Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
30. Kesempatan Kedua (2)


__ADS_3

Faza


Aku masih berbincang dengan ummi Rania, istri dari imam masjid ini untuk membicarakan tentang program tahfidz al-qur’an untuk anak-anak di teras masjid saat kulihat mas Wahyu berdiri di samping pintu pagar masjid. Sesekali mengangguk pada jemaah masjid yang baru saja selesai menjalankan sholat isya berjamaah.


Awalnya kupikir mas Wahyu juga baru saja melaksanakan sholat isya di masjid saat pikiran itu lenyap karena kulihat mas Wahyu masih mengenakan kemeja kerjanya. Itu artinya kakak laki-lakiku datang ke masjid untuk menjemputku. Tapi satu hal yang aku suka dari mas Wahyu, dia tidak akan memanggilku dan memilih untuk menunggu saat melihatku sedang berbincang dengan ummi Rania atau siapapun di teras masjid.


“Mbak Za. Dipanggil om Wahyu.” Tapi kurasa kali ini ada sesuatu yang penting hingga Azka, salah satu muridku diminta oleh mas Wahyu untuk memanggilku.


“Iya, tolong bilang ke om Wahyu untuk tunggu sebentar lagi ya sayang.” Ucapku pada Azka dan meminta anak itu untuk berlari kearah mas Wahyu. Hal penting apa yang ingin mas Wahyu bicarakan denganku?


“Kita sambung besok saja, Za. Sepertinya ada hal penting yang ingin Wahyu bicarakan dengan kamu.”


“Iya, umm. Insyaa Allah besok kita sambung lagi.”


Dan ummi Rania memang terlalu sopan untuk terus menahanku di teras masjid dan mengajakku mengobrol sementara di pintu pagar masjid kakak laki-lakiku sudah menungguku dengan wajah tidak sabar. Itulah kenapa wanita ini memintaku untuk segera menemui mas Wahyu dan menyambung obrolan kami lain waktu.


“Ada apa, mas?”


“Abah ingin kamu segera pulang.” Tanpa sadar kuhela napas panjang saat mendengar jawaban mas Wahyu dan mengikuti kakak laki-lakiku yang sudah berjalan mendahuluiku.


“Kesalahan apalagi yang sudah kulakukan, mas?”


“Kamu akan segera tahu, dek.”


“Mas, aku takut.” Tapi alih-alih diam dan menunggu hingga tiba di rumah, aku justru menarik lengan baju mas Wahyu dan meminta penjelasan darinya tentang kenapa abah sampai meminta mas Wahyu untuk menjemputku di masjid.


Benar, nyatanya kejadian seminggu lalu membuat nyaliku untuk bertemu dengan abah semakin menciut. Aku bahkan tidak berani meski hanya untuk sekedar membalas tatapan abah saat tanpa sengaja pandangan kami bertemu. Tapi mas Wahyu justru meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat daripada memilih untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi.


“Pak Gibran?” tanyaku pada diri sendiri saat aku dan mas Wahyu sudah sampai di pintu pagar rumah dan mendapati sebuah outlander sport putih yang sudah familier untukku. Tanpa sadar menahan tangan mas Wahyu dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Memang ada banyak sekali outlander sport di kota ini, tapi sungguh, aku bahkan sudah hapal plat nomor mobil itu. Tapi lagi-lagi mas Wahyu hanya mengangguk dan menarik tanganku masuk tanpa melepaskannya hingga kami masuk kedalam rumah.


Dan rasa panas dimataku nyaris menjadi tangis yang tidak bisa kutahan saat aku mengangkat wajah dan mendapati dua orang pria duduk di kursi ruang tamu bersama abah dan ibu.


Seorang pria dengan kemeja biru muda yang juga tengah menoleh kearahku dan seorang pria satunya yang usianya kutebak usianya hanya beberapa tahun dibawah abah. Gibran Wibisana. Pria yang sejak dua minggu lalu tak pernah gagal membuat dadaku terasa sesak dan mataku selalu memanas. Dia ada disana. Duduk di depan abah dan tersenyum tipis kearahku untuk beberapa detik sebelum kembali menundukkan kepalanya. Tapi meski hanya beberapa detik, aku bisa melihat kilatan sendu yang sulit sekali kuterjemahkan di wajah pak Gibran.


“Duduk nduk.”

__ADS_1


Rasanya seperti déjà vu, saat ibu memintaku untuk duduk disampingnya sementara abah masih bertahan dalam diam. Sama seperti seminggu yang lalu saat mas Arifin mendatangi abah dan ibu untuk mengatakan kalau dia telah membatalkan rencana pernikahan kami.


Hanya saja, saat ini ada sebuah rasa yang sulit kujelaskan saat beberapa saat lalu tatapanku dan pak Gibran berserobok. Pun ada sesuatu yang sebenarnya ingin sekali kutanyakan pada abah ataupun pada ibu tentang kenapa ada pak Gibran dirumahku. Tapi, nyatanya yang bisa kulakukan hanya diam dan menunggu hingga ada seseorang yang memberiku penjelasan tentang situasi malam ini.


“Kenalkan nduk, ini om Rudi,” mulai ibu dengan menoleh kearah lelaki yang duduk disamping pak Gibran dan membuatku ikut menoleh dan mengangguk samar kepada lelaki bernama om Rudi itu. “Dan disampingnya mas Gibran, kamu tentu sudah tahu siapa mas Gibran itu.”


“Begini, Faza.” Kali ini lelaki bernama om Rudi yang mulai berbicara setelah berdehem beberapa kali. “Maksud kedatangan om kemari bersama Gibran sudah om sampaikan pada abah kamu, tapi rasanya tidak adil sekali kalau kamu tidak tahu apapun sementara semua ada hubungannya dengan kamu.” mungkin ini terlalu berlebihan dan aku terkesan terlalu percaya diri, tapi rasanya aku sudah bisa menebak arah pembicaraan om Rudi. Tapi lagi-lagi yang bisa kulakukan hanya diam dan menoleh kearah abah yang masih terdiam dan sesekali menghela napas. Sementara ibu masih merangkul pundakku dan mengelus punggungku beberapa kali.


“Om disini mewakili pak Hendri Wibisana guna melamar kamu untuk menjadi istri Gibran.” Ucap om Rudi lagi yang tak gagal membuatku mengerutkan kening dan menoleh kearah pak Gibran. Hanya untuk mendapati wajah tenang pria itu yang sesekali juga menarik napas dalam.


“Abah menyerahkan semua keputusan pada kamu, nduk.” Imbuh ibu yang seolah mengerti apa yang kurasakan, sementara aku hanya menoleh kearah abah untuk kesekian kalinya dan berharap ada kalimat yang keluar dari mulut abah. Paling tidak lelaki itu akan mengatakan sesuatu tentang kedatangan om Rudi dan pak Gibran malam ini.


“Abah?” mulaiku dengan nada takut-takut. Membuat semua orang, termasuk pak Gibran menoleh kearahku. “Tidakkah abah ingin mengatakan sesuatu?” dan aku butuh hingga semenit penuh hingga abah menjawab pertanyaanku setelah menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.


“Kamu ingin abah mengatakan apa, Za?” tanya abah yang membuatku semakin tidak mengerti.


“Bukankah ibumu sudah mengatakan kalau semua keputusan ada di tangan kamu? Abah tidak ingin membenani kamu untuk kedua kalinya.” Sambung abah dengan nada dingin yang belum pernah kudengar. Abah belum pernah berbicara dengan nada seperti ini sebelumnya, dan mendengar seorang ayah berbicara dengan nada begitu dingin, tak urung membuat anak perempuannya serasa ditikam dengan sembilu. Pun begitu denganku yang tidak sanggup menahan air mata mendengar kalimat abah.


“Tolong jangan seperti ini, bah.” Dan aku bahkan tidak sadar kapan aku beranjak dari kursiku dan duduk bersimpuh di depan abah. “Tolong jangan seperti ini. Za tidak ingin mengecewakan abah untuk kedua kalinya.”


“Tidak. Abah memang tidak sedang menghukum Za, bah. Tapi Za juga tahu kalau abah setengah hati menerima lamaran pak Gibran dan menyerahkan semua keputusan pada Za.” Meski samar-samar aku bisa menangkap isak tangis ibu yang seolah mengimbangi air mataku yang mulai turun meski tidak disertai isak tangis.


“Sekarang biar abah tanya pada kamu, Za. Tidakkah kamu merasa dipermalukan saat Arifin tiba-tiba saja membatalkan rencana pernikahan kalian dengan alasan karena kamu telah mengakui perasaan kamu pada seorang pria?” sekarang aku mulai mengerti tentang kenapa abah terlihat begitu tidak peduli padaku selama seminggu ini. Tentang kenapa abah selalu memilih diam dan mengambil keputusan untuk mengirimku kembali ke pondok. “Dan sekarang, setelah semua yang Arifin katakan, tiba-tiba saja nak Gibran datang untuk melamar kamu. Lantas apa yang harus abah katakan, Za?”


“Maaf, bah. Tolong maafkan Za.”


“Pak, semua tidak seperti apa yang pak Rasyid pikirkan.” Kali ini kudengar pak Gibran membuka suara meski aku tidak tahu bagaimana ekspresinya karena aku masih bersimpuh di hadapan abah.


“Arifin memang mengatakan pada saya kalau dia telah membatalkan rencana pernikahnnya dengan Faza seminggu yang lalu. Tapi Demi Allah, keinginan saya untuk melamar Faza sudah ada jauh sebelum hari itu. Bahkan jauh sebelum Faza mengakui perasaannya pada saya. Jadi tolong jangan anggap seolah Faza yang menginginkan batalnya rencana pernikahan itu.”


Hening beberapa saat hingga yang terdengar di ruang tamu keluargaku hanya detak jarum jam yang tergantung pada sudut ruangan. Membiarkan suara detaknya mengisi celah dingin diantara kami semua.


“Bagaimana kalian bisa menjamin kalau sebelum ini kalian sama sekali tidak memiliki hubungan khusus apapun?” seperti ada palu yang menghantam kepalaku saat abah dengan begitu tenang bertanya hal seperti itu padaku dan pak Gibran. “Bagaimana kalian bisa membuat abah percaya kalau batalnya pernikahan kamu dengan Arifin bukanlah bagian dari rencana kalian berdua?”


“Bah, se-pembangkang itukah Faza di mata abah? Hanya karena sebuah rencana pernikahan yang batal, lantas abah menilai serendah itu anak perempuan abah?” dadaku semakin sesak saat kudengar suara mas Wahyu yang terdengar menahan marah. Sungguh, aku tidak ingin kakak laki-lakiku berteriak pada abah hanya untuk membelaku.

__ADS_1


“Saya bersumpah kalau tidak ada hubungan apapun antara saya dan Faza sebelum ini pak. Kami hanya sebatas dosen dan mahasiswa, tidak lebih dari itu.” pun begitu dengan pak Gibran yang terdengar menahan marah dari setiap kalimat yang diucapkannya pada abah.


“Demi Allah, bah. Kalau dengan menolak lamaran pak Gibran bisa membuat abah percaya, Faza akan tolak lamaran ini.” ah, lagi-lagi aku menyakiti banyak orang dengan kalimatku ini.


“Kalau dengan berangkat ke Blora bisa membuat abah percaya, maka Za akan berangkat ke Blora sekarang juga, bah. Hanya agar abah percaya kalau Faza masihlah anak perempuan abah yang belum pernah tersentuh laki-laki manapun kecuali abah dan mas Wahyu.” Pelan kulanjutkan kalimatku meski disertai isak tangis yang semakin tidak bisa kukendalikan.


Sungguh, rasanya sakit sekali mendapat tuduhan seperti itu dari abah. Dari laki-laki yang mengajarkanku aqidah dan akhlak sebagai seorang wanita muslimah. Dari laki-laki yang mengajarkanku bahwa mengaja diri dan kehormatan adalah sebaik-baik hal yang bisa dilakukan oleh seorang wanita.


Tapi pada akhirnya, sesakit apapun hatiku karena tuduhan abah, aku tetap tidak bisa membenci abah. Aku justru meraih tangan kiri abah dari atas pangkuannya dan menciumnya dengan takzim. Dalam diam, aku ingin abah mengerti kalau aku masihlah Faza Aulia yang dia banggakan sebagai seorang anak perempuan.


“Faza tidak akan menikah selama abah tidak merestui pernikahan Faza.” Bisikku pada akhirnya. Dan aku tidak sadar kapan abah mengangkat tangan kanannya dan mengelus puncak kepalaku. Memintaku untuk bangun meski aku menolak dan tetap bersimpuh dihadapannya.


“Jawab pertanyaan abah dengan sejujur-jujurnya hati kamu, Za.” Kali ini suara abah lebih lembut dari sebelumnya. “Apakah kamu akan bahagia dengan menikah dengan nak Gibran?”


“Insyaa Allah, bah.”


“Bisakah kamu meyakinkan abah kalau kamu tidak akan terpaksa seperti kemarin saat menerima lamaran nak Gibran dan kamu bersedia menjadi istrinya?”


“Bah,” kudapati wajah teduh abah dan senyum simpul disana saat kuangkat wajah dan meneliti wajah abah. Membiarkan tangannya yang sudah keriput menyeka air mata diwajahku sebelum menunduk dan mencium keningku lama.


“Jangan berkata hal yang tidak ingin abah dengar, nduk. Abah percaya kalau kamu masihlah anak perempuan abah yang terjaga dan tidak akan melakukan hal seperti itu.”


“Jadi intinya abah menerima lamaran mas Gibran untuk Faza atau tidak, bah?” benar-benar tipikal mas Wahyu yang selalu kesulitan menerjemahkan sikap abah hingga dia perlu untuk mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawabannya. Membuatku tertawa kecil sebelum bangkit dan memeluk abah lama. Merasakan kehangatan dan kedamaian dari seorang laki-laki yang sebentar lagi melepaskan tanggung jawabnya atas diriku pada laki-laki lain.


“Terima kasih, bah.”


“Bimbing Faza menjadi istrimu yang sholihah, nak Gibran. Abah restui kalian untuk menikah dan abah ridhoi pernikahan kalian.”


“Terima kasih, pak. Insyaa Allah, saya bimbing dan saya jaga Faza sebaik yang saya mampu.”


Ada senyum lega yang terkembang di wajah ibu dan mas Wahyu saat aku melepaskan pelukanku pada abah dan kembali duduk di samping ibu. Pun begitu dengan pak Gibran yang tersenyum padaku dan membuatku menunduk karena malu.


Rasanya aku ingin mencubit lengaku dan bertanya, benarkah Gibran Wibisana yang duduk diseberangku itu adalah calon suamiku?


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2