
Faza
Seminggu berlalu sejak aku membaca data diri milik mas Arifin yang membuatku galau berkepanjangan dan abah yang selalu memberikan tatapan menuntut padaku. Hanya tatapan menuntut tanpa sekalipun bertanya langsung padaku tentang keputusan yang kubuat untuk lamaran dari mas Arifin. Tapi tetap saja mendapat tatapan seperti itu dari abah tak urung semakin membuatku uring-uringan sendiri. Ditambah ibu yang sudah bertanya beberapa kali meski satupun tidak ada pertanyaannya yang berisi paksaan agar aku segera memberi keputusan tentang lamaran itu.
“Ibu tidak menyalahkan kamu kalau sampai sekarang kamu belum bisa memberi keputusan pada abah, nduk.” Ucap ibu dua hari yang lalu saat aku sedang membantunya memasak makan malam kami sekeluarga. “Tapi menunda-nunda hal seperti itu juga bukan hal yang baik, kan?”
“Faza belum siap, bu.” Bisikku lemah. Bukan takut pada ibu, tapi aku sedang menahan rasa sesak di dada yang entah kenapa seperti berjejalan setiap kali aku membicarakan masalah ini bersama ibu ataupun mas Wahyu.
“Memutuskan hal seperti ini memang tidak sesederhana memutuskan kemana kamu akan kuliah dan jurusan apa yang akan kamu ambil. Tapi tetap saja kamu harus memutuskannya, sayang.”
Tentu saja aku tahu jika cepat atau lambat aku harus memberi keputusan pada abah. Tentang apakah aku menerima lamaran mas Arifin atau aku menolak lamaran pria itu dan meminta mas Arifin mencari wanita lain. Aku juga tahu jika memutuskan hal seperti ini tidak sesederhana di kampus mana aku akan kuliah dan jurusan apa yang akan kuambil. Tidak sesederhana itu sebab aku tahu keputusan yang kuambil akan kupertanggungjawabkan hingga akhirat nanti.
“Za tahu, bu. Hanya saja Za belum tahu keputusan mana yang harus Za ambil.”
“Apapun keputusan kamu, Za. Ibu tahu kamu bisa memberi keputusan terbaik untuk lamaran mas Arifin. Menerima atau menolak. Tidak ada hal yang lebih baik atau lebih buruk diantara dua hal itu.”
Memang benar. Menerima atau menolak. Hanya karena aku menolak lamaran mas Arifin, tidak lantas itu adalah keputusan terburuk yang kubuat. Pun begitu jika aku menerimanya, bukan berarti aku telah membuat sebuah keputusan terbaik.
“Abah,” dan setelah mendengar nasehat ibu dua hari yang lalu, dan setelah mengumpulkan tekad sejak pagi, maka malam ini kuberanikan diri untuk menemui abah yang duduk di teras rumah sepulang dari masjid. Duduk disamping abah dan memerhatikan secangkir kopi hitam yang kutahu disiapkan oleh ibu beberapa saat yang lalu. Secangkir kopi hitam yang masih penuh dan seperti belum tersentuh barang sedikit saja.
“Ada yang ingin Za bicarakan dengan abah.” Mulaiku setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan aku yang masih saja sibuk menyusun kalimat untuk kusampaikan pada abah. Sementara laki-laki itu seperti tahu apa yang ingin kukatakan dan memilih untuk menunggu anak perempuannya bicara tanpa perlu dipaksa.
“Tentang apa?” tanya abah lembut dan menoleh kearahku. Sama seperti ibu, tidak ada nada menuntut dari pertanyaan abah. Tapi, entah kenapa justru nada seperti itu yang membuatku terlalu sulit untuk mengatakan keputusan yang akan kuambil.
__ADS_1
“Tentang lamaran mas Arifin.”
Kulihat abah menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali dengan pelan. Meraih cangkir kopinya yang masih penuh dan menyesapnya perlahan sebelum kembali menoleh kearahku. Membuatku dapat melihat kerutan diwajahnya dan membuatku berpikir tentang kapan terakhir kali aku benar-benar memerhatikan wajah abah?
“Apa tidak apa-apa kalau Za menerima lamaran mas Arif sementara Za sendiri masih ragu dengan perasaan Za, bah?”
Ya, setelah sekian hari aku bergulat batin dengan diriku sendiri dan memikirkan apa yang sebenarnya kurasakan, dan tentang apa yang membuatku begitu berat untuk mengambil keputusan ini. Sekarang aku mulai mengerti jika alasan dibalik kegundahan yang kurasakan adalah sebuah perasaan.
Perasaan yang kurasakan entah sejak kapan tapi saat aku menyadarinya perasaan itu sudah tumbuh begitu kuat. Aku tahu kalau terlalu dini untukku mengatakan kalau perasaan inilah yang membuatku berat mengambil keputusan tentang lamaran mas Arifin. Tapi mau tidak mau aku harus mengakuinya juga kalau apa yang dikatakan oleh mas Wahyu tempo hari memang benar. Tentang seseorang yang tanpa sadar telah membuat hatiku terpaut.
“Perasaan yang seperti apa, nduk?”
Perasaan yang seperti apa? Aku sendiri tidak tahu sebenarnya harus kusebut apa perasaan yang menggangguku saat ini. Aku hanya merasa ada seseorang yang kuinginkan untuk menggantikan mas Arifin. Aku ingin kalau orang itu yang melamarku, dan bukannya mas Arifin.
“Faza tidak tahu, bah.” Tak urung aku menangis juga setelah sekian hari menahan perasaan mengganggu ini untuk diriku sendiri. “Faza tidak ingin mengecewakan abah. Demi Allah Faza ingin membahagiakan abah.” Dan tanpa kusadari, air mata yang selama beberapa hari ini kutahan setengah mati tumpah juga dipelukan abah. Merasakan tangan lelaki ini yang mulai keriput memelukku dan mengusap puncak kepalaku.
Lagi-lagi tentang seseorang yang kuinginkan. Tapi jika kutanyakan pada hati kecilku, aku harus mengakui kalau aku memang menginginkan orang itu. Sorot mata tajam yang tersembunyi dibalik kacamatanya. Senyumannya yang terlihat begitu tulus, juga nada bicaranya yang begitu menangkan nyatanya memang tanpa sadar telah membuatku berharap lebih padanya. Hanya saja, aku tahu kalau perasaan seperti ini tidaklah dibenarkan dan aku tidak boleh membiarkan perasaan seperti ini terus tumbuh besar di dalam hatiku.
“Faza menyukainya, bah.” Akhirnya aku mengaku juga pada abah. Nyatanya aku memang tidak pernah bisa berbohong pada abah tentang apa yang kurasakan. “Za tidak bisa memberi keputusan tentang lamaran mas Arifin karena ada perasaan yang Za simpan untuk laki-laki itu.” tidak hanya pada abah, akupun juga tidak bisa lagi membohongi diriku sendiri. Tentang aku yang terus mencoba untuk menganggap pria itu sebagai seorang dosen yang menyampaikan ilmu padaku, meski setengah mati aku menahan perasaan yang kusimpan untuknya.
“Za tahu ini tidak benar. Tapi Za tidak tahu apa yang harus Za lakukan, bah.”
“Apa laki-laki itu teman kuliah kamu, nduk?” tanya abah setelah melepas pelukannya dan membiarkanku menyusut hidungku yang mulai penuh ingus dan membuat suaraku terdengar aneh.
__ADS_1
“Bukan, bah.”
“Mungkin kamu bosan mendengarnya, Za. Tapi sungguh, abah tidak pernah berniat memaksa kamu dengan keinginan-keinginan abah.” Ucap abah sembari menyentuh pundakku dan memintaku untuk membalas tatapannya. “Abah menerima lamaran Arifin murni karena abah sayang pada kamu dan tidak ingin kamu terjebak dalam perasaan-perasaan seperti itu.”
Terjebak perasaan. Aku sendiri masih kesulitan mendefinisikan perasaan yang belakangan ini kurasakan terhadap pria itu. Lantas, bagaimana mungkin abah mengatakan kalau aku terjebak pada perasaanku sendiri? Atau, aku saja yang masih begitu naif hingga memikirkan hal seperti itu saja aku tidak sanggup melakukannya?
“Bah,”
“Tapi kamu tentu tahu nduk jika perasaan seperti itu tidaklah dibenarkan oleh Allah. Tidak pantas seorang perempuan menyimpan perasaan seperti itu terhadap seorang laki-laki.”
“Za tidak pernah mengatakan padanya tentang perasaan ini, bah.” Nyatanya, terkadang aku masihlah Faza Aulia si gadis muda 20 tahun yang ingin mempertahankan pendapatnya.
“Iya, abah tahu kalau kamu tidak akan mengatakan perasaan kamu pada laki-laki itu. Tapi bukankah semakin lama kamu menyimpan perasaan itu, semakin lama pula kamu melakukan zina hati, Za?”
Jika saja yang mengatakan hal ini bukan abah, laki-laki yang paling kuhormati didunia ini, maka mungkin aku sudah marah padanya. Tapi sungguh, dia adalah abah yang memberiku nama Faza Aulia dan tidak ingin anak perempuannya terlarut dalam perasaan yang salah.
“Tidak ada yang salah dengan perasaan seperti itu, Za. Perasan cinta memang fitrah yang pasti dirasakan oleh manusia.”
Perasaan cinta. Benarkah apa yang kurasakan pada pria itu adalah sebuah perasaan cinta? Rasanya terlalu berlebihan jika menamai perasaan yang bahkan masih kuragukan ini sebagai sebuah rasa cinta.
“Tapi bukankah lebih baik kalau kamu pasrahkan perasaan itu pada Allah? Biarkan Dia memelihara dan menjaga perasaan kamu itu, nduk. Jika laki-laki itu adalah jodoh kamu, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kalian sekalipun itu adalah abah.” Mulai abah lagi setelah beberapa saat aku masih terdiam dan seperti tidak ingin membalas kalimatnya. Bukan tidak ingin membalas kalimat abah, tapi aku yang kehilangan kata-kata untuk kuucapkan. “Biarkan perasaan itu tumbuh dengan seijin Allah, nduk.”
Tapi nyatanya aku menggeleng mendengar kalimat terakhir abah. Aku masih tidak mengerti apa aku memang harus memberi keputusan ini, atau ini hanya sebuah keputusan yang diambil oleh seorang anak perempuan karena tidak ingin membuat ayahnya kecewa.
__ADS_1
Tapi aku sudah memikirkannya. Tentang keputusan yang akan kuambil, juga tentang perasaan yang kurasakan terhadap pria itu.
* * * * *