Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
Calon Suami


__ADS_3

Masih dirumah kasih sayang.


Setelah rangakaian acara tasyakuran tujuh bulanan Zelina berlangsung, sembari menunggu waktu maghrib dan berbuka puasa, semua yang hadir sangat antusias mendengarkan tausiyah dari ustadz Hasibuan yang merupakan pemimpin salah pondok pesentren yang ada di Palembang.


Zayn merasakan kebahagiaan yang luar biasa dihatinya, hari itu adalah hari pertamanya berpuasa sebagai seorang muslim dan sore itu juga merupakan buka puasa pertamanya bersama dengan saudara-saudara se-Imannya, Zayn begitu menikmati momen ini.


“Alhamdulillah, barokallah... Terima kasih Yaa Allah atas nikmat Iman dan nikmat Islam yang telah Engkau hidayahkan kepada hamba” ucap Zayn dengan perasaan yang membuncah dihatinya.


“Mama Papa, semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa kalian berdua, semoga dilapangkan, diluaskan dan diterangi kubur kalian. Yaa Allah tempatkanlah kedua orang tua hamba kelak bersama orang-orang yang ber-Iman dan semoga kelak Engkau kumpulkan kami dalam Syurga-Mu” kini kristal bening itu jatuh mengalir dipipi Zayn ketika mengingat kedua orang tuanya.


“Mama Papa, waktu itu kita punya rencana sendiri untuk menikmati ramadhan pertama kita, tapi ternyata Allah lebih menyayangi kalian berdua untuk kembali ke sisi-Nya.” Air mata Zayn masih terus mengalir disaksikan sajadah panjang sebagai alas tempat ia bersujud menghadap Ilahi Rabbi.


Zayn merasakan ada kerinduan yang amat mendalam kepada kedua orang tuanya selepas sholat maghrib berjama'ah. Hanya doa tulus dan ikhlas yang bisa Zayn lakukan untuk mengobati kerinduannya itu.


Selain Zayn di acara itu ada Kak Prinka dan juga Diki.


Diki yang notaben adalah asisten pribadi Zayn, jadi kemanapun Zayn pergi pasti ada Diki membersamainya, kecuali jika ada hal-hal yang mendesak yang membuat Zayn tidak ditemani Diki.


Sedangkan Kak Prinka sebelum acara tasyakuran berlangsung, sore tadi sudah datang ikut hadir untuk acara pengajian tasyakuran tersebut di rumah kasih sayang.


Kak Prinka serba salah dengan sikap Umma Zilvia yang semakin jelas mengakrabkan diri dengannya, Umma Zilvia banyak bertanya tentang pribadi Kak Prinka termasuk soal pernikahan.


Setelah sholat maghrib berjama’ah sembari menikmati hidangan berbuka puasa, Umma Zilvia senantiasa bersama Kak Prinka.


“Alhamdulillah ya Mbak, pasti seneng banget jika bisa hamil dan punya anak” ucap Umma Zilvia.


“Iya mbak” ucap Kak Prinka bingung harus memberi respon apa kecuali mengiyakan.


Jujur saja sebagai seorang wanita Kak Prinka juga ingin menikah dan punya anak, namun trauma masa lalunya masih saja menjadi benteng tinggi untuk ia memulainya.


“Lihatlah kedua keluarga besar mbak Zelina dan dr.Syaamil terlihat begitu bahagia ya mbak” ucap Umma Zilvia.


Kak Prinka pun terharu melihat kebahagian dan kekompakan keluarga Zelina dan dr.Syaamil.


“Beruntung sekali ya mbak, mbak Zelina di kehamilan pertamanya langsung di amanahkan Allah dengan tiga anak kembar dan kali ini kabarnya kembar juga” ucap Umma Zilvia yang kini sudah basah pipinya oleh air matanya.


“Mbak menangis, ini mbak” ucap Kak Prinka spontan ketika melihat wajah Umma Zilvia yang diam-diam banjir air mata sambil memberikan tissu pada Umma Zilvia.


“Maaf ya mbak” ucap Umma Zilvia menghapus air matanya dengan tissu yang diberikan oleh Kak Prinka.


Kak Prinka hanya mengangguk.


“Saya sudah lama menikah dengan Bang Ayubi, tapi sampai hari ini Allah masih belum mempercayakan amanahnya kepada kami, ini bukannya salah Bang Ayubi tapi memang kendalanya ada pada saya” lagi air mata itu mengalir dengan deras.


Umma Zilvia masih menagis dengan tetap menunduk sambil memasukkan makanan yang ada dipiringnya, namun sesekali ia mengakat kepalanya untuk tersenyum pada Kak Prinka setelah ia berhasil menghapus air mata di pipinya.

__ADS_1


Mungkin Umma Zilvia tidak ingin orang lain tahu bahwa saat ini dia sedang merasakan kesedihannya.


“Mbak, yang kuat ya mbak, mungkin belum saja. Mama nya Zayn juga begitu dulu, lama banget belum dapet-dapet momongan tapi alhamdulillah pada akhirnya Allah menitipakn Zayn dirahimnya mbak Lita." Kak Prinka mencoba menguatkan Umma Zilvia.


“Terima kasih motivasinya nya ya mbak, maaf saya jadi curhat sama mbak Prinka” ucap Umma Zilvia tersenyum dengan wajah yang sangat manis dengan lesung pipi yang dalam di pipi sebelah kanannya.


“Oiya mbak Prinka maaf sebelumnya ya, saya agak kepo ni. Hehehe” ucap Umma Zilvia tersenyum ramah padahal tasi barusan habis nangis.


Tebakan Kak Prinka mungkin itu cara Umma Zilvia untuk menetralisir dan menutupi kesedihannya.


“Iya kenapa mbak?” tanya Kak Prinka.


"Kira-kira mbak Prinka sudah ada calonnya belum ya?” tanya Kak Prinka


“Calon, emmhh... maksudnya mbak Zilvia apa ya?” Kak Prinka tersenyum kikuk sambil memasukkan kue lumpur syurga kedalam mulutnya karena deg-deg kan.


“Maksud saya calon suami, hehehe” kini wajah Umma Zilvia sedikit ceria dengan bibir tipis yang di padu dengan pewaarna bibir warna pink muda yang terlihat begitu segar.


“Uhhhuuukk... uhhhuukkk... uuuhhhuuuukk....” spontan Kak Prinka terbatuk dan keselek kue lumpur syurga ketika mendengar ucapan Umma Zilvia.


“Subhanallah... mbak Prinka, minum dulu mbak” ucap Umma Zilvia sambil memberikan mineral cup pada Kak Prinka.


“Ehhmm... terima kasih mbak” ucap Kak Prinka sambil mengelap mulutnya dengan tissu.


“Iya nggak papa mbak, saya hanya kaget saja tadi” ucap Kak Prinka yang sebenarnya selain kaget saat ini jantungnya juga berdegub makin kencang yang membuatnya salah tingkah dihadapan Umma Zilvia.


“Jadi, kira-kira mbak Prinka ini sudah ada calon suami belum ya?” lagi Umma Zilvia bertanya dengan pertanyaan yang sama.


Kak Prinka benar-benar salah tingkah dibuat Umma Prinka. Entah apa sebenarnya maksud dari Umma Zilvia terus menanyakan hal itu padanya.


“Umma Zilvia kenapa ya, kok ingin tahu banget soal itu, aku kan jadi malu mau jawab apa, jawab udah kenyataannya belum ada, jawab belum entar dikira nggak laku, huhuhuhu.....” gumam hati Kak Prinka.


“Owhh... jangan-jangan Umma Zilvia udah mulai curiga ni kalau sebenarnya aku kadang-kadang salah tingkah kalau berpapasan dengan suaminya. Yaa Allah... ampuni hamba, hamba nggak ada niat untuk merebut suaminya, nggak ada ceritanya mau jadi pelakor. Owwhh No !!!, amit-amit, naudzhubillah....” lagi gumam hati Kak Prinka yang asyik dengan pikirannya sendiri.


“Kok melamun mbak?” tanya Umma Zilvia menyadarkan Kak Prinka dari lamunannnya.


“Owhh, tadi lagi mikir aja” jawab Kak Prinka bingung.


“Mikir apa mbak?” tanya Kak Prinka sambil memberikan Kak Prinka mankok yang berisi pempek dan cuko.


Kak Prinka merasa tak enak hati karena sejak datang tadi sampai saat ini, Umma Zilvia seolah menyambutnya dengan ramah dan memperlakukannya dengan spesial.


“Mikirin jawaban dari pertanyaan mbak Zilvia tadi, hehehe” ucap jujur Kak Prinka.


“Oalah, sampe segitunya, jadi apa jawabannya?” Umma Zilvia benar-benar penasaran.

__ADS_1


“Sejujurnya belum ada mbak, entahlah sejak pernikahan pertama saya yang gagal dan karena banyak alasan lainnya, sampai saat ini saya belum berani untuk menikah lagi ataupun membuka hati saya pada pria. Rasanya trauma masa lalu itu masih menghantui kehidupan saya” ucap Kak Prinka jujur.


“Mbak Prinka harus bisa membuka hati mbak, hidup menyendiri itu kurang baik juga. Apa pernah ada yang menyukai mbak atau mbak pernah tertarik, emhh... maksudnya ada perasaan spesial pada seorang pria gitu?” tanya Umma Zilvia.


Jleeeebbbbb....


Pertanyaan frontal itu seolah menusuk jantung Kak Prinka.


Selama ini memang ada beberapa orang laki-laki mapan baik itu bujangan ataupun duda, ada yang pengusaha, ada juga pejabat pemerintah yang tertarik dan ingin memperistri Kak Prinka, tapi satupun dari mereka tidak ada yang bisa membuat hati Kak Prinka terketuk ataupun membuatnya nyaman.


Banyangan trauma masa lalu selalu saja menjadi momok besar dalam hatinya yang senantiasa membuatnya takut untuk menikah lagi.


Namun, beberapa bulan ini saat bertemu dengan ustadz Ayubi, entah ada angin apa hati Kak Prinka bergetar meski hanya sekilas memandang, jantungnya terus saja berdegub kencang saat berpapasan dengan ustadz tampan itu.


“Astaghfirullahaladziim....” ucap Kak Prinka dalam hati.


Belum sempat menjawab pertanyaan Umma Zilvia, tiba-tiba Kak Prinka dikejutkan dengan kehadiran Jhonson dan beberapa pengawal dari Maminya, Mami Aleta.


“Jhonson” ucap Kak Prinka.


“Jhonson???, owhh... jadi namanya Jhonson ya, ternyata sudah ada calonnya ya” ucap Umma Zilvia dengan nada suara kecewa dan raut wajah memelas.


“Bukan, maksudku laki-laki itu, itu Jhonson asistennya Mami Aleta, Oma nya Zayn. Kenapa dia ada disini?” tanya Kak Prinka kaget dengan perasaan tak enak dihatinya.


Umma Zilvia pun melihat laki-laki yang ditunjuk oleh Kak Prinka. Umma Zilvia masih mengenalinya karena saat lamaran Cinta waktu itu laki-laki yang ditunjuk Kak Prinka itu memang membersamai Oma nya Zayn.


“Diundang juga mungkin” jawab Umma Zilvia.


“Zayn, mana Zayn?” Kak Prinka celingak celinguk mencari keberadaan Zayn dengan perasaan cemas.


Tak lama, Zayn pun kini menemui Jhonson dan mereka terlihat menepi dan berbicara serius.


“Mbak Zilvia, kutinggal sebentar ya, aku ke Zayn dulu” ucap Kak Prinka dengan gelagat cemasnya.


“Iya mbak silahkan” ucap Umma Zilvia.


Kak Prinka pun bergegas menemui Zayn dan Jhonson yang sedang duduk di kursi meja bundar khusus untuk tamu laki-laki.


Jantung Kak Prinka berdegub kencang merasakan ada sesuatu yang tidak enak dihatinya, Kak Prinka yakin kedatangan tuan Jhonson pasti berkaitan dengan acara malam ini di rumah tuan Erick.


“Semoga bukan masalah besar. Aamiin Yaa Allah” ucap Kak Prinka yang kini sudah berdiri di dekat kursi tempat Zayn duduk.


#tbc....


...Jangan lupa tinggalkan jejaknya disini ya untuk membantu author agar karya ini bisa diminati banyak pembaca. Love U all readers atas semua dukungannya baik itu like, vote, rate, favorit dan juga komentar penyemangatnya 😍...

__ADS_1


__ADS_2