
Gibran
Sejak aku mulai menempuh kuliah sarjana sepuluh tahun yang lalu, aku memang sudah sering mengikuti unit kegiatan mahasiswa seperti mapala dan LPM. Tapi belum sekalipun aku terlibat dalam kepanitiaan untuk sebuah acara. Pun begitu saat aku menempuh pendidikan master, meski berkali-kali aku menjadi partner penelitian untuk profesor Himawan. Tapi lagi-lagi aku tidak pernah terlibat dalam sebuah kepanitian. Lebih tepatnya aku yang tidak ingin melibatkan diri dalam sebuah susunan kepanitian. Aku memang suka melakukan penelitian dan berhubungan dengan banyak orang dan responden juga data-data yang ada. Tapi terlibat dengan teman-teman mahasiswa dan mengurusi segala hal yang berkaitan dengan sebuah acara benar-benar kuhindari selama karirku menjadi mahasiswa.
“Penanggung jawab untuk seminar bulan depan?”
Dan, itulah kenapa aku justru mengerutkan kening saat Tania dan Aruna menemuiku kemarin siang dengan membawa sebuah proposal untuk acara seminar nasional yang diadakan oleh LPM kampus.
“Karena bapak yang menjadi Pembina LPM, jadi pak Gibran yang menjadi penanggung jawabnya.” Jelas Aruna yang lebih mirip perintah ditelingaku. Ya ampun anak ini.
“Faza Aulia menjabat sebagai sekretaris dan humas? Kenapa satu orang dibebani dua jabatan dan tanggung jawab?” tanyaku aneh saat meneliti struktur kepanitiaan acara pada proposal dihadapanku dan menemukan nama Faza Aulia dalam nama orang yang menjabat sekretaris dan humas.
“Faza yang tahu semua data-data LPM, pak. Itulah kenapa dia yang menjabat sebagai sekretaris acara.” Kali ini Tania yang menjelaskan padaku seolah aku adalah seorang pembina yang tidak tahu apa-apa tentang seluk beluk Lembaga Pers Mahasiswa kampus ini. “Dan kalau pak Gibran bertanya kenapa Faza juga yang menjabat sebagai sie humas, itu karena relasi anak itu mengerikan, pak. Hampir semua media di kota ini kenal siapa itu Faza Aulia, dan mereka tidak akan segan-segan memberi sponsor kalau Faza yang datang ke kantor mereka.” sambung Aruna dengan nada bangga seolah rekannya yang bernama Faza Aulia itu adalah aset berharga yang memang harus dilindungi dan dilestarikan oleh LPM.
“Dan nanti sore jam tiga kita harus mengadakan rapat lanjutan, pak.”
“Oke, biar saya pelajari dulu proposalnya.”
Lagi-lagi ada perasaan aneh yang merayap masuk kedalam hatiku saat menyadari jika nanti sore aku akan bertemu dengan Faza di ruang rapat LPM. Tapi mengingat bagaimana pertemuan kami jumat sore minggu lalu tak urung membuatku menghela napas dalam dan menutup proposal ditanganku. Bahkan dua jam yang lalu saat aku mengajar kelas manajemen islam, Faza sama sekali tidak menoleh kearahku barang sedikit saja. Memilih sibuk dengan buku dihadapannya dan sesekali menoleh keluar jendela kelas entah untuk memperhatikan apa. Membuat perasaanku semakin tidak karuan dan memilih untuk mengakhiri perkuliahan meski jam mengajarku masih tersisa lima belas menit.
Dan seolah tidak cukup dengan pertemuan di dalam kelas dua jam yang lalu, kali ini aku dan Faza kembali berpapasan saat gadis itu berjalan seorang diri menuju musolah kampus diwaktu dzuhur sementara aku sedang melapas sepatu dan duduk di teras musolah. Lagi-lagi pandangan kami bertemu untuk beberapa detik sebelum gadis itu kembali menunduk dan bergegas berjalan masuk kedalam musolah yang diperuntukkan untuk perempuan.
“Kesalahan apa yang sebenarnya telah kulakukan tanpa kusadari?” batinku sembari meraih kacamata yang sejak tadi tergeletak dihadapanku dan memainkan benda itu dengan tanganku. Menarik napas dalam dan belum ingin beranjak dari musolah meski sekarang tempat itu sudah sepi dan hanya tersisa pak Ridwan, kepala petugas keamanan yang juga menjadi imam masjid kampus ini.
__ADS_1
Memang rasanya berlebihan kalau aku memikirkan hal seperti itu seolah aku dan Faza adalah sepasang kekasih yang sedang bermusuhan. Tapi nyatanya aku memikirkannya juga dan membuatku merasa sedang menghadapi pacarku yang sedang merajuk. Lagi-lagi aku merasakan hal seperti itu karena kenyataan aku dan Faza sudah pernah bertemu jauh sebelum ini hingga aku merasa perlu tahu kenapa anak itu terkesan seperti menjauhiku.
Jika saja saat itu aku memilih untuk menahan langkah dan tidak keluar dari kantor fakultas, apakah kami akan secanggung sekarang? Jika saja saat itu aku memilih untuk berlalu tanpa harus menoleh kearah Faza dan temannya, apa saat ini gadis itu akan membuang muka setiap kali kami berserobok pandang? Entahlah, rasanya seperti ada sesuatu yang sangat mengganggu anak itu hingga membuatnya selalu terlihat gelisah.
“Pak Gibran,” aku baru sadar kalau aku sudah duduk ditempat ini hampir sejam lamanya saat sebuah suara terdengar didekatku. Suara seorang pria yang entah sejak kapan sudah duduk dihadapanku dan memperhatikanku dengan tatapan simpati. Pak Ridwan, lelaki setengah baya yang masih lengkap dengan peci hitam dan seragam keamanan dan sebuah sarung menyampir di pundak kirinya.
“Pak,” gumamku sembari menyungging senyum demi sopan santun pada pak Ridwan.
“Tidak kembali ke kantor pak?” ada nada khawatir yang kudengar begitu kentara dari pertanyaan pak Ridwan untukku. Dan untuk alasan tertentu, aku yakin kalau pak Ridwan sudah memperhatikanku sejak tadi hingga lelaki ini merasa perlu menegur seorang pria muda yang terlihat begitu menyedihkan sepertiku.
“Jam mengajar sudah selesai, pak.”
“Begitu.” Kali ini pak Ridwan meluruskan kakinya yang tadi ia tekuk sebelum kembali menarik napas dalam. “Maaf kalau saya terlalu ikut campur pak. Tapi saya lihat pak Gibran terlihat gelisah sekali sejak tadi.” Tepat seperti yang kupikirkan kalau lelaki ini memang memperhatikanku sejak tadi hingga dia perlu untuk mengajakku bicara seperti ini. Tapi, kupikir semua orang yang melihatku juga pasti akan kasihan sekali melihat seorang pria duduk seorang diri di musolah kampus seperti pria malang yang kesepian. Begitu pula dengan pak Ridwan.
“Sebenarnya tidak. Hanya orang-orang peka saja yang sadar kalau ada pak dosen yang sedang gelisah di musolah kampus.” Jawab pak Ridwan dan terkekeh di ujung kalimatnya sendiri. Membuatku ikut tertawa kecil dan tiba-tiba saja teringat papa di Jakarta. Jika dilihat, pak Ridwan ini seumuran dengan papa dengan rambut mereka yang sudah mulai memutih di beberapa bagian.
“Tapi manusia memang tempatnya salah dan gelisah sih pak. Hidup mana nikmat kalau tidak ada masalah dan anteng ayem saja?” lagi-lagi kalimat pak Ridwan mengingatkanku pada papa meski kenyataannya papa tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu. Dan memang benar apa kata pak Ridwan jika sebagai manusia, kami selalu memiliki celah untuk merasa gelisah. Hanya saja, rasanya memalukan sekali kalau aku merasa gelisah karena sebuah perasaan terhadap lawan jenis diusiaku yang ke 28 tahun.
“Pak Ridwan, boleh saya bertanya sesuatu?” mulaiku yang entah mendapat keberanian darimana. Jelas aku bukan tipikal orang yang akan menceritakan masalah tentang perasaanku pada orang-orang yang bahkan belum kukenal genap tiga bulan. Tapi cara pak Ridwan memperhatikanku dan cara lelaki ini mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan begitu tenang dan yakin membuatku ingin menceritakan masalahku pada lelaki ini.
“Tentang jodoh, apa mungkin sorang laki-laki yang hanya mengenal dasar agama bisa berjodoh dengan gadis yang begitu terjaga izzahnya?” dua detik kemudian aku berpikir kalau pak Ridwan akan menertawaiku karena pertanyaan yang kuajukan padanya. Tentu saja aku berpikir jika lelaki ini akan menertawakanku sebab pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang harusnya ditanyakan oleh seorang pria dewasa sepertiku.
“Tentu saja bisa, pak. Jika Allah sudah berkehendak, apa sih yang tidak mungkin?” Tapi nyatanya tidak ada tawa ataupun sorot menghina dari pak Ridwan. Lelaki ini justru kembali melipat kedua kakinya dan mengamatiku lama seolah dia sedang mengamati anak laki-lakinya. “Tapi bukankah dalam al-qur’an sendiri sudah jelas tertulis jika perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik? Seperti itulah hukum Allah, pak.”
__ADS_1
Tentu saja aku tahu hal itu. Tanpa harus membuka kitab suci sekalipun nalarku sudah bisa menjabarkan jika perempuan yang baik memang hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang baik. Tapi, aku bahkan masih ragu apakah diriku mendekati kriteria laki-laki baik itu atau tidak.
“Tapi lagi-lagi Allah maha pemurah, pak.” Sambung pak Ridwan setelah beberapa saat aku hanya diam tanpa menyanggah ataupun bertanya padanya. “Semua bisa diupayakan. Seperti seorang perempuan yang memperbaiki diri agar mendapat laki-laki yang baik. Pun begitu dengan laki-laki yang ingin mendapatkan wanita sholihah, diapun akan berusaha untuk menjadi sholih terlebih dahulu.”
Hatiku mencelos mendengar kalimat pak Ridwan. Aku tahu jika setiap perempuan yang baik akan selalu dijaga untuk kemudian diperuntukkan untuk laki-laki yang baik pula. Hanya saja egoku sebagai seorang pria selalu menganggap remeh hal seperti itu sebab selama ini aku terlalu pongah dengan apa yang kumiliki sebagai seorang pria. Beranggapan jika semua wanita akan luluh dengan segala yang kumiliki, sementara aku selalu saja berharap akan ada wanita baik-baik yang menghampiriku dan menawarkan diri mereka untuk kunikahi. Aku selalu mengharapkan wanita seperti itu sementara aku bahkan tidak peduli dan tidak pernah berkaca sudah sebaik apa diriku sampai begitu lancang mengharapkan wanita seperti itu.
“Seorang gadis yang terjaga dengan baik hanya bisa dijemput dengan cara yang baik pula, pak.”
Lagi-lagi aku seperti tertampar tangan tak kasatmata oleh kalimat pak Ridwan. Bagiamana tidak? Aku bahkan sempat membayangkan kalau aku bisa menjadikan Faza menjadi kekasihku meski aku tahu betul seperti apa gadis itu menjaga dirinya. Bagaimana bisa aku memikirkan jalan seperti itu untuk mendapatkan gadis seperti Faza Aulia yang begitu memperhatikan langkahnya?
“Memang tidak mudah menemukan gadis seperti itu.” Kali ini pandangan mata pak Ridwan seperti mengamati seseorang diluar musolah sembari mengulum senyum tipis. Membuatku mengikuti pandangan lelaki itu dan mendapati seorang gadis sedang berbicara dengan rekannya di samping musolah. Seorang gadis yang membuatku gelisah setengah mati dan dia yang tanpa sadar kujadikan topik obrolan bersama pak Ridwan. “Tapi sekali pak Gibran mendapat gadis seperti itu, maka pak Gibran akan menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini.” sambung pak Ridwan yang masih belum mengalihkan pandangannya dari gadis itu hingga gadis berjilbab abu-abu itu berlalu dan menghilang di balik pintu masuk selasar kampus.
“Menjemput jodoh dengan cara yang mulia.” Gumamku tanpa sadar. Membuat pak Ridwan menepuk pundakku sembari tersenyum tipis.
“Datangi ayahnya dan minta restunya. Insyaa Allah, tidak ada gadis yang tidak luluh jika dijemput dengan cara seperti itu, pak. Apalagi kalau laki-laki yang menjemput itu sekelas pak Gibran.”
“Bagaimana kalau saya ditolak, pak?”
“Kalau pak Gibran ditolak, itu artinya kalian berdua tidak berjodoh dan Allah telah menyiapkan jodoh yang lebih baik untuk kalian berdua. Aturannya sesederhana itu, pak.”
Benar juga. Lantas bagaimana jika nantinya aku ditolak dan menjadikanku patah hati untuk kedua kalinya? Ah, jika saja aku punya keberanian sebesar keberanian yang dimilik oleh Arifin. Pria itu bahkan dengan begitu berani mengajukan ajakan ta’aruf untuk seorang gadis yang bahkan belum pernah dia temui.
* * * * *
__ADS_1