
Gibran
Hujan masih turun saat untuk ketiga kalinya aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Mengalihkan pandangan pada cangkir kopi dihadapanku yang masih penuh sejak aku memesannya setengah jam yang lalu. Aku tidak tahu apa yang membuatku memilih untuk menghabiskan sabtu sore di kedai kopi meski sebenarnya aku mempunyai deadline untuk menyetorkan soal Ujian Tengah Semester ke bagian akademik kampus. Aku bukan tipikal orang yang suka menunda pekerjaan sebenarnya, tapi entah kenapa rasanya hari ini aku ingin sekali menjadi orang malas dan menghabiskan soreku di kedai kopi seperti orang bodoh.
Aku ingin melupakan tugasku sebagai seorang tenaga pengajar yang mempunyai tanggung jawab pada para mahasiswaku dan menjalani hari sebagai seorang Gibran Wibisana. Seorang pria 28 tahun dengan segala pergolakan batin yang sedang dirasakannya. Yah, terkadang aku memang bisa menjadi kekanakan seperti ini hingga memilih untuk melarikan diri dan mengabaikan tugasku.
“Jadi, kamu dibuat galau seperti anak perempuan oleh mahasiswimu sendiri, eh? Sungguh, harus ada yang memberi gadis itu sebuah penghargaan.” Aku bahkan masih ingat saat aku bercerita kepada Haris tadi pagi tentang apa yang kurasakan. Membiarkan Haris menertawaiku seperti pria biadab dan mengataiku sebagai pria lemah. “Kamu? Gibran Wibisana yang bisa begitu mudah mematahkan hati pada gadis nyatanya juga bisa dibuat galau oleh mahasiswinya sendiri? Astaga, katakan padaku secantik apa dia sampai membuat kamu seperti ini.”
“Bukan galau, Ris. Bagaimana ya aku mengatakannya? Ini seperti aku terganggu sekali dengan pembicaraan anak itu dengan temannya kemarin sore.” Belaku yang justru mengingatkanku pada percakapan singkat yang tanpa sengaja kudengar saat aku hendak membuka pintu ruang fakultas. Percakapan antara dua orang gadis yang duduk di kursi kayu tak jauh dari ruang fakultas ekonomi. Percakapan antara Faza Aulia dan temannya.
“Lalu, mau kamu sebut apa perasaan seperti itu kalau bukan perasaan galau?”
Benar juga. Aku bahkan tidak tahu harus kusebut apa perasaanku saat ini. Apakah aku menyukai gadis itu selayaknya seorang pria menyukai seorang wanita atau aku hanya kagum karena gadis itu terlihat begitu berbeda? Tidak, rasanya terlalu dini untuk menyimpulkan sebuah perasaan yang aku sendiri belum yakin. Entahlah, lagipula rasanya aku tidak tahu diri sekali saat mengatakan kalau aku menyukai gadis seperti Faza yang begitu terjaga sementara aku masih begitu liar dengan segala sumpah serapah yang tidak jarang masih keluar dari mulutku.
“…lagipula, memang kenapa kalau nyatanya pak Gibran sudah punya pasangan atau bahkan anak? Apa kenyataan seperti itu lantas membuat kamu berhenti menyukainya?”
Lagi-lagi kalimat yang tanpa sengaja kudengar kemarin sore kembali terputar di dalam kepalaku tanpa komando.
“Entahlah. Mungkin aku masih butuh waktu untuk memikirkan semua ini.”
Jika saja yang mengucapkan kalimat itu adalah mahasiswiku yang lain dan bukannya Faza, sudah pasti aku tidak akan menjadi seperti ini. Sungguh, mendengar seorang mahasiswi yang mengaku kalau mereka ‘menyukai pak Gibran yang tampan itu’ bukan sekali dua kali kudengar. Bahkan Siska Ramadhani, salah satu mahasiswiku pernah menyelipkan sebuah surat di sela-sela makalah fiqih muamalah-nya.
Tapi kali ini gadis yang mengatakan kalimat itu adalah Faza Aulia. Mahasiswi yang mencuri perhatianku di pertemuan pertama, dan seorang gadis muda yang meminjamiku payung empat tahun lalu. Kejadian yang tanpa sadar membuatku menempatkan Faza pada tempat yang berbeda dari mahasiswaku yang lain meski aku sendiri tidak sadar sejak kapan aku mulai melakukannya. Dan saat aku menyadarinya, gadis itu telah menempat sudut yang istimewa dalam hatiku.
Jika saja sore itu Faza memilih untuk mengatakan perasaannya padaku saat tanpa sadar kami berpapasan di depan kantor fakultas, mungkin aku akan menerima perasaan gadis itu. Hanya saja aku tahu kalau kemungkinan seperti itu tidak akan terjadi sebab gadis itu adalah Faza Aulia. Seorang gadis yang justru memilih untuk menunduk begitu pandangan kami bertemu.
‘Memangnya apa yang kamu harapkan kalau ternyata gadis itu memang menyukaimu, Gibran? Apa kamu berharap dia menyatakan perasaanya padamu?’
Memang benar. Nyatanya tanpa sadar aku telah berharap jika Faza tiba-tiba mendatangi mejaku di ruang fakultas dan menyatakan perasaannya padaku. Pikiran yang membuatku mendengus kesal dan mengutuk diri sendiri sebelum meraih cangkir kopiku dan menyesapnya perlahan.
“Mas Gibran?”
Aku baru saja melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku untuk keempat kalinya saat seseorang menyapaku dan berdiri disamping mejaku. Membuatku menyipitkan mata dan mengamati seorang pria dengan kaus polo putih yang dengan pas membungkus tubuhnya yang tidak terlalu berisi, tapi juga tidak terlalu kurus. Mengulum senyum demi sopan santun karena pria itu juga sedang tersenyum padaku. Dua detik aku sempat merasa ngeri sendiri karena dihampiri oleh seorang pria muda saat sedang duduk seorang diri di kedai kopi, sementara aku juga seorang pria.
__ADS_1
“Ya?”
“Ternyata benar ini mas Gibran Wibisana. Kupikir aku salah mengenali orang.” Dan pria itu seperti tidak membutuhkan ijinku untuk duduk di kursi kosong dihadapanku. Jika dilihat sekilas maka bisa kupastikan kalau pria ini seumuran denganku. Hanya saja, kacamata yang kupakai ini membuatku terlihat lebih dewasa dari pria ini.
“Aku Arifin. Kita pernah bertemu di Malang lima tahun yang lalu. Mas yang saat itu menjadi partner dari profesor Himawan ‘kan?” jelas pria bernama Arifin ini yang seolah mengerti maksud dari tatapan tidak mengertiku.
Aku memang bukan tipikal orang yang mudah mengingat orang-orang yang pernah bertemu denganku. Itulah kenapa butuh waktu lama sampai aku menemukan informasi tentang pria bernama Arifin yang mengaku pernah bertemu denganku di Malang lima tahun yang lalu.
“Arifin Putra, asistennya profesor Erik.” Tebakku dengan yakin.
Ya, aku ingat sekarang kapan aku bertemu dengan pria ini. Saat itu aku dan profesor Himawan sedang melakukan penelitian di Malang dan melakukan monitoring dan evaluasi hasil penelitian kami di Universitas Brawijaya.
Arifin Putra, pria muda yang tiga tahun lalu terlihat begitu canggung saat menjadi asisten profesor Erik dan mendampingiku serta profesor Himawan selama seminggu penuh. Bahkan aku ingat saat Arifin mengatakan padaku kalau dia minder setengah mati padaku karena sudah menjadi partner penelitian untuk seorang guru besar universitas sekelas profesor Himawan.
“Kupikir mas Gibran sudah tidak mengenaliku lagi mengingat kita bertemu liima tahun yang lalu.” timpal Arifin setelah menyebutkan pesanannya pada seorang pelayan yang menghampiri kami. Lagi-lagi pelayan wanita itu memberi tatapan seolah kami berdua adalah dua orang pria yang sedang berkencan dan menghabiskan sabtu sore bersama-sama.
“Apa kabar? Benar-benar kebetulan kita bertemu disini.”
“Baik mas. Aku justru lebih terkejut karena bertemu dengan mas Gibran di Surabaya.” Aku tidak tahu apa yang istimewa dariku hingga Arifin harus sesemangat ini hanya karena bertemu denganku. Tapi untuk beberapa alasan aku menyukai tipikal orang seperti Arifin.
“Kunjungan ‘kah? Atau sedang melakukan project baru bersama profesor Himawan?”
“Tidak, kami sedang tidak ada project baru. Well, sekarang aku bekerja dan mencari nafkah di Surabaya.”
Lagi-lagi Arifin terlihat seperti adikku yang sudah lama sekali tidak bertemu hanya karena aku mengatakan kalau saat ini aku bekerja di Surabaya.
“Bekerja di Surabaya? Di perusahaan mana mas? Siapa tahu aku tahu perusahaan tempat mas Gibran bekerja.”
“Tidak, saat ini aku mengajar di salah satu universitas swasta di Surabaya. Kamu sendiri bagaimana?”
“Profesor Himawan generasi kedua.” Tukas Arifin dengan nada takjub seolah mengetahui kalau sekarang aku menjadi seorang dosen adalah sebuah hal besar. “Aku bekerja di salah satu perusahaan asuransi, mas. Nyatanya aku tidak secerdas mas Gibran untuk bisa menjadi dosen diusiaku yang ke 27.”
Kali ini aku yang tertawa mendengar kalimat Arifin yang kembali membuatku serasa menemukan teman lama. Sungguh, hidup di perantauan dimana aku jauh dari orang tua membuatku bisa menghargai orang-orang yang berbuat baik padaku. Ya, seperti Arifin yang menawarkan pertemanan padaku dengan segala keterbukaannya itu.
__ADS_1
“Jadi, dengan siapa mas Gibran tinggal? Mungkin kapan-kapan kita bisa saling mengunjungi. Aku masih tinggal bersama orang tuaku, sih.” Tanya Arifin lagi setelah beberapa saat kami saling terdiam. Arifin yang seperti begitu sibuk dengan ponselnya dan aku yang kembali sibuk mengamati jalanan di samping kedai kopi. Hujan sudah tidak lagi turun meski rintik gerimisnya masih bisa kulihat dan kuperhatikan dari genangan air di jalanan.
“Apa yang kamu harapkan dari bujangan sepertiku, Rif? Aku tinggal sendiri. Mungkin kapan-kapan kamu dan pacar atau istrimu bisa mengunjungi rumahku dan menghabiskan akhir pekan disana. Menemaniku selayaknya kalian sedang menemani pria tua yang kesepian.” Jawabku sembari menyodorkan selembar kartu nama yang kuambil dari dompet. Membuat Arifin tertawa kecil dan meraih kartu nama yang kusodorkan.
“Aku belum punya istri, mas. Mungkin dalam waktu dekat.” Dan aku sempat menaikkan sebelah alisku mendengar Arifin mengatakan kalau dalam waktu dekat dia akan mempunyai istri seolah pria itu mengatakan kalau dalam waktu dekat dia akan piknik ke luar negeri.
“Dalam waktu dekat? Kamu akan menikah dalam waktu dekat?”
“Jika lamaranku diterima dan gadis itu mau melakukan ta’aruf denganku, maka kami akan menikah paling lambat sebulan setelahnya, mas.”
“Begitu,”
Ta’aruf. Aku sering mendengarnya meski aku bahkan tidak punya gambaran sedikitpun tentang seperti apa itu proses ta’aruf. Aku memang tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang begitu menjunjung tinggi nilai agama, tapi sedikit banyak aku memahami beberapa hal yang berkaitan dengan aturan agama islam. Dan mendengar kalau Arifin akan melakukan ta’aruf dengan seorang gadis tiba-tiba saja membuat hatiku mencelos. Bukan iri karena Arifin, yang usianya lebih muda dariku nyatanya sudah memikirkan tentang hal sejauh itu. Tapi entah kenapa rasanya aku iri saja karena Arifin bisa mendapatkan gadis seperti itu yang tidak ingin berpacaran dan hanya mau melakukan ta’aruf untuk kemudian menikah.
“Jodohmu ya tergantung seperti apa dirimu, le. Kalau kamu baik, akan baik pula jodohmu. Tinggal berkaca saja, dan kamu akan bisa melihat jodohmu seperti apa.”
Ya ampun, saking melankolisnya, nasehat yang pernah kudapatkan dari eyang kakung saat aku masih awal masuk kuliah kembali teringat dan terputar dikepalaku. Nasehat yang dulu hanya kuanggap sebagai angin lalu namun entah kenapa sekarang terasa seperti sebuah tamparan keras untukku. Jodohku adalah cerminan diriku sendiri. Lantas, apa pantas aku yang seperti ini mengharapkan seorang gadis yang begitu terjaga dan terpelihara seperti dirinya?
“Mas Gibran sendiri bagaimana?” untuk kesekian kalinya pertanyaan Arifin menyeretku dari lamunan singkatku yang lagi-lagi tentang dirinya. Membuatku menarik napas dalam sebelum memperhatikan Arifin yang baru saja meletakkan cangkir kopinya diatas tatakan. Tersenyum kecil sembari menyentuh gagang cangkir kopiku sendiri yang kuyakin sudah menjadi dingin sekarang.
“Aku?”
“Iya. Aku tidak percaya kalau mas Gibran mengatakan masih single dan belum punya calon istri.”
Dan, hal apa yang membuat orang-orang tidak percaya setiap kali aku mengatakan kalau aku masih single dan tidak terlibat dengan hubungan romantisme dengan gadis manapun?
“Tapi kenyataannya memang seperti itu, Rif. Belum ada gadis yang khilaf mau menjadi calon istriku.”
“Jangan bicara sarkastik seperti itu, mas. Mas Gibran sama sekali tidak cocok.” Arifin bahkan tertawa mendengar jawabanku hingga beberapa pengunjung menoleh kearah kami dan membuatku meringis membayangkan tatapan ngeri para pengunjung untuk kami berdua. “Aku bahkan yakin kalau mas Gibran hanya perlu memilih satu dari sekian banyak gadis-gadis cantik dan potensial yang sudah mengantri untuk mas Gibran jadikan calon istri.”
Entah aku harus menyebut ini sebagai pembenaran atas sikapku semenjak kematian Aida, atau aku yang memang masih menunggu seseorang yang tepat yang akan kujadikan istri. Aku hanya berpikir jika hatiku masih belum bisa sepenuhnya kubuka untuk gadis-gadis yang mendekatiku. Memilih untuk menyendiri seperti pria malang yang patah hati dan menunggu seorang gadis yang tepat untuk menyembuhkan patah hatiku ini. Aku ingin memilih, hanya saja orang yang ingin kupilih bahkan tidak masuk kedalam pilihan yang kumiliki.
Lantas, bagaimana mungkin hatiku bisa memilih jika seperti itu?
__ADS_1
* * * * *