Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
7. Hujan dan Sebuah Rasa (1)


__ADS_3

Gibran


Melajang di usia ke 28, dan entah kenapa keluarga besar Wibisana seperti mendapat aib yang begitu memalukan dengan kenyataan seperti itu. Aku yang seorang laki-laki dan masih melajang diusiaku yang ke dua puluh delapan tahun entah sejak kapan menjadi topik obrolan yang begitu hangat setiap kali ada acara kumpul keluarga. Seolah dengan adanya salah satu anggota keluarga Wibisana yang melajang diusianya yang ke dua puluh delapan adalah sebuah dosa besar yang harus segera dibersihkan.


“Pekerjaan sudah punya, rumah sudah disediakan oleh orang tua. Mau menunggu apa lagi sih, Gibran?”


Sungguh, memang apa yang salah dengan melajang diusia ke dua puluh delapan tahun? Diluar sana banyak laki-laki yang membujang hingga usia mereka lima puluh tahun kurang dua, dan mereka baik-baik saja. Mereka tidak lantas mati hanya karena tidak menikah diusia dua puluh lima.


“Aku toh belum tiga puluh tahun, om. Belum kepikiran untuk menikah.”


Om Rudi, pria itu bahkan mengundangku makan malam bersama hanya untuk menanyakan apa sekarang aku sudah punya calon istri atau belum. Seolah dengan bertanya melalui telepon, pesan singkat, atau surel terlalu menyulitkan untuk dia lakukan. Membuatku hanya bisa mendesah kesal dan menarik napas gusar beberapa kali. Hanya karena pria ini adalah om Rudi, kakak laki-laki papa yang sudah kuanggap ‘ayah kedua’ sejak usiaku masih sangat muda, maka dengan berat hati kutanggapi semua pertanyaan-pertanyaannya seputar kehidupan romantismeku yang menyedihkan.


“Memang kamu mau menunggu sampai tiga puluh lebih baru mau menikah? Teman-teman kamu sudah banyak yang punya anak. Kamu tidak ingin seperti mereka?”


“Hanya karena teman-temanku memilih menikah muda, bukan berarti aku juga harus seperti mereka ‘kan om?”

__ADS_1


Menikah muda dan mempunyai anak di usia ke 25, nyatanya aku pernah mempunyai cita-cita seperti itu.


Dulu, saat Gibran Wibisana masihlah seorang laki-laki muda 22 tahun yang baru saja menjadi seorang sarjana dan menjadi pengajar muda di sebuah SMA di Jakarta. Dulu, saat seorang Gibran Wibisana masih begitu bahagia dengan hubungan yang dijalaninya bersama seorang gadis yang begitu dicintainya. Aku bahkan sudah melamarnya dan gadis itu menerima lamaranku.


“Aida Restanti, maukah kamu menikah denganku?” sesederhana itu aku meminta gadis itu untuk menikah denganku.


Sesederhana aku yang duduk disamping Aida dan menyematkan sebuah cincin perak kecil hasil kerja sampinganku selama menjadi mahasiswa. Juga sesederhana Aida yang mengangguk dan tertawa kecil saat menerima lamaran sederhanaku. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana aku akan menghidupi keluarga kami sementara aku baru saja mendapatkan pekerjaan sebulan yang lalu. Juga tidak ada pertanyaan tentang rumah tangga seperti apa yang akan dibangun saat usiaku masih 22 tahun dan Aida yang bahkan belum menyelesaikan kuliahnya. Hanya ada anggukan setuju dari gadis itu dan tanpa berkata-kata langsung memelukku.


Yang ada dalam pikiran kami saat itu hanya keinginan untuk bersama-sama dalam ikatan yang sah. Tanpa harus menodai kepercayaan orang tua kami, juga tidak melanggar norma dan aturan yang selama ini masih kami patuhi tanpa tapi.


“Yang terpenting niat kami untuk tidak berlama-lama pacaran, pa. Masalah pekerjaan dan tempat tinggal, itu urusan kami dikemudian hari.” Tapi lagi-lagi Aida dengan pikirannya yang sederhana bisa membuat situasi menjadi begitu terkendali. Aida yang saat itu masih 21 tahun, setahun lebih muda dariku bahkan mempunyai pemikiran yang jauh lebih dewasa dariku.


Jika aku kembali berkaca saat ini dan melihat diriku enam tahun yang lalu, sudah pasti aku akan tertawa getir dan mengutuk sikap pecundang yang saat ini begitu mendominasi seorang Gibran Wibisana.


Aku yang saat itu berusia 22 tahun begitu percaya diri melamar seorang gadis, sekarang bahkan seperti enggan untuk berdekatan dengan wanita diusiaku yang ke 28. Aku malu pada diriku dimasa lalu yang begitu berani mengambil sebuah keputusan sementara saat ini aku harus berpikir puluhan kali untuk sekedar memutuskan hal kecil sekalipun.

__ADS_1


Pernah kubaca sebuah kutipan yang entah dibuat oleh siapa, bahwa alasan seseorang berubah ada dua. Pertama karena orang yang begitu berarti datang memasuki kehidupannya, sementara yang kedua karena orang yang sangat berarti pergi dari kehidupannya. Dan aku mengalami alasan yang kedua.


“Ini tidak adil, Da. Kamu bahkan sudah berjanji untuk terus bersamaku dan kita akan hidup bersama-sama selamanya. Tapi nyatanya kamu berdusta.”


Saat itu dua hari setelah kelulusan Aida dari universitas dan dua bulan menjelang hari pernikahan kami. Ya, dengan segala keterbatasan yang kumiliki saat itu, Aida bahkan mengiyakan ajakanku untuk menikah empat bulan setelah aku melamarnya. Lagi-lagi gadis itu dengan santainya mengatakan padaku kalau aku cukup mengucap ijab qabul di depan penghulu, ayahnya dan para saksi tanpa perlu memikirkan tentang pesta dan segala macamnya. Tapi semua hanya rencana. Sebelum segalanya membuatku sadar jika ranah manusia memang hanya sebatas membuat rencana.


Aida Restani, calon istriku yang begitu sederhana dan menerima segala kekurangan dan keterbatasanku saat itu, nyatanya harus pergi mendahuluiku tanpa memberi kesempatan pada kami untuk mewujudkan mimpi mulia kami. Meninggalkanku seorang diri tanpa bisa berharap untuk sebuah kata kembali dan membangun jarak diantara kami. Jarak bernama kematian. Aku tahu semua yang terjadi antara aku dan Aida tidak pernah lepas dari campur tangan Sang Maha Pengatur segala, hanya saja aku tidak bisa menerima begitu saja kematian Aida tanpa menyalahkan keadaan, juga tanpa menyalahkan diriku sendiri.


“Atau mau om kenalkan kamu dengan anaknya teman om?” lagi-lagi suara om Rudi menyeretku dari lamunan singkat tentang Aida.


Lamunan singkat yang berhasil membangunkan sisi melankolisku dan memporak porandakan pertahanan yang telah kubuat. Pertahanan yang selalu rusak setiap kali aku mengingat tentang Aida dan susah payah kuperbaiki, hanya untuk kemudian kembali dirusak oleh kenangan antara kami berdua. Terus saja berulang seperti itu, hingga aku menyadari jika Gibran Wibisana masihlah seorang pecundang yang sama seperti enam tahun yang lalu. Hanya untuk kembali mengakui kalau Gibran Wibisana masihlah pria 28 tahun yang patah hati karena kematian calon istrinya.


“Tidak perlu repot-repot seperti itu, om. Kalau aku sudah menemukan seseorang yang tepat untukku, akan kukenalkan dia ke keluarga besar Wibisana.”


Hanya saja aku benar-benar tidak tahu kapan aku akan menemukan orang yang tepat itu. Posisi yang Aida tempati terlalu istimewa untuk kurelakan pada orang lain hanya karena keluarga besarku memintaku untuk segera menikah. Aku akan menikah, saat aku sudah menemukan seorang gadis yang membuatku jatuh cinta seperti Aida yang membuatku jatuh cinta berulang kali.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2