
Gibran
Aku baru saja meletakkan makalah ke empat dan hendak memeriksa makalah kelima milik mahasiswaku, saat pandangan mataku justru tertuju pada sebuah amplop yang terselip di antara sampul dan halaman pertama makalah tersebut. Membuatku mengerutkan kening dan memperhatikan amplop itu untuk beberapa saat.
“Apa ini?” tanyaku aneh yang kuyakin membuatku terlihat seperti pria bodoh. Aku yakin minggu lalu aku hanya meminta mahasiswaku melakukan analisia kegiatan usaha berbasis syariah untuk kemudian dibuat sebuah makalah pada mata kuliah fiqih muamalah. Dan aku juga yakin betul kalau aku tidak menambahkan kata ‘surat di dalam amplop’ saat memberi perintah itu pada mahasiswaku.
“Oh, mungkin surat ini bukan untukku dan tidak sengaja terselip.” Dan pemikiran konyol itu hanya bertahan beberapa detik sebelum aku membalik amplop ditanganku dan menemukan namaku tertulis disana.
Teruntuk pak Gibran Wibisana
Ya ampun, hanya membaca kalimat yang tertulis diluar amplopnya saja sudah membuatku menaikkan sebelah alis. Ini bukan surat resmi yang biasa ditulis oleh seorang mahasiswa untuk dosen mereka. Sungguh, mahasiswa yang menulis surat formal untuk dosen mereka tidak akan menggunakan kata ‘teruntuk’. Antara rasa ingin marah juga rasa tidak mengerti yang bercampur menjadi satu tak urung membuatku tersenyum aneh dan membuka isinya.
“Duh Gusti,” lagi-lagi aku hanya tersenyum aneh membaca surat ditanganku ini. Jika saja saat ini banyak dosen di ruangan ini dan mejaku tidak ada di pojok ruangan, sudah pasti aku akan dinilai sebagai dosen cabul yang kegirangan mendapat surat cinta dari mahasiswinya. Atau paling tidak, para dosen lain akan menganggapku gila karena tersenyum seperti pria tidak tahu diri hanya karena sebuah surat.
Kalau pak Gibran sudah punya kekasih, saya tidak masalah menjadi selingkuhan bapak.
Dan kalau pak Gibran sudah punya istri, maka sayapun tidak keberatan menjadi yang kedua untuk pak Gibran.
“Ya Allah, apa-apaan dengan mahasiswi jaman sekarang?”
Kali ini aku bahkan memilih untuk meletakkan kertas ditanganku tanpa berniat membacanya sampai selesai. Bergidik ngeri dan meneliti dari kelas mana mahsisiwi benama Siska Ramadhani yang memberiku sebuah surat cinta berisi kalimat-kalimat mengerikan itu.
“Surat cinta dari mahasiswi yang keberapa, pak?” tanya bu Maya, dosen operasi riset yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping mejaku dan mengamati surat dari Siska yang memang masih terbuka dan tergeletak begitu saja diatas meja. Membuatku tertawa ringan dan meletakkan sebuah makalah yang baru saja kuperiksa untuk menutupi surat itu.
“Hanya mahasiswi yang iseng, bu.”
Dan kalau Siska Ramadhani memang hanya iseng menyelipkan sebuah surat didalam makalahnya untukku, maka kuakui kalau anak itu punya nyali yang sangat besar dengan mempermainkan dosennya sendiri. Tidakkah dia sadar jika tindakannya ini membuat reputasinya sebagai seorang mahasiswa bisa saja menjadi buruk?
“Risiko menjadi dosen muda untuk mahasiswa semester enam, pak.” Tidak ada sorot menghakimi ataupun meremehkan yang kutangkap dari kalimat bu Maya. Tentu saja, wanita ini terlalu santun untuk memberi tatapan menyebalkan pada rekan kerjanya sendiri. “Terkadang anak-anak berpikir kalau mereka bisa melangkah sejauh itu hanya karena dosen mereka adalah seseorang yang usianya satu atau dua tahun di atas mereka.” satu atau dua tahun diatas mereka? Sungguh, tahun ini usiaku bahkan akan menjadi 29 tahun.
__ADS_1
“Mungkin saya masih kurang berwibawa untuk menjadi dosen mereka, bu.” Tapi tak urung aku hanya tersenyum getir menanggapi kalimat bu Maya. Benar juga, nyatanya bu Maya bukan orang pertama yang mengatakan hal seperti itu padaku. Bahkan profesor Himawan turut memberiku petuah saat aku mengabarkan pada beliau kalau aku akan memulai karir sebagai seorang dosen beberapa bulan yang lalu.
“Menjadi seorang tenaga pengajar bukan hanya sekedar kamu memasuki kelas, berdiri di depan kelas dan membaca slide yang sudah kamu siapkan malam sebelumnya untuk kemudian kamu memberi mahasiswamu tugas, Gibran.”
Suara profesor Himawan yang serak dan tegas itu bahkan tiba-tiba saja terputar dikepalaku tanpa komando. “Ada tanggung jawab besar yang ada dipundakmu. Sebab seperti apa mahasiswa terbentuk, semua tergantung dosen mereka.”
Memang benar, itulah kenapa seperti ada beban berat yang kuemban bahkan sejak aku masih berada di Jakarta untuk mengurus berkas-berkas di kampus lamaku. Memikirkan tentang bagaimana nantinya aku bisa menjadi dosen yang baik untuk mahasiswaku. Tentang bagaimana nantinya aku menghadapi para mahasiswaku dengan cara yang benar.
“Juga, menjadi dosen diusia 28 bukan perkara mudah, Gibran. Akan ada beberapa mahasiswa yang tidak menyukai kamu karena mereka pikir kamu belum cukup mempunyai ilmu yang layak kamu bagi pada mereka.” sambung profesor Himawan kala itu. “Dan saya pikir kamu juga harus waspada dengan para mahasiswi.”
“Kenapa prof?”
“Ya tentu saja karena mahasiswi bisa menjadi sangat aktif saat mereka diajar oleh dosen muda yang punya wajah seorang model seperti kamu.”
Entah aku harus menanggapi kalimat profesor Himawan sebagai lelucon atau sebagai nasehat yang seorang profesor berikan untuk anak didiknya. Disatu sisi aku merasa kalau apa yang dilakukan oleh Siska Ramadhani adalah cara gadis itu mengekspresikan perasannya pada lawan jenis. Tapi di lain sisi, aku justru merasa kalau anak itu sama sekali tidak mempunyai rasa hormat sedikitpun padaku selayaknya seorang mahasiswa menghormati dosennya.
Tepat saat bu Maya kembali kemejanya di samping mejaku, seseorang masuk ke ruangan dan berjalan kearahku. Seorang gadis yang nampak manis dengan gamis merah muda dan jilbab birunya.
“Selamat siang pak Gibran, bu Maya.” Dan gadis ini merasa perlu menyapa kami berdua meski aku yakin jika dia hanya perlu bertemu denganku, dan bukan dengan bu Maya.
“Siang, ada apa, Za?” Faza Aulia, entah kenapa setiap kali aku bertemu atau sekedar melihatnya, gadis ini selalu bisa membuatku menaikkan penilainku terhadapnya. Seperti sekarang, caranya menyapaku dan bu Maya membuatku seketika melupakan tentang surat cinta yang kuterima dari Siska. Astaga, untuk beberapa detik aku bahkan berharap kalau surat cinta itu dari Faza, bukannya dari Siska. Hal yang mustahil terjadi.
“Tentang proposal yang minggu lalu bapak minta.”
Sejak obrolan singkatku dengan Faza di ruang rapat LPM seminggu yang lalu tentang kami yang pernah bertemu di Blora empat tahun lalu, kupikir Faza akan bersikap seperti seorang teman terhadapku. Atau paling tidak mengurangi kekakuan kami sebagai dosen dan mahasiswa. Tapi nyatanya hal seperti itu sama sekali tidak terjadi. Faza masih berbicara padaku selayaknya mahasiswa yang begitu menghormati dosennya.
“Pak?” dan aku tidak sadar kalau sejak tadi aku hanya terdiam seperti pria bodoh memperhatikan Faza yang menjelaskan tentang isi proposal yang kuminta.
“Ya?”
__ADS_1
“Ada yang harus saya perbaiki dari proposalnya?”
“Oh, tidak. Nanti saya periksa lagi untuk kemudian disesuaikan dengan permintaan redaktur. Saya kabari kamu atau Aruna setelah proposalnya selesai saya koreksi.” Ini bukan perasaanku saja, tapi aku yakin kalau bu Maya sempat tersenyum aneh melihat tingkahku.
“Baik pak. Dan ini beberapa data dari hasil wawancara yang tim lakukan bulan lalu, juga contoh artikel yang sempat kami kirimkan pada redaksi.” Kali ini Faza yang menarik napas dalam dan tersenyum kecut sembari meletakkan tumpukan kertas lain dimejaku.
“Mungkin pak Gibran bisa sekaligus memberi koreksi pada tulisan itu. Bagian mana yang tidak sesuai antara tulisan yang kami buat dan hasil wawancara kami dengan narasumber.” Sambungnya disertai helaan napas dalam seolah gadis itu sedang menekan rasa kesalnya sendiri.
“Baik, nanti saya koreksi tulisan kalian dan mungkin bisa kita bahas pada rapat LPM pekan depan.”
“Iya, pak. Mungkin begitu saja, jam kuliah kedua saya sudah mulai lima menit yang lalu.” Ucapnya setelah mengangguk singkat dan melirik jam tangan hitamnya. Sekali lagi tersenyum pada bu Maya dan mengangguk singkat padaku sebelum benar-benar berlalu dari ruangan itu.
“Bu Maya terlihat akrab dengan Faza?” tanyaku tanpa sadar. Dan entah karena apa senyum jahil wanita itu kembali terkembang diwajahnya.
“Semua dosen akrab dengan Faza, pak. Pegiat LPM kampus dan tipikal mahasiswi teladan yang tidak pernah membuat ulah dan wara-wiri membuat nama kampus terpampang pada surat kabar nasional.” Jawab bu Maya dengan bangga seolah Faza Aulia adalah anak emas di kampus ini.
“Teladan? Maksudnya Faza selalu dapat IPK sempurna tiap semester?”
“Bukan begitu. Faza biasa-biasa saja dikelasnya, tidak bodoh tapi juga tidak bisa dikatakan jenius. Tapi ya seperti itu, karena Faza mudah akrab dengan dosen mungkin, pak.”
“Ibu pernah mengajar kelasnya?”
“Saya mengampu kelas Faza tiga semester berturut-turut, pak. Dan setiap kali saya mengampu kelas Faza, saya selalu menyukai anak itu”
Memang benar apa yang bu Maya katakan tentang anak itu, tentang Faza yang mudah akrab dengan dosen hingga membuat para dosen merasa nyaman dengannya. Akupun merasakan hal seperti itu meski aku enggan mengakui kalau aku merasa nyaman berada didekat Faza hanya karena anak itu tidak banyak ulah dan mudah akrab dengan para dosen.
Seperti ada sesuatu yang lain yang kurasakan terhadap anak itu. Sesuatu yang belum tahu harus kunamai apa.
* * * * *
__ADS_1