan yang memang sebenarnya harus kurelakan.
__ADS_1
“Cukup kamu relakan, Za. Insyaa Allah, Allah akan sembuhkan hatimu yang terasa sakit ini.”
* * * * *
Kutatap lamat-lamat gapura bercat hijau muda didepanku yang melengkung sempurna dan menampilkan deretan beberapa huruf hingga membentuk sebuah nama. Pintu gerbang yang sebenarnya sudah familier untukku tapi sejak lima belas menit yang lalu begitu membuatku emosional. Rasanya hampir sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Saat aku mendongak dan mengeja deretan huruf yang terpasang pada gapura ini. Sepuluh tahun yang lalu, saat abah, ibu dan mas Wahyu mengantarku ke tempat ini yang dikemudian hari kusebut tempat ini sebagai rumah keduaku.
‘Pondok Pesantren Darunnajjah.’
Tanpa sadar aku kembali mengulum senyum tipis sebelum menarik napas dalam dan melangkah melewati gapura itu. Tersenyum saat pandanganku menangkap beberapa santri putri yang berjalan santai menuju masjid utama sembari membawa mukenah dan kitab mereka.
Serasa nostalgia tanpa rencana, mataku bahkan memanas saat mengingat kalau tiga tahun yang lalu aku juga pernah seperti itu. Berjalan dari kamarku di ujung bangunan itu bersama Ainun dan teman-temanku yang lain menuju masjid utama untuk melaksanakan sholat ashar disambung mengaji dan baru akan kembali ke kamar pukul sembilan malam.
Tiba-tiba saja aku begitu merindukan saat dimana aku masih menjadi santri dan aku yang masih begitu polos sebagai seorang gadis muda 17 tahun. Aku merindukan Faza Aulia yang belum dikuasai perasaan seperti ini dan Faza Aulia yang belum mengenal lawan jenisnya.
“Sowan ke pondok? Maksud kamu ke Blora?” aku masih ingat betul ekspresi kaget ibu saat aku mengutarakan keinginanku untuk mengunjungi pondok pesantren dimana dulu aku pernah mondok. Jumat malam setelah tanpa sadar aku menangis di dalam kamar sepulang dari kampus dan membuat ibu bertanya-tanya kenapa mataku sembab seperti orang baru saja menangis.
“Kangen pondok, bu. Ingin silaturrahmi dengan ummi Haidar dan ummi Usammah juga.” itu tidak sepenuhnya kebenaran, tapi juga tidak sepenuhnya kebohongan. Aku memang merindukan pondok dan dua ummi-ku disana, tapi alasan terkuat kenapa aku ingin berkunjung ke Blora adalah karena aku ingin menenangkan diri. Aku ingin menepi barang beberapa hari disana dan menenangkan hati juga pikiranku.
“Mau berapa hari? Bukannya besok senin kuliah kamu sudah berjalan seperti biasa?” tanya ibu dengan cemas sembari meletakkan secangkir kopi dihadapan abah yang juga sedang mengamatiku.
“Tidak apa-apa. Besok minta mas-mu untuk mengantar sampai Blora.”
“Terima kasih, bah.”
Dan setelah mendengar petuah macam-macam dari mas Wahyu yang mengantarku sampai depan gapura pondok, dan membiarkan kakak laki-lakiku itu kembali ke Surabaya tanpaku, disinilah aku sekarang. Berdiri di depan sebuah pintu rumah bercat putih gading yang lagi-lagi sudah familier untukku. Tidak banyak yang berubah dari rumah ini sejak terakhir kali aku mengunjungi rumah ini tiga tahun lalu. Pintu kayu bercat putih gadingnya, tanaman pakis disamping rumah yang masih terawat dengan baik. Juga dengan tanaman bunga mawar merah muda yang sudah semakin tinggi dan merambat hingga mencapai jendela. Semua masih sama.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ummi.” Sapaku saat seorang perempuan berjilbab coklat muda membuka pintu untukku dan membalas salam yang memang tadi kuucapkan. Ummi Usammah, wanita setengah baya yang menggantikan peran ibu selama tujuh tahun aku mondok disini.
“Masyaa Allah, Faza? Ya Allah, ini kamu, sayang?” dan aku tidak menunggu hingga menit berganti untuk meletakkan tasku dan memeluk wanita ini. Dan sungguh, aku baru menyadari kalau aku benar-benar merindukan ummi Usammah saat tanpa sadar air mataku turun begitu saja tanpa bisa kutahan.
“Faza pulang, mi.”
_________
__ADS_1
“Kenapa seperti ini, Za? Kenapa kamu menyakiti hatimu sendiri dengan cara seperti ini?”
Entah karena ikatan batin antara kami begitu kuat, atau wanita ini yang terlalu pandai membaca raut wajahku. Ummi Usammah bahkan sudah bisa menebak kenapa tiba-tiba aku bisa berdiri di depan pintu rumah pengurus pondok tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Mendengarkan ceritaku tentang pergulatan batin yang kurasakan sejak dua bulan yang lalu, tentang perasaanku terhadap pak Gibran, juga tentang lamaran mas Arifin. Dan lagi-lagi jawaban ummi sama seperti saran yang Ainun dan mas Wahyu berikan untukku.
“Za hanya tidak ingin menyakiti mas Arifin dan juga abah, mi.”
“Justru sikap kamu yang seperti inilah yang akan menyakiti mereka, sayang. Kamu menerima Arifin hanya karena kamu kasihan, bukan karena cinta.” Lagi-lagi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. “Memang benar rasa cinta bisa tumbuh seiring kalian bersama-sama. Tapi kalau sejak awal kamu menerima Arifin karena kasihan, lantas bisakah dimasa depan kamu membedakan apakah rasa yang kamu miliki untuknya adalah perasaan cinta, atau hanya sekedar kasihan?”
Hanya karena aku kasihan. Benarkah seperti itu? Benarkah kalau aku menerima mas Arifin hanya karena aku kasihan padanya? Kurasa tidak, sebab abah dan mas Arifin bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengatakan bagaimana perasaanku yang sebenarnya dan begitu saja memutuskan tentang pernikahan kami. Lantas bagaimana aku bisa mengatakan kalau aku menerima mas Arifin hanya karen kasihan kalau pria itu saja tidak bertanya padaku apakah aku menerimanya atau tidak?
“Sekarang jawab ummi, Za. Seyakin apa kamu dengan pria bernama Gibran itu? Yakinkah kamu kalau agamanya baik? Yakinkah kamu kalau dia bisa menghormati kamu selayaknya dia menghormati ibunya?”
Seyakin apa aku pada perasaanku terhadap pak Gibran? Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya paham jika hatiku telah terpaut padanya tanpa kusadari dan aku menjadi tersiksa sendiri karena perasaan yang kusimpan untuknya. Aku sudah berusaha untuk memadamkan perasaanku, hanya saja aku tidak tahu kalau memadamkan sebuah perasaan yang sudah terlanjur menyala bukanlah perkara mudah.
“Sejauh apa kamu mengenal laki-laki bernama Gibran itu, Za?” tanya ummi Usammah lagi setelah beberapa saat aku hanya terdiam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya.
“Tidak terlalu banyak, mi. Selain tentang dia yang adalah dosen dikampusku dan kami pernah bertemu empat tahun yang lalu di stasiun Cepu.”
“Apa dia pernah mencoba untuk bersentuhan dengan kamu?”
“Tidak, mi. Bahkan sejak pertama kali kami bertemu, tidak sekalipun pak Gibran berusaha untuk membuat kontak fisik denganku.”
Benar juga. Bahkan saat aku dan pak Gibran berada di dalam mobil yang sama tempo hari, tidak sekalipun kulihat pria itu berniat untuk membuat kontak fisik denganku meski dia bisa saja melakukannya.
“Pak? Berapa usianya sampai kamu memanggilnya ‘pak’, Za?” jika saja ummi Usammah ini adalah seorang ibu-ibu komplek yang suka nyinyir di teras rumah, sudah pasti wanita ini akan berteriak dan memberiku tatapan ngeri.
“28 tahun, mi. Tentu saja aku harus memanggilnya ‘pak’ karena dia adalah orang yang menyampaikan ilmu padaku.”
“Lagi-lagi untuk masalah hati ummi tidak bisa terlalu jauh turut campur, Za.” Mulai ummi lagi setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan saling mengamati satu sama lain. “Ummi hanya bisa berpesan kalau kamu yakin Gibran adalah laki-laki dengan nasab yang baik dan kamu yakin dia bisa membimbing kamu, tidak ada salahnya kamu mengatakan perasaanmu padanya. Setelahnya, jika kalian memang berjodoh, maka Gibran akan mendatangi abah kamu dan melamar kamu.”
“Lalu bagaimana dengan mas Arifin, mi?”
“Dari cerita kamu, ummi bisa menarik kesimpulan kalau kamu belum menerima pinangan Arifin ‘kan? Kalau kamu berani, katakan pada abah dan Arifin kalau kamu tidak bisa menerima lamarannya karena kamu tidak ingin menyakiti Arifin.”
__ADS_1
Dan pertanyaannya sekarang adalah, sanggupkah aku mengatakan hal sebesar itu pada abah dan mas Arifin?
* * * *