
Faza
Jika ada yang bertanya bagaimana perasaanku selepas mas Arifin mengatakan kalau dia telah membatalkan rencana pernikahan kami secara sepihak, maka aku akan menjawab kalau aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kurasakan. Aku tidak tahu harus kunamai apa rasa yang kurasakan sejak seminggu yang lalu. Bahkan hingga mas Arifin berpamitan padaku dan ibu juga mas Wahyu, aku masih belum menemukan kalimatku kembali.
Perasaanku kebas dan hatiku hancur untuk kesekian kalinya. Hatiku bukan hancur karena mas Arifin membatalkan rencana pernikahan kami secara sepihak tanpa perundingan dengan keluargaku terlebih dahulu. Bukan pula karena abah memutuskan untuk mengirimku ke Blora selepas aku menyelesaikan semester ini. Tapi hatiku hancur karena aku menyadari bahwa aku telah begitu mengecewakan abah. Aku kecewa pada diriku sendiri yang tidak mampu mengendalikan perasaan hingga membuat abah dan keluargaku kecewa.
“Berhenti menyalahkan diri sendiri, dek. Semua memang sudah Allah atur untuk menjadi seperti ini.” bahkan nasehat demi nasehat yang mas Wahyu berikan untukku sejak beberapa hari yang lalu tidak juga mampu membuatku kembali mendapatkan akal sehatku. Kalimat-kalimat yang mas Wahyu ucapkan justru semakin membuatku nelangsa dan menangis pada akhirnya.
Aku tahu kalau semua ini terjadi karena campur tangan Allah didalamnya. Pun begitu dengan mas Arifin yang tidak akan membatalkan pernikahan kami kalau saja Allah tidak menghendakinya. Lantas apalagi yang bisa kulakukan sebagai seorang hamba selain berserah diri pada Dia yang Maha Mengatur Segala? Jangankan hal sebesar urusan pernikahan antara dua manusia, selembar daun yang jatuh dari rantingnya saja telah diatur dengan begitu sempurna oleh Allah.
“Kamu memang tidak dijodohkan dengan mas Arifin, itulah kenapa mas Arifin membatalkan rencana pernikahan kalian.”
Memang ada setitik kecewa yang kurasakan terhadap mas Arifin saat pria itu begitu mudah membatalkan rencana pernikahan kami tiga hari yang lalu. Aku kecewa pada mas Arifin yang terkesan begitu menyepelakan hal sebesar pernikahan. Aku kecewa pada mas Arifin yang telah begitu merendahkan harga diri keluargaku dengan mengurungkan niat untuk menikahiku hanya karena sebuah pengakuan.
“Aku bukan kecewa karena itu, mas.”
Memang benar, tidak semua kekecewaan yang kurasakan adalah karena batalnya pernikahanku dengan mas Arifin. Rasa kecewaku pada mas Arifin tidak sebesar itu.
Kami tidak berjodoh.
Hanya itu keyakinan yang selalu kutanamkan sejak seminggu yang lalu hingga hari ini. Pun tentang harga diri, tidak pantas rasanya aku begitu mengagungkan harga diri keluargaku hanya karena mas Arifin mengambil keputusan sebesar itu tanpa pesetujuan orang tuaku. Mas Arifin punya alasan, dan aku hanya perlu untuk menghargai alasan itu.
__ADS_1
“Kamu menjadi seperti ini karena keputusan abah untuk mengasingkan kamu?”
Lagi-lagi aku kehilangan kata-kata dan hanya bisa menggeleng dan menangis. Terlalu banyak rasa yang bergejolak di dalam hatiku sejak seminggu yang lalu hingga aku sendiri kesulitan untuk mengurainya. Semua terasa seperti benang kusut hingga aku tidak mampu menemukan ujung dan pangkalnya.
“Entahlah, mas. Sudah kupasrahkan semuanya pada Allah saja.”
Dan pada akhirnya yang bisa kulakukan memang hanya berpasrah pada Allah dan mengikuti alur yang telah Dia berikan untukku. Bersandar pada ketetapanNya dan merenungi hakikatku sebagai seorang hamba.
Memang benar kalau semua perlu sesuatu yang dinamakan dengan usaha. Hanya saja, aku sendiri bahkan sudah tidak tahu usaha seperti apalagi yang harus kulakukan kecuali mengoreksi kesalahan yang telah kulakukan.
Dan mulai saat ini, aku akan berpasrah. Kuikuti keinginan abah dan berharap aku tidak akan mengecewakannya untuk kesekian kalinya. Bukankah sejak awal aku memang ingin menjadi seluas-luas ladang pahala untuk abah dan bukannya menjadi sebesar-besar fitnah?
__________
“Ya, sayang?” Bilqis, salah satu dari anak-anak yang belajar mengaji bersamaku. Yah, aku memang tidak pernah mengatakannya, tapi setiap hari selepas ashar hingga maghrib aku mengajar ngaji secara suka rela untuk anak-anak di salah satu masjid di dekat rumahku. Hitung-hitung sebagai sarana hiburan dan ladang pahala untukku. Seperti sekarang, rasanya kegundahan yang kurasakan sejak kemarin berkurang banyak saat aku berkumpul dengan anak-anak ini dan melihat mereka tertawa begitu lepas sebelum kami memulai kegiatan belajar mengaji. Memang berlebihan sekali kedengarannya, tapi nyatanya anak-anak kecil memang seperti mempunyai kekuatan tersendiri untuk mengangkat beban orang dewasa.
“Mbak Za sedang sedih ya?” tanya Bilqis dengan nada polos khas anak kecil 7 tahun. Alih-alih ikut teman-temannya bermain di pelataran masjid sembari menunggu adzan maghrib, anak ini justru duduk bersila didepanku dan menyentuh punggung tanganku dengan tangannya yang kecil. Aku sendiri lupa sejak kapan melamun seperti ini dan menatap kosong kearah anak-anak yang sedang bermain di pelataran masjid.
“Tidak. Kok Bilqis tanya begitu?”
“Soalnya mbak Za kelihatan sedang sedih. Makanya Qis tanya begitu.” Dan aku juga tidak tahu kapan Bilqis ini mulai dekat denganku dan seolah ingin tahu setiap hal yang terjadi padaku.
__ADS_1
“Tidak kok, mbak hanya sedikit ngantuk saja.” jadi sejelas itu kegundahanku hingga anak seusia Bilqis saja bisa merasakan perubahanku? Jika sudah seperti ini, lantas bagaimana lagi aku harus berpura-pura kalau aku masih baik-baik saja? “Kamu tidak main dengan teman-teman?”
“Tidak ah, Qis mau disini saja dengan mbak Za.” Tapi keinginan Bilqis untuk menemaniku di dalam masjid hanya bertahan beberapa menit sebelum seorang gadis dengan jilbab oranye memanggilnya dan mengajaknya untuk melihat anak kucing yang dia temukan di samping masjid.
Ah, jika saja aku juga bisa seperti Bilqis yang begitu mudah melupakan sesuatu dan menggantinya dengan sesuatu yang lain, mungkin saat ini hatiku tidak sesakit ini dan dadaku tidak sesesak ini. Jika saja aku bisa dengan mudah melupakan pengakuanku pada pak Gibran, melupakan keputusan mas Arifin, juga melupakan kemarahan abah, mungkin saat ini aku bisa tertawa lepas seperti yang dilakukan oleh Bilqis dan teman-temannya.
Dan rasa sesak didadaku semakin menjadi-jadi saat ponselku berdenting dan sebuah pesan kuterima dari Ainun. Aku memang sudah menceritakannya pada Ainun semua yang terjadi padaku sejak beberapa hari yang lalu. Termasuk pengakuanku pada pak Gibran dan batalnya rencana pernikahanku dengan mas Arifin. Aku butuh seseorang untuk mendengarkanku, dan Ainun adalah satu-satunya nama yang bisa kupikirkan saat ini.
<*AinunNisa>: Astaghfirullah, Za. Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi pada kamu, sayang? Hanya karena sebuah pengakuan, dan kamu harus diasingkan ke Blora? Sungguh Za, bagaimana aku bisa membantu kamu?
: Aku tidak bisa menentang keinginan abah, Nun. Abah terlalu kecewa dengan batalnya rencana pernikahanku dengan mas Arifin. Mungkin selepas semester ini aku sudah ada di Blora. Datanglah ke pondok kalau kamu sempat.
: Kalau saja aku tahu semua akan menjadi seperti ini, aku tidak akan pernah menyarankan kamu untuk mengakui perasaanmu pada Gibran, Za. Maafkan aku, Za. Aku sungguh minta maaf*.
Dan deretan huruf yang sebenarnya sudah kuketik untuk kukirimkan kepada Ainun kuhapus kembali karena tidak tahan dengan rasa panas dimataku. Rasa panas yang selalu saja menjelma menjadi tangis meski aku sudah menahannya. Memilih untuk berlari menuju tempat wudhu di samping masjid dan mulai berwudhu untuk menyamarkan tangisanku.
“Semua terjadi karena kehendak Allah, Nun.” Bisikku pada diri sendiri sembari membasahi wajahku dengan air wudhu dan membiarkan lengan bajuku basah oleh air.
Hanya untuk menyadari kalau aku kembali tidak bisa menahan tangisanku sendiri saat mendengar suara adzan yang dikumandangkan oleh muadzin di masjid ini. Membiarkan suaranya yang mengumandangkan adzan memenuhi telingaku dan membiarkan air mataku turun dan membaur dengan sisa air wudhu diwajahku.
‘Berat sekali, Ya Allah. Bantu aku menopangnya.’
__ADS_1
* * * * *