Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
24. Pengakuan (2)


__ADS_3

Gibran


Tapi nyatanya mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal itu pada Faza tidak semudah pikiranku selama ini. Hampir satu bulan, dan aku sama sekali belum berani untuk bertanya pada gadis itu. Jangankan untuk bertanya, untuk sekedar memulai percakapan saja rasanya berat sekali dan aku selalu saja kehilangan kata-kata setiap kali aku dan Faza bertemu atau sekedar berpapasan tanpa sengaja.


Ditambah lagi kesibukan kami mempersiapkan seminar nasional yang akan diadakan besok siang. Mulai dari kembali follow up pembicara serta moderator dan memastikan mereka semua hadir besok siang. Mengkoordinasi seluruh tim dan memastikan jika semua keperluan seminar sudah siap sehari sebelum acara dimulai. Juga tentang beberapa hal sepele yang entah kenapa membuat seluruh tim, termasuk aku selaku penanggung jawab beberapa kali uring-uringan. Bahkan hal sesederhana seminar kit yang akan dibagikan pada peserta bisa membuatku kehilangan kesabaran. Dan lagi-lagi Faza-lah yang bisa meredam kemarahanku karena kurangnya koordinasi yang dilakukan oleh sie perlengkapan.


“Bagaimana bisa kurang? Bukankah sejak awal estimasi keperluan sudah disesuaikan dengan jumlah peserta?” aku nyaris berteriak pada Tania dan Deni yang mengurus segala keperluan seminar kit.


“Maaf pak, itu kesalahan saya. Saya belum menyertakan sekitar 80 peserta yang membayar di tempat besok lusa. Itulah kenapa penghitungan seminiar kit masih kurang sekitar 50 set.” Aku tidak tahu apa jadinya kalau saja yang mengatakan dan mengakui kesalahannya itu bukan Faza. Dan karena yang bertanggung jawab untuk mencatat jumlah peserta adalah Faza, maka yang bisa kulakukan hanya mengusap wajah dan menarik napas dalam. Terkesan pilih kasih sekali? Sebenarnya tidak juga, aku tidak lupa kalau Faza bertanggung jawab sebagai sekretaris acara dan sie humas. Jadi kupikir wajar kalau gadis itu melakukan kesalahan.


“Biar saya yang bertanggung jawab, pak. Nanti siang saya akan menemui percetakan yang membuat bloknote untuk membuatkan sisa kekurangannya. Dan besok pagi insyaa Allah semua sudah siap.” Ucapnya dengan penuh rasa bersalah sembari mencatat beberapa keperluan yang dibutuhkan dan membiarkan Tania serta Deni mengurus hal lain. Menyisakan aku dan Faza di auditorium yang sedang dipersiapkan untuk acara besok lusa.


“Kamu terlihat kacau belakangan ini.” ucapku setelah beberapa saat menimbang dan memperhatikan Faza yang masih sibuk dengan buku catatannya. Aku sudah memperhatikan Faza sejak gadis itu kembali masuk kuliah setelah seminggu ijin dengan alasan acara keluarga di Blora. Dan aku bahkan lupa sudah berapa kali mendapati gadis itu melamun dan pandangannya yang kosong. Entah di kelas atau di ruang rapat LPM saat kami semua merapatkan seminar nasional yang akan diadakan.


“Bapak bicara dengan saya?” seperti sekarang, Faza bahkan menyipitkan matanya untuk memastikan kalau aku memang sedang berbicara dengannya.


“Hanya ada kita berdua disini.”


“Oh,” lagi, gadis itu mencoba untuk menutupi kegusarannya dengan tersenyum tipis dan memasukkan buku catatannya kedalam tasnya. “Tidak, pak. Mungkin perasaan pak Gibran saja.”


“Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?”


“Itu bukan pertanyaan yang harus dosen tanyakan pada mahasiswanya, pak. Permisi.”


Ini bukan perasaanku saja, tapi Faza memang sempat terkesiap mendengar pertanyaanku. Meski setelahnya gadis itu hanya mengulum senyum tipis, tapi tetap saja hal itu menggangguku. Meninggalkanku di ruang auditorium kampus dengan bermacam-macam perasaan sembari terus mengamati sosoknya yang berlalu dan menghilang di balik pintu masuk.


Aku lupa kapan terakhir kali aku merasa begitu terganggu dengan sikap seorang gadis. Bahkan saat dulu Aida merajuk padaku, perasaanku tidak sekalut ini. Kami hanya akan mendiamkan beberapa saat sebelum akhirnya salah satu diantara kami memulai obrolan untuk memperbaiki hubungan kami. Tapi tentu saja aku tidak bisa menyamakan situasiku dengan Faza saat ini dengan situasi yang pernah kualami bersama Aida. Dulu, Aida berstatus sebagai kekasihku sementara saat ini Faza adalah mahasiswiku, tidak lebih.


Bahkan hingga acara seminar nasional selesai sejam sebelum adzan ashar berkumandang, aku masih saja belum berhasil mengumpulkan keberanian untuk mendekati Faza dan bertanya pada gadis itu. Om Rudi bahkan sudah dua kali bertanya padaku kapan tepatnya aku akan mengajaknya untuk menemui orang tua Faza. Sama halnya dengan papa yang begitu mudah memberiku restu untuk melamar Faza, pun begitu dengan om Rudi yang begitu bersemangat saat papa memintanya untuk menjadi wali untuk melamar gadis pilihanku.


Tapi lagi-lagi aku harus mencari alibi untuk kuberikan pada om Rudi tentang kenapa hingga hampir satu bulan dan aku belum juga memberinya kepastian tentang rencana lamaran itu.


“Atau jangan-jangan calon kamu itu sudah dilamar orang dan kamu tidak tahu?” tanya om Rudi kala itu yang membuatku menaikkan alis.


Aku memang sempat memikirkan hal yang demikian. Tentang Faza Aulia yang kemungkinan sudah dilamar oleh seorang laki-laki dan mereka yang sebentar lagi akan menikah. Sungguh, aku yakin bukan hanya aku yang menginginkan perempuan seperti Faza untuk dijadikan pendamping hidup. Dan aku juga yakin kalau diluar sana banyak laki-laki yang mempunyai kebernaian lebih dari yang kumiliki untuk mendatangi gadis itu dan mengutarakan niat untuk melamarnya.


Pertanyaannya sekarang adalah, laki-laki seperti apa yang diinginkan oleh Faza untuk menjadi suaminya?


“Aku akan segera menanyakannya, om.”


“Jangan terlalu lama lah, Gibran. Sebagai laki-laki kamu harus cepat mengambil keputusan.”


Sebenarnya aku juga bukan tipikal pria yang akan berbelit-belit dalam mengambil keputusan dan memikirkannya ribuan kali. Hanya saja, yang menjadi masalah kali ini adalah keberanianku yang terlalu kecil, hingga kata-kataku yang selalu saja buyar setiap kali aku bertemu dengan Faza dan melihat wajah sendu gadis itu. Wajah sendu yang entah kenapa selalu ada disana selepas gadis itu kembali dari Blora. Aku ingin tahu apa yang terjadi di Blora hingga membuat seorang Faza yang biasanya ceria dan lepas menjadi terlihat begitu tertekan.


“Faza.” Dan kali ini, begitu kulihat gadis itu berjalan dari arah musolah menuju pelataran parkir dengan langkah pelan, kuberanikan diri untuk memanggilnya. Beruntung karena hari sudah menjelang malam dan mahasiswa sudah sepi hingga tidak harus ada drama kampus yang membahayakan kehidupan kampusku dan Faza.


“Ya pak?” masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Wajah sendu itu masih ada disana dan seperti ada awan hitam yang menggantung pada sepasang mata bulatnya.


Aku tidak tahu bagaimana cara Faza menyembunyikan kegusaran yang kuyakin sedang ia rasakan dari teman-temannya. Bahkan sepanjang acara seminar nasional berlangsung, gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mempunyai masalah.


Faza masihlah Faza yang ceria dan cekatan seperti biasanya. Mengatur jalannya seminar nasional, mengarahkan peserta yang jumlahnya ratusan, hingga wajah lega gadis itu saat doa penutup acara seminar itu selesai dibacakan. Sama sekali tidak terlihat kalau seorang Faza Aulia sedang menyimpan sebuah masalah untuk dirinya sendiri.


“Pulang dengan siapa?” ah, lagi-lagi aku kehilangan kata-kata yang sebenarnya sudah kususun begitu tatapan matanya yang bulat itu tepat mengenai sepasang mataku. Hanya sejenak, sebelum gadis itu mengalihkan pandangannya dariku seperti biasanya.

__ADS_1


“Dijemput mas Wahyu.”


“Begitu,”


“Kalau begitu saya duluan, pak.”


Tidak, hari ini aku tidak boleh menjadi pecundang yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku tidak ingin pulang dengan rasa kecewa seperti sebelumnya tanpa mengatakan hal yang ingin kukatakan pada gadis ini.


“Faza tunggu.”


“Ya pak?” lagi-lagi gadis itu menoleh dan membuat tatapan kami berserobok untuk beberapa detik.


“Ada hal yang ingin saya tanyakan pada kamu.” aneh, rasanya seperti rasa gugup yang kurasakan sejak tadi pagi menghilang begitu saja saat aku mengejar Faza hingga kami hanya berjarak beberapa meter dari pintu gerbang kampus dimana Faza menunggu kakak laki-lakinya.


“Tentang apa, pak? Apa ada hubungannya dengan seminar nasional tadi, atau tentang LPM?”


“Tidak ada kaitannya dengan kedua hal itu. Ini tentang sesuatu yang bisa kamu katakan sangat pribadi.”


“Saya belum mengerti.”


“Sejauh ini, apa sudah ada laki-laki yang mengkhitbah kamu?” dan setelah sebulan lebih kutahan pertanyaan itu di ujung lidahku sendiri, akhirnya sore ini pertanyaan itu sampai pada Faza.


Meski harus kutarik napas dalam berkali-kali setelah aku menanyakannya dan Faza terlihat kaget dengan pertanyaan itu. Benar juga, pertanyaan seperti itu memang bukan pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh seorang dosen kepada mahasiswinya.


“Apa sudah ada laki-laki yang mendatangi ayah kamu dan mengajukan lamaran untuk kamu?” ulangku setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan membiarkan deru kendaraan yang lalu lalang mengisi celah diantara kami.


“Pak,” bisik Faza pada akhirnya. Mengeluarkan tangan kananya dari dalam saku jaket dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Kenapa pak Gibran bertanya hal seperti itu?”


“Karena saya ingin tahu.”


“Kalau belum ada laki-laki yang mengkhitbah kamu, sudikah kamu mengijinkan saya dan wali saya untuk menemui keluarga kamu?”


“Pak Gibran,”


“Tapi sebelum itu saya ingin memastikan apa pintu itu masih terbuka, atau sudah tertutup oleh seseorang. Saya tidak ingin terlalu lama berandai-andai tentang kemungkinan itu, Za.”


Lagi-lagi Faza membiarkan suara deru kendaraan yang lalu lalang di jalan menjadi pengisi celah diantara kami. Membiarkan kami berdua terlihat seperti dua orang asing yang bahkan kesulitan untuk memulai sebuah percakapan dan aku yang masih saja memperhatikan dirinya yang terlihat kehilangan kata-kata. Sesekali Faza menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.


Aneh, kenapa rasanya hatiku sakit sekali melihat raut wajahnya yang seperti itu?


“Apa sesulit itu menjawab pertanyaan saya, Za?” sekuat tenaga kutahan suaraku agar tidak berteriak pada Faza meski sebenarnya aku nyaris kehilangan kesabaran untuk menunggu jawaban gadis itu.


Tapi gadis itu masih saja terdiam dan menggeleng pelan. Menyentuh dadanya sendiri dengan tangan kanan dan membuatku semakin tidak mengerti tentang apa yang salah dari pertanyaanku.


“Tolong, jangan buat saya berharap terlalu lama, Za.”


“Pak Gibran yakin dengan pertanyaan itu?” tanyanya pelan sembari terus menundukkan pandangannya dan menghindari bertemu pandang denganku. Aku tahu ada hal besar yang saat ini begitu mengganggu Faza, hanya saja aku masih belum bisa menemukan hal besar yang mengganggu gadis ini hingga membuatnya kesulitan seperti sekarang.


Tapi ditarikan napasku yang kedua, aku seperti menemukan satu hal besar itu. Membuatku hanya bisa menarik kedua ujung bibirku dan tersenyum getir. Aku tahu hal besar itu.


“Jadi laki-laki itu sudah ada.”


“Sebulan yang lalu.” bisik Faza yang seperti ia tujukan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Seperti ada tangan tak kasatmata yang menamparku saat itu juga, saat Faza mengangkat wajah dan membalas tatapanku. Pertama karena jawaban Faza untuk pertanyaanku, dan yang kedua adalah karena kudapati setitik bening yang jatuh begitu saja dari sudut mata gadis itu. Faza menangis. Untuk pertama kalinya kulihat gadis ini menangis.


“Sebulan yang lalu?” ulangku tak kalah pelan.


Sebulan yang lalu. Jadi itu artinya laki-laki itu mendatangi rumah Faza dan menemui orang tuanya tepat saat aku pulang ke Jakarta untuk meminta restu pada papa dan mama. Tepat saat aku meninggalkan Surabaya dan pulang ke Jakarta, seorang laki-laki mengetuk pintu rumah Faza dan melamar gadis itu.


“Jadi saya terlambat ya?” jadi, inikah jawaban untuk semua kegundahan yang kurasakan selama ini? Saat aku sudah menemukan keberanian untuk bertanya, pintu itu justru telah tertutup untukku. Ah, jika saja keberanian itu lebih cepat kudapatkan.


“Za,”


Jika saja yang berdiri dihadapanku saat ini bukanlah Faza Aulia, mungkin aku sudah menarik tangannya dan memintanya untuk membalas tatapanku. Tapi sungguh, dia adalah Faza Aulia dan aku tidak ingin menyentuhnya dan membuat kami berdua berdosa.


“Semoga laki-laki itu selalu bisa membuatmu bahagia, Za.” Berat sekali. Rasanya seperti aku harus mengakui kekalahanku pada seseorang yang bahkan tidak tahu jika aku telah berjuang selama ini. Ah, rasanya berlebihan sekali saat aku mengatakan berjuang sementara yang kulakukan selama ini hanya mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Faza.


“Kalau saja saya punya keberanian,” Tepat saat aku memutar tubuh dan hendak berlalu, gadis itu membuka suara. “Kalau saja saya punya keberanian untuk mengatakan semuanya pada bapak. Mengatakan yang sebenarnya pada pak Gibran.” Suaranya masih terbata karena sesekali Faza menarik napas dan menyeka ujung matanya sendiri.


Dan aku, lagi-lagi aku terlalu lama menemukan benang merah dari kalimat Faza dan mengartikan ucapan gadis itu hingga yang bisa kulakukan hanya terdiam sembari maju selangkah untuk memperpendek jarak diantar kami.


“Tolong jangan menangis seperti ini, Za.” Lagi-lagi aku berandai-andai jika saja aku tidak berdosa kalau aku menyentuhnya, sudah pasti kuseka air matanya dan membuatnya berhenti menangis seperti ini.


“Maafkan saya, pak.”


“Za,”


“Jika dengan mengaku akan membuat kita berdua berdosa, biar saya saja yang menanggung dosa dari pengakuan ini.” Kurasa aku mulai bisa melihat benang merah itu, juga alasan kenapa Faza sampai menangis seperti ini. Jika saja gadis ini tidak mempunyai perasaan yang sama seperti yang kurasakan terhadapnya, kupikir dia tidak akan menangis seperti ini. “Mungkin ini akan menjadi pengakuan pertama dan terakhir saya. Jadi, bisakah pak Gibran mendengarkan pengakuan saya ini?”


“Faza,” ah, rasanya dadaku sesak sekali melihat tangisan gadis ini.


“Saya menyukai pak Gibran bahkan sejak pertama kali saya melihat bapak empat tahun lalu di Blora. Saya sudah menyukai laki-laki muda yang saya pinjami payung empat tahun yang lalu di teras stasiun. Saya menyukai laki-laki asing yang bahkan saya sendiri tidak tahu siapa namanya….” Kali ini kurasa Faza sudah tidak bisa lagi menahan tangisannya hingga gadis itu tercekat oleh kalimatnya sendiri. Kalimat yang membuatku terdiam dan mengeratkan rahang.


“Empat tahun yang lalu,” desisku tanpa sadar. Terus memperhatikan Faza yang masih menunduk dan sesekali menyeka air matanya sendiri. Jadi gadis ini sudah menyukaiku sejak empat tahun yang lalu? Jadi inikah alasan kenapa kami dipertemukan kembali empat tahun setelahnya? Ah, lagi-lagi aku menyalahkan diriku sendiri atas semua yang terjadi antara diriku dan Faza yang terasa seperti permainan.


“Demi Allah, saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan, pak. Tolong jangan terbebani dengan pengakuan saya ini.”


“Bagaimana saya tidak terbebani, Za?” Mulaiku sembari tersenyum getir untuk menertawakan diriku sendiri, tepat saat seorang pria berjalan kearah kami dari arah pintu gerbang kampus dengan langkah pelan. “Bagaimana saya tidak terbabani dengan pengakuan kamu kalau kenyataannya kita mempunyai sebuah perasaan yang sama? Bagaimana saya tidak terbebani dengan hal yang seperti itu?” meski butuh waktu hingga hampir semenit penuh, pada akhirnya aku paham juga kenapa laki-laki itu ada disini dan berdiri dua langkah di belakang Faza. Laki-laki yang saat ini memasang wajah yang benar-benar sulit kupahami.


Arifin Putra, jadi laki-laki yang begitu berani mengetuk pintu rumah Faza dan melamar gadis itu adalah Arifin Putra? Jadi calon istri yang Arifin ceritakan padaku tempo hari adalah Faza Aulia? Ah, betapa dunia tidak seramah pikiranku selama ini.


“Mas Gibran?” meski tidak bersuara, aku tahu kalau saat ini Arifin sedang menyebutkan namaku. Membuatku menarik ujung-ujung bibirku dan tersenyum kearahnya.


Harus mundur bahkan sebelum aku sempat mengangkat senjata untuk berperang. Bagaimana mungkin aku tidak menyebut diriku sendiri sebagai seorang pecundang? Aku malu, sekaligus kesal pada diriku sendiri. Kenapa butuh waktu begitu lama untuk mengumpulkan keberanian itu? Kenapa butuh waktu begitu lama untuk menyadari kalau Faza mempunyai perasaan yang sama dengan apa yang kurasakan terhadap gadis itu?


“Maafkan saya, pak.”


Tidak, tidak seharusnya Faza meminta maaf padaku untuk semua ini. Ini takdir yang telah Allah tetapkan untuk kami ‘kan?


“Semoga Allah selalu limpahkan kebahagiaan untuk kamu dan calon suamimu, kekasihku.”


Aku patah hati, lagi.


Bahkan sebelum aku memutuskan kontak mata dengan Arifin yang keberadaannya belum disadari oleh Faza, aku sudah sadar kalau aku telah patah hati untuk kedua kalinya.


Dan saat aku mendengar isak tangis Faza begitu aku memutar tubuh dan berlalu dari tempat itu, aku kembali menyadari satu hal, kalau patah hatiku kali ini bahkan lebih sakit dari patah hatiku tujuh tahun yang lalu.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2