
Gibran
Kutarik napas dalam sekali lagi sebelum mematikan mesin mobil dan meraih tas ransel yang kuletakkan di kursi belakang. Ujian tengah semester sudah berlangsung minggu kemarin, dan itu artinya aku harus kembali mengajar seperti biasa setelah seminggu kemarin aku ijin untuk tidak datang ke kampus. Yah, meski aku datang ke kampus pada hari jumat siang kemarin untuk mengambil beberapa berkas, tetap saja itu tidak masuk hitungan.
Dan pagi ini, perasaanku rasanya sudah tidak karuan bahkan sejak aku baru selesai mandi dan bersiap-siap untuk mengajar. Berulang kali menarik napas dalam untuk menghilangkan perasaan mengganggu itu.
“Seriously, Gibran? Ini bukan senin pertamamu mengajar disini.” gerutuku sendiri sebelum membuka pintu mobil dan menutupnya dengan sedikit berlebihan karena kesal sendiri.
Tentu saja perasaanku tidak karuan begini bukan karena ini adalah hari pertamaku mengajar. Bahkan hari pertamaku mengajar dua bulan lalu rasanya biasa saja. Dan aku harus mengakui kalau perasaanku menjadi tidak terkendali seperti ini karena aku mengingat kalau jam kedua nanti aku mengajar di kelas A3 semester enam dan itu artinya aku akan bertemu dengan gadis itu. Yah, tentu saja aku sudah tidak bisa lagi hanya menganggap Faza Aulia sebatas mahasiswiku semata setelah minggu lalu aku dan keluargaku membicarakan gadis itu. Aku bahkan masih ingat betul reaksi Hendri Wibisana saat mendengar kalau anak laki-lakinya sudah menemukan seorang gadis yang ingin dia jadikan istri.
“Tapi ini bukan sekedar alibi karena kamu tidak mau papa jodohkan dengan Resa ‘kan?” meski sebenarnya papa sedikit ragu dengan pernyataanku kalau aku berniat melamar seorang gadis yang kutemui di Surabaya, tapi tak urung papa mengangguk juga.
“Gadis seperti dia tidak pantas kalau hanya untuk kujadikan alibi, pa.” memang benar, nyatanya aku tidak akan mau repot-repot naik kereta api dari Surabaya ke Jakarta kalau hanya untuk membual pada papa soal gadis yang ingin kulamar.
“Dan, mama tebak kalau gadis itu istimewa sekali sampai kamu rela pulang ke Jakarta untuk membicarakan masalah ini bersama mama dan papa ‘kan?” dan tentu saja mama mengamini keinginanku untuk melamar gadis itu, yang tak lain adalah Faza karena selama ini mama memang menginginkan agar aku segera menikah.
Nyatanya, kepergian Aida tujuh tahun yang lalu tidak hanya membuatku patah hati, tapi juga telah melukai mama begitu dalam. Jadi aku tidak menyalahkan mama yang begitu bersemangat saat mendengar kalau anak laki-lakinya ingin melamar seorang gadis setelah hampir enam tahun lamanya aku memilih untuk menyendiri.
“Jadi, sudah berapa lama kalian pacaran? Dia gadis yang seperti apa?” tanya mama seolah wanita itu sedang bertanya tentang dimana arisan pekan depan diadakan.
“Kami tidak pacaran kok, ma.” Aku juga masih ingat betul raut wajah mama saat mengatakan kalau gadis yang ingin kulamar nyatanya memang bukan pacarku. “Yah, dia tipikal gadis yang tidak akan pacaran sebelum menikah. Jadi lebih baik Gibran lamar dia terlebih dahulu ‘kan daripada keburu dilamar orang?”
“Bagaimana bisa kalian menikah tanpa pacaran dulu?” hatiku bahkan menghangat seketika saat mama mengucapkan kata ‘menikah’ meski dengan nada seperti itu.
__ADS_1
“Bisa, ma. Malah lebih berkah nanti. Yang terpenting mama dan papa beri restu untuk Gibran.”
“Siapa namanya, nak?”
“Faza, pa. Namanya Faza Aulia.”
“Segera temui ayahnya. Ajak om Rudi untuk menjadi wali kamu.”
“Dan segera kabari mama dan papa setelah kalian menemui keluarga Faza, Gibran.”
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun aku melihat orang tuaku begitu yakin dengan keputusanku. Meski aku masih bertanya-tanya kenapa papa dan mama begitu yakin menyetujui keinginanku untuk melamar seorang gadis yang bahkan bukanlah pacarku. Apakah karena orang tuaku hanya kasihan padaku karena setelah enam tahun akhirnya menemukan pengganti Aida, dan tidak ingin membuatku patah hati lagi. Atau karena mereka murni ingin memberiku restu. Entahlah, untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan hal seperti itu.
Biar saja nanti mereka mengatakan sendiri padaku alasan kenapa mereka begitu mudah menerima gadis pilihanku tanpa bertanya tentang asal-usul gadis itu.
“Papa percaya kalau kamu sudah bisa memilih dengan baik gadis yang ingin kamu jadikan istri, Gibran. Lagipula kalau gadis itu memegang teguh prinsipnya untuk tidak pacaran sebelum menikah, maka sudah pasti dia adalah gadis yang baik.”
“Kalau mama, biar nanti mama kenalan dengan gadis itu kalau dia sudah menjadi istri kamu, nak.”
Dan, bolehkah aku menganggap semua itu sebagai jalan yang akan memudahkanku dalam langkah untuk melamar gadis itu?
__________
“Ijin selama satu minggu?” tapi pikiran tentang jalan mudah yang akan kutempuh untuk melamar Faza hanya bertahan hingga jam tiga sore. Saat aku mendengar dari Tania kalau selama seminggu ini Faza tidak bisa mengikuti kegiatan LPM karena gadis itu ijin tidak masuk kuliah selama satu minggu penuh.
__ADS_1
“Pantas saya tidak melihatnya di kelas tadi.” Gumamku untuk menanggapi kalimat Tania. Kupikir Faza tidak hadir hanya untuk hari ini saja dan aku sama sekali tidak ingin memancing reaksi buruk dari teman-teman sekelas Faza dengan bertanya terlalu jauh kenapa hari ini Faza Aulia tidak menghadiri kelas manajemen islam.
“Aruna bilang Faza sedang mengunjungi tempatnya mondok dulu, pak.” Sambung Tania yang membuat kerutan didahiku terasa semakin dalam.
“Mondok?” aku memang sudah memikirkan kemungkinan itu sejak pertama kali aku melihat Faza, hanya saja aku sama sekali tidak berpikir kalau Faza memang seorang mantan santri.
“Iya, Faza pernah mondok di Blora, pak. Sejak umur sepuluh tahun kalau tidak salah, dan baru keluar setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di Surabaya.”
Blora. Kupikir aku bertemu dengan Faza di Blora empat tahun lalu di stasiun karena kebetulan gadis itu sedang melakukan perjalanan liburan atau semacamnya karena saat itu memang sedang musim liburan sekolah. Jadi, saat itu aku bertemu dengan Faza karena gadis itu baru kembali dari rumahnya di Surabaya dan kembali ke pondoknya di Blora. Dan gadis itu menjadi santri diusianya yang ke sepuluh? Sungguh, kenyataan itu membuatku merasakan dua hal bersamaan. Pertama aku bahagia tanpa sebab karena penilaianku terhadap gadis itu melesat begitu tinggi, dan yang kedua aku justru merasa ragu apakah gadis itu sudi menerima lamaranku yang tidak punya latar belakang pendidikan seperti dirinya meski saat ini statusku adalah seorang dosen.
“Tania…”
“Ya pak?”
“Ehm, kabarkan pada teman-teman kalau kita akan mengadakan rapat sekali lagi sebelum seminar ya.”
“Kapan pak?”
“Minggu depan.”
Sebenarnya bukan itu yang ingin kutanyakan pada Tania. Hanya saja, rentetan pertanyana-pertanyaan seputar Faza kembali kutelan dan kusimpan untuk diriku sendiri saja. Sebenarnya aku ingin bertanya apakah selama ini Faza pernah dekat atau didekati oleh teman-teman laki-lakinya? Aku ingin tahu sebenarnya seperti apa Faza dimata teman-temannya. Juga tentang seperti apa kehidupan gadis itu. Tapi kupikir tidak pantas jika seorang dosen bertanya tentang hal seperti itu pada mahasiswanya. Bukan karena aku begitu ingin menjaga wibawaku sebagai seorang dosen, tapi aku tidak ingin menilai Faza dari apa yang kudengar dari orang lain.
Biarlah nanti kutanya sendiri padanya tentang segala hal yang ingin kutahu. Tapi pertama-tama aku harus mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada gadis itu apakah sudah ada seorang pria yang melamarnya atau belum.
__ADS_1
* * * * *