
Sore itu, setelah kepulangan rekan-rekan kerjanya, Cinta kembali dikunjungi oleh keluarga pemilik rumah sakit itu sekaligus pendiri dan pemilik rumah kasih sayang.
“Assalamu’alaikum Cinta sayang” ucap Umma Tamara lalu mencium pipi Cinta penuh kasih sayang.
“Wa’alaikumusalam Umma” Cita nampak bersemangat melihat Umma Tamara dan Kak Zelina nya datang.
“Assalamu’alaikum Dek, gimana sudah enakan?” tanya Zelina istri dr.Syaamil.
“Alhamdulillah Kak” jawab Cinta.
Banyak yang mereka obrolkan, termasuk Cinta yang curhat pada Zelina tentang trauma akibat kejadian malam itu, ketika Cinta ingin memejamkan matanya Cinta akan mendapati dirinya yang berada di lokasi kejadian yang persis saat malam kejadian itu.
Zelina yang berprofesi sebagai seorang psikolog pun akan memberikan sesi konseling healing therapy untuk Cinta jika nanti Cinta sudah kelauar dari rumah sakit.
“Kak Zelina terima kasih atas bantuan Kakak ya” ucap Cinta.
“Iya nggak papa Dek, Cinta kan adeknya Kak Zelina, Kakak Adek harus saling membantu. Sekarang kamu rileks ya dek, dzikir jangan putus ketika dalam kondisi tidak baik-baik saja” saran Zelina.
“InsyaAllah Kak. Kakak memang baik, udah pinter dan MasyaAllah makin cantik pula saat hamil begini” jawab Cinta.
“Alhamdulillah, semua milik Allah kita menjalaninya dengan penuh syukur ya” jawab Zelina sambil tersenyum.
Cinta begitu mengagumi Zelina, bahkan Cinta kagum dengan perjalanan kisah cinta Kak Zelina dan dr.Syaamil yang begitu mengharu biru.
Cinta rasa mungkin nanti Cintapun akan membuat sesi konseling untuk persoalan hatinya, yang membuatnya diambang kebingungan dengan perasaannya sendiri, seakan Cinta plin plan dengan keputusan dan perasaan yang ia rasakan saat ini.
Jam didinding kamar itu sudah menunjukkan pukul 5 sore lebih sedikit, keluarga Abah Furqon pun akhirnya berpamitan pulang.
Waktu maghribpun telah tiba, semuanya pun menunaikan kewajiban utamanya sebagai seorang muslim. Saat ini llham baru saja selesai mengimami Cinta, Kak Prinka, Kak Tuti dan Anis sholat maghrib, selesai berdzikir dan berdoa, Ilham pun duduk disofa meja tamu sedangkan Kak Prinka pamit ke kamar Zayn.
“Ham, sambil nunggu Bang Ayubi, Kak Hilma dan Azizah kita makan dulu aja ya?” tawar Kak Tuti sambil membuka bekal makan malam yang tadi dibawa oleh Kak Prinka. Kak Prinka bahkan mampir dulu kekamar Cinta sebelum menengok Zayn.
“Boleh kak” jawab Ilham.
“Kamu makan apa, ayam bakar apa ikan bakar?” tanya Kak Tuti.
“Apa saja Kak” jawab Ilham.
“Kamu Nis mau apa. Ini nona Prinka banyak banget bawain kita makanan, MasyaAllah semoga rejekinya lanjcar dan barokah” ucap Kak Tuti.
“Aamiin Yaa Allah” ucap semua yang ada diruangan itu.
“Anis mau ayam bakar aja Umma sama udang tepungnya juga, heheheh” jawab Anisa putri sulung Umma Tuti.
“Kamu Cinta, mau makan lagi nggak, Kakak siapin ya?” tanya Kak Tuti.
“Nggak usah Umma masih kenyang makan makanan dari rumah sakit tadi sore, paling nanti makan buah saja Umma” jawab Cinta.
“Kalu begitu Ummi kupaskan buanya dulu ya” ucap Umma Tuti.
“Kak, biar aku saja, Kakak makanlah dulu” ucap Ilham.
__ADS_1
“Nggak papa Kakak saja, Ilham saja yang makan duluan” ucap Kak Tuti.
“Baiklah kalau begitu Kak, Nis ayo kita balap makan, hahaha” ucap Ilham guyonan dengan Anis.
“Ayolah,, kalau Bang Ilham menang atau kalah seperti biasa ya kita mampir ke 212 mart, heheheh” ucap Anis.
“Wokkeeehh” jawab Ilham.
“Mantap... ini dia Abang sejati yang baik hati dan teeeerrrbaiiik” ucap Anis mengacungkan jempolnya.
“Si Anis nggak boleh begitu ah, bikin malu Umma aja” Kak Tuti melototkan matanya pada Anis.
Cinta, Ilham dan Anis hanya senyum-senyum saja.
Dikamar yang berbeda, Zayn juga baru saja selesai sholat maghrib bersama Diki. Oma Aleta masih setia membersamai Zayn diruangan itu.
“Alhamdulillah” ucap Zayn.
Oma Aleta tersenyum melihat cucu semata wayangnya. Oma Aleta terpesona melihat aura bercahaya yang nampak dari wajah cucunya itu, ada rasa bergetar ketika Oma Aleta mendengarkan Diki sebagai Imam sholat mengangungkan nama Allah dalam setiap bacaan sholatnya.
Oma Aleta merasa takjub dengan pribadi Zayn yang meskipun dalam keadan sakit ia masih tetap melaksanakan ibadah sholatnya.
Oma Aleta sungguh tak mengerti bacaan itu namun entah mengapa hatinya seakan merasakan sesuatu yang berbeda dan membuat air matanya jatuh ketika kedua orang yang sedang sholat itu mengucapkan kalimat takbir. Allahu Akbar.
Oma Aleta berjalan menuju ranjang Zayn.
“Zayn, kamu cepat sembuh ya” ucap Oma Aleta.
“Oiya, sudah malam, Oma pulang dulu ya, besok Oma akan mampir lagi. Kamu cepat sembuh ya sayang, kalau ada apa-apa kamu harus langsung menghubungi Oma, mengerti!!!” tegas Oma sambil mengelus rambut cucu kesayangannya itu.
“Baik Oma” jawb Zayn.
Baru Oma Aleta tersenyum karena Zayn mencium tangannya, tiba-tiba raut wajah Oma Aleta menjadi merah padam penuh kebencian melihat sesorang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh keponakan gantengku” salam seorang wanita dengan wajah cerianya ketika memasuki ruang rawat itu tanpa menyadari ternyata ada Oma Aleta yang sedang berdiri didekat Zayn.
“Wa’alaikumusalam warohmatullahi wabarokatuh” jawab Zayn dan Diki.
Seketika wajah wanita cantik itu memucat saat menyadari ada wanita paruh baya yang sangat membencinya dengan tatapan nanar.
“Mami” ucap Kak Prinka lalu berjatuhan semua bingkisan yang sempat dipegangnya tadi.
“Jhonson, Soraya, kita pulang!!!” ucap Oma Aleta terdengar sauranya menahan amarah.
Ingin rasanya Oma Aleta meludah kasar mendengar kata Mami yang terucap dari mulut wanita yang sangat dibencinya itu, namun niatnya diurungkan karena tidak ingin mengganggu ketenangan Zayn.
“Baik nyonya” jawab Jhonson dan Soraya.
Kak Prinka tak mampu melangkahkan kakinya, rasanya tubuhnya terpaku kuat ditempatnya berdiri. Kak Prinka hanya bisa menunduk karena tahu Oma Aleta seakan benci bahkan jijik melihatnya.
“Oma, Kak Prinka baru saja datang, apakah kita tidak bisa ngobrol bersama dulu?” tanya Zayn.
__ADS_1
Kak Prinka seketika mengangkat wajahnya mendengar ucapan Zayn. Begitupun Oma Aleta seketika ia melihat kearah Zayn.
“Oma duduklah dulu, aku ingin kita bertiga bisa ngorbol bersama, aku rindu Mama dan Papa, mungkin kerinduan ini akan terobati jika ada Oma dan Kak Prinka disini” ucap Zayn.
Kak Prinka merasa terharu mendengar ucapan keponakannya hingga jatuh air matanya.
“Maaf Zayn, Oma tidak bicara sembaragan dengan orang asing, maaf Oma harus pulang sekarang, besok kita ngobrol lagi tapi hanya kita berdua tanpa ada makhluk tak ...sudah lah Oma pulang dulu” ucap Oma Aleta menggantung.
Perkataan Oma Aleta itu membuat hati Kak Prinka terluka. Seketika bulir bening yang menggenang di kelopak matanya melumcur bebas dipipinya. Secepatnya Kak Prinka menghapus air matanya yang tumpah.
Zayn dapat melihat kesedihan yang dipancarkan oleh wajah Kak Prinka, Zayn paham sepertinya ada harapan dan kerinduan dihati Kak Prinka namun sebaliknya ada kebencian dan kemarahan yang dipancarkan oleh Oma Aleta.
Karena tak ingin memperburuk keadaan, dan membuat hati Kak Prinka semakin sakit, Zayn pun akhirnya mengucapkan salam perpisahan dengan Oma Aleta.
“Baiklah kalau begitu, Oma hati-hati dijalan” ucap Zayn.
“Kamu jaga diri baik-baik, jangan sampai kamu jadi korban kesialan dari wanita siluman yang jahat dan berbisa” ucap tegas Oma Aleta.
Zayn melihat Kak Prinka yang seolah menahan tangis mendengar ucapan dari Oma Aleta.
Setelah mengatakan hal itu, Oma Aleta pun berjalan melewati Kak Prinka yang masih berdiri ditempatnya semula.
“Mami” ucap Kak Prinka memberanikan dirinya untuk menyalami tangan Mami Aletanya.
“Jhonson singkirkan kotoran yang menjijikan dari sekitarku!!!” ucap Mami Aleta benar-benar melukai hati Kak Prinka.
“Nona, maaf” ucap Jhonson meminta Kak Prinka untuk bergeser karena Jhonson akan membukakan pintu untuk nyonya besarnya.
“Mami, aku merindukan Mami” ucap Kak Prinka sesegugukan tak dapat menahan isak tangisya lagi.
“Jhonson cepat buka pintunya!!!” titah Oma Aleta.
“Silahkan nyonya” ucap Jhonson.
“Mamiiii......” ucap Kak Prinka memberanikan diri mengenggam tangan Mami Aleta.
Dengan segara Mami Aleta menghempaskan tangan Kak Prinka hingga Kak Prinka yang tak seimbang badannya pun jatuh terduduk dilantai.
“Soraya mana sterilizer, sterilisasikan tanganku, ada sampah yang berani meyentuhku, aku bisa ketiban sial untuk kesekian kalinya jika tidak segera dibersihkan!!!” ucap pedas Oma Aleta sambil mengebas-ngebaskan tangannya dan mengelap jijik pada tissu anti bacterial yang digunakan Soraya untuk membersihakan tangan nyonya besarnya.
Tanpa kata lagi Oma Aleta langsung keluar dan meninggalkan Kak Prinka yang masih terkulai lemas duduk dilantai dengan tangisnya yang terlihat pilu.
Zayn tak menyangka melihat reaksi yang frontal dari Oma Aleta terhadap Kak Prinka, keduanya adalah orang yang berarti dalam hidup Zayn.
Entah mengapa hati Zayn pun merasakan perih dan sakit melihat kerapuhan dan kesedihan Kak Prinka.
Baru kali ini Zayn melihat Kak Prinka menangis dengan tangisan yang terdengar pilu dan menyayat hati.
Dengan bantuan Diki, Zayn pun menghampiri Kak Prinka lalu mendekap tubuh lemah tantenya itu dengan air mata yang juga turut menetes keluar dari mata Zayn.
#tbc....
__ADS_1
...Readers yang baik hati jangan lupa tinggalkan jejaknya disini ya dengan like, komen, vote dan favoritkan karya ini, yang mau kasih bunga bermekarannya juga boleh banget. Love U all readers. 💖💖💖...