Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
27. Jarak dan rasa sakit (1)


__ADS_3

Gibran


Aida Restanti


Untuk kesekian kalinya kueja guratan nama pada sebuah potongan kayu di tangan kananku. Menyentuhnya dengan ibu jari dan merasakan setiap huruf yang tercetak pada kayu kecil yang diukir dengan begitu indah. Satu dari dua benda kenangan yang Aida tinggalkan untukku selain perasaan yang masih tersimpan begitu rapi disalah satu sudut hatiku.


Aku ingat kapan aku dan Aida bertingkah seperti remaja 18 tahun saat kami memutuskan untuk membuat dua bandul kayu dengan ukiran nama kami masing-masing. Saat itu sebulan setelah aku resmi menjadikan Aida sebagai kekasihku dan beberapa bulan sebelum aku memutuskan untuk melamar gadis itu. Saat kami sedang mengunjungi kota Jepara untuk kegiatan kuliah kerja lapangan dan mengunjungi industri pengrajin kayu.


Saat itu memang sebenarnya Aida belum diwajibkan untuk mengikuti KKL sebab jatah KKL untuk angkatannya masih tahun depan. Hanya saja, entah kenapa Aida begitu bersemangat untuk ikut saat aku mengatakan kalau aku akan mengikuti kegiatan KKL ke Semarang dan mampir ke Jepara.


“Kenapa harus kayu sih, Da? Kenapa tidak cincin saja?” tanyaku kala itu. Awalnya aku ingin mengukir nama kami berdua pada sepasang cincin yang akan kami kenakan. Hanya saja Aida menolaknya dengan alasan kalau memakai cincin pasangan di usia pacaran kami yang baru satu bulan benar-benar bukan ide bagus.


“Cincinnya besok saja kalau sudah menikah.” Jawab Aida santai sembari terus mengamati tukang ukir yang sedang mengukir namaku pada sebuah potongan kayu jati.


Saat gadis-gadis seusianya begitu bersemangat dengan tawaran cincin untuk menjadi ‘couple stuff’ dengan pasangannya, Aida justru terobsesi dengan kayu jati.


“Lagipula kenapa harus kayu jati? Semua kayu sama saja ‘kan?”


“Beda lah, mas.” Aida bahkan berdecak kesal sebelum kembali tersenyum saat menerima ukiran pesanannya dan mengamatinya dengan senyum puas. “Mana bisa kayu jati disamakan dengan kayu jabon? Mereka serupa, tapi tidak sama.” sambungnya lagi sembari berjalan pelan menyusuri gang untuk sampai pada tempat dimana bus kami parkir.


“Tunggu, kamu kuliah di jurusan ekonomi ‘kan? Kenapa bisa paham apa itu jati dan apa itu jabon?” tanyaku heran yang kembali membuat Aida berdecak kesal dan mencubit pinggangku dengan gemas. Membuatku tergelak keras hingga beberapa pengrajin yang sedang bekerja di sepanjang gang menoleh kearah kami berdua.

__ADS_1


“Kamu kok sukanya oot sih, mas?”


“Iya iya, sayang. Maaf. Then, kamu belum jawab pertanyaanku, kenapa harus kayu jati?”


“Karena di Jepara banyaknya kayu jati, sih.” Kali ini aku yang gemas setengah mati mendengar jawaban Aida dan mencubit pipi gadis itu. “Iya iya, bukan karena itu. Tapi karena kupikir kayu jati itu istimewa.” Mulai Aida sembari memberikan ukiran kayu bertuliskan namanya padaku sementara dirinya menyimpan kayu dengan ukiran namaku.


“Kayu jati itu butuh puluhan tahun untuk menghasilkan kayu berkualitas baik, mas. Sama seperti cinta, untuk tetap awet, kita harus memeliharanya dengan baik meski butuh waktu hingga puluhan tahun. Setelahnya, cinta itu akan awet bahkan hingga ke surga.” Sambungnya yang membuatku terdiam untuk beberapa saat hingga pada akhirnya aku hanya tertawa menanggapi kalimat Aida. Lagi-lagi membuat gadis itu mencebik tidak suka dan mencubit pinggangku sekali lagi.


“Harusnya kamu dulu kuliah jurusan perhutanan saja, Da. Jangan ekonomi.”


Tapi sungguh, aku sama sekali tidak berniat menertawakan Aida dan segala filosofinya tentang kayu jati dan perasaan yang kami namai cinta. Hatiku bahkan menghangat mendengar kalimat Aida, hingga aku kehilangan kata-kata yang ingin kuucapkan pada gadis itu.


“Jika saja kamu masih disini, apa kita juga masih memelihara cinta itu bersama-sama hingga detik ini, Da?” bisikku nelangsa sendiri. Bahkan aku tidak sadar kapan mataku mulai memanas hingga rasa panas itu telah menjelma menjadi tangis yang tidak mampu kutahan. Menjatuhkan ukiran kayu bertuliskan nama Aida tepat disampingku dan merasakan dadaku yang terasa sesak luar biasa. Jika saja aku mendengar filosofi Aida tentang kayu jati itu sekarang, sudah pasti aku tidak akan tertawa saat menanggapi gadis itu.


“Kamu pasti marah kalau tahu aku bisa menjadi selemah ini, Da.”


Terkadang aku berpikir tentang apa yang akan Aida katakan padaku jika saja enam tahun lalu gadis itu diberi kesempatan untuk mengucapkan beberapa hal padaku sebelum akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya. Tentang pesan apa yang akan Aida sampaikan padaku jika dirinya sudah tidak ada.


Apakah gadis itu akan memintaku untuk tetap setiap dengannya, atau memintaku untuk mencari penggantinya?


Ah, tapi lagi-lagi terkadang hidup memang tidak seramah yang kupikirkan selama ini. Aida pergi bahkan tanpa mengatakan apapun padaku. Pun gadis itu juga tidak memberi isyarat apapun padaku sebelum kepergiannya. Semua terjadi begitu saja hingga saat aku menemukan akal sehatku, Aida telah pergi dariku untuk selamanya.

__ADS_1


“Aku patah hati lagi, Da.”


Aku tahu kalau tidak seharusnya aku menjadi seperti ini hanya karena gadis yang ingin kulamar ternyata sudah mempunyai seorang calon suami. Tidak seharusnya seorang pria dewasa sepertiku menggalau seperti remaja 18 tahun karena patah hati. Tapi, untuk kali ini saja, aku ingin bertingkah seperti ini. Setidaknya hingga rasa sakit yang kurasakan sedikit berkurang.


Meski pada akhirnya butuh waktu hingga satu minggu lebih agar aku bisa sedikit menata perasaanku setiap kali aku melangkah keluar pintu rumahku dan mengemudikan mobilku menuju kampus.


Memikirkan bahwa aku akan bertemu dengan Faza tak urung membuatku uring-uringan sendiri. Satu minggu, dan aku sama sekali belum bisa mengendalikan diri setiap kali aku harus mengisi mata kuliah di kelas Faza. Bahkan pada pertemuan hari kamis lalu aku memilih untuk memberi tugas diskusi kelompok karena tidak tahan dengan kegusaran yang kurasakan saat beberapa kali tatapanku dan Faza bertemu untuk beberapa saat.


Baiklah, sebenarnya bukan bertemu tanpa sengaja, tapi aku yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh kearah gadis itu tiap beberapa menit sekali.


Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Faza selepas aku meninggalkannya di pelataran parkir sore itu.


Aku ingin bertanya apa yang terjadi padanya dan Arifin selepas sore itu. Aku juga sebenarnya ingin bertanya pada Faza tentang kabarnya dan meminta maaf padanya untuk semua kekacauan yang kulakukan. Hanya saja, kata-kataku selalu tertahan di ujung lidah setiap kali aku bertemu dengan gadis itu.


Dan pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanya memandang Faza dari kejauhan dan memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


“Kenapa kamu terlihat bersedih seperti itu, kekasihku?”


Kekasihku. Entah kenapa aku begitu berani mengakui Faza sebagai kekasihku sementara aku tahu betul kalau gadis itu sudah punya calon suami yang tak lain adalah teman lamaku sendiri. Entah keberanian darimana aku menyebut Faza sebagai kekasihku meski kenyataannya aku bahkan sudah tidak memiliki celah untuk menjadikan gadis itu sebagai kekasih halalku. Yang kutahu, aku hanya ingin melakukannya. Aku ingin menyebut Faza Aulia sebagai kekasihku meski itu hanya untuk diriku sendiri.


Setidaknya, hingga aku menemukan gadis yang sanggup menggantikan posisi Faza seperti Faza menggantikan posisi Aida.

__ADS_1


“Jangan bersedih, Allah akan selalu melimpahkan kebahagiannya untukmu.”


* * * * *


__ADS_2