Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
2. Sisa Hujan Bulan Lalu (2)


__ADS_3

Faza


“Faza.!” Buru-buru kuhentikan langkahku yang sedang menuruni anak tangga saat mendengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Membuatku mendongak untuk mencari tahu siapa yang memanggilku. “Mau kemana?” tanya orang itu yang tak lain adalah Aruna, salah satu temanku di Lembaga Pers Mahasiswa kampus.


“Turun ke lantai bawah.” jawabku singkat sembari mengulum senyum dan melihat jam di pergelangan tangan kiriku. Jam sepuluh lebih dua puluh.


“Ke musolah?” tanya Aruna begitu mensejajari langkahku dan ikut menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Mengangguk ragu untuk menjawab pertanyaan gadis itu.


“Ada apa?”


“Kuliahmu hari ini selesai jam berapa?” dan kurasa Aruna sudah mengerti maksud dari anggukan singkatku hingga gadis itu tidak mencecariku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar apa yang kulakukan di musolah kampus jam setengah sebelas begini. Dan aku selalu suka dengan orang-orang seperti Aruna yang membiarkan orang lain dengan urusanya sendiri dan membuatnya tidak terkesan begitu ingin ikut campur urusan orang.


“Jam dua lebih dua puluh kurasa.”


“Kalau begitu datang ke ruang LPM segera setelah kuliahmu selesai ya. Ada wacana-wacana yang harus kita bahasa bersama.”

__ADS_1


“Siap komandan.!” Dan Aruna tergelak mendengarku memanggilnya dengan sebutan komandan. Menepuk pundakku pelan sebelum gadis itu berlalu dari hadapanku dan berlari kearah kantin fakultas saat beberapa gadis melambaikan tangan kearahnya. Aruna, gadis mungil yang sama sekali tidak menyukai hukum, tapi justru kuliah di jurusan hukum. Aneh memang, tapi begitulah Aruna yang pada awalnya selalu memanggilku dengan sebutan ‘mbak ustadzah’ hanya karena penampilanku yang seperti ini.


“Sekali lagi kudengar kamu panggil aku ‘mbak ustadzah’ aku dengan senang hati keluar dari LPM, Na.” Itu bukan gertakan atau sekedar omong kosong untuk membuat Aruna berhenti memanggilku seperti itu.


Tapi aku memang tidak suka setiap kali orang-orang memanggilku demikian hanya karena aku kuliah dengan gamis panjang dan jilbab lebar. Bukan tidak ingin dipanggil seperti itu, tapi dalam benakku, seorang ustadzah seperti yang dikatakan oleh Aruna adalah seorang wanita yang benar-benar memahami ilmu agama. Dan setiap kali aku mendengar seseorang menyebut ‘ustadzah’ pikiranku selalu tertuju pada Ummi Usammah atau Ummi Haidar, dan membandingkan diriku dengan dua wanita hebat itu bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan.


Nyatanya seorang Faza masih sama saja seperti teman-teman yang lain. Aku tidak berbeda dengan Aruna atau Shinta yang meski berjilbab namun masih mengenakan celana jeans dan kaus ketat. Kami sama, hanya pakaian dan pemahaman kami terhadap agama saja yang sedikit berbeda. Dan sekali lagi, aku tidak ingin dinilai hanya dari apa yang kukenakan.


“Pakaian itu mencerminkan tanggung jawab kamu terhadap agama juga diri kamu sendiri, sayang. Tapi bukan berarti mereka yang tidak berpakaian seperti kamu tidak bertanggung jawab terhadap diri dan agamanya,” aku bahkan masih ingat nasehat ibu saat aku mengatakan kenapa banyak teman-teman kampusku yang seorang muslimah namun tidak mengenakan hijab.


Benar juga, nyatanya semua orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda untuk setiap hal, termasuk agama. Dan aku tidak akan berteriak pada teman-temanku untuk menjadi seperti diriku dan mengatakan kalau apa yang mereka lakukan adalah salah. Sungguh, aku sama sekali tidak layak untuk bersikap seolah aku adalah manusia paling suci di dunia ini sementara masih begitu banyak dosa yang kulakukan.


“Astaghfirullah, maaf.” Pekikku tanpa sadar saat nyaris terhuyung karena hampir menabrak seseorang di pintu keluar selasar kampus karena terlalu terburu-buru sembari melihat jam tangan. Dan orang itu juga nampak kaget sebelum mundur dua langkah untuk memberiku jalan. “Maaf pak. Saya tidak sengaja.” Sambungku buru-buru saat menyadari siapa pria yang berdiri didepanku. Dosen baru yang sejak tadi menjadi topik pembicaraan para mahasiswi.


“Tidak apa-apa.” dan aku tidak perlu bertanya kenapa teman-teman mahasiswiku begitu antusias membicarakan dosen baru ini. Dia tampan dan begitu menarik, dan itu menandakan kalau teman-teman mahasiswiku disini masih normal.

__ADS_1


“Tundukkan pandanganmu, Faza.” Dan mungkin aku juga akan terus menatap dosen baru ini jika saja isi hatiku tidak berontak dan segera mengingatkanku kalau menatap lawan jenis yang bukan mahram adalah sesuatu yang dilarang. Membuatku mengusap wajah dan berlalu menuju musolah yang sejak tadi kutuju.


Ya, nyatanya aku masihlah gadis dua puluh tahun yang terkadang kesulitan mengendalikan perasaanku terhadap lawan jenis meski aku tahu betul jika hal seperti itu tidaklah dibenarkan oleh agama.


“Tunggu, kenapa aku merasa kalau aku pernah melihatnya di suatu tempat?” gumamku sembari melipat mukenah yang baru saja kukenakan. Entah kenapa tiba-tiba bayangan dosen baru yang tadi nyaris kutabrak muncul dikepalaku. Seorang pria muda berkacamata.


“Ah tidak, pasti hanya imajinasi kamu saja, Za.” Aku menggeleng cepat untuk menyingkirkan spekulasi bodoh itu. Banyak pria muda berkacamata di dunia ini, dan mungkin aku memang pernah bertemu dengan salah satunya. Entah itu di jalan atau dimanapun yang aku tidak berhasil mengingatnya.


“Gerimis lagi,” gumamku saat duduk di teras musolah sembari mengenakan kaus kaki dan mendongak saat menyadari gerimis kembali turun siang itu.


Lagi-lagi aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi padaku hari ini. Serasa gerimis yang kembali turun sedang mencoba membangunkan sisi melankolisku dan ingatan-ingatan tentang masa lalu yang bahkan sudah lama sekali aku tidak mengingatnya. Ingatan tentang kehidupanku di pondok tiga tahun yang lalu, juga ingatan tentang seorang pria muda berkacamata yang bahkan aku masih belum berhasil mengingatnya.


“Bagaimana kabarnya sekarang?” tanyaku pada diri sendiri saat sadar kalau ternyata aku sedang mencoba mengingatnya sejak tadi. “Mungkin kapan-kapan aku harus main ke pondok dan menghabiskan waktu disana beberapa hari.” Dan aku tidak tahu darimana muncul ide seperti itu setelah tiga tahun aku bahkan belum mempunyai keinginan untuk berkunjung ke pondok pesantren tempatku dibesarkan itu.


Hujan dan rasa rindu. Dan, kenapa dua hal itu seperti sepasang sepatu yang tidak bisa dipisahkan?

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2