
Gibran
Aku baru saja menutup buku fiqih muamalah yang sejak di perpustakaan begitu menyita perhatianku saat seseorang nyaris menabrakku di pintu masuk selasar kampus yang memang tidak terlalu lebar. Dan jika saja aku tidak punya gerak reflek yang bagus, sudah pasti aku akan menabrak orang itu dan kami berdua akan berakhir dengan sangat konyol.
“Astagfirullah, maaf.” Pekik gadis itu yang mungkin dengan penuh penyesalan seolah nyaris menabrak seorang dosen adalah sebuah dosa besar. “Maaf pak, saya tidak sengaja.”
Untuk beberapa saat aku terkesima oleh gadis bergamis kuning pucat ini. Membuatku kehilangan kata-kata yang hendak kuucapkan dan berkhir dengan mengulum senyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Dan aku pasti terlihat sangat konyol karena baru menemukan kalimatku kembali setelah beberapa saat memperhatikan gadis bergamis kuning pucat ini yang juga terlihat bingung.
“Kenapa rasanya tidak asing?” gumamku sembari menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana meja kerjaku berada.
Aku yakin ini adalah kali pertama aku bertemu atau berpapasan dengan gadis bergamis kuning pucat itu, tapi entah kenapa rasanya seperti aku sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku bukan tipikal orang yang dianugerahi dengan photogenic memory, dan mengingat seseorang yang pernah kutemui dimasa lalu adalah sesuatu yang benar-benar sulit kulakukan. Bahkan teman-teman SMA-ku saja aku sudah lupa siapa saja dan seperti apa wajah mereka. Itulah kenapa aku memilih untuk menyerah dan mengabaikan perasaan menggelitik yang muncul karena pertemuan tidak sengaja antara aku dan gadis bergamis kuning pucat itu.
“Kalau orang itu berkesan untuk kamu, kamu pasti akan dengan mudah mengingat orang itu walaupun kalian baru bertemu satu kali, mas.”
Tapi tetap saja aku kembali mengingatnya begitu aku menjatuhkan diri pada kursi kerjaku dan menunggu jam mengajarku yang akan dimulai lima belas menit lagi. Dan duduk seorang diri di kantor fakultas tanpa ada seorang dosenpun yang ada di ruangan itu membuat ingatanku tiba-tiba terputar pada kalimat seseorang. Kalimat sederhana memang, hanya saja sesederhana apapun kalimat itu, jika dia yang mengucapkannya tetap akan menjadi sesuatu yang penting untukku. Sesuatu yang sederhana dan kemudian menjadi hal yang penting, dan berakhir dengan membuatku merasa gusar sendiri.
“Bagaimana aku bisa megingatnya kalau misal kami bertemu bertahun-tahun yang lalu dan aku baru sekali bertemu dengannya, Da?”
“Ini mungkin terdengar lucu, tapi kupikir akan selalu ada getaran aneh yang menjalar di seluruh tubuhku saat aku bertemu dengan seseorang yang jelas belum pernah kutemui. Dan kusebut itu sebagai jodoh.”
“Seperti saat hatiku bergetar waktu pertama kali bertemu kamu? Dan itu artinya kita berjodoh dong?”
Seperti sekarang, aku bahkan berkali-kali berdecak kesal dan menandaskan air minum di dalam gelasku yang masih berisi setengah. Meraih diktat dan presensi mahasiswa sebelum beranjak dari kursiku dengan gusar. Untuk kesekian kalinya seorang Gibran Wibisana dibuat gusar oleh sesuatu yang berasal dari masa lalunya. Sesuatu yang jelas sekali tidak ingin kuingat, namun selalu saja memiliki celah untuk menyusup melalui sela-sela hatiku dan berakhir membuatku menjadi seperti ini.
“Fokus, Gibran.”
Ini bukan pertama kalinya. Dan memang selalu seperti ini setiap kali sesuatu dari masa lalu yang tiba-tiba menyapaku dengan tidak tahu malu dan mengubahku dari sosok Gibran yang abai menjadi Gibran yang melankolis seperti anak perempuan. Ah, bukan dari masa lalu sebenarnya, tapi segala sesuatu yang mengingatkanku padanya.
“Kamu,”
Entah semesta yang memang sedang bersekongkol membangunkan sisi melankolisku atau takdir yang sedang membuatku percaya pada apa yang pernah Aida katakan dimasa lalu.
Tepat saat aku mengangkat kepala dan mengucapkan salam pada seluruh mahasiswa di dalam kelas ini, pandangan mataku tertuju pada seorang gadis yang duduk di barisan kursi nomor dua dan terlihat sedang sibuk dengan buku agenda dihadapannya. Gadis itu bahkan hanya menjawab salamku sekedarnya tanpa mau repot-repot menoleh kearahku. Gadis bergamis kuning pucat yang tadi nyaris menabrakku.
“Saya Gibran Wibisana, dan mulai hari ini akan mengampu mata kuliah manajemen islam dan fiqih muamalah.” Dan gadis bergamis kuning pucat itu baru menoleh saat seorang gadis berambut sebahu yang duduk disebelahnya menyikut dan membisikkan sesuatu padanya. Membuat gadis itu menyipit sejenak dan tersenyum tipis setelahnya. Ya ampun, bagaimana mungkin aku yang di kelas sebelumnya begitu tidak acuh pada para mahasiswi yang terlihat begitu tertarik padaku, sekarang justru begitu tertarik pada salah satu mahasiswiku?
“Pak Gibran,” dan aku baru tersadar kalau aku telah bertingkah begitu murahan saat suara seorang mahasiswa menyadarkanku.
__ADS_1
“Ya?” seorang mahasiswa berkemeja biru tua kotak-kotak menatapku aneh seolah aku adalah seorang dosen cabul yang terus saja memperhatikan mahasiswinya. Dan aku tidak berbohong saat mengatakan kalau gadis bergamis kuning pucat itu menoleh kearahku.
“Bapak tidak masuk kekelas ini untuk mengajak kita melamun, kan?”
“Oh ya, maaf. Kalau begitu bagaimana kalau pertemuan pertama ini kita isi dengan perkenalan saja?”
Dan tentu saja tawaranku disambut dengan sorak bahagia para mahasiswa. Tapi sebenarnya itu hanya alibi sebab aku bukan tipikal pria yang gemar beramah tamah dengan orang lain meski itu dengan mahasiswaku sendiri. Tapi lagi-lagi gadis bergamis kuning pucat itu membuatku merendahkan harga diriku dengan mengabsen satu persatu mahasiswa di kelas itu hanya agar aku bisa tahu siapa namanya.
“Sekar Mawarni,” seorang gadis berjilbab oranye menangkat tangan kanan dan menatapku dengan antusias.
Hingga aku memanggil mahasiswa diurutan ke 29, gadis bergamis kuning pucat itu belum juga mengangkat tangan dan justru terus sibuk dengan buku agenda dan bolpoin ditangannya. Seolah keberadaan dosen muda di depan kelas adalah sesuatu yang layak untuk ia abaikan seperti ini.
“Faza Aulia,” Awalnya kupikir itu adalah nama seorang mahasiswa laki-laki karena dalam otakku nama ‘Faza’ adalah nama panggilan salah seorang pangeran di Arab Saudi sana. Sebelum pikiran konyol itu segera lenyap karena nyatanya nama ‘Aulia’ jelas adalah nama seorang perempuan.
“Faza Aulia?” ulangku sekali lagi sebab tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan yang menandakan pemilik nama ini. Dan aku baru saja akan melewati nama itu saat gadis bergamis kuning pucat itu terkesiap dan mengangkat tangan kanannya. Dua detik tatapan kami berserobok. Hanya dua detik sebelum gadis bergamis kuning pucat bernama Faza Aulia itu kembali menunduk. Tapi dua detik saja cukup untuk membuat perasaanku tidak karuan.
Faza Aulia. Seketika, perhatianku tercuri. Bukan oleh sosok gadis cantik bergamis kuning pucat dan jilbab hitamnya. Bukan pula oleh nama Faza yang serupa dengan nama panggilan salah seorang pangeran Arab Saudi. Tapi perhatianku tercuri oleh sesuatu yang lebih besar dari itu. Aku seperti pernah melihat Faza sebelumnya. Bukan di pintu masuk selasar kampus beberapa jam yang lalu, tapi jauh sebelum itu.
Aku sedang mencoba mengingatnya sebelum keinginan untuk mengingat dan membuka kompartemen masa laluku terkalahkan oleh ego seorang Gibran Wibisana yang tidak mau mengakui kalau pria dewasa seperti dirinya tertarik dengan gadis muda yang menjadi mahasiswinya.
* * * * *
“Ada apa dengan iklim jaman sekarang?” dengusku kesal saat menyadari hujan yang sejak dua jam lalu turun belum memperlihatkan tanda-tanda akan reda dan justru semakin menderas disertai angin. Aku yakin sekarang sudah memasuki bulan Februari dan seharusnya hujan sudah tidak turun sederas ini. Tapi nyatanya hujan turun sejak pagi hingga sore seolah ini adalah bulan Desember.
Jika saja jarak gedung satu dan gedung dua hanya beberapa meter, aku tidak akan menunggu nanti untuk segera menerobos hujan dan sampai di pelataran parkir gedung satu. Tapi sungguh, jarak gedung satu dan gedung dua bahkan hampir dua ratus meter dan aku akan terlihat konyol jika menerobos hujan selebat ini untuk sampai di pelataran parkir gedung satu. Belum lagi tumpukan berkas dan tas ransel berisi laptop yang harus kulindungi seperti aku melindungi orang yang kucintai ini. Mau tidak mau aku hanya menarik napas sekali lagi dan mendongak untuk memperhatikan air hujan di bulan Februari yang membuatku seperti sedang berada di bulan Desember.
“Hujan bulan Februari.” Gumamku aneh.
Menunggu hujan reda seorang diri di teras gedung dua membuat pikiran dan imajinasiku berkeliaran kemana-mana. Ya ampun, bahkan aku sempat membuat satu larik puisi di dalam kepalaku yang membuatku meringis sendiri seperti pria aneh.
“Sedang terburu-buru, pak?” aku baru saja kembali melirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku untuk kelima kalinya saat perhatianku teralihkan oleh suara seorang perempuan disampingku.
“Oh, tidak kok.” gadis itu berdiri dua langkah dariku dan menatapku dengan wajah datar. Si gadis bergamis kuning pucat. Ini ketiga kalinya aku bertemu dengan gadis ini dalam satu hari. Dan untuk ketiga kalinya pula perhatianku tercuri olehnya. “Hanya sedang memikirkan kapan hujannya akan sedikit reda.” Sambungku dengan tawa yang bahkan terdengar aneh ditelingaku sendiri.
“Biasanya hujan seperti ini akan turun sampai malam, pak.” Timpal gadis itu sembari memasukkan tangan kanannya kedalam saku jaket merah bata yang dipakainya, sementara tangan kirinya memegang sebuah payung.
“Bukannya kelas kamu sudah selesai sejak dua jam yang lalu, ya?” ah ya, aku ingat sekarang kalau kelas gadis ini sudah selesai sejak pukul dua lebih sepuluh menit bersamaan dengan berakhirnya jam mengajarku hari ini. Lantas kenapa dia tidak langsung pulang? Baiklah, bukan urusanku juga kenapa seorang mahasiswa tidak langsung pulang begitu jam kuliah sudah berakhir. Aku hanya sekedar mencoba untuk mencairkan suasana saja.
“Ada kegiatan di LPM, pak.” Kali ini gadis itu menyandarkan payungnya pada pilar disampingnya dan memeriksa ponselnya. “Tunggu, memangnya bapak ingat kelas saya?” tanyanya dengan wajah aneh yang tak urung membuatku tertawa kecil.
“Faza Aulia, kelas A3 semester enam program studi Manajemen Islam.”
__ADS_1
“Wah, jarang sekali ada dosen baru yang bisa langsung hapal sama mahasiswanya, pak.” Dan aku sebenarnya akan menjawab kalau aku hanya hapal dengan dirinya saja sebelum akal sehatku tidak mengijinkanku merendahkan harga diri hingga di bawah telapak kaki untuk mengakui hal itu pada Faza.
Faza Aulia, gadis bergamis kuning pucat dengan jilbab lebarnya yang sepanjang kelas tadi terlihat begitu abai dengan keberadaanku nyatanya bisa melakukan obrolan seperti ini.
Dan aku lupa kapan terakhir kali aku begitu nyaman berada di dekat orang asing seperti ini. Faza Aulia jelas masihlah orang asing untukku sebab aku baru mengenalnya tadi pagi, meski rasanya seperti aku sudah mengenal gadis itu untuk waktu yang lama. Ya ampun, lagi-lagi aku merasa dipecundangi oleh seorang gadis muda yang menjadi mahasiswiku sendiri.
“Mungkin karena kelas kamu begitu berkesan untuk saya, jadi mudah diingat.”
“Dan pak Gibran adalah dosen pertama yang memuji kelas kami seperti itu.” untuk alasan yang tidak kuketahui, aku terkesan mendengar Faza menyebut namaku.
“Kalau bapak tidak keberatan, pak Gibran bisa pakai payung saya untuk sampai di pelataran parkir.”
“Ya?” tentu saja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening mendengar kalimat Faza yang terdengar seperti gadis itu sedang membaca pikiranku.
“Bapak sedang terburu-buru ‘kan? Bapak bisa pakai payung saya.” Seorang gadis muda yang menawarkan payung padaku. Entah kenapa aku seperti déjà vu dan merasa kalau aku pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Hanya saja otak sederhanaku terlalu enggan untuk kembali mengingat atau sekedar mengorek sebuah kejadian dimasa lalu yang berkaitan dengan payung dan seorang gadis muda.
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Nanti saya nunggu teman yang lewat saja, pak. Tidak apa-apa.”
Butuh beberapa detik hingga aku memutuskan untuk menerima payung yang Faza tawarkan padaku. Membukanya dan tersenyum kecil saat menyadari payung itu menampilkan logo sebuah perusahaan penerbitan koran ternama. Sekarang aku tahu kenapa gadis ini perlu untuk berlama-lama di LPM kampus.
“Ayo, sepertinya payung kamu cukup lebar untuk kita berdua.” aku tidak membual saat mengatakan kalau Faza sempat terkesiap mendengar kalimat ajakanku. “Lagipula ini sudah terlalu sore untuk menunggu teman yang lewat.”
“Ehm…” dan mungkin reaksi yang Faza berikan adalah sesuatu yang normal karena gadis itu tidak ingin ada orang lain melihatnya berpayung bersamaku.
“Tidak apa-apa, tidak ada orang lain yang akan mencibir kamu hanya karena berpayung bersama dosenmu sendiri, Faza.” Dan lagi-lagi butuh beberapa detik hingga gadis itu mengangguk samar dan menawarkan diri untuk membawakan tumpukan diktat dan dokumen yang sejak tadi kubawa.
Sebenarnya aku ingin bertanya kemana dan bagaimana gadis ini pulang. Bertanya dengan siapa dia pulang dan apa yang dia lakukan di ruang LPM kampus dihari pertama kuliah selepas libur semester. Hanya saja semua pertanyaan-pertanyaan yang kupikirkan itu hanya tertahan diujung lidahku hingga tanpa sadar kami sudah sampai di pelataran parkir gedung satu.
“Kamu pulang dengan siapa?” Dan, akhirnya aku menanyakannya juga.
“Sendiri, pak.”
“Begitu, terima kasih untuk tumpangan payungnya, Faza.”
Sekali lagi gadis itu tersenyum dan membuatku membalas senyumannya itu. “Selamat sore kalau begitu, pak Gibran. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Hingga gadis itu berlalu dari samping mobilku dengan payungnya dan berjalan mendekati pintu gerbang kampus, aku masih saja memperhatikannya dari kaca spion hingga sosok Faza Aulia menghilang di samping pintu gerbang kampus. Juga, kapan terakhir kali seorang Gibran Wibisana membalas salam dari seseorang dengan begitu lengkap dan ikhlas?
__ADS_1
“Hujan dan seorang gadis. Kenapa aku terganggu sekali dengan dua hal itu?”
* * * * *