
Gibran
Aida Restansi
Untuk ketiga kalinya kueja guratan nama pada batu nisan dihadapanku sembari menarik napas dalam sesekali. Menyingkirkan rasa sesak yang memang selalu kurasakan setiap kali aku mengunjungi tempat ini.
Dua hari yang lalu, selepas aku, abah dan Faza kembali dari KUA guna mendaftarkan pernikahan kami, entah kenapa keinginan untuk mengunjungi makam Aida begitu kuat memenuhi hatiku. Aku ingin mengunjungi makam Aida dan berbicara banyak hal dengannya seperti yang biasa kulakukan setiap kali berkunjung. Disatu sisi aku ingin sekali mengunjungi makam Aida, tapi disisi lain aku merasa kalau aku mengunjungi makam Aida maka aku akan menyakiti Faza.
“Ke Jakarta? Bukannya keluarga besar mas Gibran akan berangkat ke Surabaya hari rabu depan?” aku bahkan masih ingat betul wajah bingung Wahyu saat aku mengutarakan niat untuk bertolak ke Jakarta malam harinya. Sebenarnya aku ingin mengatakan hal itu langsung pada Faza, tapi kupikir tidak baik kalau kami berlama-lama duduk berdua di teras rumah sementara aku bukanlah mahramnya.
“Ada seseorang yang ingin saya temui, Yu.” Memang benar, hanya saja orang itu sudah tidak ada di dunia ini lagi.
“Memang tidak bisa kalau orang itu ikut datang kemari bersama keluarga besar mas hari rabu besok?”
“Tidak bisa.” Rasanya berat sekali mengatakan pada Wahyu kalau orang yang ingin kutemui sebenarnya sudah meninggal enam tahun yang lalu.
“Sebenarnya saya ingin mengunjungi makam mantan calon istri saya Yu di Jakarta.” Tapi pada akhirnya aku jujur juga meski saat ini aku baru berani jujur pada Wahyu.
“Mantan calon istri?”
“Tolong sampaikan pada Faza kalau nanti malam saya berangkat ke Jakarta. Tapi tolong jangan kamu bilang kalau saya ke Jakarta untuk mengunjungi makam mantan calon istri saya, Yu.”
Tidak ada niat sedikitpun dalam hatiku untuk menyembunyikan tentang siapa itu Aida Restanti pada Faza. Suatu saat aku pasti akan mengatakan semuanya pada gadis itu, tentang siapa itu Aida, tentang masa lalu kami, juga tentang kenyataan kalau dirinya bukanlah gadis pertama yang pernah kulamar untuk menjadi istriku.
“Kenapa mas?”
“Biar nanti Faza tahu dari saya, bukan dari orang lain.”
Dan setelah menimbang antara berangkat ke Jakarta atau tidak, pada akhirnya aku berangkat juga meski rasanya berat sekali meninggalkan Faza di Surabaya meski hanya untuk beberapa hari saja. Wahyu bahkan sempat membual kalau adik perempuannya pasti akan merajuk saat tahu kalau aku pergi ke Jakarta tanpa berpamitan dengannya. Yah, meski aku memang berharap seperti itu, sih.
“Maaf karena terlalu lama tidak mengunjungi kamu, Da.”
Dua tahun yang lalu terakhir kali aku mendatangi makam ini dan meletakkan dua tangkai bunga mawar putih diatas pusara dihadapanku ini.
Dua tahun yang lalu, dan kurasa waktu dua tahun cukup untuk membuat akal sehatku mengerti jika tidak ada gunanya aku mengelu-elukan masa laluku bersama Aida. Dan mungkin itulah kenapa kali ini rasanya berbeda dari kunjungan-kunjunganku yang sebelumnya. Rasa sesak itu memang masih ada, tapi rasanya sudah tidak sesakit dua tahun lalu.
__ADS_1
“Aku datang untuk mengabarkan sesuatu padamu.” Mulaiku lagi setelah beberapa saat hanya terdiam mengamati guratan nama Aida Restanti dan sesekali menyingkirkan daun kering yang berjatuhan diatas pusaranya.
“Aku akan menikah, Da. Seperti katamu, aku menemukan gadis yang membuatku tidak mampu berpaling darinya. Juga, ijinkan aku memberikan cincin ini padanya.” Memang rasanya aneh, tapi aku tetap merasa kalau aku perlu meminta ijin dari Aida untuk memberikan cincin itu pada Faza. Sebab sejak awal, aku membeli cincin itu untuk Aida, bukan untuk Faza.
“Namanya Faza Aulia. Suatu hari, aku kenalkan dia pada kamu, Da. Dan Insyaa Allah, bersamanya aku akan bahagia dan berhenti mencari. Seperti yang pernah kamu katakan padaku.”
Menemukan seseorang yang membuatku berhenti mencari. Benar juga, bagaimana aku melupakan hal sepenting ini selama bertahun-tahun? Lagi-lagi Aida yang mengatakan hal itu padaku delapan tahun yang lalu. Saat aku belum berani mengatakan pada Aida tentang perasaanku padanya dan kami masihlah dua mahasiswa yang belum begitu paham apa arti sebenarnya dari sebuah hubungan.
“Tidak perlu kriteria yang muluk-muluk, mas. Yang penting orang itu bisa membuatku berhenti mencari setelah menemukannya.” Aku masih ingat betul jawaban yang Aida berikan padaku saat aku bertanya tentang kriteria pria idamannya. Jawaban dari gadis polos seperti Aida yang saat itu hanya kutanggapi dengan tawa ringan seolah hal itu adalah sesuatu yang lucu.
“Masa? Tidak perlu tampan dan mapan?”
“Tampan itu relatif, mas. Dan kalau mapan bisa dicari nanti. Yang penting nyaman dulu lah.”
“Nyaman yang seperti apa?”
“Nyaman seperti saat aku bersama kamu contohnya.”
Terlalu banyak yang Aida ajarkan padaku selama kebersamaan kami. Seorang Aida Restanti yang terlihat seperti gadis aneh, bisa begitu memahamiku dan mengajarkanku tentang kesederhanaan. Pun orang yang mengajarkanku tentang kerja keras adalah Aida Restanti. Juga tentang cinta sejati. Tentang seseorang yang bisa membuatku berhenti mencari setelah aku menemukannya.
“Kamu benar Da kalau yang perlu kulakukan adalah menemukan seseorang yang membuatku berhenti mencari.” Kupikir aku akan menangis seperti sebelumnya, tapi nyatanya tidak ada air mata yang keluar dari sudut mataku. “Seperti aku menemukannya.”
“Terima kasih untuk segala hal yang kamu ajarkan padaku, Aida Restanti.”
___________
“Akhirnya kakak laki-lakiku yang paling tampan ini akan menikah.” Aku bahkan belum mendapat jawaban untuk salam yang kuucapkan saat dari arah dapur Renata berlari kearahku dan langsung memelukku.
“Dijawab dulu salamnya, Nat.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku yakin sekali kalau aku dan Renata tidak bertemu baru beberapa minggu saja, tapi aku tidak tahu kenapa Renata bertingkah seolah kami sudat tidak bertemu selama bertahun-tahun. Adikku ini bahkan bergelayut manja setelah memelukku beberapa saat yang lalu.
Atau mungkinkah ini yang dinamakan dengan sindrom ‘cemburu’ yang dirasakan oleh seorang adik perempuan saat kakak laki-lakinya akan menikah?
__ADS_1
“Kamu kenapa? Tumben mas pulang kamu jadi manja begini? Kehabisan uang jajan?” ledekku setelah kami duduk di meja makan dan meletakkan gelas air minum dihadapanku.
“Aku sudah kerja, mas. Tidak perlu sokongan dari mas Gibran lagi.” ucapnya dengan nada bangga meski dua detik berikutnya wajah tengil Renata berganti menjadi wajah lugu selayaknya adik permpuan yang benar-benar sedang merindukan kakak laki-lakinya.
“Then? Kenapa kamu memasang wajah seperti itu?”
“Tidak sih, terharu saja karena tiba-tiba mas mau nikah sementara baru bulan kemarin mas minta ijin dari papa untuk melamar pacar mas.”
“Dia bukan pacar mas, Nat.” memang hal sederhana, tapi rasanya tidak rela kalau Renata menyebut Faza sebagai pacarku sementara gadis itu sama sekali tidak tahu apa itu ‘pacaran’.
“Iya, maksudnya mahasiswi mas Gibran yang minggu depan mas nikahi itu.” koreksi Renata yang tak urung membuatku tertawa kecil. “Rasanya baru kemarin mas Gibran lulus kuliah, kesana kemari melakukan penelitian, dan minggu depan sudah mau jadi suami.”
“Kok kamu jadi melankolis begini, Nat?” aku sebenarnya sudah bisa menangkap dengan baik alasan kenapa Renata menjadi seperti ini padaku. Hanya saja aku tidak ingin ikut-ikutan melankolis seperti adik perempuanku.
“Mas benar-benar mencintai gadis itu ‘kan? Mas Gibran akan bahagia ‘kan dengan pernikahan ini?”
“Nat,”
“Jawab saja, mas.” Potong Renata sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Dulu, saat aku memutuskan untuk melamar Aida diusiaku yang ke 22, usia Renata masih 16 tahun dan hanya peduli pada baju apa yang dia pakai dihari pernikahanku dengan Aida. Tapi sekarang, menyadari jika adikku sudah menjelma menjadi perempuan dewasa 22 tahun membuatku paham jika Renata berhak tahu tentang bagaimana perasaan kakaknya. Alih-alih meminta pendapatku tentang baju apa yang akan dia kenakan, Renata justru menanyakan hal yang tidak kusangka.
“Mas tidak pernah seyakin ini, Nat.” jawabku tak urung juga. “Faza adalah gadis pertama yang bisa membuat mas lupa kalau mas pernah begitu patah hati karena kepergian mbak Aida.” Memang kenyataannya seperti itu. Kalau Faza Aulia adalah gadis pertama dan satu-satunya yang bisa membuatku melupakan patah hatiku karena kehilangan Aida, dan gadis yang membuatku berani melangkah sejauh ini. “Insyaa Allah mas akan bahagia bersama Faza.”
“Nanti kalau aku sudah bertemu dengan Faza, akan kutanyakan padanya.” dan aku tidak tahu kapan Renata beranjak dari kursinya dan memelukku sekali lagi dengan begitu protektif seolah aku akan terbang jika tidak dipeluk seperti itu.
“Bertanya soal apa?”
“Tentang bagaimana caranya mendapatkan suami seperti mas Gibran.” Jawab Renata dengan nada yakin tanpa berniat melepas pelukanku. Membuatku membalas pelukannya dan berpikir kalau mungkin apa yang dialami oleh Renata memang dirasakan oleh seluruh adik petempuan di dunia ini saat kakak laki-lakinya akan menikah. Mereka mungkin saja merasa takut akan kehilangan sosok kakak laki-laki yang menjadi ayah keduanya. Mereka mungkin juga merasa takut kalau-kalau mereka akan kehilangan sosok pelindung mereka. Meski sebenarnya, sampai kapanpun seorang kakak tetaplah akan menjadi seorang kakak untuk adiknya.
“Tidak harus mencari yang seperti mas, Nat. Carilah laki-laki yang bisa membuat kamu nyaman, bahagia dan merasa aman. Temukan dia yang bisa membuat kamu berhenti mencari.”
Tapi nyatnaya aura melankolis yang sejak tadi dikuarkan oleh Renata menular juga padaku. Rasanya seperti campuran antara sedih karena setelah ini aku mungkin tidak bisa terlalu sering berkunjung ke Jakarta, dan juga rasa bahagia karena kenyataan kalau adik perempuanku yang manja sudah bernjak menjadi gadis dewasa.
Dan kurasa segala hal memang sudah seharusnya seperti ini. Renata tidak harus mencari seseorang seperti kakak laki-lakinya hanya karena dia menyayangi kakak laki-lakinya dan menjadikanku sebagai panutan. Pun seperti aku yang tidak harus mencari seseorang seperti Aida hanya karena kenyataan tidak mengingkari kalau aku sangat mencintai gadis itu. Yang perlu kami lakukan hanya menemukan seseorang yang membuat kami berhenti mencari. Menarik napas dalam dan mengaku pada semesta bahwa kami ingin menghabiskan sisa hidup kami bersamanya.
__ADS_1
Sesederhana itu.
* * * * *