
Gibran
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” (Qur’an 24;26)
Tepat pada saat abah mencapai ayat ke 26 surat An-Nuur yang beliau bawakan dan tujukan untukku dan Faza, rasanya seperti ada tangan yang tiba-tiba saja menampar wajahku.
“Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.”
Aku bahkan teringat percakapan singkat yang pernah kulakukan bersama pak Ridwan, imam masjid kampus yang pada saat itu menghampiriku yang sedang galau memikirkan Faza.
Rasanya seperti aku sedang ditegur oleh dua orang sekaligus dalam satu waktu. Oleh nasehat-nasehat pak Ridwan, dan oleh bacaan ayat-ayat al-quran yang sedang dibacakan oleh abah.
Membuatku menundukkan kepala dan menarik napas dalam untuk mengusir rasa sesak yang tiba-tiba saja memenuhi dadaku. Aku sedang berpikir tetang apa aku memang benar-benar pantas untuk menjadi suami dari seorang gadis seperti Faza? Apa aku memang ‘laki-laki baik’ seperti yang Allah sebutkan dalam surat An-Nuur untuk ‘perempuan baik’ seperti Faza? Layakkah aku yang masih seperti ini menjadi seorang imam untuk perempuan seperti Faza?
“Tapi segala hal memang selalu bisa diupayakan, pak. Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi seorang laki-laki sholeh dan mendampingi seorang perempuan sholihah. Bukankah nantinya tujuan kalian adalah sama? Bersama-sama meraih ridho dan jannah-Nya.”
Nyatanya, masih ada rasa takut yang begitu besar yang bergelayut dalam hatiku meski pernikahanku dengan Faza hanya tinggal menghitung jam. Aku takut kalau aku tidak sanggup menjadi suami yang baik untuk Faza.
Aku takut tidak mampu membimbing Faza menjadi lebih baik seperti yang pernah abah mintakan padaku saat aku melamar gadis itu. Meski aku sudah banyak belajar dan membuka kembali buku-buku agama yang dulu sempat kusimpan, tetap saja aku merasa bahwa ilmuku masih belum seberapa dibandingkan ilmu yang Faza dapatkan di pondok pesantren. Hanya karena aku adalah seorang dosen, tidak lantas membuatku merasa layak menjadi suami untuk seorang Faza Aulia.
“Mendapatkan seorang perempuan seperti Faza menjadi istri kamu otomatis membuat tanggung jawab kamu menjadi lebih besar dan lebih berat, Gibran.” Kali ini yang terputar di dalam kepalaku adalah ucapan papa saat lelaki itu duduk membersamaiku di teras rumah sesampainya papa, mama, Renata dan Haris di Surabaya. “Bukan berarti kalau kamu menikahi gadis lain lantas membuat tanggung jawabmu berkurang, nak. Hanya saja, kamu tentu paham kalau orang-orang dengan pemahaman agama seperti Faza akan memperhatikan setiap langkah yang nantinya kalian ambil. Itulah kenapa kamu juga harus terus belajar untuk memahami agama lebih dari pemahaman kamu saat ini. Paling tidak kamu sanggup membimbing istrimu menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
__ADS_1
Kalimat yang lagi-lagi membuatku serasa tertampar. Lantas bagaimana aku bisa membimbing Faza kalau pemahaman ilmu agamaku saja masih jauh dari pemahaman yang Faza miliki?
“Terus perbaiki diri kamu meski nanti statusmu sudah menjadi seorang suami dan kepala keluarga. Tidak pernah ada kata terlambat untuk selalu belajar. Sebab diakhirat nanti, seorang istri tidak akan ditanya tentang apa yang dilakukan oleh suami dan anak-anaknya.” Lagi-lagi nasehat yang papa berikan membuatku tersadar akan satu hal penting, bahwa yang nantinya dimintai pertanggungjawaban oleh Allah adalah seorang imam, bukan makmumnya. “Sedangkan seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan oleh istri dan anak-anaknya. Semua yang kamu lakukan dan kamu ajarkan pada istri dan anak-anak kamu, akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat nanti.”
Untuk kesekian kalinya akal sehatku mencoba menjabarkan bahwa apa yang papa katakan tidak ada sedikitpun yang salah. Hanya saja, aku yang selama ini masih luput memperhatikan dan mencoba memahami bahwa pernikahan bukan perkara sesederhana melegalkan hubungan ranjang. Bukan pula tentang romansa tak berkesudahan. Ada hal besar yang nantinya akan kutanggung pada pundakku begitu para saksi menyatakan bahwa ijab qabul yang kulakukan bersama wali dari istriku adalah sah. Sebab saat itu, tanggung jawab seorang anak perempuan yang kunikahi tidak lagi berada di tangan ayahnya, melainkan sudah berpindah pada tanganku secara lahir dan batin.
“Sekarang aku tahu kenapa kamu memilih untuk berjuang mendapatkan mahasiswimu sendiri dibandingkan menerima satu dari sekian banyak wanita dewasa yang dijodohkan denganmu, man.”
Bahkan Haris yang duduk disampingku berbisik saat tiba giliran Faza yang duduk di balik tirai untuk membaca surat Ar-Ruum. Membuatku hanya menanggapinya dengan senyum tipis sembari terus memperhatikan setiap ayat yang dibacakan oleh calon istriku dengan begitu merdu dan indah.
Entah sejak kapan prinsipku berganti dan pandanganku terhadap pernikahan tidaklah sesempit dulu seperti saat aku masih tinggal di Jakarta. Entah sejak kapan aku mengubah pandangan pernikahan dari sekedar melegalkan hubungan ranjang menjadi jalan untuk meraih surga Allah bersama-sama. Entah sejak aku bertemu dengan Faza atau jauh sebelum itu. Saat aku menyadarinya, aku sudah menganggap bahwa pernikahan bukan hanya perkara dunia, namun juga akhirat.
“Jadi mas Gibran ini dosennya Faza di kampus, to?” lagi-lagi aku merasa seperti orang asing yang baru saja keluar dari persembunyian saat abah memintaku untuk berkumpul bersama pemuda karang taruna selepas acara pengajian selesai. Membicarakan banyak hal yang terkadang aku dan Haris kesulitan mengikuti alur obrolan mereka. Bukan hanya karena obrolan mereka ngalor ngidul tidak jelas, tapi karena terkadang mereka semua mengobrol dengan bahasa daerah yang tidak kupahami.
“Dan abah Rasyid memang tidak salah pilih anak mantu.” Campuran antara rasa bangga dan perasaan kerdil lagi-lagi kurasakan saat pujian demi pujian terlontar dari mulut para pemuda ini. Hanya saja pujian-pujian seperti itu tidak lantas membuatku membusungkan dada dan merasa bahwa aku adalah laki-laki paling hebat disini.
“Omong-omong diantara kalian ini tidak ada yang pernah berniat untuk melamar Faza?” dan aku nyaris tersedak cairan teh dimulutku saat Haris tiba-tiba bertanya hal se-tidak penting itu.
“Tidak berani lah mas, Faza kan jebolan pondok, guru ngajinya anak-anak di masjid, calon sarjana lagi. Kita cukup puas dengan menjadi teman masa kecilnya Faza, kok.” Jawab salah seorang pemuda yang duduk tak jauh dariku sembari meraih sebuah alat musik tabuh dibelakangnya. Jawaban yang mendundang tawa teman-temannya dan membuatku tersenyum tipis.
“Tapi jangan salah mas, dari sekian banyak teman-teman masa kecilnya Faza, Karim ini yang paling kaget dan patah hati saat abah Rasyid tiba-tiba mengabarkan kalau Faza akan menikah.” Timpal pemuda yang lain yang tidak kutahu siapa namanya. Membuat pemuda bernama Karim itu mendelik kesal dan menjitak kepalanya. Lagi-lagi membuatku tertawa kecil melihat tingkah pemuda-pemuda dihadapanku ini.
__ADS_1
“Teman-teman masa kecilnya Faza?” tanyaku tak urung juga. Mulai sadar kalau sejak tadi pemuda-pemuda ini membicarakan Faza seolah mereka sudah mengenal Faza untuk waktu yang lama.
“Iyap, nyatanya calon istri mas Gibran tidak benar-benar seperti yang terlihat, mas.” Kali ini Wahyu yang menimpali pertanyaanku setelah duduk disalah satu kursi kosong tak jauh dariku. “Dan Karim ini salah satu teman dekatnya Faza. Dulu mereka selalu berburu jangkrik sepulang sekolah dan bermain petasan setiap malam dibulan ramadhan. Mereka berdua bahkan pernah dikejar-kejar pak kyai karena rusuh dengan menyalakan petasan saat sholat tarawih sedang berlangsung.” Dan Wahyu menceritakan masa kecil adik perempuannya dengan begitu semangat seolah dia sedang membuka aib musuh bebuyutannya. Membuatku meringis karena tidak percaya dengan cerita Wahyu sementara Haris mulai tertawa tidak terkendali.
“Ndak dikejar-kejar juga kali mas, pak kyai hanya mencak-mencak di teras masjid sambil mengomel tidak jelas.” bela Karim sembari menggaruk tengkuknya dengan tangan kiri dengan salah tingkah.
“Itu karena dulu kamu dan Faza langsung lari begitu pak kyai keluar, coba kalau kalian tetap ditempat, pasti paham sama alur ngamuknya pak kyai itu.” kejar Wahyu yang lagi-lagi ditimpali dengan tawa oleh kami semua.
“Berburu jangkrik dan bermain petasan?” benarkah seorang Faza Aulia yang selalu terlihat anggun dengan gamis panjang dan jilbab lebarnya setiap kali di kampus punya masa kecil seperti itu? Berburu jangkrik dan bermain petasan. Bukankah dua kegiatan itu biasa dilakukan oleh anak laki-laki? Lagi-lagi aku hanya bisa meringis dan tertawa aneh karena kehilangan kata-kata. Sungguh, kenyataan kalau masa kecil calon istriku begitu unik membuatku tak habis pikir.
“Nyatanya memang seperti itu, mas.” Jawab Wahyu lagi setelah menandaskan isi gelas ditangannya. “Kadang aku sampai berpikir kalau Faza itu sebenarnya anak laki-laki yang terperangkap ditubuh anak perempuan. Serasa aku punya adik laki-laki yang abah namai dengan nama perempuan.”
“Jadi itu alasan kenapa abah kalian mengirim Faza untuk mondok di Blora?” tanya Haris yang sejak tadi tertawa seperti pria tak tahu diri karena mendengar cerita masa kecil Faza.
“Tidak juga sih. Abah tidak pernah memaksa Faza untuk mondok. Abah menawari Faza untuk mondok dan dia bersedia, itulah kenapa dia berangkat mondok diusianya yang kesepuluh.” Jawab Wahyu yang membuat Haris mengangguk seperti orang bodoh. Awalnya aku juga berpikir kalau Faza dipaksa untuk mondok diusianya yang kesepuluh oleh abah. “Membuat Karim menangis dan merana selama berhari-hari karena ditinggal oleh satu-satunya teman perempuan yang konyol dan gila seperti Faza.”
“Kalian sedekat itu?”
“Dulu kami memang dekat mas sebelum Faza berangkat mondok di Blora. Tapi setelahnya sudah tidak kok. Faza pasti sudah tahu batasan-batasan untuk pergaulan dengan lawan jenisnya.” Jelas Karim dengan nada menyesal seolah aku akan marah dan menuntutnya karena pernah menjadi teman dekat dari calon istriku.
“Beruntung karena sekarang Faza sudah taubat, mas.” Timpal Wahyu yang lagi-lagi disambut dengan gelak tawa para pemuda itu termasuk Karim. “Setidaknya ini peringatan untuk mas Gibran agar tidak kaget kalau besok anak-anak kalian suka berburu jangkrik dan bermain petasan. Karena sudah pasti itu nurun dari umminya.”
__ADS_1
Rasanya seperti aku sedang melaksanakan pesta bujang dengan berkumpul bersama teman-teman masa kecil Faza yang ternyata semuanya adalah anak laki-laki. Sungguh, disaat anak-anak kecil usia sekolah dasar merengek minta dibelikan boneka Barbie dan bermain masak-masakan, calon istriku justru berlarian di pematang sawah untuk berburu jangkrik.
* * * * *