
Arifin
Takdir.
Satu kata sederhana yang selama ini sering kudengar tapi tidak pernah benar-benar kupahami apa maknanya. Aku tahu jika di dunia ini ada sesuatu yang dinamakan dengan takdir. Hanya saja, terkadang aku enggan sekali untuk memaknai sesuatu itu dan mengakuinya sebagai sebuah takdir. Pikiranku terlalu sederhana jika harus mengurutkan sebuah kejadian dan mengaitkannya dengan apa itu yang dinamakan dengan takdir. Dalam otak sederhanaku adalah segala sesuatu memang sudah seharusnya terjadi seperti itu.
Itu dulu, sebelum sebuah pertemuan membuatku percaya apa itu yang dinamakan dengan takdir. Satu pertemuan yang membuat mataku terbuka jika takdir itu memang ada. Satu pertemuan yang membuatku paham jika Allah selalu punya cara untuk memberi pelajaran pada hamba-Nya. Satu pertemuan yang membuatku jatuh cinta, dan satu pertemuan yang pada akhirnya membuat hatiku patah.
“Rif, sore ini kamu tidak pergi kemana-mana ‘kan?” tanya papa kala itu. Hari sabtu sore akhir bulan januari dimana hujan turun dengan lebatnya tanpa mengenal waktu.
“Malam minggu lho, pa.” jawabku yang membuat papa menaikkan alis sembari mengancingkan lengan kemejanya. Aku tidak tahu kalau papa bisa memasang wajah seperti itu pada anak laki-lakinya yang sedang bermalas-malasan disabtu sore.
“Memang kenapa kalau malam minggu? Memang kamu mau pergi kencan kalau malam minggu? Punya pacar saja tidak kamu.”
“Kok jleb sih pa,” single dan tidak punya calon pacar potensial di usia ke 27, dan aku tidak tahu kalau papa bahkan tega sekali menggunakan alasan itu untuk mengolok anak laki-lakinya sendiri.
“Antarkan papa ke rumah pak Rasyid ya, motor papa sedang di bengkel. Mendesak.”
“Pakai mobil Arif saja, berangkat sendiri.”
“Kapan kamu lihat papa nyetir mobil, Rif? Mbok kamu kalau cari alasan yang agak masuk akal sedikit, lah.”
Tak urung aku beranjak juga dari atas sofa dan meraih kunci mobil yang sejak tadi hanya tergeletak seperti benda tidak berguna diatas meja disampingku. Menghampiri papa yang rapi dengan kemeja dan celana panjangnya tanpa mau repot-repot mengganti celana cargo pendek dan kaus polo yang sejak siang tadi kukenakan.
“Tidak mau ganti pakaian yang lebih layak sedikit, nak?” tanya papa yang lagi-lagi dengan nada mengejek saat aku sudah duduk manis di balik kemudi mobil.
“Yang mau ketemu dengan pak Rasyid kan papa, bukan aku. Nanti Arif tunggu di mobil saja.” jawabku abai sembari menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilku menuju ruamah pak Rasyid. Salah satu rekan kantor papa yang sudah beberapa kali berkunjung kerumahku untuk membicarakan pekerjaan.
“Yakin? Siapa tahu nanti ketemu dengan anak perempuannya pak Rasyid. Cantik lho, Rif.”
Yah, selain sering meledekku karena belum punya pasangan diusia 27, papa juga tak jarang memperkenalkan anak perempuan dari teman-teman kantornya. Bahkan sering papa menjadikan alibi sebuah ‘pertemuan’ untuk memperkenalkanku dengan anak perempuan dari koleganya. Itulah kenapa aku hanya tertawa hambar saat papa mengatakan ‘anak perempuan pak Rasyid’.
“Kalau ketemu nanti Arif beri salam untuknya, pa.”
“Tapi kalau papa pikir-pikir Faza itu cocok untuk kamu, Rif. Dia anaknya santun dan yang pasti dia masuk kedalam kriteria pasangan ideal untuk kamu. Mau papa kenalkan?”
“Seolah papa tahu saja kriteria pasangan idealku yang seperti apa.” lagi-lagi aku hanya tertawa hambar sebelum menginjak pedal rem mobilku tepat disamping pintu pagar sebuah rumah sederhana bercat biru muda. Sebuah rumah sederhana yang terlihat biasa saja tapi entah kenapa bisa membuatku begitu tertarik. Rumah yang nyaman. Batinku sembari mengikuti papa yang memasuki halaman rumah pak Rasyid dengan pandanganku setelah aku meyakinkan papa kalau aku menunggu di mobil saja.
Dan satu pertemuan memang terkadang lebih dari cukup untuk membuatku terkesan. Aku memang bukan tipikal pria yang akan berbinar-binar dan mudah terkesan setiap kali bertemu dengan seorang gadis cantik. Seperti saat aku bertemu dengannya. Bukan, maksudku saat aku melihatnya.
Seorang gadis bergamis merah bata dan jilbab lebar abu-abu yang baru saja berjalan keluar dari halaman rumah pak Rasyid dengan sebuah payung warna hijau di tangan kanannya. Seorang gadis berpayung hijau ditengah hujan yang mulai turun diakhir bulan januari. Satu pertemuan, dan aku benar-benar terpesona hanya dengan satu pertemuan.
“Cantik sekali.” Gumamku tanpa sadar. Mengikuti gadis itu yang menjauh dan berjalan menuju sebuah masjid dengan pandanganku. Apa dia anak perempuan pak Rasyid yang sempat papa bahas tadi? Jika gadis itu memang gadis bernama Faza, anak perempuan pak Rasyid, maka untuk pertama kalinya aku menyesali keputusanku untuk tidak mengganti celana cargo pendekku dengan celana kain dan kaus poloku dengan kemeja.
* * * * *
“Faza? Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan Faza?” dan lagi-lagi satu pertemuan saja sudah cukup untuk membuatku terusik oleh sosoknya yang kulihat sekilas itu. Ah, aku masih saja menyebutnya pertemuan meski sebenarnya kami tidak benar-benar bertemu.
__ADS_1
“Penasaran saja,”
“Kalau kamu bertanya tentang Faza hanya karena penasaran, maka papa sarankan kamu cari saja perempuan lain, Rif. Perempuan seperti Faza tidak pantas kamu jadikan objek rasa penasaran.” Tidak ada kelakar seperti biasanya yang kudengar dari jawaban papa. Dan jawaban itu yang justru membuat rasa penasaranku terhadap gadis bernama Faza itu terpantik.
“Bukan begitu, pa. Kemarin saat Arif menunggu papa di mobil, ada gadis yang keluar dari rumah pak Rasyid.”
“Gadis bergamis merah bata dan jilbab abu-abu maksud kamu?”
“Nah, iya.” Tapi nyatanya harga diri dan egoku sebagai seorang pria tidak bisa begitu mudah kurendahkan hanya demi mengetahui siapa gadis muda yang kulihat begitu cantik dibawah hujan yang mulai turun sore itu.
“Lha itu dia Faza. Anak perempuannya pak Rasyid.”
“Oh, dia sudah kerja, pa?”
“Belum lah, masih semester lima masuk semester enam.”
Apa? Dan itu artinya aku terpesona pada mahasiswi yang usianya jauh dibawahku? Gadis bernama Faza itu pasti benar-benar istimewa sampai bisa membuat pria dewasa sepertiku terpesona padanya.
“Mau papa kenalkan?”
“Memang bisa?” baiklah, mungkin aku benar-benar mulai terobsesi pada gadis benama Faza itu sampai aku mau merendahkan harga diriku yang setinggi langit ini untuk mengiyakan tawaran papa.
Dan kupikir perkenalan yang papa maksud adalah aku bertemu secara langsung dengan gadis bernama Faza itu seperti kebanyakan kasus pertemuan yang sering kutahu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau pertemuan yang papa maksud adalah proses ta’aruf dimana aku dan Faza saling bertukar data diri untuk kemudian aku akan melakukan nadzor setelah Faza menyetujui tawaran ta’aruf yang kuajukan. Benar-benar istilah yang sama sekali asing ditelingaku.
“Faza Aulia, 20 tahun, mahasiswi manajemen islam dan mantan santri pondok pesantren Darunnajah di Blora.” Hampir sejam lebih dan aku terus saja mengamati selembar kertas A4 yang sudah kuterima dari papa sejak seminggu lalu namun sempat kuabaikan karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku di kantor. Tidak ada foto atau apapun yang bisa membuatku memastikan kalau gadis yang kulihat tempo hari memanglah gadis bernama Faza yang akan kutemui besok lusa bersama om Lukman yang menjadi waliku.
“Kalau salah satu diantara kalian tidak cocok, ya tidak usah dilanjutkan. Tidak ada paksaan dari papa ataupun pak Rasyid.”
Tapi kekhawatiranku menguar saat sore itu, sabtu sore pertengahan bulan maret saat aku dan om Lukman mendatangi kediaman keluarga pak Rasyid. Kekhawatiranku melebur dan berganti menjadi rasa bahagia saat seorang laki-laki seumuran denganku keluar dari dalam rumah bersama seorang gadis muda.
Gadis bergamis abu-abu dan jilbab merah muda yang pernah kulihat tempo hari. Gadis berpayung hijau dibawah hujan bulan januari. Gadis itu memang dia yang telah membuatku terpesona tanpa sadar. Tapi, kenapa wajahnya sendu begitu? Adakah yang salah dengan kunjungaku dan om Lukman hingga gadis itu terlihat begitu sedih hingga dia terus menggenggam tangan kakak laki-lakinya sepanjang pertemuan kami sore ini?
Lagi-lagi aku terlalu terpesona pada Faza dan terlalu bahagia dengan penerimaan pak Rasyid terhadap diriku hingga aku lalai memperhatikan raut wajah Faza sore itu. Aku terlalu bahagia sebab abah, -panggilanku untuk pak Rasyid- menyetujui rencana pernikahanku dengan Faza. Ah, biarlah sekarang aku masih sedikit ragu, aku percaya bahwa seiring berjalannya waktu aku akan yakin dengan gadis ini. Tapi yang membuatku marah pada diriku sendiri adalah karena aku lalai memikirkan perasaan Faza dan terus saja bertingkah seolah gadis itu tidak akan menolak lamaran dari pria sepertiku. Ego dan kepongahanku sebagai seorang pria membuatku luput memperhatikan perasaan Faza dan tidak sadar kalau gadis itu terluka.
Aku terlalu sibuk dengan bunga-bunga cinta yang mulai tumbuh didalam hatiku karena Faza hingga aku bahkan tidak sanggup memahami perasaan gadis itu dengan benar. Dan saat aku mulai memahami perasaan Faza, aku sadar jika aku telah jatuh cinta begitu dalam pada gadis itu.
Kuakui kalau aku telah jatuh cinta pada gadis muda yang terlihat begitu istimewa. Aku telah jatuh cinta begitu dalam dan dengan cara yang sangat alami meski pada awalnya aku sempat ragu pada gadis itu. Dan saat aku menyadarinya, aku sadar dua hal sekaligus. Pertama karena aku sadar kalau aku mencintai Faza dan aku ingin memilikinya, dan yang kedua aku sadar kalau keberadaanku telah menyakiti gadis itu.
Faza mencintai pria lain. Itu yang mampu kutangkap dari pengakuan gadis itu pada seorang pria yang berdiri dihadapannya malam itu. Seorang pria yang kukenal, pria yang kukagumi, dan pria yang tanpa sadar telah kubenci karena kuanggap dia telah merebut calon istriku.
“Saya menyukai pak Gibran bahkan sejak pertama kali saya melihat bapak empat tahun lalu di Blora. Saya sudah menyukai laki-laki muda yang saya pinjami payung empat tahun yang lalu di stasiun Cepu. Saya menyukai laki-laki asing yang bahkan saya sendiri tidak tahu siapa namanya….” Dan Faza mengatakannya diiringi dengan tangisan yang membuat dadaku sesak sekali. Sakit sekali saat aku harus melihat gadis yang kucintai menangis seperti itu dihadapanku karena pengakuannya pada seorang pria.
“Semoga Allah selalu limpahkan kebahagiaan untuk kamu dan calon suamimu, kekasihku.”
Kekasihku.
Tidak pernah kudengar ada seorang pria yang mengatakan hal seperti itu pada seorang gadis dengan begitu tulus, juga begitu memilukan. Pria itu mengatakannya. Dia mengakui calon istriku sebagai kekasihnya meski setelahnya dia berlalu meninggalkan calon istriku yang masih menangis begitu pilu di pelataran parkir kampus.
__ADS_1
Dia berlalu sebelum aku sempat mengatakan padanya kalau apa yang dia lakukan telah melukai gadisku. Ah, sebenarnya siapa yang telah melukai Faza disini? Tidakkah aku yang lebih dulu melukai gadis itu?
Berat sekali.
Rasanya seperti aku disuguhi buah simalakama saat aku memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahanku dengan Faza. Aku tidak ingin melepaskan gadis itu dan ingin tetap menikahinya, tapi aku juga tidak ingin terus melukainya seperti ini. Sayangnya, aku tidak menemukan cara lain agar aku berhenti melukai Faza selain dengan melepaskannya.
Berat sekali.
Saat sekali lagi aku melihat setitik air mata jatuh dari sudut mata Faza begitu aku mengatakan kalau aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami. Hatiku hancur. Pertama karena aku harus melepaskan mutiaraku dan karena aku melihat gadisku menangis karena keputusanku.
“Aku hanya ingin membahagiakan kamu, mutiaraku.”
Sakit sekali.
Jelas ini bukan pertama kalinya aku patah hati, tapi entah kenapa rasanya ini yang paling membuat hatiku nyeri hingga rasa-rasanya hatiku akan menjadi kebas setelah ini. Tapi bukankah ini lebih baik dibandingkan menyiksa Faza dengan menjadikannya istriku dan membiarkannya duduk di pelaminan denganku sementara gadis itu membayangkan pria lain untuk menjadi suaminya?
“Faza akan menikah, Rif. Dengan dosennya di kampus.”
Betapa sebenarnya aku tidak menginginkan berita itu sampai ditelingaku. Aku ingin Faza bahagia dengan pria itu, tapi aku juga tidak siap jika harus mendengar berita tentang pernikahan mereka.
‘Kalau Allah sudah menjodohkan, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan lagi kecuali kematian. Sekeras apapun kamu mengupayakan, sebesar apapun kamu mencintai dan menyayanginya, bahkan seyakin apapun kamu terhadapnya, kalau Allah belum menjodohkan, tidak ada yang bisa kamu lakukan. Pasrah, Allah akan sembuhkan patah hati kamu.’
Belum berjodoh.
Nyatanya meski hatiku patah karena batalnya pernikahanku dengan Faza, yang bisa kulakukan hanyalah berpasrah. Terus menggumam kalau semua ini terjadi sebab aku dan Faza tidak berjodoh. Meski nyatanya berat sekali saat aku melangkahkan kakiku turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah rumah yang sudah beberapa kali kudatangi. Hanya saja, kali ini suasana rumah itu berbeda dari sebelumnya. Dekorasi yang belum dibongkar meski hari sudah malam cukup untuk membuatku paham jika pernikahan mereka memang berlangsung dengan lancar.
“Bagaimanapun, selamat untuk pernikahan kalian.”
Jika saja yang saat ini duduk disamping gadis itu adalah aku, akan menjadi seperti apa malam pertama kami? Jika saja yang duduk disamping Faza bukanlah pria itu, apakah gadis itu juga akan sebahagia saat ini?
Ah, lagi-lagi Allah sedang membuatku mengerti dan paham jika ada hal-hal yang memang harus kulepaskan meski sebenarnya aku ingin mengupayakan. Seperti aku melepaskan Faza meski sebenarnya aku ingin merengkuhnya. Allah sedang mengajariku untuk merelakan, membuat hatiku ikhlas dan membuatku berlapang dada.
“Jadi semua yang telah kulalui selama ini sia-sia saja?”
Tidak ada yang sia-sia dari pertemuanku dengan Faza meski akhirnya kami tidak jadi menikah. Lagi-lagi Allah sedang menunjukkan padaku bahwa jika aku ingin mendapatkan gadis yang terjaga seperti Faza, maka aku juga harus menjadi sepantas-pantasnya laki-laki untuk mendampinginya.
Dan saat ini, laki-laki yang paling pantas untuk mendampingi seorang Faza Aulia memanglah hanya Gibran Wibisana. Seorang pria yang pernah kutemui tiga tahun lalu dan seorang pria yang membuatku paham jika aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dirinya.
Mungkin keberanianku untuk melamar Faza lebih besar dibandingkan keberanian pria itu. Hanya saja, aku bahkan bisa merasakan betapa besar seorang Gibran Wibisana mencintai istrinya. Lantas, bagaimana mungkin aku sanggup mengalahkan rasa cinta pria itu untuk Faza jika perasaan yang pria itu rasakan sudah tumbuh selama bertahun-tahun? Bagaimana mungkin aku bisa masuk melalui sela-sela dari dua orang yang saling mencintai begitu tulus?
“Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah, mutiaraku.”
Mutiaraku.
Biarlah tetap kuanggap Faza sebagai mutiaraku hingga nanti kutemukan mutiara lain untuk menggantikan dirinya. Mutiara yang akan kujaga selamanya.
* * * * * Selesai * * * * *
__ADS_1