
Faza
Sebab kau bukanlah sesuatu yang istimewa
Itulah kenapa kau mudah sekali terlupa
Kutarik napas sekali lagi sebelum menyerah dan meletakkan bolpoin biru yang sejak tadi kumainkan sambil sesekali kugunakan untuk menulis pada bloknote dihadapanku.
Menyerah untuk kembali menulis dan melirik jam dinding hanya untuk kembali mendesah kesal. Jam sebelas lebih sepuluh, dan rasa kantuk seperti enggan untuk menyapaku seolah ini adalah pagi hari dan aku harus melakukan banyak sekali kegiatan. Insomnia, benar-benar sesuatu yang kubenci dan selalu kuhindari.
“Yang benar saja, Za. Kamu tidak bisa tidur hanya karena hal sepele seperti itu?”
Benar, nyatanya insomnia yang melandaku malam ini bukan tanpa alasan, dan jika saja seseorang tahu alasan apa yang membuatku insomnia, sudah pasti mereka akan menertawaiku dengan senang hati. Yah, aku mengaku kalau aku insomnia karena terus saja memikirkan apa yang kulakukan tadi sore. Saat dengan penuh percaya diri aku menawarkan payung pada pak Gibran Wibisana sang dosen baru dikampusku yang terlihat terburu-buru dan berakhir membuat kami harus berbagi payung hingga tiba di pelataran parkir gedung satu.
“Kamu hanya melakukan sesuatu yang disebut dengan sopan santun, Za. Apa yang salah sih?”
__ADS_1
Memang benar aku melakukannya untuk sekedar menjalankan kewajibanku sebagai anak perempuan yang punya sopan santun. Tapi tetap saja seorang Faza Aulia yang sedikit naif ini tidak bisa menerima begitu saja pemikiran sederhana seperti itu.
Aku yang selama tujuh tahun menjalani hidup di sebuah pondok pesantren tidak bisa menganggap remeh hal seperti itu. Sepayung berdua bersama lawan jenis. Aku tahu kalau pak Gibran adalah dosenku sendiri, tapi tetap saja dia adalah seorang pria dan seorang gadis sepertiku tidak pantas sepayung berdua bersama pria yang bukan mahramnya. Jangankan untuk sepayung berdua seperti yang kulakukan bersama pak Gibran tadi sore, untuk sekedar menyapa dan mengobrol bersama lawan jenis saja hampir tidak pernah kulakukan.
“Lihat santri laki-laki itu, Za.” Dulu, saat aku dan Ainun masih kelas dua SMA dan perasaan dalam diri kami masih sangat sulit kami kendalikan, kami berdua hanya berani mencuri pandang pada santri laki-laki melalui jendela kamar kami di lantai empat. Bersembunyi di balik tirai jendela saat menyadari jika santri laki-laki yang sedang kami tatap tiba-tiba saja mendongak entah untuk memerhatikan apa.
“Kalau saja berinteraksi dengan santri laki-laki itu tidak dilarang, sudah pasti akan kuajak dia berkenalan, Nun.” Kelakarku saat itu. Tapi tentu saja itu hanya sebatas kelakar nakal yang kuucapkan pada Ainun saat usiaku masih enam belas tahun. Saat aku masih begitu muda dan belum memahami perasaan-perasaan asing yang mulai kurasakan.
“Huss, tidak boleh seperti itu, Za. Dosa nanti kamu.”
Faza Aulia dan Ainun Nisa, dua santri muda yang entah sudah berapa kali melakukan kenakalan dan membuat pengasuh ponsok mengelus dada.
“Suatu saat, Za. Saat aku dan kamu sudah bukan lagi teman satu kamar, dan saat kita sudah hidup diluar pondok, aku yakin akan banyak sekali hal-hal yang berubah dalam diri kita.” Dan itu kalimat yang Ainun katakan padaku ditahun terakhirku mondok. Tiga tahun yang lalu. Saat aku tujuh belas tahun dan Ainun delapan belas tahun. Saat dimana kami memilih untuk duduk di teras kamar di lantai empat sehabis sholat malam dan menunggu adzan subuh.
“Tapi, aku akan terus berdoa Za, semoga hal-hal yang berubah itu bukanlah sesuatu yang membuat kita berdua lalai dengan semua yang telah kita dapatkan disini.” aku memang tidak pernah mengatakannya, tapi nyatanya Ainun Nisa memang sudah seperti kakak untukku.
__ADS_1
Saat itu aku hanya terdiam tanpa membalas kalimat Ainun sedikitpun dan membiarkan anak itu berbicara panjang lebar. Tapi aku mendengarkannya, setiap kata yang Ainun ucapkan, untuk kemudian kuingat sampai sekarang.
Dan mengingat apa yang pernah Ainun katakan padaku tiga tahun yang lalu tak urung membuat mataku memanas. Tidak sampai menjelma menjadi tangis memang, tapi tetap saja rasa panas dimataku membuat dadaku sesak.
“Maaf, Nun.”
Aku sadar jika sore tadi aku telah mengkhianati nasehat yang pernah Ainun berikan untukku. Dengan tidak tahu malu aku tersenyum dan bercakap-cakap dengan pak Gibran yang jelas-jelas bukan mahramku. Sementara dulu, saat aku masih bersama-sama dengan Ainun, anak itu selalu memintaku untuk menjaga jarak dari laki-laki dan menundukkan pandanganku.
“Menjaga jarak dengan lawan jenis, memang terdengar tidak adil. Tapi sungguh, menjaga jarak bukan berarti menjauhkan, tapi itu bertujuan untuk memuliakan kalian, para muslimah. Sebab kalian adalah mutiara yang sangat berharga.”
Seolah apa yang Ainun katakan padaku tiga tahun lalu tidak cukup untuk memberi penghakiman atas apa yang kulakukan tadi sore. Saat ini aku bahkan tiba-tiba terbangun dengan perasaan tidak karuan saat kalimat yang pernah Ummi Usammah katakan pada kami terputar begitu saja didalam kepalaku tanpa komando.
“Menjaga jarak, ya?”
Memang terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa aku harus menjaga jarak dari pak Gibran hanya karena apa yang kami lakukan tadi sore. Sungguh, tidak ada yang salah dengan berbagi payung dengan seorang dosen yang memang sedang membutuhkan. Hanya saja, perasaan yang timbul setelahnya-lah yang menjadikan hal sesederhana itu menjadi sesuatu yang salah.
__ADS_1
Lagi-lagi pemikiran seperti itu akan membuatku terdengar seperti gadis 20 tahun dengan pemikiran kolot dan kuno. Dan sayangnya aku tidak peduli sebab pemahaman seperti itu sudah tertanam dalam kepalaku sejak usiaku masih sangat muda.
* * * * *