
Kupikir aku akan gugup setengah mati karena pagi ini adalah acara ijab qabul bersama abah dan penghulu serta para saksi di rumah Faza. Tapi pikiran itu tidak terbukti karena nyatanya aku masih bisa bersikap tenang meski ada sedikit perasaan gugup. Mama dan Renata bahkan sempat meledekku yang bisa bersikap begitu tenang alih-alih merasa gugup hingga mengalami sindrom kupu-kupu berterbangan didalam perutku.
“Semalam sudah kangen-kangenan dengan Faza ya sampai bisa setenang dan seyakin ini?” ledek mama saat memasuki kamarku dan membantuku bersiap-siap sebelum kami sekeluarga bertolak kerumah Faza. Pertanyaan yang hanya kutanggapi dengan senyum tipis karena aku sendiri tahu kalau mama hanya menanyakan hal itu sebagai sebuah lelucon. Mama tahu kalau calon menantunya adalah tipikal gadis pondok pesantren yang tidak akan semudah itu ditemui oleh laki-laki yang bukan mahramnya.
“Kalau suatu saat mama berlaku tidak adil terhadap kamu, Renata, dan Faza, tolong ingatkan mama nak. Tolong ingatkan mama kalau Faza adalah istri kamu dan itu artinya dia juga anak mama. Tolong ingatkan mama untuk menyayangi Faza seperti mama menyayangi kamu dan Renata.” Ucap mama yang membuatku mengurungkan niat untuk memakai jas ditanganku yang sebenarnya sudah akan kupakai.
Memperhatikan mama dengan seksama dan mengamati kerutan-kerutan yang mulai nampak di wajah wanita itu. Ah, aku baru sadar kalau mama sudah tidak semuda dulu. Mungkin itulah kenapa mataku mulai memanas saat mama meraih jas ditanganku dan membantuku memakainya.
“Ma,”
“Sebab mama tidak mengandung dan membesarkan Faza, tapi dia rela meninggalkan keluarganya demi mengabdikan sisa hidupnya untuk anak laki-laki mama. Jadi tolong jaga dia dengan baik, nak. Tolong ingatkan mama, papa atau Renata kalau suatu saat kami berlaku tidak baik pada istri kamu.” sambung mama sembari merapikan jas ditubuhku dan meraih kacamataku yang sejak tadi tergeletak di atas meja.
Tidak kupungkiri kalau aku sempat berpikir tentang bagaimana caranya agar nanti mama bisa menyayangi dan memahami Faza seperti mama memperlakukan Renata. Sebab aku dan Faza tidak berpacaran dan mama bahkan belum pernah melihat Faza meski hanya dari foto. Aku hanya mengatakan kalau Faza adalah mahasiswiku dan kami pernah tanpa sengaja bertemu di Blora empat tahun yang lalu. Itulah kenapa aku sempat khawatir kalau nantinya mama akan kesulitan untuk akrab dengan Faza.
“Insyaa Allah, ma. Ingatkan Gibran juga kalau suatu saat Gibran mulai bersikap tidak adil pada Faza. Tolong ingatkan Gibran untuk menghormati Faza seperti Gibran menghormati mama.”
Rasanya seperti aku baru saja menemukan ketenangan yang sejak beberapa hari memang kucari saat kuraih tangan kanan mama dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Membiarkan mama menyentuh puncak kepalaku dan mengelusnya beberapa saat sebelum menciumnya.
Seolah mama ingin mengatakan padaku bahwa setelah ini, kehidupan seseorang akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya dan aku tidak lagi diijinkan untuk bertingkah semauku.
Dan lantunan ayat-ayat al-Quran menyambut kedatangan rombongan keluargaku di rumah Faza tapat satu jam sebelum acara akad nikah dimulai. Suasana rumah Faza benar-benar berbeda dengan tadi malam saat aku dan Haris menghadiri acara pengajian disini. Semalam belum ada dekorasi dan juga pelaminan yang meski sederhana tapi entah kenapa terlihat sangat indah untukku.
Nuansa putih begitu mendominasi dan beberapa bunga segar yang ditata di berbagai sudut rumah bahkan membuat Renata yang biasanya begitu kritis-pun mengagumi dekorasi rumah ini. Renata bahkan berbisik sambil terkikik disampingku saat kami baru saja turun dari mobil dan mengatakan kalau Faza berbakat memilih dekorasi yang sedernana tapi terlihat anggun.
“Maaf mengecewakan kamu nona manis, tapi bukan Faza yang memilih dekorasi ini. Dia terlalu sibuk dengan ujian akhir semesternya sampai tidak sempat memikirkan pernikahannya sendiri.” bisikku tepat disamping telinga Renata yang membuat gadis itu menyipitkan mata. Yah, nyatanya Faza memang masihlah gadis muda 20 tahun yang belum bisa mengurus sebuah pernikahan seorang diri disaat dirinya harus mengukuti ujian akhir semester dikampusnya. Itulah kenapa Wahyu yang mengambil alih segala hal yang harusnya ditangani oleh adik perempuannya.
“Masa? Lalu siapa yang memilih dekorasi seperti ini? Bukan mas Gibran ‘kan?”
__ADS_1
“Wahyu yang mengurus semua ini. Bahkan dia juga yang mengurus gaun pengantin Faza.” Aku bahkan sempat menyipitkan mata saat seminggu yang lalu Wahyu mengirimiku dua gambar gaun pengantin dan memintaku untuk memilih salah satunya. Satu gambar gaun pengantin warna putih dan satu lagi gambar gaun pengantin warna toska.
“Dan siapa itu Wahyu, mas?”
“Kamu lihat laki-laki dengan baju koko putih yang berdiri disamping laki-laki bersorban dan berjubah putih itu? Ya dia itu Wahyu yang mengurus semua ini.” Jelasku sembari mengarahkan Renata pada Wahyu yang berdiri disamping abah dan mulai menyalami para tamu dan menyambut rombongan keluargaku. Memperhatikan papa yang mulai membicarakan sesuatu dengan abah setelah beberapa saat sebelumnya mereka berdua saling berpelukan. Rasanya kontras sekali melihat papa dengan setelan jas resminya berpelukan begitu akrab dengan abah yang hari nampak berwibawa dengan peci putih kepalanya dan jubah putih panjang. Membuat semua tamu dapat mengenalinya dengan mudah sebagai ayah dari pengantin perempuan.
“Mas Wahyu itu E.O yang mengurusi pernikahan kalian ya, mas?” tanya Renata lagi dan masih berbisik disampingku.
“Bukan. Wahyu itu kakak laki-lakinya Faza, dan dia seorang exterior designer.” Jawabku sekenanya karena abah, papa dan penghulu berjalan menghampiriku dan membuat perhatianku teralihkan dari Renata.
“Kakak laki-lakinya Faza? Hah, aku patah hati mas.” Tapi sungguh, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas saat Renata mengucapkan kalimat itu sambil berlalu bersama mama dan rombongan wanita yang lain untuk diajak masuk kedalam rumah. Dan apa itu artinya Renata terpesona pada kakak iparku sendiri? Ya ampun.
“Tampan sekali calon anak laki-laki abah. Sudah siap, nak?” dengan begitu bersahabat abah merangkul pundakku dan menepuk pundakku sebelum mengajakku berjalan menuju tempat dimana acara ijab qabul akan dilangsungkan. Dan sebutan yang abah berikan untukku tak gagal membuat hatiku menghangat karena alih-alih menyebutku dengan ‘anak mantu’, abah menggantinya dengan ‘anak laki-laki’.
“Insyaa Allah siap, bah.”
Tapi bukankah memang seharusnya seperti ini? Kedua calon pengantin yang belum sah menjadi sepasang suami istri tidak seharusnya disandingkan dan duduk berdampingan di hadapan penghulu, sebab kehadiran calon pengantin perempuan bukan merupakan sayarat sahnya sebuah ijab qabul. Yah, aku memang baru mengetahui hal ini beberapa minggu yang lalu, tapi hal itu sudah cukup untuk membuatku paham jika saat ini abah sedang menerapkan pernikahan yang sesuai syari’at islam untuk kami berdua.
Dan wajah tegang yang tergambar di wajah abah luruh begitu saja saat aku mengucapkan kalimat ijab qabul sembari menjabat tangannya dengan sekali tarikan napas. Mengulum senyum tipis untukku sebelum memimpin do’a untuk semua yang ada di tempat itu. Lantunan do’a yang membuat laki-laki itu menitikan air mata dan membuat mataku memanas meski sebenarnya aku tidak begitu paham makna dari do’a yang abah panjatkan. Tapi rasanya seperti rangkaian do’a yang abah panjatkan pagi ini masuk dengan begitu alami kedalam hatiku dan lagi-lagi membuatku paham jika saat ini seorang Gibran Wibisana sudah sah menjadi seorang suami.
“Alhamdulillah,” bisikku pada diriku sendiri sembari mengangkat wajah saat para tamu mulai berbisik dan menggumamkan kalau pengantin perempuannya benar-benar cantik.
Dan untuk kesekian kalinya perhatianku tercuri oleh seorang gadis muda bernama Faza Aulia. Hanya saja kali ini perhatianku tidak tercuri oleh seorang mahasiswi dengan gamis panjang dan jilbab lebarnya. Pun bukan oleh nama ‘Faza’ yang pada awalnya selalu kukaitkan dengan nama seorang pangeran arab. Hari ini perhatianku tercuri sepenuhnya oleh seorang pengantin perempuan yang berjalan keluar dari dalam rumah didampingi oleh dua orang wanita dikedua sisinya.
Seorang gadis bergaun pengantin warna putih yang panjangnya menyapu lantai dengan jilbab lebar lengkap dengan kain cadar warna putih yang begitu indah. Tangan kananya terlihat kesulitan mengatur ujung gaunnya agar tidak terinjak sementara tangan kirinya memegang sebuah buket bunga lili segar. Membuatku tidak bisa menahan senyum karena gadis itu terlihat lucu saat kerepotan oleh gaun pengantinnya sendiri. Tapi sungguh, hari ini gadis itu benar-benar cantik dalam balutan gaun pengantin yang lagi-lagi dirancang agar sesuai syari’at islam.
Pengantin perempuanku. Kekasih halalku.
__ADS_1
“Jangan gugup begitu, nduk. Kalian sudah sah jadi suami istri kok.” Seloroh abah saat tangan Faza terlihat gemetar begitu penghulu memintanya untuk menandatangani buku nikah miliknya beberapa saat setelah gadis itu duduk disampingku.
Aku berani bertaruh, kalau saja tidak ada kain cadar yang menutupi wajah Faza, sudah pasti wajah gadis itu sudah memerah karena ledekan ayahnya sendiri yang mengundang tawa semua orang yang ada disana.
“Abah,” bisik Faza dengan malu-malu sembari mencuri pandang padaku saat aku juga menandatangani buku nikah milikku. Dan aku juga tidak berbohong kalau aku sempat gugup dan canggung saat abah meminta kami berdiri dan aku membimbing tangan Faza untuk memakaikan sebuah cincin di jari manis tangan kanannya. Bukan hanya aku sebenarnya, tapi juga Faza yang terlihat ragu-ragu saat aku meraih tangannya. Yah, tentu saja Faza akan canggung saat kusentuh meski aku sudah sah menjadi suaminya, sebab selama ini Faza Aulia tidak pernah tersentuh oleh laki-laki yang bukan mahramnya.
“Berdo’alah untuk istrimu, nak.” Pinta abah lagi yang membuatku menarik napas dalam sebelum meletakkan tangan kananku pada puncak kepala Faza yang memejamkan mata. Membaca serangkaian do’a yang telah kupelajari beberapa hari terakhir ini karena sejak awal, yang ingin kulakukan setelah Faza sah menjadi istriku adalah mendoakannya dan meridhoinya sebagai istriku.
‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah Kau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Kau ciptakan padanya.’ (H.R Bukhari)
“Terima kasih, mas.” Bisik Faza saat aku menarik tangan kananku dari puncak kepalanya dan mencium keningnya lama.
Merasakan kegugupan yang sejak tadi menguasai kami berdua menguar begitu saja dan berganti menjadi hangat kebahagiaan. Seolah menjadi harga yang terbayar lunas untuk segala hal yang telah kami lewati selama beberapa bulan terakhir. Tentang pergolakan batin kami. Tentang perasaan kami. Juga tentang hal-hal yang kami tahan meski kami tahu itu hanya akan menyakiti diri kami sendiri.
“Tabarakallah, sayang.”
Lagi-lagi rasanya masih sulit percaya jika saat ini, gadis bergaun pengantin yang duduk berdampingan denganku di pelaminan adalah gadis muda yang pernah dengan percaya dirinya menawariku sebuah payung.
Dialah gadis muda yang menyelamatkanku dari amukan profesor Himawan dengan payung merahnya empat tahun lalu. Blora dan hujan yang menderas dibulan desember. Rasanya dua hal itu seperti takdir yang mempertemukan kami berdua dan mengantar kami berdua hingga tiba pada hari ini. Pada hari dimana kami sah menjadi suami istri.
Rasanya juga masih sulit dipercaya saat mengingat jika bulan lalu, kami bahkan masih saling memunggungi dengan segala rasa yang bergejolak dalam diri kami. Aku bahkan sempat berpaling meninggalkan Faza saat gadis itu mengakui perasaannya padaku dan saat aku tahu kalau telah ada seorang pria yang melamarnya.
Rasanya sulit percaya saat mengingat bahwa kami pernah terengah berlari dari perasaan kami sendiri sebab kami berdua sama-sama mengerti bahwa perasaan seperti itu tidak seharusnya ada dalam hati kami. Tapi lagi-lagi Allah dengan skenario terindahnya membuktikan bahwa cinta adalah sebuah rasa yang mengalir dalam syahdu dan mendekap hangat jiwa kami.
Dan yang harus kami lakukan memang hanya satu. Mematuhi perintah Allah untuk menjaga cinta itu tetap dalam keadaan suci didalam hati kami, hingga tiba saat kami dipersatukan dalam ikatan suci. Yang harus kami lakukan hanya satu, sederhana namun penuh liku. Menunggu.
* * * * *
__ADS_1