Assalamu'Alaikum Cinta

Assalamu'Alaikum Cinta
31. Sebuah Kisah (1)


__ADS_3

Gibran


Hingga tiga hari yang lalu, hari senin malam dimana aku dan om Rudi mendatangi rumah Faza untuk melamar gadis itu, aku sama sekali tidak tahu tentang ‘kekuatan air mata anak perempuan’. Hingga hari senin malam kemarin, aku sama sekali tidak tahu betapa air mata seorang anak perempuan bisa mencairkan dan menghangatkan hati seorang ayah yang nyaris membeku menjadi es.


Malam itu, aku memahami satu hal bahwa semarah apapun seorang ayah pada anak perempuannya, dia tidak akan pernah rela anak perempuannya menangis untuk dirinya seperti yang Faza lakukan kemarin malam.


“Demi Allah, bah. Kalau dengan menolak lamaran pak Gibran bisa membuat abah percaya, Faza akan tolak lamaran ini. Kalau dengan berangkat ke Blora bisa membuat abah percaya, maka Za akan berangkat ke Blora sekarang juga, bah. Hanya agar abah percaya kalau Faza masihlah anak perempuan abah yang belum pernah tersentuh laki-laki manapun kecuali abah dan mas Wahyu.”


Aku bahkan nyaris berteriak pada abah Rasyid saat Faza mengucapkan kalimat itu di sela-sela air matanya yang terus turun. Dan aku pasti memang sudah berteriak jika saja om Rudi tidak menahanku dan memberi isyarat jika itu adalah urusan antara ayah dan anak dan aku tidak berhak untuk turut campur. Tapi tetap saja mendengar Faza menangis seperti itu sembari bersimpuh di hadapan ayahnya membuat dadaku sesak dan ingin sekali menarik gadis itu untuk berdiri dan mengatakan kalau dia tidak perlu bersimpuh seperti itu.


Tapi lagi-lagi akal sehatku kembali menjabarkan bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan teriakan dan amarah. Ada kalanya masalah hanya bisa diselesaikan dengan kelembutan. Dan lagi-lagi Faza Aulia mengajarkan hal itu padaku.


“Kalau begitu segera tentukan tanggal pernikahannya saja. Kalian sudah saling mengenal cukup lama dan abah rasa tidak baik kalau kalian berlama-lama dan menunda pernikahan kalian.”


Ada kebahagiaan yang tidak sanggup kujelaskan saat abah Rasyid memintaku dan om Rudi untuk segera menentukan tanggal pernikahanku dengan Faza dengan alasan tidak ingin timbul fitnah karena aku dan Faza hampir bertemu setiap hari di kampus. Dan tentu saja aku setuju dengan hal itu.


“Kalau bisa secepatnya, pak. Tidak baik juga kalau berlama-lama membiarkan mereka berdua tanpa ikatan yang jelas.” timpal om Rudi yang diaminkan oleh ibu dan juga Wahyu, kakak laki-laki Faza.


“Bagaimana kalau senin kedua bulan depan?” usul abah. Dan aku juga ingat betul bagaimana wajah kaget Faza saat ayahnya mengusulkan tanggal pernikahan kami, yang itu artinya akan dilaksanakan tiga minggu dari hari dimana aku melamarnya. Membuatku tersenyum tipis tanpa kusadari. “Atau nak Gibran ingin merundingkannya dulu dengan keluarga di Jakarta?”


“Tidak, bah. Papa dan mama sudah menyerahkan segala urusan pada om Rudi. Kita tanya pendapat Faza saja, bagaimana kalau senin kedua bulan depan?”


Dan lagi-lagi ada kebahagiaan yang tidak bisa kunamai saat gadis itu mengangguk pelan mengiyakan usulan ayahnya. Alhamdulillah, dan kata itu nyaris terucap bersamaan dari seluruh orang yang ada di ruang tamu keluarga abah Rasyid, tak terkecuali dari Faza meski gadis itu tidak bersuara.


__________


“Hujan dipenghujung bulan mei?” gumamku dengan setengah kesal saat berjalan menuruni tangga dari lantai dua menuju pelataran parkir dan mendapati hujan turun dengan derasnya. Hujan deras yang turun disore hari saat seharusnya aku kembali ke rumah setelah seharian mengajar bukan hal yang ingin kudapati hari ini. Apalagi ini sudah memasuki penghujung bulan mei dan seharusnya hujan sudah tidak lagi turun.


Tapi rasa kesal yang sejak tadi kurasakan menguar entah kemana saat di teras kampus yang membatasi selasar dan pelataran parkir kudapati seseorang berdiri disana. Seorang gadis dengan gamis abu-abu dan ransel hitam khasnya.


Seorang gadis yang pada awal pertemuan mencuri perhatianku, membuatku menggalau tidak karuan, dan juga seorang gadis yang membuatku tersenyum aneh seperti anak laki-laki yang baru pertama kali jatuh cinta.


Calon istriku.


Ah, baru menyebut gadis itu sebagai ‘calon istriku’ saja sudah membuatku bahagia tidak karuan begini, lalu bagaimana jadinya kalau kami sudah menikah nanti?


“Masih setengah jam lagi? Tidak, kuliahku sudah selesai kok.” Kurasa gadis ini tidak menyadari kehadiranku hingga dia masih saja memperhatikan hujan yang masih turun sembari berbicara dengan seseorang yang kutebak adalah Wahyu. Calon kakak ipar yang usianya bahkan lebih muda dua tahun dariku, ya ampun, bagaimana aku bisa memanggil Wahyu dengan sebutan ‘mas’ nanti?


“Iya, kutunggu di teras kampus. Mas hati-hati di jalan, assalamu’alaikum.”

__ADS_1


Satu hal yang selalu membuatku terpesona pada sosok Faza Aulia, yaitu kedekatan gadis itu dengan kakak laki-lakinya. Membuatku terkadang berharap kalau Renata bisa sedekat dan sesopan itu padaku.


“Sepertinya hujan akan turun sampai malam,” ucapku setelah beberapa saat hanya terdiam dan mengamati Faza. Membuat gadis itu berjengit kaget dan bergeser satu langkah dari posisinya.


“Astaghfirullahal’adzim.”


“Menunggu mas Wahyu?” tanyaku setelah beberapa saat lalu tertawa kecil dan berdiri dua langkah di samping Faza. Terkadang aku bertanya-tanya, kalau saja Faza bukan mahasiswiku, apa kami akan secanggung ini meski kenyataannya kami akan menikah kurang dari dua minggu lagi?


“Iya, pak.” Bahkan gadis ini masih memanggilku dengan sebutan ‘pak’ alih-alih menggantinya dengan sebutan ‘mas’ karena bagaimanapun aku adalah calon suaminya. Membuatku hanya bisa meringis sendiri karena dipanggil ‘pak’ oleh calon istriku sendiri membuatku terlihat seperti pria tua.


“Tidak ada kegiatan di LPM ‘kan? Kenapa sampai sore begini pulangnya?” tanyaku sebab yang kutahu kegiatan di UKM kampus sudah ditiadakan karena senin besok sudah mulai ujian akhir semester. Dan mendapati Faza pulang hingga sesore ini tak urung membuatku mengerutkan kening.


“Tadi diminta pak Beni untuk mengumpulkan tugas makalah milik teman-teman, tapi ada satu kelompok yang belum selesai, jadi ditunggu sampai tadi jam empat.” Jika saja gadis yang berdiri disampingku ini bukan Faza, mungkin aku sudah mengacak rambutnya dan mencubit kedua pipinya itu. Tapi sungguh, dia adalah Faza dan aku tidak ingin menyentuhnya saat statusku belum sah menjadi suaminya.


“Begitu.”


“Pak Gibran sendiri kenapa belum pulang?”


“Tadi ada briefing untuk ujian besok senin.” Tapi meski canggung, nyatanya kami masih bisa melakukan percakapan sederhana seperti ini. Yah, setidaknya aku dan calon istriku tidak hanya diam mematung seperti dua orang manusia yang tidak saling mengenal.


“Bukan, maksudnya kenapa tidak langsung pulang?”


“Nanti saja.”


“Nanti saya pulang kalau mas Wahyu sudah datang.”


“Kenapa menunggu mas Wahyu datang, pak? Ada sesuatu yang ingin dibicarakan?” sungguh, sepolos dan senaif inikah calon istriku sampai tidak bisa menangkap maksud dari kalimat singkatku itu?


“Tidak ada, Za. Saya ingin menemani kamu sampai mas Wahyu datang. Boleh ‘kan?”


Yah, meskipun aku belum berani menawarkan diri untuk mengantar gadis ini pulang, setidaknya aku bisa menemaninya sampai kakak laki-lakinya datang menjemput. Dan semburat merah yang tergambar di wajah Faza membuatku kembali bertanya jika saja malam itu Faza tidak bersimpuh di hadapan ayahnya, apakah hari ini kami akan seperti ini? Meski hanya sesederhana berdiri berdampingan di teras kampus ditengah hujan dipenghujung bulan mei.


Sebenarnya aku ingin mengobrol dan membicarakan banyak hal dengan Faza alih-alih hanya terdiam dan membiarkan suara hujan mengisi celah diantara kami. Aku ingin bertanya tentang persiapan pernikahan kami, aku ingin bertanya apa gadis ini mengalami kesulitan, juga tentang kuliahnya. Aku ingin tahu perasaan Faza saat ini. Juga tentang banyak hal lain yang nyatanya hanya tertahan diujung lidahku sendiri tanpa berani menanyakannya pada gadis itu.


“Oh ya Za, abah sudah bilang kalau besok pagi saya akan kerumah?” dan menanyakan hal itu pada Faza bahkan butuh keberanian yang sangat besar. Ya ampun, aku tidak pernah segugup ini hanya karena memulai percakapan dengan seorang gadis.


“Belum, pak. Abah tidak bilang apa-apa. Memangnya ada apa?”


“Besok pagi kita dan abah ke KUA bersama-sama, mendaftarkan pernikahan kita.” Lagi-lagi hatiku menghangat saat mengatakan ‘pernikahan kita’ pada Faza yang masih terlihat tidak mengerti.

__ADS_1


Kalau saja aku dan Faza membicarakan hal seperti ini saat jam kuliah masih aktif dan mahasiswa masih berkeliaran dimana-mana, sudah pasti kami berdua akan menjadi bahan gosip setelahnya. Hanya saja aku san Faza harus bersyukur karena mahsiswi sudah sepi dan hanya tersisa dua mobil dan beberapa sepeda motor di pelataran parkir yang kutebak milik petugas kebersihan kampus.


“Astaghfirullahal’adzim.” Ucap Faza tiba-tiba sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan membuatku tidak mengerti.


“Ada apa?”


“Surat-suratnya. Kemarin abah sudah mengingatkan untuk mempersiapkan surat-suratnya, tapi saya lupa.” Jawabnya dengan penuh penyesalan sembari terus menutup wajahnya dengan kedua tangan seolah kalau dia membalas tatapanku, maka dia akan dihukum. Ya ampun, ternyata calon istriku memang seimut ini.


“Maksudnya surat-suratnya hilang atau bagaimana?”


“Bukan, pak.” Kali ini Faza menoleh kearahku sembari menarik napas dalam. “Tapi surat-suaratnya memang belum saya siapkan, juga blanko-blanko yang belum saya isi.”


Tak urung aku tertawa kecil juga melihat ekspresi wajah Faza. Ekspresi wajah yang selama ini luput kuperhatikan dari gadis ini. Atau memang Faza yang selama ini tidak pernah memasang ekspresi wajah seperti itu?


“Kalau begitu nanti malam kamu harus lembur sampai semua surat-suratnya siap.”


“Kalau sampai besok belum siap bagaimana?”


“Nanti minta tolong mas Wahyu untuk bantu menyiapkan. Supaya besok semua sudah siap.”


“Ah, mas Wahyu kalau tidak disogok mana mau bantuin.” Gumam Faza yang lagi-lagi membuatku tersenyum tipis dan memperhatikannya saat gadis itu mengambil ponsel dari saku gamisnya dan menempelkan benda itu pada telinga kanannya.


“Jemput kesini, mas. Aku tidak bawa payung.” Ucapnya sembari mendongak dan memperhatikan hujan yang masih turun dengan deras.


“Yasudah kalau begitu mas Wahyu tunggu di pintu gerbang sampai hujannya reda.” Kali ini Faza terkekeh pelan. “Tidak tidak, bercanda. Aku kesana sekarang. Wa’alaikumussalam.”


“Mas Wahyu?”


“Iya. Kalau begitu saya duluan, pak.” Ucapnya sembari memasukkan ponsel kedalam ransel hitamnya.


“Hujannya masih lebat begini, Za. Nanti kamu sakit.”


“Nanti mas Wahyu mengamuk kalau saya tidak kesana sekarang, pak. Mas Wahyu itu mengerikan kalau pulang kerja dan kelaparan.”


“Pakai ini.” Sanggahku sembari menyodorkan jaket hitam yang sejak tadi hanya kupegang tanpa berniat kupakai. “Paling tidak kamu tidak akan basah kuyup sampai di pintu gerbang.” Dalam kurun waktu enam tahun, dan ini adalah kali pertama aku menawarkan sesuatu pada seorang gadis. Dulu Aida juga sering memakai jaketku saat hujan turun dan dia lupa tidak bawa jaket. Dan sekarang, aku ingin melakukan hal yang sama pada Faza. Bukan untuk menyamakan Faza dengan Aida, tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk calon istriku disaat seperti ini.


“Terima kasih, mas. Assalamu’alaikum.”


Bahkan hingga gadis itu berlari menerobos hujan melewati pelataran parkir menuju pintu gerbang, aku masih mematung di teras kampus dan kehilangan kata-kataku. Aku bahkan belum membalas salam yang Faza berikan karena saking kagetnya saat gadis itu mengganti panggilanku dari ‘pak’ dengan ‘mas’ dengan wajah malu-malu.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam. Mas? Barusan dia memanggilku dengan ‘mas’ kan?”


* * * * *


__ADS_2